PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
KDRT?


__ADS_3

Justin segera mendapatkan tindakan operasi untuk mengembalikan tulang jarinya yang retak dan juga patah. Para pelayan yang mengantarkan Justin tidak berani untuk memberitahukan kepada keluarga Justin, karena takut terjadi hal lain yang akan melibatkan mereka.


Pada akhirnya Joy lah yang bisa mereka panggil dan membantu untuk mengurus semua masalah ini. Dengan panik dan khawatir, mereka berjalan mondar-mandir di depan pintu oprasi sembari menunggu kedatangan Joy.


Hingga sang asisten tampan Justin itu datang. Rasa cemas dan juga emosi tergambar jelas di wajahnya.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Joy.


"Kami tidak terlalu tau permasalahannya, Tuan. Ketika Tuan Justin dan Nyonya pulang, mereka sudah bertengkar," ucap pelayan itu menunduk takut.


"Apa kalian tidak mendengar apa yang mereka bicarakan?" Tanya Joy menatap dua orang pelayan itu secara bergantian.


"Kalau tidak salah, Tuan dan Nyonya membahas tentang pelakor dan kehamilan, Tuan," ucap pelayan itu lagi.


Joy hanya menghela nafasnya yang terasa berat. Selalu saja bertengkar dengan masalah seperti ini, dan pada akhirnya ia yang harus menyelesaikan dan menanggung akibat dari kejadian itu.


"Sekarang kenapa tuan bisa berada di sini?" Tanya Joy mengurut pelipisnya.


"Tangan Tuan Justin terluka, Tuan. Kami juga melihat bercak darah di dinding dekat kaca!" Ucap Pelayan itu.


Joy terdiam, tempramen Justin semakin tidak terkendali setelah kematian Vania. Kini ia tidak tau harus berbuat seperti apa lagi untuk mengendalikan Justin.


ia terduduk di atas kursi yang ada di sana, kepala yang terasa pusing di tambah dengan kejadian hari ini yang begitu banyak kejanggalan.


Apa ini ada kaitannya dengan kematian Nyonya yang masih menjadi tanda tanya? Sebab tidak ada DNA Nyonya Vania yang di dapat satupun dari bekas kejadian!. Batin Joy frustasi.


Ia masih memikirkan hal ini sudah sejak lama, namun tidak ada jawaban atas pertanyaan yang ia buat sendiri.


Hanya ada satu, siapa Elena? Perempuan yang tiba-tiba saja hadir dan masuk ke dalam kehidupan Justin. Kenapa tidak ada satupun informasi yang bisa diperoleh untuk memastikan dia siapa.


Semua pertanyaan mulai menggerogoti pikiran Joy. Namun kini yang terpenting adalah kesembuhan Justin. Karena setelah ini akan banyak pekerjaan yang akan ia lakukan untuk perusahaan.


Jika Justin tidak ada, maka ia akan kewalahan untuk menghadapi semuanya sendiri.


Hingga empat jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Dua pelayan tadi sudah pulang dan tinggallah Joy sendiri yang masih berkutat dengan laptopnya.


Menyelesaikan pekerjaan yang mendesak sembari menunggu kabar dari dokter mengenai perkembangan Justin.


Ceklek!


Pintu ruang operasi terbuka, Joy segera berdiri dan menutup laptopnya. Menghampiri dokter dan bertanya bagaimana keadaan Justin saat ini.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Kerusakan yang dialami oleh tuan Justin itu sangat parah, kami sudah melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya. Maaf, saya harus sampaikan ini. Tangan tuan Justin tidak akan bisa seperti dulu lagi, ada beberapa syaraf yang rusak dan mengakibatkan dua jari pasien tida bisa berfungsi lagi!" Ucap Dokter itu lirih.


"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya Dokter?" Tanya Joy frustasi.


"Untuk lebih jelasnya anda bisa menemui saya jam 7 pagi nanti. Saya permisi!" Ucap Dokter itu yang sudah terlihat kelelahan.


Joy hanya bisa terdiam memikirkan cara terbaik untuk Justin. Namun sejauh pemikirannya, tidak ada satupun jalan keluar yang ia dapat.


Tuan, maafkan saya yang tidak bisa berbuat apa-apa!. Batin Joy menatap ruangan itu dengan sendu.


***


Pagi menjelang, dikediaman Justin, Reema terbangun dengan mata sembab dan juga rasa sakit akibat pukulan tangan Elena semalam. Sebab ia tidak langsung mendapatkan penanganan untuk memar yang ia terima.


