PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Langkah Justin


__ADS_3

Sementara di rumah sakit, Justin baru saja terbangun dari pingsannya. Tubuh yang sangat lemah dan tidak bertenaga, membuat pria tampan itu memilih diam dan memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


Saham 10 pesen sangatlah besar jika memang di jual dengan harga rendah. Itu akan memberikan dampak yang cukup buruk terhadap saham perusahaan yang baru saja stabil.


Perusahaan itu, sudah tidak lagi menjadi milikku. Jika salah langkah sedikit saja, Rexy pasti akan mengambil alih dan mengakuisisi perusahaan. Ah, kenapa bisa jadi seperti ini?. Batin Justin merasa frustrasi


Kedua orang tua Justin hanya terdiam menatap sang putra yang sedang termenung dengan mata menatap langit-langit ruangan.


"Nak?" Panggil Mommy Tiara.


"Hmm," Justin hanya berdeham malas.


"Mana yang sakit? Sini bilang sama mommy," ucap Tiapa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak ada," ucap Justin singkat.


Ia masih berpikir jauh, berkelana merenungi semua kesalahan dan menghubungkannya dengan semua ini.


"Mom, Apa mereka sudah bergerak?" Tanya Justin.


"Sudah, berita kamu melakukan KDRT sudah tersebar. Namun ada beberapa akun yang membuat pro dan kontra, mengiring opini untuk mengacaukan berita itu," ucap Mommy mengelus kepala Justin.


"Apa itu akun Fake? Seperti ada yang ingin mengendalikan berita?" tanya Justin lirih.


"Sepertinya iya, Nak," ucap Tiara.


"Apa bukti untuk membelaku sudah dikumpulkan, Mom?" Tanya Justin.


"Sudah, Joy sudah mendapatkan semua buktinya. Setelah itu, Mommy belum mendapatkan berita lagi," ucap Tiara.


"Apa Mom percaya dengan berita itu?," Tanya Justin.


"Tentu tidak, Nak. Mom, lebih percaya kepada putra Mommy," ucap Tiara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Julio hanya mendengarkan perbincangan anak dan istrinya. Ia tidak ingin menggunakan emosi kali ini, mengingat kondisi Justin lebih penting dari apapun.


"Mom, aku ingin pulang dan menemui Vania," ucap Justin dengan air mata yang mengenang.

__ADS_1


"Tunggu nanti kalau diizinkan oleh dokter, ya. Sekarang kamu masih lemas. Apa lagi kamu baru saja menjalani operasi," ucap Tiara lembut.


"Aku bosan Mom," keluh Justin.


Tiara hanya menggeleng. Justin sangat keras kepala jika terus ia larang. Lebih baik diam agar perdebatan itu berhenti.


"Aku tidak pernah memukulnya, Mom. Luka memar itu ada karena dia mencekik orang di toilet restoran. Ternyata dia salah memilih lawan karena perempuan itu menguasai ilmu beladiri. Makanya, wajah dia bisa lebam seperti itu," ucap Justin merasa lelah untuk menjelaskan semuanya.


Julio sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Justin. Namun dengan kondisi seperti ini, apa yang dikatakan oleh sang putra juga bisa dipercaya. Namun semua bukti akan ia lihat setelah ini, mana yang benar dan mana yang salah.


"Terlihat seperti aku yang menyakiti, tetapi dia yang menyakitiku, Mom. Dia membanggakan semua pencapaiannya di dunia modeling, tetapi dia tidak tau kalau aku mengirim beberapa orang untuk mengikutinya. Mom tau, jika dia tidur bersama dengan produser-produser hingga ia bisa debut diluar negeri? Itu yang aku tanggung, Mom. Aku sudah tidak tahan lagi!" ucap Justin sembari menahan emosi.


"Kamu tenang ya, Nak. Mommy sudah mencari pengacara terbaik untukmu. Mommy pastikan kita akan menang di persidangan nanti," ucap Tiara mengelus kepala Justin.


"Aku membutuhkan rekaman video dari Elena. Perempuan yang bertengkar dengan wanita ular itu," ucap Justin.


"Elena? Siapa Elena?" Tanya Tiara.


"Dia temanku, Mom. Kami baru saja aku kenal. Tetapi Reema sudah mengganggap dia sebagai rival dan saingan," ucap Justin.


"Apa Mommy bisa bertemu dengan dia?" tanya Tiara.


"Bagaimana agar Mommy bisa bertemu dengan dia?" Tanya Tiara.


"Aku memiliki nomor ponselnya, Mom," ucap Justin.


