
"Pemirsa, hari ini pihak penyidik sudah mengajukan berkas ke kejaksaan untuk di proses selanjutnya. Pihak penyidik meminta agar kasus ini bisa diproses lebih cepat," ucap Pembawa acara di salah satu siaran televisi.
Elena dan Rexy baru saja selesai sarapan. Mereka mendengarkan berita itu dengan seksama dan selalu mengikuti perkembangan kasus yang berjalan dengan sangat cepat.
"Berkemungkinan tersangka J, akan mendapatkan tuntutan yang sangat berat dari jaksa, jika melihat berkas-berkas yang sudah di berikan oleh tim penyidik," Sambung pembawa acara.
"Apa dia bisa di hukum mati, Bee?" tanya Elena.
"Akan aku usahakan, Sayang!" ucap Rexy manatap Justin yang berada di layar televisi dengan penuh kebencian.
Elena mengernyit, tapi ia hanya mengikuti langkah Rexy. Ia yakin, jika pria tampannya sudah memikirkan semua hal dengan baik.
Ceklek!
Pintu terbuka, Clayton datang bersama dengan Kenzo sambil tersenyum.
"Hai?" sapa Elena tersenyum.
"Hai, Tante. Ah, aku begitu merindukanmu!" ucap Kenzo berjalan mendekat sambil merentangkan tangannya.
"Eh, ngapain kau?" ucap Rexy sambil memegangi kerah belakang baju Kenzo.
"Dih!" ucapnya kesal dan memilih untuk duduk di atas sofa.
"Kenapa kamu jarang menemui Tante?" tanya Elena.
"Itu, tanya sendiri sama om Rexy," ucap Kenzo kesal.
Elena menatap Rexy dan hanya di balas dengan gelengan oleh pria tampan itu.
"Clay, bagaimana kondisimu?" tanya Elena.
"Saya sudah lebih baik, Nona. Hari ini saya sudah boleh pulang," ucap Clayton tersenyum tipis.
"Syukurlah. Terima kasih," ucap Elena tersenyum.
"Anda sudah mengatakan itu untuk yang ke sekian kalinya, Nona," ucap Clayton.
Rexy terdiam, pikirannya mulai menerawang membuat adegan tembak-tembakan itu di kepalanya sendiri.
Menatap Elena dan Clayton bergantian dengan rasa yang bercampur aduk, penasaran dan juga tidak masuk akal.
"Clayton, apa kamu tidak membawa Elena ke ruangan yang sudah disediakan?" tanya Rexy mengernyit.
"Maaf, Tuan. Nona Elena dan yang lainnya sudah saya bawa ke dalam ruangan itu, Tuan!" ucap Clayton mmbingung.
Apa tuan belum tau jika Nona sudah bisa berjalan?. Batin Clayton menatap Elena.
"Lalu kenapa kalian bisa terluka seperti ini? Tidak mungkin Elena bisa keluar dengan memudahkan menggunakan kursi roda," ucap Rexy semakin bingung. "Atau jangan-jangan...," sambungnya menatap Elena.
"Aku tiba-tiba saja bisa berjalan, Bee!" ucap Elena tersenyum.
Rexy terkejut dengan mata yang membola. Ia menatap Elena lekat dengan rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Be-benarkah?" tanya Rexy tidak percaya.
Elena mengangguk dan tersenyum geli melihat ekspresi Rexy.
"Bagaimana bisa?" tanya pria tampan itu.
"Itu yang dinamakan keajaiban, Sayang. Besok aku sudah bisa berdiri di samping kamu di hari pernikahan kita!" ucap Elena tersenyum sambil mengusap pipi Rexy.
"Kenapa kamu gak bilang, Sayang?" tanya pria tampan itu masih tidak percaya.
"Kamu aja gak nanya, Bee. Lagian kamu aja yang gak ngeh waktu aku berjalan ke kamar mandi tadi!" ucap Elena terkekeh.
Rexy masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Elena. "Sayang, jangan bercanda!" ucapnya dengan penuh harap.
Elena menggeleng dan langsung turun dari brankar dengan hati-hati.
"Sayang!" seru Rexy melompat dan memegang Elena agar tidak jatuh.
Ia terkejut ketika melihat wanita cantik itu sudah bisa berdiri tanpa pegangan.
"Nona membantu saya untuk melumpuhkan beberapa orang yang datang menyusup ke pulau, Tuan!" ucap Clayton tersenyum tipis.
Rexy menatap Elena tidak percaya. Ia hanya memeluk wanita cantik itu dengan rasa yang bercampur aduk.
Mereka yang berada di dalam ruangan itu, menatap haru. Menjadi saksi bagaimana perjuangan mereka untuk kesembuhan Elena dan mempertahankan hubungan hinga sampai sekarang.
Perjuangan yang penuh dengan drama, seolah tidak akan pernah berakhir. Namun sekarang, selangkah lagi, kebahagiaan akan terbentang luas tanpa ada masalah.
