
Tanpa mereka tau, ada dua pasang mata yang tengah melihat adegan itu dengan mata yang melotot.
"Inilah akibatnya kalau terlalu ingin tau dengan aktivitas orang!" Ucap Elena tercekat.
Ia kesulitan untuk menelan ludahnya ketika melihat gerakan Reema yang begitu ganas dalam bermain.
Pantas saja Justin bertekuk lutut. Orang dia seperti kesetanan begitu, bagaimana tidak! Memang Pelakor sekarang gak main-main untuk menggoda suami orang!. Batin Elena masih tidak percaya.
"Nona, sepertinya kita harus menutup tontonan hari ini!" Ucap Clayton yang ikut melihat vidio itu.
"Hmm? Ya, kita harus menutupnya, Clay. Simpan vidio ini dengan baik. Jika Justin sudah menceraikan dia, kita jadikan ini senjata nanti," ucap Elena menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Sepertinya aku membutuhkan Rexy saat ini!. Batinnya mengalihkan pandangan dari layar laptop itu.
"Nona, wajah anda sangat merah!" ucap Clayton menggoda Elena.
"Tutup mulutmu, Clay! Kau pun sama!" Ucap Elena mendelik kesal.
"Haha, Nona bisa langsung mencari tuan Rexy. Sementara saya sendiri merana meratapi nasib, Nona!" Ucap Clayton menutup laptop setelah mengunduh video itu.
Elena hanya menggeleng melihat kepergian Clayton. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi Rexy.
"Dimana, Bee?" Tanya Elena ketika panggilan terhubung.
"Aku ada meeting di luar, Sayang. Kenapa?" Tanya Rexy berbisik.
"Hmm? Aku butuh kamu, tapi sepertinya nanti saja. Cepat pulang ya, Bee!" Ucap Elena tersenyum.
"Butuh apa, Sayang? Apa Clayton tidak bisa membantumu?" Tanya Rexy mengernyit bingung.
"Tidak bisa, Cintaku. Hanya kamu yang bisa membantu. Sudah meeting dulu sana, aku tunggu di rumah ya!" Ucap Elena tersenyum.
"Ah, ya sudah. Love you sayang," ucap Rexy begitu lembut.
"Love you too, Bee," ucap Elena mematikan panggilannya.
Elena segera keluar dari sana dengan pakaian rapi. Sebab, Clayton memberitahu ia mengenai video itu setelah selesai latihan.
Ia berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Elena hanya menggeleng ketika melihat Clayton yang berusaha untuk menahan tawanya.
"Sampai jumpa dilain waktu, Nona," Ucap Fauzi membungkuk hormat.
__ADS_1
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Elena tersenyum.
"Sama-sama, Nona. Jika anda butuh sesuatu, langsung saja hubungi saya," ucap Fauzi.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu!" Ucap Elena memasuki mobil.
"Silahkan, Nona!" Ucap Fauzi masih membungkuk.
Perlahan mobil mewah itu meninggalkan markas besar milik Rexy. Elena masih saja memandang beberapa foto musuhnya yang terlihat sangat jelas melalui ponsel.
Sepertinya, aku bisa menjebloskan dia dengan cara lain tanpa harus mencari bukti tentang keikutsertaan dia atas pembunuhanku. Reema, tunggu saja kehancuranmu!. Batin Elena.
"Nona, saya baru saja mendapatkan kabar, jika tuan Justin kembali masuk rumah sakit. Penyebabnya saya belum tau pasti, yang jelas dia datang bersama dengan orang tuanya," ucap Clayton.
"Cari tahu penyebabnya, Clay!" ucap Elena dengan wajah datarnya.
Kini fokusku hanya kepada Rexy. Membahagiakan dia, mencintai dia yang sudah banyak berkorban untukku hingga saat ini. Batin Elena.
Ia tersenyum sembari menatap foto ia dan Rexy yang ada didalam galeri.
Begitu tampan kamu, Bee. Laki-laki hebat dan sempurna, tetapi kamu lebih memilih aku yang sudah melakukan banyak perubahan. Perempuan yang tidak memiliki apapun. Apa aku pantas bersanding denganmu? Apalagi jika suatu hari identitasku terbongkar pasti akan menimbulkan banyak permasalahan. Batin Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
Hening, Clayton hanya memperhatikan Elena sesekali melalui kaca spion mobil. Ia paham banyak beban yang ditanggung oleh Elena sekarang.
