
Dua pria tampan itu sama-sama memasang wajah dinginnya. Rexy yang belum sadar dengan kesalahan, matap Vazo dengan tatapan tidak suka.
Sementara sang calon mertua bersiap untuk mengomel karena Rexy sudah melanggar larangannya.
"Ada apa sih, Yah? Ini masih pagi," ucap Rexy malas.
"Pagi apa? Ini sudah jam 10 siang!" ucap Vazo kesal.
"Masih pagi juga, Yah! Lagian sekarang itu libur," ucap Rexy semakin malas.
"Apa kau tidak ingat apaa yang aku katakan semalam?" tanya Vazo tegas.
"Hmm? Jangan tidur dengan Elena sebelum menikah!" ucap Rexy bersandar pada pintu sambil menahan kantuknya.
"Sekarang kau tidur dimana?" tanya Vazo.
"Tidur sendiri!" ucap Rexy yang mulai setengah sadar.
Plak!
Vazo langsung memukul lengan Rexy dengan gemas melihat tingkah calon menantunya yang sangat tidak bisa ditebak.
"Sakit, Yah! Ayah kenapa sih, dari kemarin mara-marah terus?" ucap Rexy kesal.
"Kau lihat sedang dimana sekarang!" ucap Vazo.
Rexy menatap sekelilingnya dan melihat Elena yaang baru saja bangun dari ranjang.
"Dasar anak muda! Gak bisa dibilangin! Sudah dilarang masih saja berbuat!" omel Vazo.
Rexy dan Elena saling pandang dengan wajah yang masih mengantuk.
"Cepat keluar dan turun kebawah! Ada berita terbaru tentang Justin!" ucap Vazo mengalah untuk melarang Rexy yang keras kepala.
"Ah, iya. Sekarang pengumuman kasus mereka!" ucap Elena langsung turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Sementara Rexy merasa tidak peduli dan melanjutkan tidurnya. Ia kembali berbaring di atas ranjang sembari memeluk bantal guling.
"Bee, bangun yuk! Kamu gak mau lihat beritanya?" tanya Elena yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku gak tertarik, Sayang. Aku mengantuk!" ucap Rexy lirih setengah sadar.
__ADS_1
"Ya sudah, aku kebawah dulu, ya!" ucap Elena mengelus kepala Rexy dan mengecupnya.
Pria tampan itu tidak menjawab, Elena segera turun dan menuju ruang keluarga untuk melihat berita hari ini.
"Morning Ayah, Bunda," ucap Elena tersenyum dan mengecup pipi mereka.
"Morning, Sayang. Rexy mana?" tanya Khalia tersenyum.
"Masih tidur, Bunda. Semalam kayaknya Mas Rexy gak bisa tidur!" ucap Elena.
"Aih, kalian ini. Walaupun sudah lama tinggal di luar negeri, tetapi pilah juga mana yang harus di jaga dan mana yang tidak!" ucap Vazo masih kesal.
"Ayah, mas Rexy gak bisa tidur kalau gak ada El," ucap Elena merebahkan kepalanya di bahu Vazo.
"Bohong itu, modus dia saja yang ingin dekat-dekat denganmu!" ucap Vazo.
"Ayah gak boleh sering marah-marah lo, nanti cepat tua," ucap Elena terkekeh.
"Kamu ini sama saja dengan dia!" ucap Vazo menggeleng.
"Sudah, itu sebentar lagi akan mulai," ucap Khalia menengahi anak dan suaminya.
"Baik, kita mulai saja. Seperti yang sudah teman-teman media ketahui, jika Saudara Justin telah dilaporkan oleh sang istri atas kasus kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa bukti sudah kami kumpulkan, namun dari pihak saudara Justin sendiri sudah memberikan bukti pembelaan yang lebih valid," Ucap humas polda.
"Berberapa orang sudah dimintai keterangan, dan saudara Reema atau pelapor sudah mengakui bahwa saudara Justin atau terlapor tidak melakukan hal tersebut. Sehingga kasus ini sudah selesai, dengan pelapor mencabut tuntutannya," sambung humas polda.
"Lalu bagaimana dengan tuan Justin sendiri, Pak? Apa beliau melaporkan balik atau bagaimana?" tanya salah satu wartawan.
"ya, pagi ini sekitar pukul 08.00 wib, Saudara Justin beserta pengacaranya membuat laporan atas saudari Reema dengan beberapa kasus yang sudah dilengkapi dengan alat bukti. Nanti akan kita cek dan juga akan kita periksa kedua belah pihak untuk kelanjutan kasus ini," ucap humas polda.
