PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Menghibur Justin


__ADS_3

Siang ini, Elena berencana akan pergi untuk bertemu dengan Justin. Pria tampan yang sudah memohon untuk bertemu dengannya sedari pagi tadi.


Kini bukan hanya Rexy yang menentang, namun kedua orang tuanya pun ikut melarang. Mereka takut jika Justin berbuat hal yang tidak-tidak dan membuat Elena kembali celaka.


"Ayah dan bunda tenang saja, apartemen Justin sudah memiliki CCTV di sana. Jadi kalau dia berbuat macam-macam, Mas Rexy akan segera pergi ke sana," ucap Elena.


"Nak, kita baru saja bertemu semalam. Sekarang kamu sudah menantang maut untuk bertemu dengan laki-laki itu," ucap khalia memeluk Elena.


"Bunda, Aku sudah bertemu dengan Justin beberapa kali, dia tidak akan macam-macam atau mencelakai El," ucap Elena.


"Nak," panggil Khalia.


"Bunda tenang saja, ya. Ada Clayton yang menemani El di sana," ucap Elena tersenyum sambil mengecup pipi sang ibunda.


"Baiklah, hati-hati sayang," ucap Khalia yang akhirnya mengizinkan Elena pergi.


"Bee, aku pergi dulu! Jangan cemburu, ya," ucap Elena terkekeh melihat wajah masam pria tampan itu.


"Jam lima harus sampai rumah!" ucap Rexy dengan wajah dinginnya.


"Iya, Babee. Sana pilih tempat untuk bulan madu nanti," ucap Elena masuk ke dalam mobil.


Wajah Rexy masih terlihat dingin, namun rona wajahnya tidak bisa disembunyikan. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana, memikirkan tempat yang paling romantis dan berbagai macam gaya yang harus ia pelajari.


Ia masih berada di rumah Elena, agar bisa mendekatkan diri dengan keluarga calon istrinya, sembari membicarakan masalah pekerjaan.


Mobil Elena perlahan menjauh. Wanita cantik itu mulai memikirkan cara untuk mengakhiri semua dramanya bersama Justin, agar ia bisa fokus dengan pernikahan yang akan berlangsung hanya menghitung hari.


"Clay, apa yang harus kita lakukan lagi? Saya bingung harus berbuat bagaimana," ucap Elena.


"Saya juga bingung, Nona. Sebab waktu dua minggu sangat singkat untuk melakukan sebuah rencana," ucap Clayton.


"Semoga saja nanti ada celah untuk membuat dia bertekuk lutut," ucap Elena.


"Coba lihat saja apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu, Nona. Saya tetap mengawasi anda melalui monitor," ucap Clayton.


Elena hanya mengangguk. Ia menatap jalanan yang begitu padat walaupun di siang hari. Rasa tidak sabar memenuhi relung hatinya. Ia ingin segera menikah dengan Rexy dan membongkar semua kebusukan Justin dihadapan semua orang.


"Clay bagaimana kalau kita membuat terori konspirasi perseteruan antara Justin dan Reema. Pasti bakalan rame dan membakar drama itu dengan sangat baik," ucap Elena terkekeh.


"Nona, anda terlalu berpikir keras belakangan ini. Tetapi, tidak ada salahnya untuk kita mencoba," ucap Clayton terkekeh.

__ADS_1


"Aih, nanti kamu buat teori itu terlihat seperti nyata dan membuat orang percaya dengan semua konspirasi yang kita karang," ucap Elena.


"Itu masalah mudah, Nona. Anda tenang saja. Menyelam sambil minum air," ucap Clayton.


Tak lama mobil berhenti di gedung apartemen. Elena segera turun dari mobil dan berjalan masuk menuju unit yang dihuni oleh pria tampan itu.


Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Elena yakin jika Justin sangat membutuhkan seseorang yang selalu ada dan menemaninya untuk menghadapi beban hidup yang terasa berat ini.


Ting!


Pintu lift terbuka, Elena langsung menuju ke kamar Justin dan mengetuknya.


"Hai!" sapa Justin yang langsung menarik Elena untuk masuk ke dalam.


"Mas, kenapa kamu menarikku?" tanya Elena terkejut.


"Gak papa, tadi ada orang yang keluar dari lift. Aku hanya tidak ingin ada yang tau keberadaanku sekarang," ucap Justin tersenyum.


"Ah, kamu membuatku takut, Mas!" ucap Elena cemberut.