Berbahagialah, Nona. Anda orang yang begitu baik. Hanya takdir yang begitu kejam mempermainkan anda. Semoga tuan Rexy memang laki-laki yang terakhir untuk anda, Nona. Batin Clayton.
Hingga mobil berhenti disalah satu Wedding Organizer ternama di kota itu. Rexy sudah membooking satu tempat beserta butiknya agar Elena bisa nyaman berada di sana.
Memilih rancangan dan dekorasi pesta yang akan mereka gunakan untuk acara pernikahan nanti.
"Selamat datang, Nona!" Ucap pemilik WO yang langsung melayani Elena.
"Selamat siang, terima kasih," ucap Elena sopan.
Maggie terkejut dengan sifat Elena yang tidak seperti kebanyakan klien yang ia layani.
Memang pantas bersama dengan tuan Rexy!. Batinnya senang.
"Silahkan, Nona," ucap Maggie mengantarkan Elena ke tempat khusus untuk memilih konsep pernikahan mereka.
Elena tersenyum mengikuti langkah kaki wanita paruh baya itu, sembari melihat beberapa foto pernikahan yang terpajang di dinding ruangan.
__ADS_1
"Apa nona sudah mendapatkan tema untuk pernikahan anda nanti?" Tanya Maggie ramah.
Elena terdiam, ia melihat ponselnya. Di sana sudah terdapat beberapa foto yang sengaja ia ambil dari Google untuk menjadi referensi pernikahannya nanti.
"Saya ingin privat party saja. Saya ingin nuansa putih, dihiasi dengan bunga hidup. Dengan sedikit sentuhan gold tidak masalah," ucap Elena dengan santai.
Maggie tersenyum menanggapi permintaan Elena. Simple dan terlihat elegan. Ia segera merancang dekorasi yang mendekati permintaan Elena.
Mereka berdiskusi hingga mendapatkan dekorasi yang sesuai dengan keinginan wanita cantik itu.
"Design yang sangat bagus, Nona. Saya bisa membayangkan dekorasi yang Anda inginkan. Ini akan terlihat mewah dan spektakuler. Sepertinya saya memiliki beberapa gaun yang cocok untuk anda kenakan pada hari itu," ucap Maggie tersenyum.
"Apa bisa saya melihatnya? Saya tidak ingin gaun yang begitu berat dan mengganggu nanti," ucap Elena tersenyum.
"Pas, saya memiliki beberapa gaun yang seperti anda ucapkan," ucap Maggie antusias.
Elena segera melihat gaun-gaun yang masih tersimpan di dalam sebuah ruangan khusus. Ia melihat beberapa gaun di sana dan tertarik dengan sebuah gaun yang begitu memesona menurutnya.
Ia langsung mencoba mengenakan gaun itu dengan bantuan dari beberapa pegawai yang ada di sana.
"Ada memang sangat cantik, Nona," Puji Maggie begitu terpana melihat gaun itu sangat indah dikenakan oleh Elena.
"Terima kasih," ucap Elena tersenyum malu.
Setelah menyelesaikan semua urusannya, Elena memilih untuk segera pulang san beristirahat. Sebab tubuhnya terasa sangat lelah dan juga letih.
Di dalam mobil, ia termenung memikirkan kedua orang tuanya yang begitu dirindukan. Ia sangat ingin mereka hadir dalam pernikahan keduanya nanti.
Namun semua terasa mustahil dan tidak akan mudah. Berulang kali ia menghela napas yang terasa begitu menyesakkan.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Clayton.
"Saya merindukan orang tua saya, Clay. Bulan depan saya akan menikah, ingin rasanya mereka hadir di saat itu," ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa saya perlu mengatur pertemuan anda dengan mereka, Nona?" Tanya Clayton.
"Jangan, Clay. Saya belum siap untuk bertemu mereka dengan kondisi seperti ini. Mustahil rasanya jika mereka mau menerima saya yang sudah jelas sangat berbeda dengan Vania," ucap Elena sendu.
Tanpa sadar air matanya menetes. Rasa rindu itu sudah tidak mampu lagi untuk ia tahan. Dekat tetapi tidak bisa bertemu. Bertatapan namun tidak bisa untuk saling menyentuh.
__ADS_1
"Semoga setelah masalah ini selesai, kita bisa menemukan cara untuk bertemu dengan orang tua, Nona," ucap Clayton yang tidak tau harus berbuat apa.
Tak lama mobil berhenti di halaman rumah Rexy. Elena segera turun dari sana dan langsung beristirahat di dalam kamar.