PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Penangkapan Justin


__ADS_3

Brak!!


Elena menendang Justin dengan sekuat tenaganya, sehingga membuat pria tampan itu tersungkur dan menghantam dinding.


Semua orang terkejut melihat apa yang dilakukan Elena. Joy dengan sigap membantu Justin dan mendorong wanita cantik itu.


Belum lagi itu terjadi, Rexy sudah mengamankan Joy dan memborgol tangannya.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan? Lepaskan saya!" pekik Joy yang berusaha untuk memberontak, karena Rexy sudah melumpuhkannya.


"Diam kau, atau saya bunuh di tempat hari ini juga!" bentak Rexy.


Justin terbatuk merasakan sakit yang teramat pada tubuhnya. Ia meringkuk di atas lantai sembari memegangi perut yang mulai terasa kebas.


"Sakit?" tanya Elena berjalan mendekat kearah Justin. "Itu belum sebanding dengan sayatan dokter yang sudah tidak terhitung lagi di tubuhku!" teriak Elena.


"Maafkan aku, Na!" ucap Justin terbata, ia tidak tau harus berbuat apa lagi.


Sungguh ia begitu terkejut melihat Elena sekarang yang sangat berani dan kuat. Tendangan yang tidak mampu ia tepis, membuat seberapa tetes darah keluar dari mulutnya.


Justin sudah lemah dengan Elena, ia tidak mampu melawan wanita yang kini telah ia cintai itu. Walaupun nyawa yang akan menjadi taruhannya.


"Maaf? Saya bukan Tuhan yang maha pemaaf! Saya hanya seorang iblis berwujud manusia yang tengah membalaskan dendamnya!" ucap Elena menginjak jemari Justin yang berada di lantai.


"Aarrgghh! Sakit, Na!" jerit pria tampan itu.


"Sakit? Rasa sakitmu tidak sebanding dengan penderitaanku yang tidak bisa berjalan selama bertahun-tahun!" ucap Elena kembali berteriak.


Semua orang hanya menelan ludah melihat bagaimana kejamnya seorang Elena. Wanita cantik yang dibawa oleh Rexy secara tiba-tiba.


"Na, aku minta maaf. Aku salah, tolong maafkan aku!" ucap Justin yang merasa begitu hancur melihat sikap Elena kepadanya setelah mereka melewati hari-hari yang begitu indah.


Elena terdiam menatap Justin. Ia memejamkan mata, bulir air perlahan mata netes dan membasahi pipinya.


"Aku memaafkanmu!" ucap Elena lirih. "Tapi, kau harus tetap mempertanggungjawabkan apa yang telah kau perbuat!, sambungnya Elena tegas.


Vazo hanya terdiam melihat Elena hari ini. Sisi lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari sang putri.


Elena berjalan mendekat kearah Rexy dan langsung memeluk pria tampan itu dengan erat.


Rexy tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah menerka jika Elena tidak akan berbuat lebih jauh untuk menyakiti orang yang pernah ia sayang.


"Aku di sini, Sayang! Semuanya sudah berakhir!" ucap Rexy mengusap kepala Elena sembari menatap Justin.


Sementara yang di tatap hanya melayangkan tatapan kebencian kepada Rexy, karena merebut Elena darinya.

__ADS_1


"Clay, biarkan mereka masuk!" ucap Elena dengan lantang.


Brak!


Pintu terbuka dengan keras, begitu banyak polisi yang datang untuk menjemput Justin dan Joy. Di ikuti beberapa orang wartawan, wajah mereka terekspos begitu saja.


Tetapi tidak ada yang menyorot Elena yang bersembunyi di balik punggung Rexy.


"Na, kita bisa bicarakan ini lagi! Na, aku sungguh menyesal!" teriak Justin dengan sisa tenaga yang punya.


Semua orang pergi meninggalkan ruangan itu, dan hanya menyisakan para pemegang saham, Ren dan Clayton.


"Silahkan tanda tangani surat pemecatan ini, Tuan-tuan sekalian! Saya sudah memiliki kandidat untuk menggantikan posisi pembunuh itu!" Ucap Rexy tegas.


Mereka segera melakukan apa yang di ucapkan oleh Rexy tanpa mengeluarkan suara.


"Rapat selesai! Clayton, urus perusahaan ini!" Ucap Rexy tegas.


Tiba-tiba saja Elena terkulai lemas dan tubuhnya membentur punggung Rexy. Semua orang terkejut, Rexy segera menggendong Elena dan membawanya menuju rumah sakit.


"Ren, urus kantor polisi! Ayah ayo temani aku," ucap Rexy panik.


Para pemenang saham masih berada di sana. Mereka terduduk dengan lemas mengingat apa yang baru saja terjadi.