Suara gemuruh dari wartawan mulai terdengar. Mereka seperti mendapatkan jackpot atas kasus besar seperti ini.
"Kira-kira kasus apa saja yang dilaporkan tuan Justin terhadap istrinya, Pak?" tanya wartawan lain.
"Laporan yang sudah masuk, tercatat saudari Reema atau terlapor, yang diduga terlibat beberapa kasus yang sangat berat. Diantaranya, penyalahgunaan narkoba, prostitusi, dan lain sebagainya. Nanti akan kami cek kembali semua laporan yang sudah masuk," ucap humas.
Elena hanya mendengar sembari menerima suapan dari sang ibunda. Ia sangat penasaran dengan kasus-kasus yang sudah dilaporkan oleh Justin, karena tidak semuanya disebutkan oleh pihak kepolisian.
"Apa video 19 detik yang sudah beredar itu juga termasuk dalam laporan, Pak?" tanya wartawan lagi.
"Iya, Sudah termasuk. Namun untuk wajah dan akun yang digunakan untuk mengupload video tersebut sedang kami lacak," ucap Humas Polda.
__ADS_1
"Apa terlapor akan mendapat pasal yang berlapis atas kasus ini, Pak?" tanya wartawan.
"Nanti akan kita lakukan penyidikan untuk kasus ini, baru kita bisa menentukan pasal apa yang akan menjerat saudari Reema. Mungkin sekian dulu pertemuan kita pagi ini, Terima kasih," ucap Humas Polda menutup konferensi pers pagi itu.
Khalia dan Vazo hanya terdiam mendengarkan berita itu. Sementara Elena tersenyum senang, ketika polisi langsung memulai tahap penyidikan atas semua kasus Reema.
"Kenapa mereka bisa saling melaporkan seperti ini?" tanya Khalia.
"Dari awal hubungan mereka sudah tidak sehat, Bunda. Perempuan itu yang menjadi alasan Justin membunuhku," ucap Elena dengan wajah dingin.
"Apa maksud kamu, Nak?" tanya Khalia terkejut.
"Jika bukan wanita itu yang meminta Justin untuk membunuhku, mungkin saat ini El masih menjadi Vania dengan status seorang janda," ucap Elena lirih sembari membuang nafasnya dengan kasar.
"Kurang ajar!" ucap Vazo berdiri.
"Ayah tenang dulu, ya. Perang yang terjadi antara mereka itu sudah permainanku bersama mas Rexy. Ayah cukup duduk cantik dan menyaksikan kehancuran mereka," ucap Elena menahan Vazo.
Sebab ia tau, jika sang ayah sudah marah, apa pun akan di lakukan olehnya walaupun harus menghilangkan harga diri.
"Bisa-bisanya mereka berbuat seperti itu. Manusia biadap! Kenapa harus membunuh, sementara dia bisa menceraikan kamu dengan baik-baik. Ayah tidak mengerti jalan pikirnya!" ucap Vazo.
"Jika El memperlihatkan sebuah video, El yakin kalau Ayah akan percaya bagaimana perempuan itu bisa mempengaruhi Justin," ucap Elena tersenyum.
"Video apa, Nak?" tanya Vazo mengernyit.
"Video full 19 detik yang sedang girang sekarang," ucap Elena tersenyum.
"Kamu tau? Apa kamu yang menyebarkannya?" tanya Vazo terkejut.
"Hehehe, aku meretas CCTV mereka, yang kebetulan berada di gedung yang sama apartemenku, Yah. Clayton yang mengupload videonya," ucap Elena terkekeh.
Vazo dan Khalia menatap Elena dengan rasa tidak percaya. Kini gadis yang mereka kenal lembut itu sudah menjadi wanita yang kuat dan sangat pandai dalam menjatuhkan lawannya.
Jadi mereka berada di dalam kendali kalian?" tanya Vazo.
Elena mengangguk dan tersenyum. "Kini hanya tinggal selangkah lagi, perempuan itu sudah menempati kamar barunya. Dan setelah ini, Justin juga akan menempati kamar baru, atau mungkin liang lahat," ucap Elena tersenyum smirk.
"Apapun yang kamu rencana, jangan sampai menjadikan itu semua boomerang yang juga ikut menjatuhkanmu!" Ucap Vazo memeluk anak dan istrinya.
"Selama Elena masih bersama Ayah, Bunda dan mas Rexy, El akan merasa aman. Ini yang pertama dan terakhir agar bisa membuat hati El lega, Yah!" ucap Elena tersenyum dan memejamkan matanya merasakan pelukan hangat yang sudah lama ia rindukan.
__ADS_1