
Clayton dan Ren bekerja di bawah menggunakan laptop masing-masing. Kini Clayton memang membuat konspirasi yang sudah ia rancang dan akan ia upload hari ini juga untuk memberikan arah pandang baru dalam pemberitaan Vania.
"Clay. Sudah selesai?" tanya Ren.
"Belum, Tuan. Sedikit lagi, setelah ini saya upload menggunakan server media luar," ucap Clayton.
"Hubungi orang IT perusahaan untuk membantu," ucap Ren.
"Baik, Tuan!" ucap Clayton segera menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka mempercepat rencana itu, agar semuanya masih berada didalam kendali. Mereka tidak bisa meredam semua postingan yang sudah beredar.
Kini, hanya bisa memberi opini kepada publik, mengarahkan untuk tidak membahas siapa yang menyebabkan kecelakaan itu.
"Makam Nona Vania yang diperkirakan kosong, kini masih terawat dengan baik. Benarkah jika DNA yang ditemukan memang milik Nona Vania, atau ada sesuatu yang terjadi?" ucap Clayton membaca update terbaru dari salah satu media.
"Mereka bergerak cepat. Apa tidak bisa di lacak siapa yang memulai ini semua?" Tanya Ren yang cukup kesulitan menemukan pelaku penyebab berita ini beredar.
"Tim IT kita sedang bekerja, Tuan!" ucap Clayton.
Ia segera mengupload semua yang telah dibuat. Kronologi kecelakaan dan fakta DNA yang di temukan.
"Clay, bukankah ini akan semakin menggiring opini masyarakat?" tanya Ren mengernyit setelah membaca isi dari tulisan Clayton.
"Iya, Tuan. Itu membuka satu fakta dan menutup isu tentang DNA Nona Vania," ucap Clayton.
"Apa tidak akan menambah masalah? Teori kamu bisa membuat orang menerka-nerka dalang pembunuhan itu," ucap Ren membuat Clayton tersenyum.
"Mereka bisa menerkanya, Tuan. Tetapi laki-laki itu pasti akan bertindak dan memberi tanggapan. Jika dia salah berbicara, Boom! Semua asumsi akan mengarah kepadanya," ucap Clayton tersenyum tipis.
"Ini terlalu cepat!" ucap Ren menggeleng.
"Selama semuanya masih berada dalam kendali kita, tidak masalah! Kambing hitamkan saja supir yang membawa Vania, dan tutupi perbuatan laki-laki itu sementara!" ucap Rexy yang baru saja turun.
"Tuan, kalau menurut saya, lebih baik kasus ini segera kita angkat!" ucap Ren.
"Tidak bisa, Ren. Status laki-laki itu adalah seorang pelapor. Dia
tidak bisa kita jerat dengan begitu mudah! Saya belum tau, apakah dia bisa dilaporkan dalam kasus lain atau tidak. Nanti coba tanya kepada pihak kepolisian!" ucap Rexy dengan wajah dinginnya.
Mereka terdiam, apa yang dikatakan oleh Rexy memang benar adanya.
"Pastikan sidang Perempuan itu di percepat dan selesai sebelum waktunya! Desak polisi untuk menyelidiki kasus mereka! Hanya itu cara kita agar bisa mengajukan laporan," ucap Rexy.
"Baik, Tuan," ucap Ren.
Mereka masih berusaha untuk mengatur dan menguasai topik pembicaraan media sosial. Terlepas dari semua komentar dari para pengguna, yang penting nama Justin tidak terseret sebelum laporan resmi di luncurkan.
Rexy memilih untuk menelfon orang tua Elena dan memberikan arahan apa yang harus dilakukan oleh mereka.
__ADS_1
"Yang penting ayah dan bunda harus bisa menutupi jika Elena masih hidup. Lakukan semuanya seolah ayah dan bunda tidak tau apa-apa seperti sebelumnya. Setelah ini percayakan kepada Rexy, kita akan mencari waktu yang tepat untuk menangkap mereka," ucap Rexy melalui sambungan telepon.
"Baiklah, Ayah percayakan semuanya kepada kamu. Jangan sampai kalian kenapa-napa atau bahkan terlibat jauh dengan masalah ini!" ucap Vazo yang terdengar begitu cemas.
"Baik, Ayah. Terima kasih sudah percaya kepadaku. Jika tidak ada yang bertanya, jangan mengatakan apapun, Yah. Jika ayah sempat, ayah posting sesuatu yang bisa menenangkan para netizen, agar opini mereka tidak semakin merajalela membakar berita ini!" ucap Rexy.
"Baiklah! Tolong jaga putri Ayah, Nak! Ayah percayakan Elena kepadamu!" ucap Vazo terdengar tegas.
"Baik, Ayah! Aku akan menjaga Elena dengan nyawaku!" ucap pria tampan itu.
Panggilan terputus, mereka masih sibuk bekerja untuk mengawasi semua pemberitaan dan membersihkan media-media yang di anggap mengganggu. melakukan take down jika terdapat opini yang berusaha untuk mengacaukan pekerjaan mereka.
"Yes! Ketemu, Tuan!" ucap Clayton.
