PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Mengunjungi Justin


__ADS_3

Pihak WO hanya pasrah ketika Rexy kembali mengganti konsep pernikahan. Beruntung, mereka belum menghapusnya sehingga masih bisa di akali dengan konsep yang sudah hampir selesai.


"Kurangi jumlah undangan, cukup sekitar 300 saja. Lebihkan kepada souvenir dan makanan. Undangan panti asuhan saja yang di tambah, selebihnya saya serahkan kepada anda," ucap Rexy.


"Baik, Tuan. Apa ada lagi?" tanya Meily mencatat apa yang di katakan oleh pria tampan itu.


"Kamu ada yang mau di tambahkan, Sayang?" tanya Rexy menatap Elena dengan lembut.


"Gak ada, Bee. Sepertinya sudah cukup! Ah, apa dananya kurang?" tanya Elena.


"Tidak, Nyonya. Dana yang kemarin masih banyak dan belum separuhnya kami gunakan!" ucap Meily tersenyum.


"Jangan sungkan jika membutuhkan sesuatu!" ucap Elena tersenyum.


"Baik, Nyonya. Terima kasih. Anda begitu dermawan untuk ukuran orang kaya. Eh, maaf, Nyonya!" ucap Meily menutup mulutnya.


"Tidak apa, tolong lakukan yang terbaik! Karena ini akan menjadi pernikahan kami yang pertama dan terakhir," ucap Elena tersenyum menatap Rexy penuh cinta.


Para WO meleleh melihat pasangan sejoli itu. Mereka menunjukkan cinta yang begitu tulus, terpancar dari mata mata masing-masing.


Ya Tuhan, mereka beruntung karena saling memiliki!. Batin Meily.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk anda. Mohon percayakan semuanya kepada kami." Ucap Meily tersenyum.


"Kami percaya! Jika acara berjalan dengan baik, seperti janji awal saya, bonus tetap akan saya beri, walaupun uang yang kemarin masih berlebih," ucap Rexy mengangguk.


"Baik, tuan. Kalau begitu kami pamit bekerja lagi,!" ucap Meily


Rexy dan Elena tersenyum mempersilahkan mereka untuk kembali bekerja.


Dekorasi sudah hampir selesai 70 persen, hanya tinggal 5 hari lagi pernikahan mereka akan di langsungkan.


Villa itu terlihat semakin mewah dengan aroma bunga yang semerbak di dalam ruangan.


Elena bersandar pada dada bidang Rexy dengan begitu manja. Wajahnya merona mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan orang yang sangat ia cintai.


"Bee," panggil Elena dengan begitu lembut.


"Apa sayang? Suaranya jangan seperti itu, nanti aku gak kuat!" ucap Rexy menahan gemas sambil mengusap kepala Elena dan mengecupnya.


"Haha, aku bahagia!" ucap Elena tersenyum dan menatap Rexy.


Wajah pria tampan itu merona. "Apa aku berhasil?" tanya Rexy dengan penuh harap.

__ADS_1


"Sangat berhasil! Terima kasih, suamiku" ucap Elena mencubit pipi Rexy dengan gemas.


Para pekerja yang tengah mendekorasi malah memperhatikan dua sejoli itu. Mereka merekam dengan jelas moment langka, dimana Rexy terlihat begitu manja dengan Elena.


Bahkan ia tidak pernah menaikan nada bicaranya dengan perempuan cantik itu. Apa lagi ketika bibir Rexy terlihat manyun ketika Elena mencubit pipinya.


Astaga! Aku ada di mana ini? Siapapun tolong sadarkan aku!. Batin pekerja merasa iri.


Terdengar gelak tawa Elena yang berhasil mengalihkan perhatian mereka kembali.


Rexy terlihat menggelitik Elena dan memeluknya dengan gemas. Beruntung mereka segera pergi dari sana dan membuat para pekerja menjerit melihat adegan romantis itu.


"Ah, nyonya Elena sangat beruntung mendapatkan tuan Rexy!" ucap mereka.


"Ah, aku merasa ingin menjadi madunya!" ucap yang lain.


"Hus, kembali bekerja sana!" ucap Meily menggeleng.


🍃🍃


Mobil Rexy berhenti di kantor polisi, dimana Justin tengah di tahan. Para wartawan masih berkumpul di depan kantor agar bisa mendapatkan info lanjutan tentang kasus Justin.


