PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Kekecewaan Seorang Ibu


__ADS_3

Rexy menggenggam tangan Elena dengan lembut, ia begitu khawatir jika wanita cantik ini sudah terbaring lemah seperti ini. Ia lebih suka melihat Elena yang selalu merepotkan dan menyusahkan dirinya.


Sudah setengah jam berlalu wanita cantik itu belum juga memberi tanda akan siuman.


Ia sengaja tidak memberitahukan satupun anggota keluarga tentang kejadian ini. Sekarang ia juga bingung bagaimana memberitahukan kondisi Elena sekarang.


"Sayang, bangunlah! Dia sudah dibawa oleh polisi. Kamu harus memberikan keterangan untuk melengkapi laporannya!" ucap Rexy lirih.


Walaupun ia tidak ingin mengucapkan itu, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba memancing kesadaran Elena.


Wajah wanita cantik itu terlihat pucat, detak jantung yang sudah mulai stabil tidak mampu membuatnya tersadar.


Dua orang polisi sedang menunggu Elena untuk bisa dimintai keterangan, agar semuanya bisa diproses secepat mungkin. Mengingat kejadian ini sudah lama, sehingga perlu untuk melakukan peninjauan kasus.


Rexy terdiam, jika melihat kondisi Elena seperti ini, mungkin ia akan menunda pernikahan mereka sementara hingga kondisi wanita cantik itu sudah pulih.


Tetapi sangat tidak mungkin. Mengingat, jika terjadi beberapa hal yang tidak di inginkan, maka semua itu akan membuat Elena berada dalam bahaya.


"Sayang, bangunlah!" ucap Rexy lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia merebahkan kepalanya di atas brangkar sambil menggenggam tangan Elena. Ia terlelap tanpa mengetahui jika sangat calon istri baru saja membuka mata.


Sayup-sayup, wanita cantik itu mendengar apa yang di ucapkan oleh Rexy. Namun ia belum mampu untuk membuka mata.


"Bee?" panggil Elena lirih.


Tidak ada respon sama sekali dari Rexy. Elena tersenyum dan mengusap kepala pria tampannya dengan lembut.


Tidurlah, Sayang. Aku mencintaimu!. Batin Elena kembali menutup mata.


🍃🍃


Di rumah sakit yang berbeda, Justin baru saja terbangun dan merasakan perutnya yang kaku dan nyeri. Sendiri di dalam ruangan hening tanpa ada yang menemani.


Ia merenung, karma yang ia dapat terasa sangat cepat. Mengingat kata-kata Elena yang begitu menyayat hati, meremukkan cinta dan menghancurkan semua hayalan yang sudah ia bangun.


Hidup berdua bersama wanita cantik itu, dan menjadikan Elena wanita paling bahagia di dunia. Namun kini, untuk hidup saja ia serasa tidak memiliki gairaah lagi.

__ADS_1


Sekarang aku paham apa yang kamu rasakan. Sakit! Sangat sakit! mungkin kamu benar, semua ini tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan. Tetapi, aku tidak akan tinggal diam ketika melihat kamu bersama dengan laki-laki itu. Aku akan merebutmu kembali, Na!. Batin Justin dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia merasa ingin bangun dari tidurnya, namun untuk bernapas pun ia kesulitan, karena rasa sakit itu menjalar hingga ke hulu hati.


Pantas saja waktu itu Rexy menanyakan tentang kecelakaan. Ternyata dia hanya memancing dan menjebakku. Bahkan dia lebih hina dibanding aku yang seorang pembunuh. Memanfaatkan Elena untuk menjatuhkanku!. Batinnya penuh amarah.


Ia ingin menghancurkan Rexy, karena masih ada waktu sebelum terlambat. Namun ia masih menunggu kabar dari mafia yang sempat ia hubungi.


Matanya menatap langit-langit kamar dengan tajam, membayangkan wajah Rexy di sana. Namun ia tersenyum ketika bayangan Elena melintas sambil tersenyum manis.


Kamu berubah menjadi perempuan yang begitu kuat, Baby. Kejam, tetapi kamu mau memaafkan aku yang telah membunuhmu. Bagaimana aku tidak semakin mencintaimu jika seperti ini. Batin Justin tersenyum.


Ia masih menerawang membayangkan wajah Elena yang terlihat begitu dingin.


Sedikit menakutkan, namun aku melihat kamu bagitu mengemaskan. Batinnya tersenyum menatap langit-langit kamar.


