PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Penangkapan Reema


__ADS_3

Elena terdiam sembari menunggu Justin terlelap. Sebentar ia merasa iba dengan mantan suaminya ini. Menghadapi semua masalah sendiri, tanpa ada yang mendampingi ataupun menghiburnya.


Semua ini karena ulah kamu sendiri, Mas. Aku tidak ingin berandai-andai untuk mengenang masa lalu. Kini nikmatilah waktu bersamaku beberapa hari ini, sebelum kamu menyadari jika Vania, istri yang kau bunuh dulu masih hidup hingga sekarang. Menjadi saksi atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku!. Batin Elena dengan wajah yang begitu dingin.


Cukup lama ia berbaring di sana hingga Justin memang benar-benar terlelap. Ia memilih untuk menonton televisi menyaksikan berita tentang Justin dan Reema yang masih berseliweran.


"Pemirsa, pemanggilan pertama dari Polda kepada model cantik bernama Reema, sudah resmi dikeluarkan. Bukannya menghadiri pemanggilan tersebut, justru ia tertangkap di bandara ketika hendak melakukan perjalanan menuju Mexico. Kini Reema tengah di jemput paksa oleh pihak kepolisian dan di bawa menuju polda untuk dilakukan berbagai macam tes," Ucap pembawa acara dalam braking news salah satu stasiun televisi.


Woh, dia langsung bergerak untuk kabur. Batin Elena terkejut.


Ia melihat beberapa orang polisi mengawal Reema dengan penjagaan ketat. Elena tersenyum tipis ketika melihat wanita itu tengah berteriak dan berusaha untuk memberontak.


Dasar wanita aneh! Takut juga kan kau! Sok-sok an mau membunuhku segala!. Batin Elena mendelik.


"Diketahui, semenjak laporan Tuan Justin tercatat, Reema tidak menunjukkan diri ke publik dan cenderung menutup diri. Bahkan untuk mengelabuhi petugas, ia melakukan penyamaran yang sangat baik, beruntung masih ada orang yang mengenai dirinya, sehingga aparat bisa mencegah kepergian model cantik itu," ucap pembawa acara.


Gimana mau kabur, di bandara sudah penuh dengan orang-orang Rexy. Kecuali kalau terbang menggunakan helikopter, mungkin tidak akan terlacak dengan mudah. Batin Elena.


Ia memakan beberapa cemilan yang ada di sana sambil menonton berita.


Tak berapa lama, stasiun televisi kembali mengupdate berita mengenai Reema.


"Pemirsa, kabar terbaru saat ini. Setelah tiba di polda, Reema akan menjalani serangkaian tes, mulai dari tes urin maupun psikologi. Hal ini akan menjadi penentu, tindakan apa yang dapat dilakukan oleh pihak kepolisian untuk selanjutnya," ucap pembawa acara.


Oh, baguslah kalau dia langsung diperiksa. Jangan sampai nanti dia menyogok orang dalam untuk memanipulasi hasil pemeriksaan. Bisa-bisa dia yang waras dilaporkan terkena gangguan jiwa. Batin Elena kesal.


Bunyi kacang dan cemilan yang dikunyah Elena berhasil mengusik tidur seseorang. Ia mengerjab dan menatap wanita cantik itu yang sedang duduk sembari mendengar informasi dari televisi.


Kedua tangan Justin melingkar dipinggang Elena dan membuat wanita cantik itu terkejut.


"Mas? Kamu bikin kaget saja!" ucap Elena kesal.


"Habisnya kamu terlalu fokus dan berisik!" ucap Justin merebahkan kepalanya di atas paha Elena.


"Aku bosan, Mas. Kamu tertidur dan tidak ada yang bisa aku lakukan di sini," ucap Elena cemberut.

__ADS_1


Tangan lentiknya reflek mengelus kepala Justin, sehingga membuat pria tampan itu tersenyum senang merasakan sesuatu yang sudah lama ia rindukan.


"Sudah lama tidak ada yang membelai kepalaku seperti ini," ucap Justin.


"Benarkah? Apa Reema tidak melakukannya?" tanya Elena mengernyit.


"Ah, aku tidak ingin membahas dia!" ucap Justin.


"Baiklah. Kalau Mas masih ngantuk, tidur saja!" ucap Elena lembut.


"Hmm," Justin kembali menutup mata tanpa melepaskan pelukannya.


