PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Sidang Putusan Reema


__ADS_3

Hari ini, sidang perdana Reema akan digelar. Para awak media berkumpul mengerubungi gedung agar bisa mendapatkan foto dan info tentang berita terbesar dan menggegerkan itu.


Suami dan istri saling melaporkan dan terjebak kasus yang berbeda-beda. Hujatan demi hujatan tidak hentinya tertuju pada Reema dan Justin.


Clayton sengaja menghadiri sidang pagi ini agar melihat apa yang akan terjadi nantinya. Pria blasteran itu mengenakan masker dan sudah berada di dalam ruang persidangan yang sebentar lagi akan dimulai.


Beberapa perwakilan media sudah berada di dalam ruangan untuk melakukan siaran langsung, menunggu hukuman terberat yang akan di terima oleh Reema.


Tak lama wanita yang terlihat lusuh, pucat dan tidak bergairaah itu masuk ke dalam ruangan dengan tangan yang di borgol.


Matanya yang sayu dan terlihat semakin kurus, membuat semua orang bisa menebak jika ia merasa depresi berada di dalam jeruji penjara.


Ah, akhirnya hari ini datang juga! Semoga, hakim bisa menjatuhkan vonis dengan segera dan seberat-beratnya!. Batin Clayton.


Tepat pukul 8 pagi, semua orang sudah berada di dalam ruangan dan memulai sidang. Tuntutan dan pembelaan berlangsung dengan panas, apa lagi ketika hakim bertanya kepada Reema, dengan beberapa pertanyaan.


Reema menjawab dan berusaha untuk menutupi kesalahannya dengan membawa nama Justin dan beberapa orang lain.


Hakim Hanya menggeleng mendengarkan jawaban dari Reema. Apa yang keluar dari mulut wanita cantik itu, tidak sesuai dengan apa yaang ia tanyakan.


Persidangan berjalan selama tiga jam dengan skorsing


1x15 menit. Bahkan terjadi perdebatan ketika Rendi tidak terima dengan tuntutan jaksa penuntut umum, memvonis Reema selama dua puluh tahun penjara.


Hakim hanya bisa menggeleng melihat sikap Rendi yang tidak bisa tertib selama persidangan. Sementara Reema juga sudah terlihat lemas, karena Rendi tidak bisa membebaskannya hingga hari ini.


Clayton tersenyum tipis melihat keluarga Reema yang susah mulai hancur. Kini ia hanya memastikan jika mantan model itu terjerat hukum seberat-beratnya, tanpa ada sogokan.


Hakim berembuk untuk menjatuhkan hukuman kepada Reema. Satu persatu dari hakim mulai menandatangani hasil putusan sidang sebelum dibacakan.


Reema susah terlihat lelah, sebab selama berada di penjara ia tidak bisa memakai obat terlarang yang biasa ia konsumsi, sehingga membuatnya beberapa kali merasakan sakau.


Bahkan hari ini, ia di jemput dari sel khusus pengguna narkoba yang pengap dan sempit.


Hakim mulai membacakan hasil sidang dengan rinci. Persidangan yang cukup cepat untuk mendapatkan keputusan yang menentukan hidup Reema setelah ini.


"Sesuai dengan surat putusan hakim. Dengan ini,



Saudari Reema, dinyatakan bersalah secara sah atas tindak penipuan dengan pasal yang disebutkan.

__ADS_1


Saudari Reema, dinyatakan bersalah secara sah atas penggunaan Sabu dengan pasal yang disebutkan.


Saudari Reema, dinyatakan bersalah atas kasus prostitusi dengan pasal yang sudah disebutkan. Sebagai mana yang didakwakan dalam dakwaan primer penuntut umum" ucap Hakim.



"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Reema dengan pidana..., 25 tahun Penjara! Penasehat hukum terdakwa atau penuntut umum bisa mengajukan banding, jika putusan hakim tidak sesuai dengan tuntutan yang seharusnya!" ucap Hakim.


Tok! Tok! Tok!


Reema langsung histeris mendengarkan hasil vonisnya. Sementara Rendi naik darah dan meneriaki siapapun yang menentangnya. Bahkan beberapa orang berusaha untuk menahan laki-laki itu agar tidak menyerang hakim yang memberikan hukuman sangat berat dibanding tuntutan dari penuntut umum.


"Saya akan mengajukan banding! Anak saya tidak pantas berada dibalik jeruji dan ruangan busuk itu!" pekik Rendi.


Majelis hakim langsung meninggalkan ruangan agar tidak menjadi sasaran kemarahan Rendi.