Sementara semua orang belum mengetahui bagaimana sosok Vania yang masih hidup, sehingga ketika mereka berjalan masuk, tidak ada satu pun yang menyadarinya.


"Mereka masih belum mengenali aku, Bee. Mungkin kamu akan mereka kenali jika tidak memakai masker," ucap Elena lirih.


"Sstt, nanti kita ketahuan!" ucap Rexy pelan.


Pria tampan itu menggendong Elena dari belakang, sehingga mereka cukup mendapatkan perhatian dari para wartawan, namun tidak ada yang berniat untuk mengambil gambarnya.


Rexy segera membawa Elena menuju bagian khusus agar bisa bertemu dengan Justin. Ruangan khusus interogasi yang masih terlihat terang karena semua lampu sengaja di hidupkan.


Polisi segera memanggil Justin dan membawanya ke sana terlebih dahulu, memastikan jika tidak ada hal yang akan membahayakan Rexy dan Elena.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Rexy.


"Sudah, Bee. Aku harap kamu tidak terpancing nanti dengan kata-kata dia," ucap Elena lirih.


"Aku masih bisa mengontrol diri, asal dia tidak melecehkan dan merendahkan kamu," ucao Rexy tersenyum.


Mereka segera masuk kedalam ruangan. Justin terkejut ketika melihat Elena di gendong oleh Rexy. Ingin ia merebut wanita cantik itu namun tangannya sudah di borgol dan bergantung pada kursi besi yang sudah tertanam di lantai.


"Hati-hati, Sayang!" ucap Rexy setelah mendudukkan Elena di atas kursi.

__ADS_1


"Terima kasih, Bee!" ucap Elena dengan lembut.


"Ada apa kau datang kesini, Tuan Rexy?" tanya Justin tidak suka.


"Saya? Jelas, untuk menemani istri saya untuk bertemu dengan anda!" ucap Rexy mengecup tangan Elena yang sudah ia genggam sedari tadi.


Justin membulatkan mata, sementara Elena hanya menggeleng melihat tingkah Rexy yang berusaha untuk memancing Justin.


"Mas?" Panggil Elena.


"Baby, kenapa kamu menjenguk aku di sini? kenapa bukan di ruang sebelah?" tanya Justin lembut.


"Ada yang ingin aku tanyakan!" ucap Elena serius.


Justin terdiam, ia tidak bodoh dan sangat yakin jika ada beberapa orang polisi yang mendengar jawabannya.


"Kamu sudah mendengar jika Reema di hukum 25 tahun penjara?" tanya Elena.


"Iya, sekarang dia berada di panti rehabilitasi. Mungkin juga sudah masuk rumah sakit jiwa," ucap Justin.


"Aku tidak puas dengan hukuman yang dia terima, karena dia kamu dengan tega membunuhku!" ucap Elena penuh penekanan.


Justin terdiam dan menatap Elena dengan lekat.


"Kamu bilang masih mencintai Vania dan mengharapkan dia kembali, sekarang kamu mencintai Elena yang nota bene kami adalah orang yang sama. Apa kamu ingin membantuku?" tanya Elena dengan santai.


"Apa?" tanya Justin yang mulai paham arah pembicaraan.


"Keluarkan bukti jika Reema memang ikut andil dalam rencana pembunuhanku! Aku ingin dia di hukum mati!" ucap Elena masih santai.


Justin bungkam, memang dia menyimpan bukti CCTV waktu itu dan jelas terdengar permintaan Reema untuk membunuh Vania dengan lantang sambil meraung dan menangis.


Ia menggeleng pelan. "Aku tidak bisa!" ucap Justin lirih.


"Kenapa? Apa kamu takut, jika semua kebusukanmu yang lain akan terbongkar? Aku rasa kamu tidak akan mendapat hukuman mati karena aku hanya terluka parah bukan meninggal," ucap Elena.


Justin bungkam. Ia malah menjadi panas melihat Rexy yang terus mengecup tangan Elena dan memainkan rambut wanita cantik itu.


"Jawablah, Mas!" ucap Elena sedikit meninggikan suaranya.


Cup!


Rexy mengecup pipi Elena dengan lembut dan tersenyum. Elena menoleh dan berusaha untuk menahan tawanya melihat Rexy yang mulai mencari perhatian.

__ADS_1


__ADS_2