PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Mati!


__ADS_3

Elena dan Rexy menjalani honeymoon mereka dengan begitu tenang, seminggu bahkan tidak cukup waktu untuk mereka berpacaran dalam status suami dan istri.


Kini, Elena dan Rexy kembali ke Indonesia, dengan wajah bahagia yang tidak bisa di sembunyikan. Selain berbulan madu, Elena mendapatkan harapan, jika ia bisa mengandung dengan proses bayi tabung.


Kini mereka langsung pergi menuju kantor pengadilan, sebab hasil putusan sidang Justin akan di umumkan hari ini setelah melewati berbagai macam drama dalam persidangan.


Mobil mewah mereka berhenti dan menyita begitu banyak perhatian. Sebab, sidang bisa berjalan begitu saja tanpa ada Rexy dan Elena saat proses itu berlangsung.


Kini mereka datang di hari, dimana hasil putusan akan dibacakan oleh hakim.


Seperti biasa, Rexy turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Elena. Menggandeng wanita cantik itu dengan begitu mesra, memperlihatkan kepada dunia, jika Elena adalah miliknya.


Semua orang sudah berada di dalam ruang sidang. Hanya menunggu kedatangan Majelis Hakim agar bisa memulai sidang putusan hari ini.


"Sayang, tangan kamu dingin!" ucap Rexy mengernyit.


Elena memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku gugup, Bee. Aku harap mereka bisa mendapatkan hukuman yang setimpal bahkan sangat berat, atas semua perbuatan yang telah mereka lakukan!" ucapnya penuh harap.


"Semoga saja hasil keputusan bisa membuat kita puas nanti, Sayang!" ucap Rexy mengecup tangan Elena dengan lembut dan berulang kali.


Kegiatan mereka, tidak lepas dari pandangan penuh kebencian dari Justin. Dengan wajah dingin, ia menatap Rexy seolah ingin membunuh laki-laki itu.


Dia telah merebut Elena dariku, membuatku mendekam dipenjara dan kini dia hidup bahagia? Jangan harap! Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan selama berada di dalam penjara!. Batin Justin,


Tanpa sengaja, Rexy membalas tatapan Justin yang begitu menusuk. Ia tersenyum tipis dan mengejek Justin sambil menaikkan sebelah alisnya.


Ia kembali mengecup tangan Elena tanpa memutuskan pandangan. Tanpa diduga, Elena juga ikut mencium tangan Rexy dan tersenyum, lalu ia melengos tanpa menyadari apa yang tengah di tatap oleh sang suami.


Panas kan kau? Mampus! Sekarang Elena sudah menjadi milikku, seutuhnya!. Batin Rexy masih tersenyum dengan alis yang terangkat.


Justin mengepalkan tangan melihat tatapan mengejek Rexy yang begitu jelas mengarah kepadanya. Ia segera memutuskan tatapan itu agar tidak memancing emosinya semakin jauh.


Rexy tersenyum puas atas kemenangannya. Kini apa yang ia ingin sudah terkabulkan dengan baik, walaupun penuh dengaan drama.


Majelis hakim sudah memasuki ruangan. Sidang putusan atas kasus pembunuh berencana akan segera dimulai.


Elena menatap lurus kedepan, ia sedikit penasaran dimana Justin berada.


Hap!


Mata mereka beradu pandang. Justin terpana melihat kecantikan wanita yang ia cintai itu, terlihat sangat cantik dari terakhir kali mereka bertemu.


Sementara Elena hanya menatap datar kearah Justin. Ia melengos dan memilih objek lain untuk ia lihat, sembari menggenggam tangan Rexy dengan cukup erat.

__ADS_1


"Baik, selamat siang semuanya. Sidang putusan pengadilan hari ini, saya buka!" ucap Ketua Hakim dan mengetukkan palu.


Justin duduk di kursi dengan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi. Ia hanya menatap tajam kearah hakim tanpa menghiraukan siapapun yang ada di dalam ruangan itu.


"Baik, Sidang hasil putusan...," ucap Hakim membacakan kata pengantar dengan begitu detil.


Suasana berubah menjadi tegang seketika, mengiringi pembacaan vonis hakim yang akan di jatuhkan kepada Justin dan terdakwa lainnya.


"Dengan ini menyatakan, bahwasanya terdakwa atau Saudara Justin Andrian terbukti bersalah secara sah dan menjadi dalang dari kasus pembunuhan berencana atas korban saudara Vania Abigail atau Elena Sinclair, yang termuat dalam pasal yang sudah disebutkan," ucap Hakim.


Jantung Elena berdetak dengan cepat, ia semakin menggenggam tangan Rexy dengan erat dan mengigit bibirnya.


"Dengan ini, kami memutuskan jika terdakwa atau saudara Justin Andrian divonis hukuman..., Mati! Pengacara atau pihak terkait bisa mengajukan banding jika hasil putusan sidang ini tidak sesuai," ucap Hakim.


Ia melanjutkan hasil putusan sidang terdakwa selanjutnya dan mengetuk palu, yang menjadi pertanda jika hasil putusan tidak bisa di ganggu gugat saat itu juga.


"Tidak!" pekik Tiara ketimbang mendengarkan hasil vonis Justin. Ia pingsan di tempat dengan wajah yang sudah lusuh tidak terawat lagi.


Ia segera di gotong keluar dari ruang sidang, agar tidak mengganggu pembacaan vonis selanjutnya.


Elena terkejut dengan hasil yang sesuai dengan harapannya.


