PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Salling Menggoda


__ADS_3

Setelah melakukan photoshoot, Rexy membawa Elena berjalan untuk menyapa para rekan kerja yang hadir dalam acara pernikahannya.


Berbagai macam pujian terlontar manis dari mulut mereka. Ada yang memang benar-benar tulus, dan ada juga yang sengaja menjilat.


"Bee, aku sudah mulai lelah!" ucap Elena lirih dan membuat Rexy menoleh.


"Kita istirahat sekarang saja, Sayang. Jangan sampai kamu drop lagi," ucap Rexy mengusap wajah Elena.


Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. Mereka segera berpamitan kepada para rekan bisnis dan menuju kamar pengantin yang sudah siap untuk digunakan.


"Apa mau aku gendong, Sayang?" tanya Rexy dengan lembut.


"Aku masih kuat, Bee," ucap Elena dengan pipi yang merona.


Jantungnya mulai berdetak tidak karuan, mengiri langkah mereka menuju kamar pengantin.


Astaga, ini bukan yang pertama. Tapi, kenapa aku bisa merasa sangat gugup seperti ini?. Batin Elena menatap tangannya yang digenggam oleh Rexy.


Ceklek!


Rexy membuka pintu dan mempersilahkan Elena untuk masuk terlebih dahulu. Mereka cukup takjub dengan dekorasi kamar yang terasa begitu romantis.


"Apa kamu mau mandi, Sayang?" tanya Rexy menatap Elena yang sudah duduk di atas ranjang.


"Iya, Bee. Aku sudah gerah dengan baju ini. Aku ingin menghapus make up juga," ucap Elena mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Rexy berjalan mendekat dan menatap sang istri sambil tersenyum dengan semua pikiran mesumnya.


"Sayang, apa kamu butuh bantuan untuk membuka gaun itu?" tanya Rexy.


"Hmm? Sepertinya ia, Bee. Aku akan sangat kesulitan untuk membukanya nanti," ucap Elena sambil memejamkan mata.


Rexy tersenyum dan ikut berbaring disamping Elena. Ia menatap langit-langit kamar sambil tersenyum merona.


"Akhirnya kita menikah, Sayang," ucap Rexy.


Elena tersenyum dan membuka matanya. "Iya, Bee. Setelah semua yang kita lalui, akhirnya hari ini bisa terlaksana dengan baik dan lancar," ucapnya.


"Sekarang kita sudah bisa tenang, bukan? Mereka satu persatu sudah mendapatkan karma dari apa yang sudah diperbuat," ucap Rexy mulai menatap Elena dengan wajah yang begitu lega.


"Iya, Bee. Aku bersyukur karena bisa bertemu dan melewati ini semua bersamamu," ucap Elena tersenyum.


Tangan Rexy mulai membelai perut rata Elena dan mendekatkan diri. Ia memeluk wanita cantik itu dan mengcup kepalanya.


"Aku yang paling bersyukur bisa memperjuangkanmu, Sayang. Kamu wanita yang hebat, bahkan kamu kuat menantang maut sekalipun," ucap Rexy tersenyum.


"Jika kamu telat sedikit, hari ini tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakannya!" ucap Elena tersenyum dan menggenggam tangan Rexy.


"Ayo kita bersih-bersih dulu, Sayang!" ucap Rexy tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Elena mengangguk dan segera bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju meja rias yang sudah disediakan perlengkapan make up yang biasa ia pakai.


Rexy mengikuti kemanapun langkah kaki Elena. Ia juga ikut mengganggu wanita cantik itu dengan sesekali mengcup bahunya yang terbuka itu.


"Kita mandi bersama, ya!" ucap Rexy membuat Elena tersentak.


"Bee, nanti kamu macam-macam. Aku mau istirahat sebentar ya," ucapnya memelas.


Rexy menahan tawanya dan kembali mengecup bahu Elena. "Aku hanya mengajakmu untuk mandi bersama, Sayang. Jangan pikirkan macam-macam!" ucapnya terkekeh.


"Aku gak percaya kalau pikiran kamu makasih lurus," ucap Elena mendelik.


"Hahaha," pria tampan itu tergelak dan menatap Elena dengan lekat. "Jangan khawatir, Sayang. 1 jam lagi aku masih bisa menahannya. Walaupun adikku sudah sangat tidak sabar," sambung Rexy.


Elena menghela nafas lega. Ia sungguh ingin tidur barang sebentar saja. Agar nanti bisa bertempur dan mengalahkan Rexy dimalam pertama mereka setelah sah menjadi suami dan istri.


"Kalau gitu, kamu mandi duluan saja," ucap Elena masih membersihkan wajahnya.


"Yakin gak mau mandi bareng?" tanya Rexy tersenyum mesum.


"Hmm," wanita cantik itu hanya berdeham karena tengah membersihkan lipstiknya.