Sementara Reema menangis meraung, karena tidak terima dengan hasil itu. Waktu 25 tahun sangat lama jika harus terkurung didalam ruangan pengap, sempit dan kumuh itu.


Beberapa orang mengamankan Reema dan membawanya kembali keruangan khusus agar mendapatkan penanganan.


Sebab, hasil pemeriksaan terkahir, Reema terdiagnosa mengalami kelain jiwa. Sehingga, dokter memberikan penanganan khusus kepada wanita cantik itu.


Clayton memasang wajah datarnya. Putusan hakim tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, beberapa kasus Reema di tolak, karena bukti tidak cukup kuat untuk menjerat wanita cantik itu.


Ia segera pergi dari sana dan menuju ke rumah sakit untuk menemui Elena dan memberikan kabar ini kepada Rexy.


Semoga nanti, laki-laki itu ikut menyeret nama mereka dalam kasus pembunuhan ini. Saya sudah muak melihat mereka berkeliaran bebas, sementara Nona Elena berjuang menantang maut dan berusaha keras untuk sembuh. Batinnya.


🍃🍃


Elena terdiam ketika mendengarkan cerita dari Clayton.


"Itu belum termasuk dalam pembunuhan berencana, Nona! Jika laki-laki itu ikut menyeretnya, mungkin hukuman akan bertambah," ucap Clayton.


"Itu sudah cukup lama untuk tiga kasus besar seperti itu," ucap Elena.


"Apa kamu tidak puas dengan hasilnya, Sayang?" tanya Rexy menatap Elena penasaran.


"Aku cukup puas, Bee. Sekarang hanya tinggal hukuman untuk Justin. Aku merasa lega karena misi kita sudah selesai, hanya perlu mengawal hingga putusan persidangan selesai dibacakan!" ucap Elena tersenyum lega.


Rexy tersenyum dan mengusap kepala Elena dengan lembut. "Apa kita perlu menunda pernikahan...," ucap Rexy terhenti karena tatapan tajam Elena.

__ADS_1


"Kenapa harus menundanya, Bee? aku tidak setuju!" ucap Elena tegas.


"Kondisi kamu sedang lemah, Sayang. Aku gak tega melihat kamu kelelahan, nanti!" ucap Rexy gelagapan.


Wanita cantik itu terdiam, kondisinya memang belum stabil dan sangat tidak mungkin untuk dipaksakan.


"Ya sudah, kamu atur saja, Bee!" ucap Elena lirih.


"Sayang?" panggil Rexy melihat perubahan wajah Elena.


"Aku gak akan kuat berdiri jika kakiku belum pulih, Bee! Undur saja sampai aku bisa berdiri sebentar saja!" ucap Elena lirih.


"Kita akan berobat lagi. Nanti dokter yang biasa akan aku panggil ke sini saja," ucap Rexy memeluk Elena.


Clayton tersenyum melihat Elena yang kini sudah merasa lega karena misi mereka sudah selesai 90 persen.


"Sayang, tugas Clayton sudah selesai!" ucap Rexy membuat Elena mengernyit.


"Selesai bagaimana, Bee?" tanya Elena.


"Dia sudah tidak menjadi asisten kamu lagi! Mulai hari ini, Clayton akan menjadi CEO di perusahaan laki-laki itu," ucap Rexy membuat Elena menatap Clayton.


"Benar, Clay?" tanya Elena tidak percaya.


"Iya, Nona. Misi saya untuk membantu Anda sudah selesai. Saya tetap akan mengawal kasus ini hingga kita menang," ucap Clayton tersenyum.


"Terus nanti aku sama siapa kalau kamu kerja, Bee?" tanya Elena menatap Rexy penuh tanya.


"Kamu akan ikut sama aku kemana-mana," ucap Rexy.


Elena menatap aneh kepada Rexy. Jawaban pria tampannya ini tidak meyakinkan sedikitpun.


"Aku gak mau! Kalau aku ikut kemana kamu pergi, itu akan sangat melelahkan!" ucap Elena mendelik.


Rexy terkekeh, ia kembali memeluk Elena. "Aku sudah mencarikan kamu asisten pribadi perempuan yang lebih hebat dari pada Clayton!" ucapnya.


"Aku gak mau!" ucap Elena ketus.


"Sayang, kamu harus cobanya!" ucap Rexy.


"Nona tenang saja! Saya akan tiba jika anda memanggil!" ucap Clayton tersenyum.

__ADS_1


Elena hanya terdiam dan mengangguk. Aku memang harus mencoba berbaur dengan orang baru. Jika tidak, aku akan terus takut dengan orang lain. Semoga perempuan itu, bisa dipercaya. Batinnya


__ADS_2