PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Meminta Restu


__ADS_3

Setelah merasa tenang, Vazo dengan semua pemikirannya menatap Rexy dengan penuh tanda tanya.


"Tadi kau menyebut putriku, calon istrimu. Kapan kalian akan menikah?" tanya Vazo menatap Rexy dengan tatapan tajam.


"Ah, itu begini, Ayah...," Ucap Rexy tiba-tiba saja merasa gugup.


"Itu begini apa?" tanya Vazo mengernyit.


"Ayah?" panggil Elena dengan lembut.


"Iya, Sayang? Apa kalian akan menikah tanpa restu dari ayah dan bunda?" tanya Vazo mengernyit.


Elena tersenyum dan menggeleng. "Aku tidak akan mau menikah tanpa restu ayah dan bunda. Jika tidak memikirkan semua itu, mungkin hari ini tidak akan pernah ada, dan kita gak akan pernah bertemu," ucapnya.


Vazo terdiam, ia menatap Elena dan Rexy masih dengan tatapan yang tidak bersahabat.


"Kapan kalian menikah?" tanya Vazo.


"Du-dua minggu lagi, Yah!" ucap Rexy semakin gugup.


"Tunda!" ucap Vazo tegas.


Elena dan Rexy saling bertatapan satu sama lain. Pria tampan itu menelan ludah dengan kasar, nyalinya menciut menatap wajah garang calon mertuanya.


"Ayah," panggil Elena.


"Maaf, Tuan dan nyonya Hinata. Apakah bisa pernikahan mereka di tunda? Kami baru saja bertemu dan sekarang kembali berpisah karena Elena harus ikut dengan suaminya," ucap Vazo.


"Hmm, begini Tuan Vazo. Bukan hal lain yang membuat mereka menikah dalam waktu dekat. Tetapi, ada sesuatu yang menjadi bahan pertimbangannya, Tuan," ucap Angelin.


"Jika nanti Tuan dan nyonya ingin menghabiskan waktu bersama Elena, tidak ada larangan. Justru bukankah ini menjadi sesuatu yang bisa membuat kita semakin dekat?" ucap Hinata.


"Ayah, Rexy minta maaf karena hal ini. Tetapi, Aku sungguh mencintainya Elena, Yah. Mohon restu dari Ayah dan Bunda, agar kami bisa menikah," ucap Rexy tersenyum.


Vazo hanya terdiam menatap kosong kesembarang arah. Ia merasa belum rela jika Elena menikah dalam waktu dekat, di saat mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


"Ayah, walaupun nanti aku sudah menikah, bukankah Va masih anak ayah dan bunda?" tanya Elena tersenyum.


"Rexy tidak akan pernah menghalangi Elena untuk bertemu dengan ayah dan bunda. Karena aku tau, rasanya dipertemukan dengan orang yang kita cintai itu bagaimana. Kalau dapat, Elena selalu ayah bawa kemana-mana agar tidak pergi," ucap Rexy.


"Ayah, Mas Rexy sudah membuktikan jika dia bukan Justin. Dia laki-laki yang baik dan penuh kasih sayang, Yah. Mungkin jika Mas Rexy sama seperti Justin, Va gak akan mau," ucap Elena menggenggam tangan Vazo.


"Kamu yakin, Nak?" tanya Vazo menatap Elena dengan lekat.


"Iya, Va yakin jika Mas Rexy laki-laki yang baik untuk Va," ucap Elena tersenyum.


"Bunda gimana?" tanya Vazo menatap sang istri.


"Putri kita sudah menentukan pilihannya, Yah. Rexy juga pria yang baik, gak ada salahnya kita memberikan restu kepada mereka. Asal, Rexy berjanji untuk membahagiakan Elena," ucap Khalia tersenyum.


"Rexy berjanji, Bunda. Kebahagiaan Elena, juga kebahagianku, tangis Elena adalah kehancuran bagi aku bunda. Itu sudah menjadi janjiku semenjak menyelamatkan Elena dari kecelakaan itu," ucap Rexy tegas.


Vazo melihat ketulusan yang terpancar dari mata Rexy. Pria tampan itu terlihat sangat mencintai Elena dengan tulus, bahkan ketika sang putri tidak memiliki apa-apa.


"Rexy, dulu karena ambisi, Saya menyia-nyiakan kebahagiaan Elena. Penyesalan tidak ada gunanya sekarang. Mungkin kamu sudah tau bagaimana kehidupan Elena sebelum kecelakaan. Jika memang kamu ingin menikahi Elena, tolong jaga dia, bahagiakan dia. Jangan pernah melekatkan tanganmu, jika putri saya membuat sebuah kesalahan. Ayah memberi kalian restu!" ucap Vazo membuat air mata Elena kembali menetes.


