
Pagi menjelang, Rexy dan Elena terbangun dari tidur nyenyak mereka. Namun pria tampan itu masih belum ingin melepaskan dirinya, sementara ia harus segera pergi ke kamar mandi.
"Bee, lepasin dulu, ih!" ucap Elena kesal.
"Lima menit lagi, Yang. Aku makasih mengantuk," ucap Rexy memeluk Elena semakin erat.
"Iya, lepas dulu, Bee. Nanti peluk lagi!" ucap Elena. "Aku kebelet ini, nanti aku pipis di sini saja!" sambungnya dan membuat Rexy mengalah.
Elena segera pergi ke kamar mandi dan membuang hajatnya. Tak lupa ia juga membersihkan diri agar terlihat lebih segar.
Sementara di luar, Rexy kembali terlelap dan melupakan jadwal penting, meeting di perusahaan Justin pada pukul 07.00 pagi ini. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
"Bee, kamu gak mau bangun? Apa gak ada meeting pagi ini?" ucap Elena menempelkan jarinya yang dingin pada pipi Rexy.
"Hmm? Jam berapa, Yang?" Tanya Rexy menggeliat dan memeluk pinggang Elena.
"Sudah jam 7, Bee," ucap Elena menahan tawanya.
Rexy melotot dan segera bangun dari tidurnya. Elena hanya menggeleng dan segera menyiapkan perlengkapan Rexy seperti biasa. Tanpa ia ketahui jika pria tampan itu baru saja terlelap.
Setelah selesai, Elena turun dan menyiapkan bekal untuk Rexy agar bisa sarapan di dalam mobil.
"Sayang, dasiku belum!" teriak Rexy dari atas sambil menuruni anak tangga.
"Kamu tidur jam berapa semalam, Bee?" Tanya Elena memasangkan dasi pria tampan itu.
"Hmm, aku gak lihat kemarin, Yang. Agak larut pokoknya, ada kerjaan sedikit," ucap Rexy sembari mengunyah roti yang sudah disediakan oleh Elena.
"Hati-hati di jalan nanti, ya. Kalau kamu senggang kabari aku terus," ucao Elena memasangkan jas Rexy.
"Iya, Sayang. Aku pergi dulu, ya," ucap Rexy mengambil tas bekal yang sudah di siapkan oleh Elena dan tak lupa mengecup kening wanita cantik itu.
"Hati-hati, Bee!" Pekik Elena ketika melihat Rexy berlari keluar.
Pagi ini ia sarapan hanya sendiri, sebab Rexy akan terlambat jika ia memaksa pria tampan itu untuk sarapan di rumah.
"Selamat pagi Nona, ada yang mengirimkan paket untuk anda," ucap penjaga rumah.
"Paket apa, Pak?" Tanya Elena mengernyit.
"Saya kurang tau, Nona. Apa saya periksa terlebih dahulu?" Tanya penjaga itu.
"Dari siapa, Pak?" Tanya Elena.
"Di sini tulisannya dari Justin, Nona," Ucap penjaga itu.
"Tolong panggilkan Clayton saja, Pak. Biar nanti saya minta tolong kepada dia saja," ucap Elena mengernyit bingung.
"Baik, Nona. Paketnya saya letakkan di ruang tengah," ucap penjaga rumah.
"Iya, silahkan, Pak. Terima kasih," ucap Elena.
__ADS_1
Penjaga rumah itu langsung melangkah keluar dan memanggil Clayton yang baru saja tiba. Elena segera menyelesaikan sarapannya sembari memikirkan apa isi kotak yang dikirim oleh Justin itu.
"Bagaimana ia bisa tau jika aku tinggal di sini?" Tanya Elena terkejut.
Ia segera berjalan menuju ruang tengah dimana Clayton baru saja menutup pintu
"Nona, Ada apa?" Tanya Clayton mengernyit.
"Ada paket dari Justin. Apa dia juga tau, kalau ini rumah Rexy?" Tanya Elena panik.
"Tuan Justin? Tidak mungkin dia tau anda tinggal di sini, Nona!" ucap Clayton terkejut.
"Bagaimana kalau semalam dia menyuruh orang untuk mengikuti kita? Jika dia memang benar-benar tau, rencana kita akan gagal!" ucap Elena menggigit kuku jarinya.
"Nona jangan panik dulu, mungkin saja itu paket tersesat. Atau mungkin ada orang yang mengirim itu dan mengatasnamakan tuan Justin," ucap Clayton.
Elena terdiam sambil menatap kotak itu. "Coba buka saja Clay!" Ucapnya penasaran.
"Saya menganjurkan agar anda menjauh, Nona. Ini akan saya buka di luar saja biar aman," ucap Clayton.
"Kamu hati-hati, Clay. Jangan sampai kenapa-napa!" ucap Elena cemas.
Kotak itu dibawa keluar oleh Clayton dan memanggil beberapa orang lainnya untuk membantu. Mewanti-wanti jika isi dalam kotak itu sesuatu yang berbahaya.
Elena berdiri di depan pintu masuk, sementara Clayton meletakkan kotak itu di halaman depan yang cukup luas.