"Sshh, sakit banget ini!" Ucap Reema mendesis sambil memegang pelipisnya.


Ia meraih ponsel dan menghubungi sang asisten dan meminta untuk dipanggilkan dokter.


Mata yang terasa menyipit dan tertutup belekan membuat Reema kesulitan untuk melihat. Ia berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Bercermin dengan santai, namun langsung terkejut melihat wajahnya seperti orang yang baru saja melakukan operasi pada wajah.


Memar yang terlihat cukup besar dan mata yang bengkak, ia juga terlihat seperti orang yang kalah dalam pertandingan tinju, atau mengalami babak belur.


Wajah cantiknya tidak lagi berbentuk dan cenderung membengkak. Ia segera membersihkan diri, seraya mengeluarkan umpatan-umpatan kasar menyumpahi Justin dan juga Elena.


Setelah selesai, dengan masih menggunakan bath robe, Reema berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Melihat keadaan yang begitu hening, bahkan tidak terlihat satupun pelayan yaang berlalu lalang membersihkan rumah.


Ia teringat dengan kejadian semalam. Tangan Justin yang memukul dinding secara brutal sepertinya mengalami kerusakan. Matanya melotot ketika mengingat wajah pucat Justin dan juga darah yang menetes.


Ia segera pergi menuju dapur untuk melihat siapa saja yang berada di sana.


"Dimana Justin?" Tanya Reema.


"Selamat pagi, Nyonya. Tuan Justin sedang berada di rumah sakit, Nyonya!" Ucap pelayan yang mengantarkan Justin semalam.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Reema tiba-tiba saja cemas.


"Kami belum mendapatkan informasi, Nyonya. Tetapi semalam tuan Justin langsung masuk kedalam ruang operasi," Jelas pelayan itu.


"Ruang operasi?" Tanya Reema memastikan.

__ADS_1


"Iya, Nyonya," Ucap pelayan itu.


"Kenapa kalian tidak mengatakannya kepada saya?" Pekik Reema.


"Maaf, Nyonya. Kami sudah panik duluan melihat tangan tuan tidak henti mengeluarkan darah!" Ucap Pelayan itu takut.


"Dasar tidak berguna!" Ucap Reema segera berjalan menuju kamarnya untuk mengganti baju.


Bagaimanapun juga, ia merasa khawatir dengan keadaan Justin. Bukankah masalah besar akan datang menimpa mereka nanti, jika isu kekerasan dalam rumah tangga akan muncul ke permukaan?.


Ia segera mengganti baju, memakai masker dan kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya. Setelah selesai, ia keluar dan bertemu dengan sang asisten yang sudah membawa dokter bersamanya.


"Nyonya anda mau kemana?" Tanya Asisten Chika.


"Saya harus ke rumah sakit, Cik," ucap Reema masih berjalan tanpa menghiraukan orang lain.


"Lalu dokternya bagaimana, Nyonya?" Tanya Chika.


"Kamu bayar saja, antarkan dia pulang sekalian!" Ucap Reema menaiki mobil.


"Nona mau ke rumah sakit mana?" Tanya Chika.


"Nanti saja kasih tau! Atur ulang semua jadwal! kosongkan jadwalku minggu ini!" Ucap Reema menutup pintu mobil.


"Baik, Nyonya!" Ucap Chika patuh.


Mobil segera melaju menuju rumah sakit dimana Justin dirawat. Reema bingung dan tidak tau harus berbuat apa. Sebab jika orang tua mereka tau, ini akan menjadi musibah yang besar dan akan berimbas pada rumah tangga dan juga perusahaan.


Ah, apa yang harus aku lakukan! Memar ini bisa membuat orang dalam paham dan di tambah dengan keadaan Justin kali ini. Ah, syalan!. Batin Reema mengumpat.


"Lebih cepat sedikit, Pak!" ucap Reema.


"Baik, Nyonya!" Ucap Supir menambah lanju mobil.


Tak lama mereka segera tiba di rumah sakit. Reema yang sudah mendapatkan informasi dari Joy langsung menuju kamar inap Justin.


Namun ketika berada di depan pintu kamar, Reema menjadi ragu mengingat pertengkaran mereka kemarin.


Apa aku masuk saja atau memeriksa lukaku terlebih dahulu? Apa kondisinya akan kembali panas seperti semalam?. Batin Reema.


Namun tangannya tetap membuka handle pintu dan masuk kedalam ruang rawat Justin.

__ADS_1


"Mas?"...


__ADS_2