PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Kehebohan Elena


__ADS_3

"Tuan, apa Anda serius?" tanya Vazo masih tidak percaya.


"Tentu, Proposal anda sangat bagus dengan prospek yang bisa digambarkan dengan baik. Silahkan ikut saya ke ruangan sebentar, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Rexy.


"Baik, Tuan," ucap Vazo begitu senang.


"Rapat selesai!" ucap Rexy meninggalkan ruangan bersama dengan Ren dan Vazo.


Mereka berjalan beriringan. Rexy menyusun kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan mertuanya ini.


"Silahkan duduk, Tuan!" ucap Rexy mempersilahkan Vazo duduk di sofa yang berseberangan dengan dirinya.


"Terima kasih banyak Anda sudah menyetujui proposal saya, Tuan. Sungguh saya akan merasa berdosa kepada semua karyawan jika perusahaan itu bangkrut!" ucap Vazo sembari menghela nafasnya.


"Sama-sama. Saya juga merasakn bagaimana susahnya membangun perusahaan dari nol," ucap Rexy.


"Semoga Anda semakin berjaya, perusahaan semakin maju dan menempuh cabang luar negeri dan lebih berkembang lagi," ucap Vazo tersenyum.


"Semoga saja. Tetapi, sebelum menandatangani berkas, saya memiliki satu syarat untuk anda, Tuan!" ucap Rexy


"Syarat? Jika saya masih mampu, saya akan memenuhinya, Tuan," ucap Vazo mengangguk yakin.


"Saya berniat untuk mengundang anda bersama keluarga untuk makan di rumah saya, malam ini. Berharap anda bisa menghadirinya," ucap Rexy tersenyum tipis.


Vazo terkejut, ia belum pernah mendengar ada pengusaha yang diundang oleh Rexy untuk makan ke rumahnya, bukan ke restoran atau tempat yang lain.


"Maaf, Tuan. Anda mengundang saya?" tanya Vazo mengernyit bingung. "Dalam rangka apa?" ucapnya masih mencerna perkataan Rexy.


"Tidak ada, saya hanya terkagum dengan Anda. Sangat disayangkan jika saya tidak bisa menjalin hubungan baik dengan pengusaha hebat seperti anda, Tuan Vazo," ucap Rexy.


Jelas ada, ayah. Anakmu sebentar lagian akan aku nikahi, restu kalian sangat penting untukku!. Batin Rexy meringis.


"Apa boleh saya menelfon istri saya sebentar, Tuan. Karena keadaannya sedang tidak baik, jadi tidak enak rasanya kalau saya pergi sendiri dan meninggal bidadari saya di rumah," ucap Vazo tersenyum.


Rexy termagu, dan langsung mengangguk memberi izin kepada Vazo untuk menelfon istrinya.


Bagaimana tidak hatimu begitu lembut, sayang. Ayahmu begitu memuliakan istrinya, bahkan tidak segan memuji bunda didepan orang lain. Kamu berhasil melewati kehidupan keras dan keluar dari zona nyaman beberapa tahun ini. Batin Rexy menghela nafasnya.


Ia memperhatikan raut wajah sang mertua yang tersenyum manis dengan wajah bahagia.


Tak lama Vazo segera mengakhiri panggilan itu dan kembali duduk bersama dengan Rexy.


"Istri saya setuju, Tuan. Nanti malam kami akan datang ke rumah Anda," ucap Vazo tersenyum.


"Baiklah, sampai bertemu nanti malam. Saya akan mengirimkan supir untuk menjemput anda," ucap Rexy.


Vazo terkejut mendengar ucapan Rexy. "Maaf, Tuan. Tanpa mengurangi rasa hormat, sudah lebih dari lima tahun ini saya tidak mempekerjakan supir lagi, jadi anda bisa mengirim alamat anda, biar nanti saya yang mencarinya," ucap Vazo tersenyum.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Saya tidak memaksa," ucap Rexy.


Ia mengantar Vazo keluar dari ruangan itu. "Saya harap kinerja tuan memang berkualitas seperti pribadi anda!" ucap Rexy tersenyum tipis.


"Saya akan melakukan yang terbaik dan hasil yang memuaskan," ucap Vazo.


"Terlepas dengan apa yang akan terjadi nanti, saya memang mengakui jika anda seorang pengusaha yang hebat, semoga kita bisa bekerja sama setelah proyek ini," ucap Rexy mengulurkan tangannya.


Vazo sedikit mengernyit, namun ia segera membalas jabatan tangan Rexy dan mengangguk.


Mereka berpisah di depan pintu. Rexy menghela nafasnya yang masih terasa sesak karena gugup. Sembari berjalan ia mengendurkan dasi agar pasokan udara lebih cepat masuk memenuhi paru-parunya.


Ah, ini sangat menegangkan. Kinerja ayah memang sangat bagus, tetapi kenapa perusahaan itu bisa bermasalah seperti itu?. Batin Rexy bertanya-tanya.


Ia meraih ponsel dan menghubungi Ren untuk datang ke ruangannya.


