PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Tuduhan Justin


__ADS_3

Sementara Justin masih sibuk mengotak atik komputer miliknya. Ia juga meretas CCTV dan melihat apa yang terjadi. Memantau keadaan Joy, dimana ia tengah mengejar salah satu dari mereka.


Wajah Justin dipenuhi amarah, karena ilmu dan kepandaiannya masih terbatas. Mungkin jika hanya para berandalan, ia dengan mudah menemukan siapa pelakunya. Namun, satu server pun tidak bisa dilacak dan ditemukan sama sekali.


"Aarrggh! Siapa yang berani berbuat seperti ini?" Ucap Justin emosi.


Ia kembali menatap layar monitor yang memperlihatkan kejadian tadi. "Sepertinya aku memang harus berbicara kepada Rexy! Apa yang dia inginkan sebenarnya," Ucap Justin mengeraskan rahang.


Ia segera pergi menuju perusahaan Rexy dengan tergesa-gesa. Ia sangat ingin berhadapan dengan laki-laki yang ia akui kehebatannya itu.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Rexy, apa beliau ada?" Tanya Justin ketika sampai di kantor Rexy.


"Maaf, Tuan. Apa anda sudah membuat janji?" Tanya Resepsionis.


"Belum. Tetapi saya harus bertemu dengan beliau sekarang juga!" Ucap Justin mendesak.


"Maaf, Tuan. Anda harus membuat janji terlebih dahulu, baru bisa bertemu dengan atasan kami!" Ucap Resepsionis itu tegas.


"Ini hal yang perlu dan mendesak, tolong katakan Tuan Justin ada di bawah!" Ucap Justin mulai terpancing emosi.


Resepsionis itu menghubungi sekretaris Rexy, dan mengatakan jika pria tampan itu baru saja turun ke bawah.


Tepat setelah ia menutup panggilan, Rexy keluar dari lift dengan tergesa-gesa. Justin langsung menghampirinya dan meminta waktu pria tampan itu sebentar.


"Maaf, Tuan Justin. Saya ada perlu dan harus pulang sekarang juga!" Ucap Rexy menolak.


"Hanya lima menit, Tuan. Ada yang harus saya bicarakan dengan anda sekarang juga!" Ucap Justin tidak bisa di bantah lagi.


Rexy terdiam, bagaimanapun juga Elena sangat penting, namun ia begitu penasaran dengan hal yang ingin dikatakan oleh laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.

__ADS_1


"Ren, Siapkan ruang meeting yang di bawah!" Ucap Rexy.


"Baik, Tuan!" Ucap Ren segera memberikan perintah untuk mempersiapkan ruangan itu.


"Apa terjadi sesuatu yang sangat mendesak, sehingga anda datang ke kantor saya?" Tanya Rexy membawa Justin menuju ruang meeting.


"Ada sesuatu hal yang amat teramat penting, Tuan! Dan berkemungkinan ini juga akan berhubungan dengan Tuan langsung!" Ucap Justin serius.


Ternyata dia memang benar-benar mencurigaiku! Sayang, kali ini aku masih bisa mengelak untuk melindungimu. Semoga ini terakhir kali kamu bertindak gegabah seperti ini!. Batin Rexy menggeleng.


"Silahkan, Tuan Justin! Maaf, saya tidak memiliki banyak waktu karena anda datang tanpa membuat janji terlebih dahulu," Ucap Rexy mempersilahkan Justin untuk duduk.


Pria tampan itu patuh dan duduk dengan jarak yang dekat dari Rexy. Ia menatap rivalnya dengan emosi, namun masih berusaha untuk meredam itu semua, agar tidak terjadi sesuatu yang akan menimbulkan masalah lain.


"Begini, Tuan! Belakangan ini, saya selalu saja mendapatkan sesuatu dengan cara tiba-tiba dan tidak terduga. Saya sudah berusaha untuk menggali dan mempelajari semuanya, baik itu virus yang tiba-tiba saja masuk ke dalam file perusahaan, saham saya yang jatuh dan sudah Anda beli. Sementara tadi pagi menjelang siang ini, saya dikepung oleh beberapa mobil dan hampir saja membahayakan orang yang ada di dalam mobil dan pengguna jalan lainnya," Terang Justin.