Semua orang merasa lega dengan ucapan Vazo. Akhirnya pernikahan mereka sudah mendapatkan restu dari kedua belah pihak.


"Sekarang, Ayah mau bertanya satu hal!" ucap Vazo.


"Silahkan, Yah. Apapun yang Ayah tanya akan saya jawab," ucap Rexy.


"Siapa yang membunuh Elena?" tanya Vazo.


Rexy dan Elena saling berpandangan, wanita cantik itu menggeleng meminta agar Rexy tidak memberitahukan hal itu kepada Vazo.


Namun Rexy mengangguk, kini semua hal tentang Elena harus diketahui oleh orang tuanya.


"Ayah, sejak awal kami sudah mengetahui siapa yang telah menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi, ada satu dan lain hal yang membuat kami memutuskan belum mengungkapkan masalah ini terlebih dahulu. Takut, jika semua rencana yang sudah dieksekusi dengan baik, tiba-tiba saja gagal. Kami harap, Ayah dan bunda paham dengan apa yang saya katakan," ucap Rexy.


"Siapa, Nak? siapa yng merencanakan ini semua?" tanya Khalia tidak sabar.

__ADS_1


"Justin Andrian!" ucap Elena dengan wajah yang begitu dingin.


Vazo dan Khalia terkejut mendengarkan ucapan Elena. Mereka salling berpandangan, merasa tidak percaya jika mantan menantunya adalah dalang dari semua kecelakaan itu.


"Jangan berbohong, Va!" Ucap Vazo tegas.


"Maaf, Yah. Tetapi itu faktanya! Justin yang merencanakan pembunuhanku!" Ucap Elena sarkas.


Vazo menatap Elena dengan rasa tidak percaya. "Bagaimana bisa dia berbuat seperti itu?" tanya Vazo.


"Dia tidak pernah mencintaiku, Yah. Semua kebaikannya di hadapan ayah dan bunda hanya sebuah kebohongan!" Ucap Elena.


Vazo memijat kepalanya yang terasa berdenyut. "Saya sudah mengumpulkan semua bukti yang bisa membuat ayah dan bunda menjadi percaya dengan apa yang kami ucapkan," ucap Rexy tersenyum.


"Kenapa dia bisa setega itu sma kamu, Sayang?" tanya Khalia dengan mata yang berkaca-kaca.


Elena terdiam, ingin rasanya ia berteriak jika semua itu terjadi karena perjodohan yang mereka lakukan. Namun semuanya percuma, jika itu tidak terjadi, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan Rexy, laki-laki yang begitu mencintainya.


"Bunda akan tau nanti, tepat di hari pernikahan kami! Itu akan menjadi kado terindah yang akan aku terima. Melihat Justin menggunakan baju orange yang sangat menyedihkan!" ucap Elena dengan tatapan mata yang begitu tajam.


Vazo termagu menatap Elena. Putrinya yang lembut, kini berubah menjadi perempuan yang kuat dan tegas.


"Lalu apa yang harus ayah lakukan?" tanya Vazo.


"Ayah tidak perlu melakukan apa-apa, selain bersikap biasa saja dan menyimpan rahasia ini dengan sangat baik. Jika tiba saatnya, Boom! Dia akan hancur seperti dulu, ia menghancurkan Vania," ucap Rexy dengan raut wajah yang begitu serius.


"Ayah, hanya perlu menyaksikan kehancuran mereka. Karma dari semua perbuatan yang sudah mereka lakukan," ucap Elena.


"Besok kasus dia bersama istrinya akan menemui titik terang. Biarkan dia memenjarakan perempuan itu, sehingga pekerjaan kita menjadi lebih ringan. Setelah itu, mereka akan masuk ke dalam rumah baru, dengan kamar yang sempit dan pengap!" ucap Rexy.


"Kenapa kita tidak menangkap dan menyiksa mereka di ruang bawah tanah, Bee?" tanya Elena menatap Rexy.


"Kejahatan mereka tidak akan terungkap, Sayang. Dia tidak akan merasa malu nanti. Biarkan mereka menikmati permainan yang sudah dia mulai tanpa bisa diakhiri!" ucap Rexy tersenyum smirk.


"Benar juga, tetapi jika mereka kita sandera, biarkan mereka melihat bagaimana kemesraan yang sesungguhnya. Aku penasaran bagaimana wajah mereka ketika melihat kita menikah nanti," ucap Elena terkekeh.

__ADS_1


Mereka berbicara seolah tidak ada orang lain di sana. Sementara para orang tua mulai merasa jika Elena dan Rexy memiliki sifat psikopat yang mulai terlihat.


Hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Elena dan Rexy. Mereka telah berkumpul dan mendapatkan restu dari kedua belah pihak.


__ADS_2