Rexy segera membuka satu persatu baju yang tengah membalut tubuhnya. Tanpa rasa malu, ia hanya menyisakan boxer ketat, sehingga adiknya yang sudah mulai aktif, tercetak dengan jelas.


Glek!


Elena mengintip melalui kaca dan membuatnya kesulitan untuk menelan ludah.


Manik matanya masih mengiringi langkah kaki Rexy yang sudah menghilang dibalik pintu. Namun pria tampan itu seolah tengah menggodanya. Ia mandi tanpa menutup pintu, sehingga gemercik air terdengar ditelinga dengan jelas.


Elena hanya menggeleng dan tersenyum sambil melihat pantulan wajahnya yang tengah merona melalui cermin.


Hingga ia selesai membersihkan wajah, bersamaan dengan Rexy yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang hanya menutupi bagian sensitifnya.


"Sudah selesai, Bee? Sebentar, aku ambilkan baju dulu," ucap Elena berdiri dan berjalan menuju lemari. "Baju kita sudah ada di sini 'kan Bee?" sambungnya sambil membuka lemari.


Ia mengernyit ketika tidak mendapati apapun di dalam sana. Hanya sehelai boxer dan juga lingerie tanpa dalaman.


Ia mengerjabkan mata beberapa kali tanpa menyadari jika Rexy sudah ada di belakangnya.


"Para bunda memang sangat pengertian," uap Rexy terkekeh.


Elena mendelik dan berbalik menatap Rexy yang sedang mengusap-usap dada bidangnya.


Glek!


Jika bukan karena mengingat kesehatan, ia tidak akan menolak ajakan Rexy sedikitpun untuk mengarungi puncak kenikmatan bersama.


Tak ingin larut dalam hayalan, Elena segera mengambil Boxer itu dan menyerahkannya kepada Rexy. Ia tau jika pria tampan itu tengah menggoda dan juga mengerjai dirinya.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu, Bee," ucap Elena keluar dari ruang ganti.


Rexy masih menahan senyumnya. Ia segera memakai boxer itu dan berjalan keluar mengikuti langkah kaki Elena.


Ia menatap sang istri dengan penuh cinta. Wanita cantik itu tengah membuka beberapa asesoris yang masih melekat ditubuhnya.


Rexy mendekat dan melepaskan resleting gaun yang tengah dipakai oleh Elena, sehingga membuatnya terkejut, ketika gaun itu mulai melorot.


"Astaga, Bee!" ucap Elena mempertahankan kain yang menjadi penutup tubuh terakhir, sebelum Rexy menerkam.


"Haha, katanya tadi mau aku bantuin, Sayang," ucap Rexy terkekeh sambil duduk di atas ranjang.


Elena hanya berdelik, ia berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi kearah Rexy.


"Apa mau aku mandiin, sayang?" tanya Rexy terkekeh.


"Gimana, ya?" ucap Elena berbalik badan dan melepaskan gaun yang tengah ia gunakan.


Srak!


Rexy melotot ketika melihat Elena hanya mengenakan kemben dan dalaman saja. Ia segera bangkit dari atas ranjang dan mengejar Elena.


"Hahaha," Tawa wanita cantik itu terdengar seiringan dengan pintu kamar mandi yang terkunci.


"Sayang, buka pintunya!" ucap Rexy tertawa sambil mengetuk pintu.


"Gak mau!" ucap Elena tertawa.


Rexy hanya menggeleng dan kembali duduk di atas ranjang. Ia melihat ponsel yang sudah berbunyi sedari tadi.


Pesan dari Clayton yang mengatakan jika Elena harus hadir besok salam persidangan. Rexy hanya menghela nafas, bayangan bulan madu tanpa masalah seketika buyar karena pesan ini.


Elena yang baru saja keluar dari kamar mandi mengernyit menatap Rexy yang terlihat kesal.


"Kenapa, Sayang?" tanya Elena.


"Hmm, besok kamu harus hadir dalam sidang. Terpaksa keberangkatan kita harus di undur," ucap Rexy lesu dan membaringkan diri di atas ranjang.


Elena terdiam, ia memilih untuk memakai lingerie terlebih dahulu, karena Bathrobe yang ia kenakan terasa basah.


"Gak papa, Bee. Yang penting masalah ini cepat selesai. Biarkan orang-orang tau sosok Vania yang masih hidup sampai sekarang," ucap Elena tersenyum.


Ia segera naik ke atas ranjang dan berbaring terlentang sambil menutupi tubuhnya. Rexy yang kesal langsung memeluk Elena dengan manja.


"Aku gak mau bulan madu kita terganggu!" ucap Rexy lirih.


"Undur keberangkatan saja, Bee. Kita berangkat malam. Ada 'kan penerbangannya?" ucap Elena mengusap kepala pria tampan itu.


Rexy mengangguk. Mereka segera beristirahat, mengumpulkan energi untuk bertempur nanti.

__ADS_1


Terlelap untuk pertama kalinya dengan status suami dan istri.


__ADS_2