Bukan hanya Elena yang merasakan trauma kejadian itu dan semua kesakitan ini, tetapi Rexy juga ikut merasakannya.
Kini tidak terlihat sosok Rexy yang tegas dan berwibawa. Hanya ada sosok laki-laki yang begitu bucin terhadap pasangannya.
Mencintai dengan tulus dan menyayangi tanpa batas. Mengesampingkan semua bentuk kekurangan dan menatap ketulusan tanpa imbalan.
Itulah tahta tertinggi mencintai seseorang, yang selalu tertanam dalam diri Rexy. Hingga kini, ia akan meraih hasil dari semua pengorbanan yang sudah ia lakukan.
Rexy serasa enggan untuk melepaskan pelukan itu. Hatinya teramat senang dan bahagia melihat Elena yang bisa pilih dengan begitu cepat.
Semua rasa sakit hati yang ia rasakan seolah hilang entah kemana.
"Jangan menangis!" ucap Elena ketika merasakan air mata Rexy membasahi bahunya.
"Aku tidak menangis!" ucap pria tampan itu berkilah.
"Ayo duduk dulu, Bee!" ucap Elena tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia mengusap air mata Rexy yang terlihat membasahi area matanya. "Jangan menangis. Besok kita akan menikah, jadi simpan air matamu untuk besok, Bee!" ucapnya.
"Aku gak nangis!" ucap Rexy membantah.
"Baiklah! Aku yang menangis," ucap Elena terkekeh.
Pagi itu mereka harus segera pulang dan pergi menuju villa, mempersiapkan diri untuk acara paling bersejarah.
__ADS_1
Dimana besok akan ada sumpah yang akan terucap dari sepasang sejoli yang sudah menghadapi berbagai macam rintangan dan ujian kehidupan hingga hari ini.
🍃🍃
"Dad, kamu yakin akan mengambil alih perusahaan?" tanya Tiara.
"Iya, sebelum perusahaan itu jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab!" ucap Julio bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi.
"Elena sudah menguasai perusahaan itu, Dad! Hanya tinggal selangkah lagi untuk mereka mengakuisisinya," ucap Tiara.
"Itu yang harus kita pertahankan! Sekarang aku ingin menemui Justin. Kita harus membicarakan masalah ini sebelum terlambat!" ucap Julio keluar dari rumah dan menaiki mobilnya.
Tiara langsung mengikuti langkah Julio. Sudah lama ia tidak mengunjungi sang putra yang sekarang resmi di ditahan.
"Jaga emosimu nanti," ucap Tiara.
"Tergantung bagaimana sikap dia setelah ini!" ucap Julio.
Mobil segera pergi meninggalkan halaman rumah, menuju kantor polisi, di mana Justin tengah di tahan.
Tak lama, mereka sampai dan Julio langsung menemui Justin setelah diberi izin oleh petugas.
Dua pria tampan beda generasi itu duduk saling berhadapan dengan wajah yang datar tanpa ekpresi.
"Ada apa?" tanya Justin.
"Apa kau tidak senang dengan kunjungan kami?" tanya Julio.
Justin hanya terdiam, ia tidak ingin memperkeruh suasana hanya karena emosi. Sungguh saat ini bantuan mereka sangat ia butuhkan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tiara.
"Baik, Mom. Sangat baik!" ucap Justin tanpa mau menatap kedua orang tuanya.
"Perusahaan akan Daddy ambil alih dalam waktu dekat!" ucap Julio.
Justin mengangkat kepalanya, menatap sang Ayah dengan lekat. Ia hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Sudah terlambat! Aku sudah di pecat menjadi CEO, dan Elena akan segera mengakuisisi perusahaan," ucap Justin.
Mereka terkejut, Julio langsung berdiri dan menatap Justin penuh dengan amarah.
"Bagaimana bisa kau teledor seperti itu, Justin?" bentak Julio.
Pria tampan itu hanya tertawa miris. Ia sangat sulit untuk mengendalikan emosi, namun perkataan sang ayah selalu memancingnya untuk berkata kasar.
"Aku tidak teledor, mereka yang merencanakan semua ini dengan begitu mulus," ucap Justin menatap tajam sang ayah.
"Apa maksudmu?" tanya Julio mengernyit.
"Dad, aku tertangkap sekarang ini sudah mereka rencanakan lima tahun yang lalu. Jika memang Elena yang mengambil alih perusahaan, akan aku beri. Tapi jika laki-laki itu yang mengambil alih, aku tidak akan melepasnya!" ucap Justin membuat Julio murka.
"Kau, bagaimana bisa kau memberikan perusahaan kepada orang lain dengan begitu mudah?" bentak Julio.
__ADS_1
"Itu perusahaan, saya yang membangunnya dari nol! Jadi terserah saya akan memberikannya kepada siapa! Yang jelas, berapa tahun pun pendapatan dari perusahaan tidak akan bisa menggantikan penderitaan Vania selama ini! Jadi, jangan berpikir untuk mengambil alih perusahaan itu!" Ucap Justin tegas.