Clayton dengan wajah cemas memikirkan Elena, namun ia tidak bisa ikut karena harus mengelola perusahaan ini yang tengah mengalami kekosongan kepemimpinan.


"Kami percayakan semuanya kepada Anda! Saya yakin, tuan Rexy tidak akan salah memilih orang," ucap salah satu pemegang saham.


"Terima kasih," ucap Clayton mengantarkan mereka semua keluar dari dalam ruangan.


🤸‍♂️🤸‍♂️


Rexy dengan wajah yang begitu khawatir, segera membawa Elena menuju rumah sakit. Ini yang ia takutkan jika Elena terlalu emosi dan tidak bisa mengatur diri jika sudah marah.


Jantungnya tidak bekerja dengan baik, akibat kecelakaan itu. Sehingga kini, Elena tidak bisa berada di dalam situasi yang menegangkan.


Apalagi ia juga mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk menendang Justin, dimana postur tubuh laki-laki itu lebih besar dibandingkan dirinya.


"Sayang, bangun!" ucap Rexy masih memeluk Elena.


Sementara Vazo ikut merasa cemas dengan tangan yang gemetaran melihat kondisi Elena saat ini.


Jangan sampai kamu kenapa-napa lagi, sayang. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami selama ini. Batin Vazo.


Beruntung Rexy mendapatkan kawalan langsung dari kepolisian, sehingga dalam waktu dekat ia bisa membawa Elena menujukan rumah sakit dengan cepat.

__ADS_1


Elena langsung dilarikan menuju ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Beberapa orang dokter dan perawat sudah bersiap di luar untuk berjaga-jaga.


"Apa ini efek dari kecelakaan itu, Rexy?" tanya Vazo khawatir.


"Iya, Ayah! Jantung Elena bermasalah. Ini sudah lebih baik setelah dioperasi," ucap Rexy lirih.


Vazo mengusap wajahnya dengan kasar. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang itu.


"Apa Elena berlatih bela diri?" tanya Vazo.


"Tentu, Ayah. Itu adalah pelajaran wajib setelah Elena bisa berjalan kembali," ucap Rexy menghela napasnya.


"Terima kasih sudah menjaga Elena dengan baik!" ucap Vazo dengan mata yang berkaca-kaca.


"Rexy mencintai Elena, Yah. Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk melindunginya!" ucap Rexy.


Vazo mengangguk. Laki-laki ini memang sangat tegas dan begitu kasar. Namun ia bisa membuktikan jika wanita harus dihargai, sekeras apapun pribadi laki-laki.


Cukup lama dokter menangani Elena. Berusaha mencari cara untuk menyadarkan wanita cantik itu dengan sebaik mungkin.


Dokter keluar dengan peluh yang bercucuran. Rexy dan Vazo segera menanyakan bagaimana kondisi Elena kepadanya.


"Nona Elena masih belum sadarkan diri, tetapi kondisi pasien sudah lebih baik. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Saya sudah sering katakan, hindari Nona dari situasi yang membuat jantungnya bekerja lebih cepat!" ucap Dokter itu.


Rexy dan Vazo bernapas lega. setidaknya Elena masih baik-baik saja, walaupun belum sadarkan diri.


"Untuk sementara, Nona akan kami rawat terlebih dahulu. Kami akan memindahkan pasien kedalam ruangan ICU agar mendapatkan penanganan yang lebih baik!" ucap dokter itu.


Rexy mengangguk dan segera mengucapkan terima kasih. Lalu ia pergi menuju pendaftaran agar Elena bisa segera mendapatkan penanganan yang terbaik.


🤸‍♂️🤸‍♂️


Sementara itu di kantor polisi. Justin terbaring lemas di atas brangkat rumah sakit, dengan penjagaan dan pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian.


Perutnya terasa begitu sakit pada bekas hantaman keras Elena. Kini ia terlelap setelah mendapatkan obat penghilang rasa sakit dari dokter, setelah melakukan CT scan.


Berbeda dengan Joy, ia terus saja memberontak dan meneriaki semua petugas ketika berada di dalam balik jeruji.


"Kalian tidak bisa menangkap saya tanpa alat bukti! Saya akan menuntut kalian kembali jika saya terbukti tidak bersalah!" ucap Joy tegas.


"Haha, akhirnya kita bertemu lagi!" ucap seseorang yang berhasil membuat Joy semakin murka.


"Huh, satu lagi perempuan ular! Apa kau tidak tau malu? Gara-gara kau, aku ikut terseret dalam kasus ini!" bentak Joy.


"Itu derita lo! Siapa suruh melaporkan saya lagi!" ucap Reema mengibaskan rambutnya.

__ADS_1


"Kurang ajar! Kau akan ku cabik-cabik setelah ini!" pekik Joy.


Mereka terus berdebat tanpa henti, bahkan petugas sudah muak mendengarkan perdebatan mereka.


__ADS_2