
Justin terdiam mendengarkan pertanyaan Elena. Ia masih belum bisa bercerita, takut jika wanita cantik ini memilih untuk pergi meninggalkannya.
"Mas, jawab aku!" Ucap Elena berusaha tenang, ia mengusap pipi Justin dengan lembut.
"Kita makan dulu, ya. Nanti aku cerita!" Ucap Justin tersenyum.
Elena mengangguk dan tersenyum kecut. Semoga malam ini aku bisa melihat sisi lain dari dirimu, Mas. Batinnya penuh harap.
Mereka menghabiskan makanan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Elena makan dengan cukup cepat karena ia merasa sudah tidak sabar lagi untuk mendengar cerita Justin.
"Sudah habis, Baby?" Tanya Justin menyuap potongan terakhir.
"Sudah Mas," Ucap Elena tersenyum.
"Bagaimana, apa masakanku enak?" Tanya Justin berdiri dan megulurkan tangannya.
Elena tersenyum dan menggenggam tangan Justin dengan lembut. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu untuk melanjutkan cerita.
"Ya, bumbunya kan aku yang meracik, Mas. Tentu saja enak!" Ucap Elena tersenyum.
"Ah, iya aku lupa. Pasti enak banget kan masakan sendiri?" Tanya Justin terkekeh.
Elena hanya bisa tergelak mendengarkan ucapan Justin. Mereka sudah duduk bersebelahan di atas sofa. Justin menyalakan televisi dan menuangkan Wine ke dalam gelas.
"Kamu bisa minum, Baby?" Tanya Justin menatap Elena penuh harap.
"Hmm, tidak terlalu kuat, Mas. Satu atau dua gelas aku masih kuat!" Ucap Elena tersenyum.
"Ah, sebentar, Baby. Aku ambilkan yang kadarnya paling rendah!" Ucap Justin berjalan menuju mini bar-nya untuk mengambil Bir kualitas terbaik yang ia miliki.
"Ini, kadar alkohol paling rendah yang aku punya, atau kamu mau Jus saja?" Tanya Justin menggaruk tengkuknya.
"Itu saja, Mas. Terima kasih!" Ucap Elena tersenyum.
Justin menuangkan Bir itu ke dalam gelas dan memberikannya kepada Elena. Ia tersenyum manis, menatap wanita cantik yang membuatnya merasa nyaman.
Entah kenapa, aku merasakan jika Elena memiliki aura yang sama dengan Vania. Aura yang selalu membuatku tenang dan nyaman. Batin Justin sendu.
"Kenapa Mas?" Tanya Elena melihat Justin terpana menatap ke arahnya.
"Ah, tidak. Aku hanya merasakan jika mendiang ada di sini!" Ucap Justin sendu.
__ADS_1
Ia menegak Wine hingga tandas dan menuangnya kembali. Elena sudah sangat penasaran mendengarkan cerita dari Justin dan berharap jika pria ini mabuk dan bisa mengatakan semuanya.
"Apa kamu merindukannya, Mas?" tanya Elena lirih.
Justin terdiam dengan pandangan mata yang kosong. Ia kembali menegak alkohol itu. "Aku pikir setelah melenyapkan Vania, aku bisa hidup lebih baik bersama dengan Reema. Ternyata aku salah! Vania pergi dan membawa sebagian hidupku bersamanya!" Ucap Justin lirih.
Elena tercekat, ia berusaha mengendalikan diri agar tidak memberi reaksi berlebihan dan bisa mendengar cerita Justin lebih banyak.
"Memang, awalnya aku tidak merasakan apa-apa, namun setelah satu minggu kepergiannya. Aku merasa ada yang hilang dalam diriku," Ucap Justin mulai berkaca-kaca.
"Apa Mas tidak mencintai Vania?" Tanya Elena lembut dan mengusap bahu Justin dengan lembut.
"Kami di jodohkan. Satu tahun aku berusaha untuk mencintainya, namun tidak bisa. Hingga aku bertemu dengan Reema dalam beberapa bulan usia pernikahan kami. Dia bisa memberikan rasa yang berbeda di dalam hatiku, makanya aku merasa semakin sulit untuk menerima!" Ucap Justin menatap nanar ke sembarangan arah.
"Satu tahun itu waktu yang cukup lama Mas. Apa vania tidak mencintai kamu?" Tanya Elena berusaha untuk kuat.
"Aku bisa merasakan cinta di setiap perlakuannya, setiap tatapan mata dan senyuman yang selalu menyambutku mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi!" Ucap Justin tersenyum kecut.
Mereka terdiam, Elena berusaha untuk menata hati agar ucapan Justin tidak menggoyahkan tekadnya. Sementara Justin terus meminum Wine yang masih tersisa banyak di dalam botol.
"Aku bodoh 'kan? Hanya karena Reema menghadirkan rasa, aku malah menuruti semua keinginannya!" Ucap Justin.
"Maksud kamu Mas?" Tanya Elena mengernyit.
"Bisa, Mas. Kamu bisa mempercayaiku!" Ucap Elena tersenyum.
"Kenapa kamu hadir, Na? Kamu mengingatkan aku kepada Vania!" ucap Justin lirih.
"Mas boleh anggap aku Vania jika merindukannya!" Ucap Elena tersenyum.