Justin terkekeh dan langsung memeluk Elena dari belakang. "Aku merindukanmu!" ucapnya dan mengecup bahu Elena yang tertutupi oleh baju.


Elena tersenyum dan mengelus pipi Justin, walaupun sebenarnya di dalam hari ia ingin mengumpat dan menendang laki-laki badjingan ini.


"Hmm, aku tidak menyangka kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini. Bahkan Reema sudah berusaha untuk menjual rumahku, beruntung aku bisa mengetahuinya dengan cepat. Jika tidak, kenangan yang ada di sana pasti akan lenyap begitu saja," ucap Justin.


Ia menarik Elena dengan berjalan mundur menuju sofa. Perlahan ia duduk di sana dan memangku Elena tanpa melepaskan pelukannya.


Glek!


Wanita cantik itu menelan ludah dengan kasar, ketika merasakan pisang raja milik Justin tepat berada di pintu masuknya.


"Terus apa kamu mau melaporkan itu juga? Aku melihat berita tadi pagi," ucap Elena berusaha tenang.


"Tidak. kecuali dia memalsukan sura-surat rumah, baru aku bisa melaporkannya," ucap Justin masih mengendus bahu Elena dan naik hingga ke leher.


"Mas, Apa kamu sudah makan?" tanya Elena.


"Sudah, aku sudah makan. Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Justin.


"Tidak, Mas. Kebetulan tadi aku sudah makan di rumah," ucap Elena bersandar pada Justin.

__ADS_1


Mereka terdiam dengan posisi yang masih sama. Elena berusaha untuk mencari topik agar Justin tidak berpikiran jorok dengan posisi mereka saat ini.


"Bagaimana dengan istrimu, Mas?" tanya Elena.


"Dia bukan lagi istriku. Surat dari pengadilan juga sudah kami tanda tangani. Mungkin besok atau lusa agenda sidang sudah keluar," ucap Justin mengubah posisi Elena agar menghadap ke samping.


"Jika semua rumor ini tidak ada, mungkin dalam waktu dekat aku sudah menikahimu, kamu mau kan?" tanya Justin tersenyum manis menatap Elena.


Wanita cantik itu memainkan perannya dengan sangat baik. Ia merangkul leher Justin dan mengecup pipinya.


"Siapa yang tidak ingin menjadi istri kamu, Mas," ucap Elena tersenyum.


"Kamu mulai genit, ya!" ucap Justin terkekeh.


"Ah, hanya mengecup. Bukankah kamu sering mengecupku sembarangan?" tanya Elena dengan wajah kesal.


"Eh, jangan marah. Nanti aku semakin gemas melihat kamu," ucal Justin mengecup pipi Elena


Wanita cantik itu merasakan sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana. Ia menatap Justin dengan lekat meminta jawaban.


"Sudah lama aku tidak memanjakannya," ucap Justin dengan suara yang begitu menggoda iman.


"Ih, dasar mesum! Tiap kali bertemu pasti kamu on terus, Mas. Ingat, kalau sama aku no seex before marriage!" ucap Elena mencubit kedua pipi Justin dengan gemas.


Walaupun di dalam hatinya ingin menampar wajah tampan itu hingga tak berbentuk lagi.


"Haha, iya aku tau, Baby. Tapi mau gimana lagi, aku tidak bisa menahannya!" ucap Justin merebahkan Elena di atas sofa.


"Mas, Jangan macam-macam!" ucap Elena membulatkan mata.


"Sebentar saja," ucap Justin tersenyum mesum dan memegang pinggang Elena.


"Mas, jangan dulu lah! Nanti setelah nikah baru boleh!" ucap Elena dengan wajah panik.


"Pikiran kamu sudah ke mana-mana!" ucap Justin tersenyum dan mengecup kening Elena.


Ia segera merebahkan tubuhnya dan berbaring memeluk wanita cantik itu.


"Aku hanya ingin memelukmu. Tidurku tidak lagi nyenyak, biarkan aku merasakan hangatnya sentuhan tanganmu yang begitu lembut dan memabukkan!" ucap Justin perlahan memejamkan matanya.


Elena bernapas lega karena Justin tidak akan berani melakukan hal itu ataupun memaksanya.

__ADS_1


Padahal diluar Clayton sudah berdiri didepan pintu bersama beberapa orang untuk mencegah kebejatan Justin. Namun mereka segera kembali ke posisi masing-masing ketika melihat tidak apa pergerakan agresif dari mereka.


Ah, Nona. anda membuat saya jantungan!. Batin Clayton lega.


__ADS_2