
Setelah puas, Rexy melepaskan Elena dan mengusap bibir basah wanita cantik itu. Dengan nakal, ia berkedip sambil memasang wajah mesumnya.
"Sayang, mumpung ga ada orang!" ucap Rexy dengan suara beratnya.
"Gak boleh, Bee! Nanti setelah kita menikah saja!" ucap Elena mengusap wajah pria tampan itu.
"Sebentar saja, ya boleh ya!" ucap Rexy kembali mengecup bibir Elena.
"Bee! Aku masih lemas!" ucap Elena cemberut.
Mereka masih belum menyadari kehadiran orang tuanya di sana.
Angelin dengan rasa malu segera mendekat dan menjewer telinga Rexy dan membuat pria tampan itu mengaduh kesakitan.
"Ah, sakit bunda!" ucap Rexy meringis.
Sementara Elena terkejut sambil melotot melihat orang tuanya yang berdiri mematung di depan pintu.
"Dasar mesum! Udah tau Elena masih sakit, kamu mengajak dia begituan! Apa lagi kalian belum menikah!" ucap Angelin memukul Rexy dengan kesal.
Wajahnya memerah, karena malu melihat tingkah mesum sang putra yang begitu berwibawa.
"Sakit, Bunda!" ucap Rexy mengusap telinganya dengan cemberut.
"Kamu ada-ada saja!" ucap Angelin kesal.
"Sayang, bunda jahat!" ucap Rexy mengadu pada Elena dan memeluk wanita cantik itu.
Mereka hanya menggeleng melihat tingkah Rexy yang begitu manja.
Khalia mendekati Elena dengan mata yang berkaca-kaca. "Bagaimana keadaan kamu, Sayang?".
"El Gak papa, Bunda!" ucap Elena tersenyum.
Rexy segera bangun dan berpindah tempat agar bisa memberi ruang kepada calon mertuanya.
"Bunda gak akan sanggup jika harus kehilangan kamu lagi!" ucap Khalia tercekat dengan air mata yang menetes.
"Bunda, El masih di sini. El akan selalu sehat untuk Bunda!" ucap Elena merentangkan tangannya.
Mereka berpelukan, Khalia menangis tersedu di dalam pelukan Elena. Vazo mendekat dan bergabung bersama anak dan istrinya.
"Selama kita bersama, tidak akan ada yang mampu untuk mencelakai kita!" ucap Vazo lirih sambil mengecup kepala dua wanita kesayangannya.
Angelin tersentuh melihat keluarga kecil yang baru saja dipertemukan, namun sudah menantang maut kembali.
Ia memeluk sang suami dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara Rexy merasa begitu senang melihat Elena sudah berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Eh, aku gak ada yang meluk!" ucap Rexy mengalihkan semua perhatian orang.
__ADS_1
Angelin mendelik kearah Rexy dan mencibir. "Kasihan! Dasar jomblo!" ucapnya berhasil membuat yang lain tertawa.
"Ih, bunda. Hari ini kita temenan dulu yah!" ucap Rexy memelas.
"Kasih bunda cucu dulu!" ucap Angelin mengulurkan tangannya.
"Oke deal!" ucap Rexy menjabat tangan sangat ibunda. "Ayo sayang, kita kasih bunda cucu!" ucapnya dan mendapat tatapan tajam dari Vazo.
"Nanti setelah menikah, hehe!" ucap Rexy terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.
"Kamu sudah makan, Sayang? Mau bunda buatkan sesuatu?" tanya Khalia mengelus kepala Elena.
"El kangen masakan, Bunda. Makanan apa aja yang bunda bunda masak, El suka!" ucap Elena tersenyum.
"Kalau begitu, bunda pulang dulu biar bisa masak untuk, El!" ucap Khalia.
"Bunda gak usah pulang, di dekat sini ada apartemen Elena. Bunda bisa masak di sana, biar nanti aku suruh orang untuk membeli perlengkapannya," ucap Rexy tersenyum.
"Bagus kalau begitu. Bunda pergi dulu, Sayang. Jangan aneh-aneh sama Rexy!" ucap Khalia tersenyum.
"Mas Rexy yang aneh-aneh, Bunda!" ucap Elena tersenyum.
Pria tampan itu mendelik menatap Elena. Ia segera menghubungi beberapa orang untuk membelikan bahan-bahan yang akan di masak oleh Khalia dan juga mengawal calon mertua bersama ibundanya.
Angelin akan ikut membantu memasak makan siang mereka. Sementara Hinata dan Vazo menunggu di rumah sakit sambil bertanya tentang masalah ini kepada pihak kepolisian yang menunggu Elena.
"Sayang?" panggil Rexy menggenggam tangan Elena.
"Di luar ada polisi yang membutuhkan beberapa keterangan untuk melengkapi data-data yang kurang. Agar kasus ini bisa di proses dengan segera," ucap Rexy.
Elena terdiam menatap pria tampan itu. Ia merasa belum sanggup untuk berbicara dan berpikir banyak. Namun ini harus disegerakan agar Justin bisa mendapatkan hukumannya.