Suara gaduh terdengar keras dan mengusik hayalan Justin. Ia mendengar suara yang begitu familiar. Namun saat ini sangat tidak ingin ia dengar.


Ceklek!


Pintu terbuka, Tiara masuk ke dalam ruang dimana Justin dirawat. Ia segera mendekat dan melihat kondisi Sang putra saat ini.


Apa lagi semenjak kejadian ia menceraikan Reema, ia memilih untuk menghindar dari mereka.


Tiara memandang Justin dengan penuh amarah. Matanya berlinang karena merasa tidak percaya dengan apa yang sudah di perbuat oleh putra semata wayang mereka.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Justin? Kamu membunuh istrimu sendiri dan berlagak jika kamu kehilangan dia! Dimata otak kamu!" ucap Tiara tegas.


Justin hanya terdiam sembari membuang muka. Karena ia tidak akan sanggup melihat wajah sang ibu yang begitu kecewa dengan semua perbuatannya.


"Mommy tidak pernah mengajarkan kamu menjadi seorang pembunuh, Justin! Tapi kau tumbuh dan besar sebagai seorang pembunuh, apa kau tidak malu?" Ucap Tiara dengan begitu tegas.


Kata-kata itu seakan menghujam jantung Justin. Baru kali ini ia mendengarkan perkataan kasar dari sang ibunda.


"Apa tidak ada cara lain Justin? Kenapa kamu begitu kejam? Kenapa?" pekik Tiara dengan air mata yang mengalir.


Justin masih terdiam dan enggan menanggapi perkataan Tiara.

__ADS_1


"Jika kamu memang tidak menginginkannya, kamu bisa ceraikan dia!" Ucap Tiara


"Apa karena wanita itu, sehingga kamu membunuh Vania dengan cara yang begitu kejam! Jawab Justin!" Bentak Tiara.


Tubuhnya luruh dan jatuh ke lantai. Ia menangis tersedu merasa gagal menjadi seorang ibu bagi anaknya.


Justin perlahan meneteskan air mata tanpa berani melihat keadaan sang ibunda.


"Kenapa, Justin? Kenapa? Kamu tumbuh dengan kasih sayang yang cukup, perhatian yang berlimpah, kenapa kamu berbuat hal keji seperti ini?" ucap Tiara menangis tersedu.


Justin tidak bergerak ataupun bersuara. Ia tidak mampu membela diri dan menyalahkan perjodohan itu di hadapan Tiara.


Hati sang ibunda tengah terluka, dan ia sangat tidak memiliki hati untuk semakin menambah goresan di sana.


"Bahkan sekarang Vania masih hidup, betapa malunya Mommy jika bertemu dengan Bunda Khalia? Apa yang harus Mommy katakan kepada Vania nanti, Nak?" ucap Tiara memegang dadanya yang terasa sesak.


"Maafkan aku yang sudah mengecewakan Mommy," ucap Justin tanpa menoleh.


Tiara menggeleng, ia masih belum bisa menerima semua ini. Menerima kenyataan jika anaknya menjadi tersangka dan akan terjerat hukum yang sangat berat.


"Mommy kecewa, Nak! Mommy kecewa denganmu!" ucap Tiara lirih.


Air mata Justin menetes tanpa bisa ia tahan. Sudah lama sekali ia tidak menangis, namun perkataan sang ibunda begitu menyentuh dan mencabik-cabik hatinya.


Ia sesegukan sembari menahan sakit pada perutnya. "Maafkan aku, Mommy!" ucap Justin mulai menatap Tiara.


Ia mengulurkan tangan dan menggapai sang ibunda, namun Tiara menepis tangan Justin.


"Renungi kesalahanmu dan Terima hukumannya, Justin! Bunda belum bisa memaafkan kamu!" ucap Tiara tegas.


Ia berusaha untuk bangkit dan berjalan keluar dari ruangan. Meninggal Justin sendiri dengan rasa kecewa yang teramat besar.


"Mommy, jangan tinggalkan, Justin!" ucap Justin memohon.


Tiara tidak menghiraukan panggilan itu. Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh lagi.


"Mommy!" teriak Justin.

__ADS_1


Kini ia benar-benar merasa sendiri. Sambil memejamkan mata, ia berusaha untuk menghentikan tangis dan memasang wajah dinginnya.


Kini hanya diri sendiri yang bisa aku andalkan!. Batinnya.


__ADS_2