"Clay, hati-hati!" ucap Elena cemas.
Perlahan namun pasti, ia membuka satu persatu bungkus plastik yang membalut kotak tersebut. Aroma busuk mulai menyeruak keluar membelai indra penciumannya.
Apa ini bangkai? Aku yakin bukan tuan Justin yang mengirimkan kotak ini!. Batin Clayton mengernyit.
Benar saja ada seekor ayam kampung yang sudah di sembelih dan kain yang sudah berdarah-darah. Clayton melihat ada sepucuk surat yang sudah berlumuran darah di sana dan membacanya.
"Sebentar lagi kau akan menemui ajal, bersiaplah untuk itu!" Salam dari malaikat maut.
Begitu isi sepucuk surat itu. Clayton merasa tidak ingin mengatakan hal ini kepada Elena. Namun harus, agar wanita cantik itu bisa berhati-hati ketika berada di luar rumah.
"Apa isinya, Clay?" Tanya Elena mulai mendekat. "Kenapa bau bangkai?" sambungnya ketika aroma busuk itu mulai menyebar.
"Nona, ada yang sedang mengincar anda! Mereka mengirim bangkai ini sebagai pertanda," ucap Clayton sembari memperlihatkan sepucuk surat itu.
Elena terdiam dengan wajah yang begitu dingin. Siapa betul yang bermain-main dengan dirinya kali ini.
"Apa bekas sidik jari di kertas itu bisa kita ketahui, Clay?" Tanya Elena dengan suara beratnya.
"Bisa jika memang ada sidik jari di kertas ini, Nona. Saya akan membuang bangkai ayam itu dan membawa kertas ini ke laboratorium," ucap Clayton sigap.
"Perketat penjagaan rumah, Clay," ucap Elena kembali masuk kedalam rumah.
Clayton segera meminta orang untuk membersihkan kotak itu dan membuangnya sejauh mungkin. Beruntung ia telah mengenakan sarung tangan sebelum mengambil surat, sehingga sidik jarinya tidak tertinggal di sana.
__ADS_1
Elena terdiam di ruang tengah. Ia menghidupkan televisi untuk melihat perkembangan berita tentang Justin hari ini.
Siapa yang mengirimkan bangkai itu? Selama di Indonesia, aku hanya memiliki satu musuh, yaitu Reema. Sangat tidak mungkin jika Justin yang mengirimkan ini. Batin Elena bingung.
Tak lama Clayton kembali kedalam rumah setelah membereskan kotak tadi dan mengirim surat itu ke laboratorium.
"Clay, apa ada bawahanmu yang mahir membawa mobil?" tanya Elena.
"Ada, Nona. Dia mantan pembalap liar. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Clayton.
"Tolong panggil dan suruh menghadap saya," ucap Elena menghela nafasnya.
"Baik, Nona," ucap Clayton langsung menghubungi orang yang di maksud.
"Apa ada mobil Rexy yang jarang ia gunakan?" Tanya Elena.
"Ada, Nona. Setahu saya mobil lama tuan Rexy jarang ia gunakan," ucap Clayton.
"Coba periksa, jika masih bisa beroperasi, mulai besok kita akan menggunakan mobil itu untuk bepergian," ucap Elena.
Clayton mulai memahami maksud dari ucapan Elena. Namun kebimbangan terlihat jelas di wajah cantik Elena.
Tak lama seorang laki-laki muda datang dengan tergesa-gesa dan berdiri di samping Clayton.
"Maaf, nona. saya sudah membuat Anda menunggu!" Ucapnya.
"Siapa namamu?" Tanya Elena dingin.
"Saya Milano, Nona," ucapnya tegas.
Elena menanyakan segala hal tentang pria tampan ini, mulai dari keluarga hingga kesediaannya terhadap tugas yang akan dijalani.
"Saya siap, Nona. saya akan menekan resiko yang terjadi nanti. Nona percayakan saja ini kepada saya," ucap Milano.
"Bawa mobil itu, dan perhatikan orang di sekelilingmu. Berhenti di beberapa tempat dan beli beberapa barang. Lakukan hal itu setiap hari dengan tetap mewaspadai sekitarmu," ucap Elena.
"Baik, Nona," Ucap Milano.
Ia segera berpamitan dan menjalankan perintah Elena dengan baik.
"Orang yang mengirim paket itu, apa kita sepemikiran, Nona?" Tanya Clayton.
Elena menatap Clayton dan mengangguk. "Reema!" ucap mereka bersamaan.
"Perempuan itu pasti akan mengulangi niatannya seperti Justin dulu. Merayu orang lain atau laki-laki kaya untuk membahayakan aku," ucap Elena mulai emosi.
"Saya akan memperketat penjagaan untuk anda, Nona," ucap Clayton.
"Saya tidak akan keluar beberapa hari ini. Pantau semua yang mencurigakan, Clay. Beritahu Rexy mengenai hal ini. Bendera perang sudah dikibarkan oleh musuh!" ucap Elena dengan tegas.
"Siap, laksanakan, Nona!" ucap Clayton tegas.
__ADS_1