"Boleh, Bee. Tapi, tolong katakan sama bapak polisi, untuk jangan mendesak, aku belum terlalu kuat!" ucap Elena dengan nafas terengah.
"Mereka masih bisa menunggu, jika kamu belum siap, sayang!" ucap Rexy tersenyum.
Elena menggeleng. "Aku mau semuanya diproses dengan cepat!" ucapnya lirih.
Rexy terdiam. Ia menghela napas dan mengangguk. Berjalan keluar dan berbicara sebentar dengan dua petugas kepolisian, sebelum menanyakan beberapa hal.
Jantung Elena mulai berdetak tidak stabil. Ia takut salah berbicara nanti dan malah membuat masalah baru.
Namun ketika Justin menggenggam tangannya, ia merasa sedikit lebih tenang dan menjawab dua puluh lima pertanyaan yang diajukan dengan baik. Termasuk tentang identitas baru Elena.
"Terima kasih atas kerja sama anda, Nona. Semoga lekas sembuh, kami akan mengusut tuntas kasus ini agar anda bisa mendapatkan keadilan," ucap polisi itu tersenyum.
"Terima kasih, Pak. Mohon bantuannya," ucap Elena tersenyum lega.
Kedua polisi itu keluar dari ruangan. Elena tersenyum karena ia berhasil menjawab semua pertanyaan itu tanpa terbata.
__ADS_1
"Kamu hebat, Nak!" puji Hinata mengusap kepala Elena.
"Terima kasih, Ayah!" ucap wanita cantik itu tersenyum.
"Sekarang istirahat, ya! Biar cepat pulih!" ucap Vazo tersenyum sambil mengecup kening Elena.
Ia mengangguk dan memejamkan matanya. Tanpa menunggu lama, ia terlelap sambil masih menggenggam tangan Rexy.
🤸♂️🤸♂️
Dua orang polisi yang sudah mendapatkan data dari Elena, segera menuju kantor untuk memproses kasus ini dengan segera.
Ren tersenyum melihat data-data itu sudah lengkap. Ia mendesak para petugas penanggungjawab untuk segera menyerahkan kasus ini kepada pengadilan agar Justin bisa di sidang dan menyeret orang-orang yang bekerja sana dengannya.
Walaupun harus melewati tahap penyidikan, asal bisa selesai dengan cepat tidak masalah baginya.
Sungguh, apa yang di tanam itu yang akan di tuai! Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan terciun juga. Bersiaplah untuk menghadapi ajal kalian!. Batin Ren menatap nanar setumpuk berkas yang akan di bawa sebentar lagi.
Ia sudah membentuk tim pengacara hebat yang memang sangat berkompeten dalam menangani kasus seperti ini. Ada 10 pengacara yang akan membantu mengawal kasus Elena.
Dalam lamunannya, ia mendapat panggilan dari Clayton yang menayakan perkembangan kasus itu. Mereka sedikit berbincang sebelum mematikan panggilan.
"Tidak! Saya tidak mau dipindahkan dan satu sel dengan para kaum rendahan itu!" pekik Reema mengalihkan perhatian Ren.
"Kamu harus ikut kami! Sudah, jangan melawan lagi! Jangan sampai kami bertindak kasar kepada Anda, Nyonya!" ucap mereka dengan tegas.
"Jangan sentuh saya! Tidak, saya tidak mau!" pekik Reema ketika petugas membawanya secara paksa menuju mobil.
Ren berjalan mendekat, ia menatap Reema dengan begitu miris. Dua petugas itu mengernyit melihat Ren yang menghentikan pergerakan mereka.
"Ingat, jangan mau menderita sendiri! Anda yang membongkar masalah ini, jangan lupa berikan juga kesaksian anda nanti. Beri tahu semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Nona Vania!" ucap Ren.
Reema menatap pria tampan yang ada di hadapannya dengan tajam. "Enyahlah kau dari hadapanku manusia rendahan!" pekiknya meludahi Ren.
Pria tampan itu hanya menatap Reema dengan tajam ketika air ludah itu mengenai jas mahal yang tengah ia pakai.
Ia membukanya dan langsung membuang ke tong sampah.
Plak!!
Tamparan keras berhasil mendarat mulus di pipi Reema dan membuat semua orang terkejut melihat tindakan Ren.
"Saya hanya membantu menyadarkan anda! Manusia sombong yang hanya bisa merendahkan orang lain! Tidak memiliki etika dan sopan santun!" ucap Ren begitu dingin.
"Lihat saja apa yang akan saya lakukan atas hinaan ini! Kau akan menerima akibatnya!" pekik Reema yang tidak bisa memegang pipinya.
"Semakin anda banyak bicara, semakin dekat orang tua anda dengan penjara!" ucap Ren membuat Reema terkejut.
Ia bungkam, Ren memberi kode kepada petugas untuk segera membawa pergi wanita itu. Ia mengambil hand sanitizer dan membersihkan tangannya.
__ADS_1
"Selamat mendekam dalam waktu yang lama!" ucap Ren sebelum Reema berlalu dari hadapannya.