"Tolong periksa perusahaan mertua saya, Ren. Kenapa bisa bermasalah seperti itu," ucap Rexy ketika Ren berada di dalam ruangannya.


"Baik, Tuan. Nanti akan saya cek. Untuk berkas kerja sama sudah saya selesaikan, hanya menunggu tanda tangan anda saja," ucap Ren.


"Terima kasih, letakkan saja di atas meja, Ren!" ucap Rexy.


"Saya permisi terlebih dahulu, Tuan!" ucap Ren meniggalkan Rexy.


Pria tampan itu tengah sibuk memberitahukan kepada Elena jika mertuanya setuju untuk makan malam dirumah hari ini.


🍃🍃


Sementara di rumah, Elena membulatkan mata ketika mendapat pesan dari Rexy. Ia panik dan bergegas untuk pergi ke supermarket, membeli beberapa bahan masakan yang akan ia olah nanti.


"Clay!" Pekiknya sambil berjalan mencari dimana pengawal pribadinya itu berada.


"Saya, Nona?" ucap Clayton berlari menghampiri Elena.


"Temani saya berbelanja!" ucap Elena tergesa-gesa.


"Nona, hati-hati!" ucap Clayton yang melihat Elena hampir saja berlari.


Sebab tulang kaki wanita cantik itu belum bisa untuk dibawa berlari, karena cidera lutut yang dialaminya.


"Ayo, Clay. Nanti gak keburu masaknya!" ucap Elena menaiki mobil.


Clayton dengan sigap mengantar Elena dengan hati-hati. Tak lupa beberapa mobil pengawal juga mengikuti mereka dari belakang.


"Apa orang tua Nona akan datang nanti malam?" tanya Clayton.


"Iya, Clay. Sepertinya kamu harus memanggil seseorang nuntuk membawa troli belanjaan nanti," ucap Elena sembari melihat daftar belanjaan yang akan ia beli nanti.

__ADS_1


"Saya sudah membawa beberapa orang, Nona. Kenapa anda tidak menyuruh orang lain saja untuk berbelanja? Anda hanya tinggal memilih siapa yang anda mau," ucap Clayton.


"Kau tau, Clay? Moment ini sudah lama aku tunggu, aku ingin mengurus semuanya agar tidak ada satupun yang terlupa," ucap Elena tersenyum.


"Baiklah, jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa mengatakannya kepada saya," ucap Clayton.


Elena mengangguk dan tersenyum. Mobil terus berjalan menuju supermarket terbesar yang ada di kota itu.


Setelah sampai, mereka segera turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam supermarket itu.


"Mau ambil berapa troli, Nona?" tanya Clayton.


"Ambil satu saja dulu, Clay!" ucap Elena.


Ia mulai memilih satu persatu bahan masakan yang ia perlukan. Daging, ayam, seafood, dan ikan pun tak luput dari list belanjaan yang sudah ia buat.


"Nona, anda akan memasak apa?" tanya Clayton melihat belanjaan Elena.


"Banyak, Clay. Saya memasak semua menu kesukaan mereka," ucap Elena.


Hingga satu troli penuh berisikan bahkan makanan. Clayton segera menyuruh orang untuk mengambil troli lagi untuk membawa semua belanjaan.


"Elena?" panggil seseorang membuat wanita cantik itu terkejut.


"Eh, Mas Adi?" sapa Elena tersenyum.


"Kamu mau ngadain pesta dengan belanja sebanyak itu?" tanya Justin mengernyit.


"Tidak, Mas. Ini hanya belanjaan satu bulan, nanti. Jadi aku tidak perlu belanja lagi," ucap Elena tersenyum. "Mas Adi sedang apa?" ucapnya bertanya.


"Aku mencari beberapa bahan makanan. Kamu tau sendiri jika sekarang aku diburu, jadi lebih baik berdiam diri di apartemen dan memasak makanan sendiri!" ucap Justin.


Pria tampan itu tengah memakai masker, topi dan kaca mata agar bisa mengelabuhi para media yang tengah mencari berita tentang dirinya.


"Kasihan kamu, Mas. Apa tangannya sudah sembuh?" Tanya Elena sambil berjalan memilih beberapa cemilan.


"Masih pemulihan, Na. Ah, iya minggu depan sidang perdana perceraianku akan digelar. Kapan ada waktu mampir ke apartemen ya, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Justin.


"Nanti kalau ada waktu aku datang ke sana, mungkin besok atau lusa," ucap Elena tersenyum.


"Iya, aku merindukanmu," ucap Justin mengusap kepala Elena.


Wanita cantik itu tersenyum dan melanjutkan mencari barang-barang bersama dengan Justin.


Sementara Clayton hanya terdiam memasang wajah tidak suka kepada Justin yang sangat pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.


Ah, saya bosan melihat dia. kapan laki-laki ini akan menempati rumah barunya? Lapas atau penjara bawah tanah mungkin lebih baik!. Batin Clayton jengah.

__ADS_1


__ADS_2