PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Lagu A Thousand Year's mulai mengalun, menyapa telinga beberapa orang yang berada di dalam sebuah ruangan.


Kamar yang dipilih untuk mempersiapkan seorang ratu yang akan menjadi pusat perhatian semua orang, mulai hari ini dan seterusnya.


Polesan make up tipis menghiasi wajah cantik Elena. Usapan lembut dari brush make up, tidak mampu membuat jantungnya berdetak dengan stabil.


Para penata rias beberapa kali terpesona melihat kecantikan Elena dari dekat. Sebuah keberuntungan karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan wanita paling beruntung di dunia itu.


"Jangan terlalu menor ya, Mbak. Saya tidak ingin terlihat tua," ucap Elena.


Tangannya mulai gemetaran gugup, wajah merona dan juga jantung yang berdetak tidak teratur. Ekpresi Elena juga mewakili para penata rias yang berada di dalam ruangan itu.


"Baik, Nyonya. Maaf, saya sangat gugup," ucap MUA itu.


"Kita sama, ayo kita mengobrol," ucap Elena tersenyum.


MUA itu mengangguk dan tersenyum, mereka sedikit berbincang agar bisa mencairkan suasana.


Hingga riasan Elena selesai, gaun yang sudah ia pesan pun siap untuk dikenakan.


Ceklek!


Pintu terbuka, ketika Elena tengah memakai gaun, Khalia masuk sambil tersenyum namun matanya tidak bisa dibohongi, ada genangan yang hampir jatuh di sana


"Kamu sangat cantik, sayang!" ucap Khalia terpesona.


Elena tersenyum malu mendengarkan pujian dari sang ibunda. "Bunda, juga selalu cantik," pujinya.


Khalia tersenyum ia melihat Elena yang sedang melanjutkan pemasangan gaun.


"Sudah selesai, Nyonya!" ucap penata rias itu terpesona.


"Terima kasih. Apa masih ada yang kurang? Aku ingin semuanya sempurna hari ini," ucap Elena mematut dirinya di depan cermin.


"Sepertinya sudah sempurna, Nyonya. Anda terlihat sangat cantik. Saya merasa, anda adalah pengantin tercantik yang pernah saya dandani," ucap penata rias itu tersenyum penuh haru.


Elena hanya tersenyum. Wajah meronanya seolah menjadi blush alami yang akan selalu muncul ketika wanita cantik itu merasa malu.


Ia memilih untuk duduk di atas sofa sambil menggandeng sang ibunda.


"Ah, bunda semakin merasa bersalah karena pernikahan pertama kamu, tidak ada terpancar kebahagiaan sedikitpun," ucap Khalia sendu.

__ADS_1


"Bunda, yang lalu biarkan berlalu. Kini, aku bahagia bahkan sangat bahagia. Jadi, jangan ungkit masa lalu itu lagi, Bunda. Kita jadikan pembelajaran untuk selanjutnya," ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.


Khalia mengangguk dan mengusap lengan Elena dengan lembut. Matanya semakin berkaca-kaca, bahkan jika mengedip genangan itu akan tumpah dan menetes.


"Bunda juga merasa begitu bahagia. Walaupun masih merasa ingin selalu dekat dengan Va kecil, Bunda. Tapi, kehidupan akan terus berjalan, bunda selalu berharap kamu bisa menyisihkan sedikit waktu untuk keluarga kecil kita nanti," ucap Khalia tersenyum.


"Tanpa bunda minta, aku pasti akan melakukannya. Aku juga merasa belum puas dan mungkin tidak akan pernah puas setelah perpisahan kita kemarin," ucap Elena menggenggam tangan Khalia.


"Ah, bunda jadi menangis," ucap Khalia mengusap air matanya.


Ia menatap sang putri dengan penuh cinta. Membentangkan tangan dan memeluk Elena dengan begitu lembut.


"Jadilah istri yang baik, Nak. Cintai suamimu, dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan lakukan ini, jika hanya semata untuk membalas budi, tapi lakukan dengan hati yang tulus," ucap Khalia.


Elena mengangguk. "El tidak akan mau jika tidak ada cinta di antara kami, Bunda. Ajarkan aku agar bisa seperti bunda," ucap Elena tersenyum.


"Jangan berharap seperti bunda, Nak. Tapi kamu harus jadi lebih baik dari apa yang kamu bisa," ucap Khalia tersenyum.


Elena mengangguk dan melepas pelukan mereka ketika mendengarkan ketukan pintu. Vazo berjalan masuk sambil memegang sehelai sapu tangan.