"Tuan, saya tidak menuduh atau mengatakan jika anda terlibat dalam beberapa musibah yang saya alami. Jika itu benar anda, Tolong hentikan, karena ini sudah merugikan saya dalam segi apa pun!" Ucap Justin.


"Jadi anda berpikir jika semua, apa yang terjadi pada anda adalah kesalahan saya?" Tanya Rexy berpura-pura tidak tau.


"Tuan, sungguh saya tidak bermaksud apa pun. Jika memang benar anda, tolong berhenti! Saya tidak mungkin lagi menyaingi anda dalam segi apa pun, karena kehebatan anda sudah diakui. Jadi, tolong jangan ganggu perusahaan saya lagi, Tuan!" Ucap Justin


"Maaf tuan Justin, tetapi apa yang anda katakan itu tidak benar. Tidak ada gunanya bagi saya untuk mengerjai anda dengan hal yang semacam itu!" Ucao Rexy mengelak.


"Tuan, hanya anda yang dilacak dan tidak bisa ditemukan, meretas dengan baik dan memprovokasi orang dengan cara yang baik juga," Ucap Justin mulai emosi.


Rexy menatap Justin sambil menahan senyumnya. Ia tahu jika Justin akan menemukan dalang dari semua kejadian yang menimpanya dengan cepat.


"Apa anda memiliki bukti?" Tanya Rexy tenang.

__ADS_1


"Saya memang tidak memiliki bukti, tetapi hanya perusahaan anda yang memiliki sistem keamanan mumpuni dalam aspek apa pun! Tolong, Tuan. Anda sudah menguasai hampir sebagian dari perusahaan saya, tolong jangan lakukan apa pun lagi!" Ucap Justin masih menahan diri.


"Mungkin anda tidak akan mempercayai kata-kata saya, namun semua tuduhan anda tidak ada satupun yang saya lakukan! Bagaimana saya harus berhenti? Lagian, waktu saya terlalu banyak untuk dibuang seperti itu, tenaga saya terlalu banyak untuk mengurus anda!" Ucap Rexy masih menyembunyikan semuanya.


Justin terdiam, menatap Rexy dengan tajam. Dari caranya berbicara, sangat terlihat jika ia tidak melakukan apa pun. Namun hatinya berkata bahwa Rexy adalah pelaku dari semua kekacauan ini.


Justin berdiri. Ia tau, tidak akan mudah untuk mendapatkan jawaban pasti. "Saya tau, anda orang hebat dan akan bekerja dengan sangat rapi," Ucapnya.


Rexy menahan senyum tanpa memandang kearah Justin. Melihat wajah kesal pria tampan itu, membuatnya merasa menang dan semakin bersemangat untuk menambah level penderitaan yang akan ia berikan kepada dia.


"Jika anda menemukan bukti silahkan laporkan saya. Jika saya memang melakukan semua hal itu, anda boleh melaporkan saya dengan pasal berapa pun!" Ucap Rexy menatap Justin dengan santai.


Pria tampan itu semakin mengeraskan rahangnya. Jika dulu ia masih bisa berkuasa dengan penuh, namun kali ini sudah tidak bisa lagi karena sahamnya yang tidak banyak lagi di perusahaan.


Jika terjadi sesuatu dengan harga saham, dipastikan Rexy akan mengambil alih perusahaannya. Ia masih terus mencoba untuk menahan diri agar tidak melakukan hal yang semakin membuatnya rugi.


"Terima kasih atas waktu anda, permisi!" Ucap Justin meninggalkan Rexy begitu saja.


Ia melangkah cepat menuju parkiran dan segera meninggalkan perusahaan itu dengan emosi yang membuncah.


Sementara Rexy mengeraskan rahangnya. Justin telah menaruh curiga, maka ia dan Elena harus bertindak secara hati-hati agar tidak ketahuan.


Jika Justin memang benar mendapatkan bukti dan melaporkan hal itu, maka ia pun tidak akan bisa mengelak jika dituntut dengan pasal yang berlapis.


Rexy segera keluar dari ruangan dan kembali pulang menemui Elena. Karena ia tau, jika wanita cantik itu masih ketakutan saat ini, dan sangat tidak baik untuk kesehatannya.


"Ren, urus semua bukti yang mengarah pada kita. Jangan sampai dia menemukan sedikit pun bukti yang mengarah kepada kita!" Ucap Rexy di dalam mobil.


"Baik, Tuan!" Ucap Ren.

__ADS_1


__ADS_2