"Tidak! Aku tidak mau. Jika itu aku lakukan, maka akan semakin sulit bagiku untuk lepas dari bayangannya!" Ucap Justin menatap Elena lekat.
"Baiklah, aku tidak memaksa!" Ucap Elena.
Justin kembali menegak minumannya. Dan mengambil nafas dengan lebih dalam sebelum memulai untuk menceritakan kisah kelamnya dulu.
"Reema tau jika aku memiliki istri, dia meminta aku untuk menceraikan Vania dan menikahinya. Sebab, keperawanan Reema sudah aku renggut dan dia minta pertanggungjawaban. Saat itu aku hanya bisa menjanjikan sebuah pernikahan kepadanya. Dengan syarat dia harus menunggu satu tahun pernikahanku," Ucap Justin.
Elena semakin penasaran dengan cerita Justin. Sayangnya ia tidak bisa merekam apa yang sudah dikatakan oleh pria tampan ini.
"Awalnya aku hanya berencana untuk menceraikan Vania. Namun pernikahan kami adalah pernikahan bisnis, jika kami berpisah maka akan berpengaruh kepada dua perusahaan. Reema memberi usul untuk melenyapkan Vania. Entah kenapa aku menyetujuinya, dan terjadilah kejadian itu. Semua diatur oleh Reema, dan aku hanya memberi perintah saja!" Ucap Justin sendu.
__ADS_1
"Jadi, kematian Vania atas permintaan Reema, Mas?" Tanya Elena mulai terpancing.
"Iya," Justin terdiam. Ia menghela nafasnya beberapa kali ketika mulai merasakan sesak.
"Aku sadar aku salah, Na. Tapi aku juga ingin bersama dengan Reema! Dan sekarang aku menyesal!" Ucap Justin dengan mata yang berkaca-kaca.
Elena menoleh dan menatap Justin lekat. "Mas menyesal dengan perbuatan, Mas?" Tanya Elena tercekat.
"Iya, Baby. Jika waktu bisa di putar kembali, aku lebih memilih untuk belajar mencintai Vania dan bertahan walaupun tidak ada cinta di hatiku untuknya!" Ucap Justin semakin tercekat.
Air matanya sudah siap menetes jika ia berkedip sedikit saja. Elena pun juga ikut tercekat, ia hanya bisa menunduk dan menahan hati untuk tidak menangis.
El, jangan sampai terbawa suasana! Bagaimana pun dia menyesal, balas dendam harus dijalankan sesuai rencana! Ada Rexy yang lebih baik, menunggu kepulanganmu!. Batin Elena berusaha untuk kuat.
"Satu minggu setelah kepergian Vania, aku baru merasakan kehilangan. Tidak ada lagi perempuan yang memasangkan kancing baju, dasi dan menyiapkan semua kebutuhanku. Memasakkan aku sarapan, senyuman hangatnya yang begitu tulus!" Ucap Justin yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
Elena masih terdiam, membiarkan Justin bercerita apapun yang ingin ia ucapkan. Pria tampan itu mengambil tisue dan mengusap air matanya sambil terkekeh.
"Ah, sudah lama aku tidak menangis, Na. Maaf ya!" Ucap Justin.
"Tidak apa, Mas. Kamu juga manusia, butuh teman cerita dan menangis," Ucap Elena mengusap lengan Justin dengan lembut.
"Terkadang aku merindukannya, Na. Pasti aku ada di sini, jika rasa itu kembali hadir. Sejak awal, semua tata letak ruang ini tidak pernah berubah sedikitpun. Aku membeli Apartemen ini agar bisa menghindari Vania. Namun dia mengetahui tempat persembunyianku. Aku pasrah, ketika ia mengatur semuanya, bahkan sandi pintu ia tukar juga. Hingga saat ini, masih dengan sandi yang sama!" Ucap Justin tersenyum.
Bayangan Vania mulai hadir kembali diingatannya. Berbeda dengan Elena, ia terdiam merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Justin.
"Tanpa sadar, Mas sudah mencintai Vania?" Tanya Elena lirih.
"Aku tidak tau, yang jelas aku sudah menerima keberadaannya saat itu, namun belum dengan cinta! Dan setelah dia tiada, aku baru sadar jika cinta itu sudah ada," Ucap Justin.
Ia kembali menegak minuman itu, bahkan sudah lebih dari setengah botol ia habiskan, namun belum ada tanda-tanda Justin akan mabuk.
"Apa Reema tidak melakukan hal yang sama kepada, Mas?" Tanya Elena.
"Tidak, dia hanya sibuk dengan karirnya sebagai model. Jika di ada pekerjaan keluar kota aku akan tidur di sini, atau mungkin ke makam Vania!" Ucap Justin tersenyum kecut. "Aku tidak memiliki teman ngobrol lagi, Na!" Sambungnya lirih.
"Mas bisa hubungi aku kalau ingin mengobrol!" Ucap Elena merasa miris dengan kehidupan Justin. "Mas Sudah berapa lama menikah dengan Reema?" Tanya Elena penasaran.
"Baru dua tahun, Na. Tiga tahun selepaa kepergiannya, aku sibuk dengan rasa penyesalan!" Ucap Justin tersenyum. "Apa aku boleh tidur di pangkuanmu?" Tanya Justin penuh harap.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE