
Pagi menjelang, seperti biasa Elena menyiapkan semua keperluan Rexy. Apa lagi, pria tampannya akan bertemu dengan calon mertua untuk yang pertama kali.
Elena melihat wajah tegang Rexy semenjak pria tampan itu membuka mata. Ia hanya tersenyum gemas, namun terselip rasa takut jika Rexy bersikap kasar kepada orang tuanya nanti.
"Sayang, dasiku belum," ucap Rexy setelah memasang kancing bajunya.
"Nanti ketemu sama ayah jam berapa, Bee?" tanya Elena sembari memasangkan dasi Rexy.
"Pagi ini, Sayang," ucap pria tampan itu.
Elena melihat kegugupan Rexy, tangannya yang terasa dingin dan bibir cenderung pucat. "Apa kamu gugup?" tanya Elena tersenyum.
"Hmm? Tidak, aku tidak gugup. Hanya sedikit belum siap untuk bertemu dengan mertuaku," ucap Rexy tersenyum.
"Mungkin aku yang harus deg-degan, Bee. Akhirnya aku memiliki waktu untuk bertemu dengan mereka. Semoga nanti ayah setuju dengan ajakanmu," ucap Elena sembari menghela nafasnya.
"Semoga saja. Nanti aku kabari kapan dan dimana mereka ingin bertemu," ucap Rexy dan mengecup Elena.
"Iya, Bee. kamu tawarkan saja makan malam dirumah kita, jadi aku bisa bersiap-siap untuk menyambut mereka," ucap Elena tersenyum.
"Baiklah, nanti aku usahkan," ucap Rexy segera berangkat menuju kantor dan meninggalkan Elena di halaman rumah.
Wanita cantik itu menghela nafas, ia mulai merasa gugup saat ini. Menaruh harapan besar setelah sekian lama mereka terpisah dan saling merindukan satu sama lain.
Semoga nanti ayah dan bunda bisa menerima keadaanku yang sekarang. Batin Elena sendu.
Ia hanya perlu mempersiapkan diri, terutama mental untuk bertemu dengan orang tuanya. Hanya ada dua kemungkinan, ia diterima atau ditolak, dan ia harus siap dengan semua kemungkinan yang ada.
"Selamat pagi, Nona," ucap Clayton.
"Pagi, Clay. Bagaimana tidurmu?" tanya Elena terkekeh.
"Ah, tidur saya sangat nyenyak, Nona. Saya ada informasi yang akan membuat anda senang pagi ini," ucap Clayton tersenyum tipis.
"Melihat ekspresi kamu, sepertinya informasi yang sangat berharga. Apa itu?" Tanya Elena.
"Apa anda belum melihat berita?" tanya Clayton.
"Belum, kamu tau sendiri kalau setiap pagi aku sangat sibuk," ucap Elena menggeleng.
__ADS_1
Mereka berjalan masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Clayton mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan berita yang tengah viral, menjadi trending topik pembicaraan di sosial media.
"Video panas berdurasi 19 detik yang di sangka model cantik papan atas," Ucap Elena membaca berita itu. "Siapa ini Clay?" ucapnya mengernyit.
"Apa anda tidak mengenal wajah mereka, Nona?" ucap Clayton.
Elena memutar video itu dan terkejut melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Ia menatap Clayton dengan tidak percaya.
"Bagaimana bisa? Video ini yang kita dapat hari itu bukan?" Tanya Elena terkejut.
"Iya, Nona. Itu sudah saya urus dengan sedemikian rupa. Mengirim potong itu kepada teman saya di luar negeri, karena server saya sedang bermasalah, Nona. Lalu menandai banyak akun gosip agar beritanya boom, meledak dipasaran," ucap Clayton bangga.
"Kamu memang luar biasa! Ah, kalau seperti ini saya tidak bisa mengganggu dia lagi, pasti pihak kepolisian sudah memanggilnya," ucap Elena.
"Bukankah anda bisa fokus kepada tuan Justin?" ucap Clayton tersenyum tipis.
"Kamu benar, Clay. Tapi aku masih ingin menganggunya. Semoga nanti masih ada kesempatan untuk itu," ucap Elena kesal.
"Besok pihak kepolisian akan mengumumkan keputusan untuk kasus KDRT nyonya Reema, Nona. Kabarnya tuntutan itu dibatalkan, dan pengacara tuan Justin sudah bersiap untuk menuntut kembali dengan berkas yang sangat lengkap. Bahkan kita tidak memiliki beberapa berkas kejahatannya," ucap Clayton membuat Elena berbinar.
"Sepertinya tidak, Nona. Menurut orang yang saya suruh untuk mengikutinya, Nyonya Reema tidak keluar dari rumah dan berencana untuk pergi ke luar negeri. Saya sudah memberikan informasi ini kepada pihak kepolisian untuk memeriksa semua penerbangan ke tujuan mana pun," ucap Clayton.
"Ah, kamu memang pintar. Apa Rexy membayarmu dengan harga yang pantas?" tanya Elena terkekeh.
"Anda tidak perlu ragu, Nona. Jika bayarnya tidak menjanjikan, mungkin saya tidak berada di sini bersama Anda!" ucap Clayton tersenyum.
"Ah, kamu memang yang terbaik!" ucap Elena mengacungkan dua jempolnya.
"Terima kasih pujiannya, Nona. Jangan lupa lebihkan saya masakan Anda nanti," ucap Clayton.
"Boleh, boleh banget," ucap Elena.
Mereka berbincang membahas beberapa masalah lainnya. mencari jalan untuk langkah selanjutnya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
🍃🍃
Sementara di perusahaan, Rexy baru saja tiba. Jantungnya semakin berdetak kencang mengiringi langkah kaki menuju ruangan meeting.
__ADS_1
Sebab, sang mertua sudah datang bersama dengan beberapa orang lainnya yang di tunjuk sebagai perwakilan perusahaan.
Hah, semoga bisa berjalan dengan baik. Harga diriku sebagai CEO dan calon menantu sedang dipertaruhkan!. Batin Rexy mengatur detak jantungnya.
"Tuan, semuanya sudah siap," ucap Ren membuka pintu ruangan itu.
Rexy melangkah masuk, matanya tertuju pada sosok laki-laki paruh baya yang terlihat masih tampan namun tidak bisa dibohongi wajah lelahnya tergambar dengan jelas.
"Selamat pagi tuan Rexy," sapa Vazo Ayah Elena.
"Selamat pagi, silahkan!" ucap Rexy mengangguk dengan wajah datarnya.
"Terimakasih Anda sudah mau memberikan perusahaan saya kesempatan yang sangat berharga ini, Tuan," ucap Vazo tersenyum haru.
"Iya, Sama-sama. Itu tergantung bagaimana penawaran yang Anda berikan nanti," ucap Rexy.
"Semoga Anda bisa mempertimbangkan proposal kami nanti, Tuan," ucap Vazo penuh harap.
"Silahkan dimulai!" ucap Rexy.
Sungguh ia merasa begitu gugup, bahkan juga merasa tidak enak hati ketika melihat calon mertuanya begitu merendah seperti ini.
Maafkan aku, Ayah. Tanpa presentasi pun, aku akan membantu perusahaan Ayah, bagaimana pun caranya. Setelah ini Ayah boleh menghukumku. Batin Rexy.
Vazo mulai mempresentasikan proposal yang sudah ia rancang dengan sangat baik. Rexy cukup kagum dengan public speaking sang calon mertua.
Kata-kata yang sangat tersusun rapi, sehingga membuat siapa saja bisa memahami apa yang ia katakan.
Satu jam berlalu begitu saja, laki-laki paruh baya itu menerangkan proposalnya dengan sangat baik. Apa lagi semua pertanyaan dari para anggota rapat mampu dijawab olehnya, Rexy mengarungi jempol untuk proposal yang sangat bagus ini.
"Sempurna!" ucap Rexy bertepuk tangan.
Semua orang terkejut mendengarkan ucapan Rexy. Mereka tau, jika pria tampan itu akan memuji jika layak untuk di puji dan akan mencerca jika proposal itu tidak menemui akar masalahnya.
"Ren, salurkan dana untuk perusahaan VA Corporation dan 20 persen saham," Ucap Rexy tersebut tipis.
"Baik, Tuan," ucap Ren menulis pada agenda rapat.
Semua orang terdiam dan terkejut mendengar keputusan Rexy yang seolah terburu-buru dan seperti tidak memikirkan hal yang lain dengan baik.
__ADS_1