Ketegasannya hilang seketika jika sudah berhadapan dengan sang ibunda. Ia akan menjadi anak baik dan penurut, karena terakhir kali ia membangkang, Tiara syok dan harus dilarikan ke rumah sakit.


Julio menyerahkan ponsel Justin. Pria tampan itu langsung menghubungi Elena, dan menanyakan Video tersebut tanpa basa basi.


Elena dengan senang hati mengirimnya, setelah mengedit video itu terlebih dahulu, agar Elena terlihat tidak bersalah di sana sebab ia yang memancing keributan itu.


Vidio yang disertai tanggal dan waktu itu menjadi bukti kuat untuk membuat Justin terbebas dari semua tuntutan.


Sebaliknya, ia akan mengeluarkan semua bukti untuk menuntut balik pihak Reema dan menceraikan perempuan itu dengan segera.


Video langsung diterima oleh Justin setelah Elena mengirimkannya. Tiara dan Julio yang penasaran ikut melihat video itu dan terkejut ketika Reema tiba-tiba saja menyerang Elena dan mencekik wanita cantik itu.

__ADS_1


Karena merasa tersakiti, Elena memuku Reema hingga perempuan itu melepaskan tangannya dari leher Elena dan tersungkur.


"Kata-kataku memang kasar, Mom. Tetapi aku tidak pernah memukul istri sampai lebam seperti itu. Dan sekarang aku menyesal kenapa dinding yang aku hajar, bukan dia," ucap Justin kesal.


"Hus, jaga ucapanmu! Kamu dulu pernah menampar Vania kalau kamu lupa!" ucap Tiara tiba-tiba mengingat menantu cantiknya itu.


"Mom, jangan ingatkan aku lagi tentang itu!" ucap Justin tidak suka.


Julio memandang Justin dengan curiga. Tidak mungkin Reema menyerang orang lain jika tidak terprovokasi.


Namun, ia menepis itu semua dan segera mengirim bukti tambahan tadi kepada Joy agar bisa membebaskan Justin dari tuntutan dan melaporkan Reema dengan beberapa kasus yang sudah mereka kumpulkan.


🍃🍃


"Ternyata mereka bergerak cepat, Bee," Ucap Elena setelah mengirimkan video yang di minta oleh Justin.


"Kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan, Sayang. Aku yakin, akan ada kasus baru yang muncul setelah ini," ucap Rexy.


Mereka masih berada di druang tengah sembari berdiskusi mengenai maslah itu. Bahkan mereka sempat bertanya, kenapa Justin tidak meredam berita ini, namun malah membiarkannya naik begitu saja.


Rexy juga melihat bagaimana perkembangan saham perusahaan Justin yang mulai menurun. Ia berpikir untuk segera mengakuisisi perusahaan itu sebelum semuanya menjadi kacau.


"Tuan, pengacara mereka sudah tampil di televisi!" ucap Clayton.


Mereka mendengar dengan seksama penjelasan dari pengacara kondang yang sudah memenangkan berbagai macam kasus itu.


"Kami akan pastikan, jika klien kami tidak melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga seperti yang dituduhkan oleh pelapor. Kami juga sudah mengumpulkan bukti, dan juga siap untuk melaporkan kembali Nyonya R. dengan pasal yang berlapis," ucap pengacara itu dengan tegas.


"Ah, pekerjaan kita sedikit lebih tenang, Bee. Kita hanya tinggal melengkapi laporan mereka nanti, atau mungkin tidak bekerja sama sekali, jika polisi bisa menemukan kebusukan mereka yang lain dengan segera," ucap Elena bernafas lega.


"Sudah puas sayang? Atau kamu mau menambah lagi pelanggaran yang bisa mereka laporkan?" tanya Rexy tersenyum tipis melihat Elena.


"Tidak, biarkan saja, Bee. Jika berita tentang video itu sudah tersebar dia akan hancur, sehancur-hancurnya. Aku yakin dia juga bisa gila setelah ini," ucap Elena dengan wajah yang serius.


"Kamu memang pintar, Sayang. Atau dunia tengah berpihak kepadamu," ucap Rexy membuat Elena tersenyum.


"Yang jelas, balasan untuk berbuat jahat itu ada, Bee. Jika aku mendapatkan ganjaran atas apa yang telah aku buat, itu kita lihat nanti saja," ucap Elena tersenyum.

__ADS_1


"Yang penting jangan melewati batas. Biarkan semuanya mengalir dan seolah tidak ada campur tangan kita di dalamnya," ucap Rexy.


Elena mengangguk dan tersenyum, ia merebahkan kepada di dada bidang Rexy sembari mengamati berita itu.


__ADS_2