PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Merindukan Mereka


__ADS_3

Di belahan dunia lain, Elena tengah bermenung ditepi kolam berengan. Menarik nafas berulang kali, meredakan sesak yang tiba-tiba saja terasa di dadanya.


Memikirkan banyak hal, membuat ia sangat lelah belakangan ini. Jika dipikir-pikir, kabar Justin ingin memiliki anak bersama Reema pasti akan memberikan dampak besar terhadap rencananya nanti.


Tidak mungkin ia tega melihat seorang bayi lahir dengan status ayah sang narapidana. Sudah dipastikan satu negara akan mengetahui hal ini, dan tidak bagus untuk kesehatan mental anak itu nanti.


Terlebih lagi bagaimana jika Reema menelantarkannya, pasti Elena akan hidup dalam rasa penyesalan.


Hembusan angin malam pun tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaannya. Mampukah ia setega itu? Atau mungkin akan ada cara lain untuk membalas mereka?.


Huft, apa yang harus aku lakukan? Jika sudah ada anak diantara mereka, aku tidak mungkin menjalankan semua ini dengan gmblang, berhenti pun juga sudah terlanjur. Batin Elena menatap hamparan langit yang terlihat sepi tanpa bintang.


Ia kembali menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Sungguh, pesan Justin tadi berhasil mengusiknya, jika ia tau Justin akan meminta hal itu kepada Reema, mungkin ia akan bertindak terlebih dahulu untuk mencegat semua ini sebelum terjadi.


Salah aku juga sih, kenapa kemarin aku mengatakan untuk memperbaiki hubungan mereka!. Batin Elena bingung.


Ia merasa bosan dan kesepian, sementara Rexy belum terlihat tanda-tanda akan pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam.


Namun sebuah kecupan mendapat di pipinya dan berhasil membuat Elena terkejut.


"Bee?" Pekik Elena langsung memeluk Rexy.


"Kenapa duduk di sini sendiri, Sayang?" Tanya Rexy membalas pelukan Elena.


"Kenapa baru pulang? Aku bosan, Bee! Kita makan diluar ya," Ucap Elena menatap Rexy dengan penuh harap.


"Ada sedikit pekerjaan tadi sayang," ucap Rexy mencari mengecup kepala Elena. "Ayo, apa pun untuk tuan putri yang cantik ini akan hamba lakukan!" Ucap Rexy melayangkan kecupan dibibir Elena.


"Ayo gendong aku, Bee!" Ucao Elena melompat.


Rexy segera menggendong wanita cantik itu dan membawanya menuju kamar mereka. Walaupun ia terasa lelah, sungguh Rexy tidak bisa menolak permintaan dari Elena barang sedikit pun.


Mereka segera bersiap untuk pergi makan malam. Bukan sebuah Candle Light Dinner, tetapi hanya makan malam biasa di tempat sederhana, tempat favorit Elena dulu semasa menjadi Vania.


"Kamu terlihat kelelahan belakangan ini, Sayang! Jangan dipaksakan, karena itu tidak akan bagus untuk kesehatanmu!" Udah Rexy menggenggam tangan Elena dengan lembut di dalam mobil.


"Iya, Bee. Aku merasa sedikit lelah belakangan ini, padahal aku tidak melakukan aktifitas berat, mungkin karena sedang banyak pikiran saja!" Ucap Elena lirih.


"Cerita sini sama aku, apa yang kamu rasakan, Sayang!" Ucap Rexy lembut.

__ADS_1


Elena terdiam, pandangannya terlihat kosong dengan pikiran yang menerawang. Ada sebuah rasa yang selalu hinggap di hatinya sejak lima tahun yang lalu.


Namun semua, tidak mungkin jika ia ungkapkan karena keadaannya sekarang sudah berubah. Siapa saja tidak akan percaya jika ia adalah Vania, kecuali mereka yang berada di sampingnya saat sakit dan melewati semua cobaan yang harus ia terima.


"Aku, aku merindukan orang tuaku, Bee!" Ucap Elena lirih.


Rexy terdiam, jika dipikir banyak hal yang bisa ia lakukan untuk Elena. Namun hal yang satu ini, sungguh ia tidak tau harus bertindak seperti apa.


"Sudah lima tahun aku tidak bertemu dengan orang tuaku, Bee. Bagaimana keadaan mereka saat ini? Mungkinkah keluargaku merasa kehilangan, atau mereka hanya memikirkan perusahaan saja!" Ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nanti aku cari tau tentang mereka, Sayang. Menangislah, kalau kamu ingin menangis. Saat ini aku belum bisa mendapatkan cara untuk mempertemukan kamu dengan orang tuamu. Bagaimanapun nanti kita pasti akan menemui mereka untuk meminta restu!" Ucap Rexy.


Elena menyandarkan kepalanya di bahu Rexy, sembari meredakan sesak yang ia rasakan. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Mereka terdiam, hingga mobil memasuki halaman parkiran sebuah rumah makan lesehan.