Namun, belum lagi terlelap dering ponsel mengusik ketenangannya. Pihak kepolisian mengatakan jika dirinya harus datang ke kantor untuk dimintai beberapa keterangan lagi.


"Apa kamu mau menemaniku?" tanya Justin penuh harap.


"Boleh. Tetapi, apa tidak akan menjadi masalah jika aku tertangkap kamera?" tanya Elena.


"Tenang saja, kamu kan aman bersamaku!" ucap Justin tersenyum.


Semoga setelah ini kau memang benar-benar gila, Jalaang!. Batin Elena tersenyum jahat.


Ia segera mengirimkan pesan kepada Clayton dan Rexy, agar mereka tidak kehilangan jejak atau risau nantinya.


Tak lama Justin keluar dari kamar dengan keadaan yang lebih segar dan tampan. Ia memberikan Elena masker, kaca mata dan juga topi untuk menutupi identitas mereka nanti.


"Ayo, Joy sudah menunggu kita dibawah!" ucap Justin menggandeng tangan Elena dan berjalan keluar dari apartemen.


Elena hanya terdiam sembari memasang wajah dingin sepanjang jalan. Dan sesekali ia meladeni pembicaraan Justin dengan seadanya.


"Kenapa, Baby?" tanya Justin mengecup tangan Elena.


"Tidak. Aku hanya mempersiapkan diri jika nanti bertemu dengan istrimu," ucap Elena.


Ia memang sedang menyusun rencana untuk menganggu musuh bebuyutannya itu.

__ADS_1


"Ah, jangan terlalu dipikirkan. Yang jelas nanti jangan berada jauh dariku!" ucap Justin tersenyum.


Elena mengangguk dan tersenyum smirk. Tentu saja, semoga perempuan itu berada di sana, sehingga aku bisa menunjukkan kemesraanku bersama Justin. Batinnya.


Mobil bergerak menuju kantor polisi, tak lupa Clayton dan beberapa orang lainnya juga mengikuti kemana Elena pergi.


Justin yang selalu menggenggam tangan Elena, menunjukkan rasa cintanya. Berbeda dengan Joy, laki-laki itu memandang Elena dengan rasa curiga. Ia takut jika Elena memanfaatkan Justin dan menjadi malaikat dikala atasannya tengah bersedih.


"Apa ada masalah, Asisten Joy?" tanya Elena yang merasa tidak nyaman dengan tatapan asisten pribadi Justin itu.


"Tidak, Nona. Saya hanya memastikan jika tuan Justin baik-baik saja," ucap Joy.


Elena hanya terdiam dan mulai mencurigai laki-laki ini. Rexy harus tau dan mengawasinya nanti. Batin Elena.


"Jangan pedulikan dia, Baby!" ucap Justin kembali mengecup tangan Elena.


Hingga mobil berhenti di depan pintu masuk kantor polisi. Tidak ada yang menyadari kedatangan mereka, sehingga Justin dan Elena bisa masuk tanpa di halangi oleh siapapun.


"Selamat siang, Tuan Justin!" ucap salah satu tim penyidik.


"Selamat siang, Pak. Bagaimana perkembangannya?" tanya Justin tanpa berbasa basi.


"Sebelumnya kami meminta maaf karena sudah menjemput paksa Nyonya Reema, karena ia berusaha untuk kabur keluar negeri. Serangkaian tes sudah kami lakukan, dan istri anda masih kami tahan di ruangan sebelah," ucap Polisi itu.


"Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Saya menyerahkan semua masalah ini kepada Anda dan tim. Berharap ini bisa selesai dengan cepat dan saya bisa beristirahat dengan tenang," ucap Justin tersenyum.


"Akan kami usahakan semaksimal mungkin, Tuan. Silahkan duduk, ada beberapa hal yang harus kami tanyakan kepada Anda," ucap Polisi itu.


Justin dengan patuh mengikuti instruksi dari mereka dan menjawab beberapa pertanyaan untuk melengkapi berkas laporan yang masih kurang.


Sementara Elena menatap ruangan yang di tunjuk oleh Polisi tadi. Ruangan dimana Reema tengah di introgasi mengenai masalah ini.


Ah, bagaimana aku bisa mengganggunya. Batin Elena masih menatap ruangan itu.


Ia berusaha untuk mencari celah agar bisa bertemu dengan Reema. Sungguh tangan dan mulutnya sudah gatal untuk mengganggu perempuan yang sudah merenggut banyak hal darinya.

__ADS_1


__ADS_2