"Sayang, kita menang!" ucap Rexy tersenyum senang dan berhasil menyadarkan Elena dari keterkejutannya.


"Benar, Sayang!" ucap Rexy mengecup tangan Elena.


Tanpa terasa, air mata Elena menetes. Ia merasa mendapatkan keadilan dengan sangat adil seadil-adilnya. Justin di hukum mati dan sesuai dengan keinginannya di awal.


Sementara Justin tersenyum tipis menyalahartikan ekspresi wajah Elena.


Aku yakin, kamu terluka dengan vonis yang di jatuhankan kepadaku tidak sesuai. Aku janji akan mengajukan banding dan membatalkan hukuman matiku!. Batin Justin menatap Elena.


Rexy, dan yang lain merasa begitu lega dengan hukuman yang diberikan oleh hakim. Apalagi Khalia yang menangis terisak di dalam dekapan Vazo.


Mereka merasa puas, karena Justin mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan yang sudah ia lakukan.


Elena segera menghampiri ayah dan ibundanya. Mereka berpelukan dan menangis bahagia. Sorot kamera mengarah kepada mereka dan berhasil membuat orang yang menonton ikut menitikan air mata.


"Kita berhasil, Bunda! Kita mendapatkan keadilan itu!" ucap Elena tersedu persis berada di belakang Justin dan membuat pria tampan itu terkejut.


"Iya, sayang. Bunda merasa lega, karena mereka bisa mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah mereka perbuat!" ucap Khalia manangis.


"Sudah, nanti kita lanjutkan di rumah. Sekarang lebih baik kita pulang dan beristirahat!" ucap Vazo tersenyum sambil menghapus air matanya

__ADS_1


Semoga orang terharu melihat keluarga kecil itu. Berbeda dengan Justin dan Julio yang masih berada di dalam ruang sidang.


Mereka menatap tidak suka melihat kemenangan pihak lawan. Apalagi Justin yang serasa hancur ketika harapan mulai menghianatinya.


Ternyata kamu begitu bahagia dengan hukuman yang aku dapat. Ini tidak sesuai dengan yang seharusnya! Lihat saja, luka ini akan aku balas dengan hal yang lebih!. Batin Justin menatap Elena penuh dendam.


Sidang telah selesai, Justin dan yang lain resmi di tahan sebelum jadwal hukuman mati di tentukan. Mereka segera di amankan dan digiring menuju sel yang sebelumnya telah di huni.


Elena menatap kepergian Justin dengan tatapan datar. Apa yang selama ini ia alami sudah terbayar lunas, walaupun ia masih belum merasa puas.


Rencana pembunuhanmu, aku balas dengan rencana pembunuhan terbuka yang disaksikan oleh seluruh orang di dunia. Jika dulu kamu menceraikan aku dengan baik, kita pasti tidak akan seperti ini. Semoga kamu bisa sadar dan memang menyesal seperti ucapanmu waktu itu. batin Elena.


Mereka segera meninggalkan ruang persidangan dan menyusul Justin ke penjara yang akan ia tempati. Ada sesuatu yang akan di sampaikan oleh Elena kepada mantan suaminya itu.


"Untuk apa kamu datang lagi? Kamu sudah puas menertawakan aku? Ternyata kamu tidak kalah hina dari aku!" ucap Justin begitu sarkas.


Elena tersenyum sambil menahan tangan Rexy.


"Kita impas. Walaupun kamu tidak mengabulkan permintaanku, tapi semuanya cukup. Perempuan itu sudah berada di tempat yang seharusnya, begitu juga dengan kamu," ucapnya tersenyum.


Justin hanya terdiam menahan


amarahnya, ia menatap tajam Rexy. Sebab laki-laki ini yang merencanakan semua hal untuk membongkar semua kebusukannya.


"Apa kau lihat-lihat? Pecundang!" ucap Rexy tersenyum tipis.


Justin mengeraskan rahangnya. Sementara Elena langsung membekap mulut Rexy agar tidak menambah masalah kembali.


"Mas, Jika kamu ingin mengajukan banding, silahkan. Tetapi aku tidak akan membiarkan hakim menyetujuinya. Aku ingin kamu dan yang lain di hukum mati sesuai dengan vonis hari ini. Saatnya kamu dan keluargamu merasakan penderitaan yang sudah aku alami selama ini," ucap Elena tersenyum.


"Memang hanya lima tahun. Tapi dampaknya sangat terasa, perjuangan suamiku tidak akan pernah terbayarkan walaupun dengan nyawamu, Mas. Nikmatilah hari-hari terakhirmu sebelum ajal menjemput!" ucap Elena.


"Kamu memang wanita berkedok iblis!" ucap Justin dengan wajah yang memerah.


"Iya, aku iblis! Terima kasih sudah menginginkan," ucap Elena tersenyum.


"Aku tidak akan tinggal diam dengan hinaan ini! Lihat saja, aku akan membalas perbuatan kalian dengan labih parah lagi!" ucap Justin tegas.


"Kantong matamu sudah sangat hitam, Tuan Justin. Selamat beristirahat!" ucap Rexy tersenyum tipis dan mengajam Elena pergi.


"Selamat jalan Mas. Semoga arwah orang jahat seperti kamu, masih memiliki tempat di sisiNya!" ucap Elena.


Ia mengikuti langkah kaki Rexy keluar dari lapas. Sementara Justin hanya terdiam dan menggenggam jeruji besi untuk menahan emosi.

__ADS_1


Lihat saja nanti!. batinnya.


__ADS_2