"Ayah," panggil Elena tersenyum.


"Va kecil ayah sangat cantik," ucap Vazo berlutut di depan sang putri.


"Gak papa, Sayang," ucap Vazo tercekat.


Elena tersenyum dan ikut berkaca-kaca ketika melihat wajah renta sang ayah.


Mata Vazo semakin memerah ketika melihat senyuman Elena yang begitu bahagia. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, hanya kebahagiaan dan rasa menyesal menghampiri hatinya.


"Maafkan ayah, yang belum bisa jadi orang tua yang terbaik untuk, Va," ucap Vazo.


Elena menggeleng. "Ayah dan bunda sudah menjadi orang tua yang terbaik untuk Va," ucapnya.


Vazo merasa sangat sulit untuk menahan air matanya. "Berbahagialah, Sayang. Sungguh, ayah sudah bisa merasa tenang ketika kamu bersama dengan Rexy," ucapnya dengan air mata yang menetes.


Elena masih berusaha untuk menahan tangis. Sambil tersenyum ia meraih wajah sang ayah dang mengecup kening keriput Vazo.


Sementara di kamar yang bersebelahan, Rexy terus menyeka keringat yang keluar dari pori-porinya. Ia tak kalah gugup dengan calon mempelai wanita.


Baju kemeja putih itu sudah terasa lembab, sebab keringat yang seolah tidak pernah habis.

__ADS_1


"Tuan, apa anda gugup?" tanya Ren dengan usil.


"Kau masih bertanya, huh?" ucap Rexy kesal.


"Pasti nona sangat cantik hari ini. Saya sudah tidak sabar untuk melihatnya," ucap Ren.


Wajah Rexy memerah ketika membayangkan wajah Elena yang begitu cantik. Namun rasa kesal itu tetap masih ada ketika Ren memuji calon istrinya.


"Berhenti membual, Ren!" ucap Rexy.


Angelin dan Hinata tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar. Mereka mengernyit ketika melihat wajah kesal Rexy.


"Astaga, kenapa baju kamu sampai basah seperti ini?" ucap Angelin.


"Tuan Rexy sedang gugup, Nyonya," ucap Ren tersenyum tipis.


"Gugup? Benarkah?" ucap Angelin menggoda sang putra.


"Ah, bunda sama saja!" ucap Rexy semakin kesal.


"Itu biasa, bahkan ayah dulu berkeringat sampai ganti baju beberapa kali," ucap Angelin terkekeh.


Hinata mendelik, ia berjalan mendekat kearah Rexy dan merapikan kerah baju pria tampan itu.


"Walaupun kamu sudah tidak perjaka lagi, tapi ayah hanya berpesan. Jaga Elena seperti sebelumnya, ayah tidak ingin memiliki dua menantu," ucap Hinata.


"Ck, dua batu tengah berbicara," ucap Angelin menggeleng.


Rexy dan Hinata menatap Angelin dengan datar. "Bunda jangan menghancurkan moment. Biarkan batu tua ini berbicara," ucap Rexy menahan tawa.


"Haha, baiklah!" ucap Angelin menahan tawanya.


Ren berpamitan keluar dari kamar. Memberi ruang kepada keluarga kecil itu sebelum Rexy menyandang status baru.


"Ayah serius, Nak. Menikah bukan hanya sekedar making love, tetapi ada banyak pelajaran yang bisa kamu dapat. Terutama bersikap dewasa dan bertanggung jawab," ucap Hinata menatap Rexy dengan lekat.


"Elena memilihmu bukan semata karena balas budi, tapi karena dia merasa jika kamu bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Dia memberikan kepercayaan yang teramat besar, setelah rasa trauma yang ia dapat. Jaga kepercayaan itu," sambungnya.


"Mungkin kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari Elena. Tapi, kamu belum tentu bisa mendapatkan sama persis seperti dia. Ayah tau, jika kamu sudah memutuskan, kamu tidak akan menyerah hingga mendapatkan apa yang kamu inginkan,"


Hinata menatap Rexy dengan mata yang berembun. "Sudah saatnya kamu merasakan kehidupan setelah menikah. Akan ada banyak hal yang berubah walaupun kalian sudah bersama 24 jam dalam sehari," ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Angelin berkaca-kaca menatap dua laki-laki yang begitu ia sayangi. Tanpa mengucapkan apapun, ia merentangkan tangan dan memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.


"Jangan lupakan kami kalau kamu sudah menikah nanti, Nak!" ucap Angelin dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2