"Apa?" tanya Ren.
"Ini pekerjaan dari beberapa hacker tersembunyi. Mereka sepertinya disewa untuk mengungkit masalah ini," ucap Clayton.
"Lacak keberadaan mereka, Ren!" ucap Rexy tegas.
"Baik, Tuan!" ucap Ren.
Ia segera berjalan menuju ruang kerja Rexy yang terdapat komputer disana. Ia akan memeriksa siapa yang tengah bermain-main dengan kasus besar seperti itu.
Rexy meminta Clayton untuk menyusul Ren ke ruang kerja, karena ia melihat jika pihak WO sudah datang dan memasuki halaman Villa.
"Sebentar, saya membangunkan Elena dulu!" ucap Rexy dengan wajah tampannya yang selalu terlihat dingin.
Empat orang itu mengangguk sambil menikmati pesona dari Rexy. Mereka merasa tersanjung karena langsung di sambut oleh pria tampan yang di idam-idamkan oleh banyak kaum hawa itu.
Rexy masuk ke dalam kamar dan melihat Elena masih bergemul dibawah selimut yang terlihat begitu nyaman.
"Sayang?" panggil Rexy mengecup pipi Elena dengan gemas.
Wanita cantik itu tidak bergerak dan masih memejamkan matanya.
"Sayang, orang WO sudah datang, kamu mau menemui mereka atau aku saja?" tanya Rexy dengan lembut.
Elena menggeliat, matanya sangat mengantuk, apalagi cahaya temaram menemani tidur lelapnya.
"Lima menit lagi, Bee! Aku ngantuk banget!" ucap Elena lirih.
Rexy tersenyum dan memeluk Elena dengan gemas. Lima menit bukan waktu yang lama, namun sangat berharga bagi pihak WO.
Hingga ia memutuskan untuk turun sendiri tanpa Elena, melihat wanita cantik itu enggan untuk terbangun.
"Saya ingin merubah konsep, apa masih bisa?" tanya Rexy setelah duduk di depan para WO.
"Tergantung konsep yang Anda inginkan, Tuan. Jika merombak semua, saya takut tim kami tidak mampu untuk mengejarnya!" ucap Meily.
__ADS_1
"Saya hanya ingin pesta pernikahan nanti, begitu megah dan mampu menampung banyak orang. Apa bisa?" ucap Rexy.
"Tidak jadi menggunakan privat party, Tuan? Jika itu kami masih bisa mengerjakannya dalam waktu dekat ini!" ucap Meily tersenyum.
"Tolong atur semuanya, termasuk katering, souvenir, meja dan kursi, sebanyak 3000 orang. Atur saja semuanya sebaik mungkin, nanti bonusnya akan saya kirim setelah acara," ucap Rexy tersenyum tipis.
"Baik, Tuan. Kami akan mengerjakan semaksimal mungkin. Tetapi, kami perlu DP tambahan untuk...," ucap Meily.
"Tidak masalah! Sebentar saya ambilkan dulu," ucap Rexy kembali naik ke atas menuju kamarnya.
Ia melihat Elena sudah duduk di atas ranjang dengan wajah bantal dan rambut yang berantakan.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Rexy tersenyum dan memeluk Elena.
"Hmm, apa mereka masih ada dibawah, Bee?" tanya Elena.
"Masih, semuanya sudah aku atur!" ucap Rexy mengecup bibir Elena.
Ia segera mengambil cek untuk diberikan kepada pihak WO.
"Bee, aku ikut!" ucap Elena.
Mereka segera turun sambil bergandengan tangan setelah Elena mencuci mukanya.
"Selamat malam, Nona!" ucap Meily.
"Malam, Nyonya Meily," ucap Elena tersenyum.
Rexy menuliskan jumlah yang sangat banyak di sana untuk biaya tambahan pesta pernikahan mereka.
"Saya tidak ingin ada yang tertinggal sedikitpun! Tolong nanti diperhatikan!" ucap Rexy.
"Baik, Tuan!" ucap mereka berbinar melihat cek itu.
Bisa dikatakan hampir 80 persen Rexy telah melunasi pembayaran untuk pesta pernikahannya.
Elena sedikit membicarakan apa yang yang ia butuh ketika acara nanti, termasuk opsi souvenir dan hal lainnya.
Hingga malam semakin larut, mereka berpamitan pulang setelah melihat kondisi villa beserta halamannya dan membuat design baru sesuai dengan keinginan Elena dan Rexy.
Di ruang tamu, Elena merebahkan kepalanya di dada bidang Rexy sembari memainkan jemari pria tampan itu.
"Bee, aku tadi lihat ponsel. Berita kecelakaan itu ada yang mengungkitnya, ya?" Tanya Elena
"Iya, Sayang. Kamu harus berhati-hati setelah ini!" ucap Rexy dengan mata yang begitu tajam.
Elena hanya bisa menghela nafas. Ia takut semua ini akan gagal dan tidak mendapatkan hasil sesuai dengan harapan mereka.
Semoga semuanya tidak kacau. Semua rencana yang sudah di persiapkan dengan matang jangan sampai gagal!. Batin Elena.
__ADS_1