Nuansa alam dan asri, membuat Elena nyaman berada di sini. Mereka bergandengan tangan sambil melangkah masuk ke dalam rumah makan itu.


"Sudah lama aku tidak kesini, Bee!" Ucap Elena tersenyum.


"Kapan terakhir sayang?" Tanya Rexy penasaran.


Walaupun sebenarnya ia tau persis kapan dan dengan siapa Elena datang ke sini, namun ia tidak tau harus merespon wanita cantik itu seperti apa.


Rexy tersenyum, ia tidak tau harus berkata apa. Di sinilah mereka bertemu dan pria tampan itu sudah jatuh cinta pada pandang pertama kepada Elena.


Mereka segera memesan makanan, Elena dengan manja bersandar dibahu Rexy sembari memainkan tangan pria tampan itu.


"Apa rencana kamu selanjutnya, Sayang?" Tanya Rexy.


"Aku ingin mengusik istrinya, Bee. Aku ingin lihat, seberapa kemampuan dia dan apakah aku mampu atau tidak untuk melawannya," ucap Elena tersenyum.


"Aku sudah sering bilang, Sayang. Lebih baik kita langsung saja ringkus mereka karena bukti-bukri itu sudah lengkap semua! Kecuali permintaan istri laki-laki itu untuk membunuh Vania. Aku belum mendapatkannya!" Ucap Rexy.


Keadaan rumah makan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang mengunjungi rumah makan tersebut. Sehingga Rexy dan Elena bisa memilih tempat yang strategis untuk mereka malam ini.


"Aku tau, Bee. Jika balas dendam itu tidak baik, tetapi juga boleh asal kita melakukannya dengan setimpal. Tetapi lebih baik di hindarkan. Sekarang aku memilih untuk membalas mereka terlebih dahulu, baru nanti aku akan menjadi anak baik," ucap Elena tersenyum.


"Aku hanya bisa mendukung dan mengawasi kamu, Sayang!" Ucap Rexy hanya menggeleng dan mengecup kepala Elena dengan gemas.


Tiba-tiba saja, mata perempuan cantik itu membola, ketika melihat sepasang suami istri memasuki rumah makan dan memilih tempat yang berada di samping mejanya.

__ADS_1


Ia semakin tercekat, melihat wajah sendu dua orang yang terlihat kurus dan tidak bergairah lagi dalam menjalani hidup.


"Sudahlah, Bunda! Anak kita sudah tenang di sana! Sudah tiga kali kita ke sini dalam satu minggu belakangan. Sudah ya!" Ucap Seorang laki-laki dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kalau kamu tidak mau menemaniku, pulang saja dulu, aku bisa pulang sendiri!" Ucap sang istri ketus.


Elena mendengar pembicaraan mereka. Benarkah jika ayah dan bunda merindukanku? Aku juga merindukan kalian!. Batin Elena dengan air mata yang sudah menggenang.


Ia menggenggam tangan Rexy dengan erat, sambil memejamkan matanya.


Kenapa ayah dan bunda datang ke sini di saat aku merindukan kalian? Bunda, Va rindu!. Batin Elena dengan air mata yang menetes.


Ia hanya bisa membenamkan wajahnya di dada bidang Rexy. Melawan semua rasa rindu yang sudah tidak terbendung lagi.


Ia terisak dan menarik perhatian pasangan suami istri itu. Mereka melihat ke arah Elena dengan perasaan bingung.


Namun itu tidak mengusik ketenangan mereka. Suami istri itu memesan menu yang sama dengan Elena, sama persis tidak ada yang kurang sedikit pun.


"Sudah sayang, aku mungkin tidak paham dengan perasaanmu. Tetapi, nanti kita cari cara untuk bertemu dengan orang tuamu, ya!" Ucap Rexy menenangkan Elena.


"Iya, Bee," Ucap Elena menatap orang tuanya dengan tatapan sendu dan penuh dengan kerinduan.


Bahkan ia tidak lagi menghiraukan makanan yang sudah terhidang di depan mata. Rexy membiarkan Elena dengan semua pikiran dan tindakannya malam ini, ia hanya ingin berada di samping wanita itu dan menenangkannya.


Menyuapi Elena dengan telaten, hingga semua hidangan itu tandas. Namun tiba-tiba saja sepasang suami istri itu menoleh kearah Elena.


Paandangan mata mereka beradu, terutama Angelin yang tersentak ketika melihat mata Elena.


Deg!.


Mata gadis itu sama persis seperti Vania. Batin Angelin dengan mata yanga kembali berkaca-kaca.


Bunda, ini aku Vania. Tatapan aku terus bunda, aku merindukanmu, merindukan ayah juga. Batin Elena dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Beberapa saat mata mereka beradu, hingga Elena memutuskannya karena air mata yang semakin tidak bisa ia tahan lagi.


Rexy memutuskan untuk mengajak Elena pulang. Sungguh ia tidak tega melihat wanita cantik ini menangis, merindukan orang tuanya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2