
WARNING!!
TIDAK SUKA, SILAHKAN DI SKIP!!
Elena mengerjab dan terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sesuatu yang mulai menganggu.
Ia membuka mata dan terkejut ketika melihat Rexy sedang mencumbunya tanpa rasa sabar.
"Bee?" panggil Elena lirih.
Rexy terkejut dan tersenyum manis menatap Elena. "Apa kamu terganggu? Ah, maaf sayang. Aku sudah tidak bisa menahannya!" ucap pria tampan itu lirih dengan wajah yang sudah memerah.
Elena tersenyum tipis dan mengangguk. Istirahatnya dirasa cukup untuk mengalahkan Rexy sore hari ini, walaupun pria tampan itu sudah mencuri start terlebih dahulu.
Rexy mulai mengecup bibir Elena dengan panas. Ia merasa sudah sangat tidak sabar untuk menyelami wanita cantik ini.
Elena membalas ciuman Rexy tak kalah panas, karena pria tampan itu dengan mudah membangkitkan gairaahnya dengan hanya berciuman saja.
"Siap, Sayang?" tanya Rexy melepaskan pagutannya.
Elena tersenyum dan Mengangguk dengan nafas yang memburu.
Rexy mulai menyentuh dengan lembut bongkahan yang terlihat seperti kelapa berkulit, yang siap untuk dibelah.
Ia mengecup dan memainkan gunung kembar sang istri tanpa jeda. Memberikan tanda pada setiap jengkal kulit mulus itu.
"Bee, gantian!" ucap Elena tidak mau kalah.
Rexy tersenyum dan segera mengambil posisi. Ia menatap wajah polos Elena dengan penuh napsu. Begitu cantik dan terlihat sensual malam ini.
Wanita cantik itu memulai aksinya. Ia menaiki Rexy dan duduk tepat berada dia atas pisang laras panjang yang masih terbungkus namun sudah terasa mengeras.
"Sepertinya ada yang lebih tidak sabar dari kamu, Bee!" ucap Elena menggerakkan pinggulnya dengan pelan.
"Sayang, sshhh," desis Rexy ketika merasakan sesuatu yang seolah tengah mengalir deras di tubuhnya.
Elena terkekeh, ia segera memulai permainan dengan lihai dan membuat Rexy sedikit kewalahan untuk meladeninya.
Elena hanya tersenyum puas menatap Rexy. "Masih kuat, Sayang? Kita belum masuk dalam permainan utama," ucapnya sambil menindih Rexy masih dengan nafas yang memburu.
"Masih, Sayang! Ini baru pemanasan, bukan?" tanya Rexy segera membalikkan Elena.
Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. Ia pasrah ketika Rexy mulai melepaskan semua penghalang tubuh mereka dan menjelajahi tubuh indah itu dengan penuh napsu.
Elena membusungkan dada dan melenguh pelan ketika Rexy mulai meengcup bagian untinya.
"Ssshhh, Bee!" Desaah Elena sembari menekan kepala Rexy lebih dalam agar dapat merasakan sensasi yang luar biasa dan semakin membakar gaairah.
Elena menggelinjang, ia merasakan kelegaan ketika pelepasan pertama berhasil ia dapat. Nafasnya terengah sambil memejamkan mata, merasakan sensasi dari permainan liar Rexy.
"Siap, Sayang?" tanya Pria tampan itu tersenyum sambil menggigit bibirnya.
__ADS_1
Elena hanya mengangguk, dan menggenggam tangan Rexy dengan erat, ketika pisang laras panjang itu mulai menasuki dirinya.
Ia mulai merasa sesak dan nikmat datang seiring dengan gerakan Rexy yang mulai memacu dengan tidak sabar.
Lenguhan dan deesahan terdengar dengan merdu dari keduanya. Apalagi suara Elena yang terdengar begitu seksi, sehingga membakar gairah Rexy dengan sangat.
Mereka berpacu, mencoba berbagai macam gaya dan variasi. Menggunakan seni dalam berhubungan membuat mereka puas dengan kemampuan masing-masing.
"Akhh!" lenguh Rexy ketika ia berhasil menembakkan benih-benih premiumnya di lahan Elena.
Wanita cantik itu melengkuh ketika cairan hangat itu terasa mengalir dan memenuhi miliknya.
Mereka mengatur nafas sejenak. Rexy masih menindih tubuh Elena dengan nafas yang terengah.
Seolah tanpa merasa lelah, mereka kembali berpacu dalam kenikmatan hingga keduanya sama-sama kelelahan dalam aktivitas itu.
"Kita imbang, Sayang!" ucap Rexy mengecup punggung Elena.
"Hmm, aku mau tidur sebentar, Bee!" ucap Elena mulai memejamkan matanya kembali.
Rexy mengangguk dan membalikkan tubuh Elena agar ia bisa memeluk wanita cantik itu dari depan.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Rexy sebelum ikut memejamkan mata.
Elena hanya mengangguk dan tersenyum manis. Mereka terlelap dan saling mendekap satu sama lain.
🍃🍃
Apa ini semua berlebihan hingga membuat dia gila seperti itu? Atau karena dia belum siap untuk menerima semua kejahatannya terbongkar? Sungguh malang sekali. Batinnya.
Mengingat hal lain, Clayton meminta pihak rumah sakit untuk tidak mengizinkan siapapun bertemu dengan Reema, termasuk keluarganya sendiri.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Clayton kepada dokter yang menangani Reema.
"Kondisi psikisnya semakin memburuk, Tuan. Pasien terlihat tenang seperti itu tak lebih dari satu jam. Ini sudah berjalan sekitar tiga puluh menit, kita tunggu sebentar lagi," ucap Psikater.
Clayton terdiam, ia melihat Reema duduk termenung di bawah pohon sambil memeluk sebuah bantal dengan erat.
Ia kembali mengingat Elena ketika berada di Korea. Wanita cantik itu sering termenung dan tidak mau di ajak berbicara, kecuali dengan Rexy.
Ia hanya menatap dari jauh dan memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya menimpa sang Nona.
Kini, Reema seolah mengingatkan lagi dirinya kepada masa-masa itu. Apa ini karma yang sesungguhnya? Sungguh, dia terlihat seperti Nona di tahun awal pasca sadar dari koma. Batinnya.
"Tolong rawat dia dengan baik, Dokter. Karena jeruji besi sudah menunggu kehadirannya di sana," ucap Clayton.
Dokter menatap pria tampan itu tanpa menjawab apapun. Ia tengah mengamati gesture Clayton yang keluar secara alami.
"Ya, tentu. Nanti akan kami usahakan untuk membantu pasien agar bisa sembuh lebih cepat," ucap psikiater.
"Kalau begitu saya pamit!" ucap Clayton melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
Dokter itu mengangguk dan menatap kepergian Clayton. Tak berapa lama, terdengar suara Reema yang begitu melengking, sehingga memancing beberapa orang pasien juga ikut tantrum dan berteriak kencang.
Clayton mendengar itu, namun ia tidak peduli. Langkah kakinya terus berjalan tanpa menghiraukan apapun lagi.
Terimalah, apa yang sudah kalian perbuat. Kini aku puas dengan semua yang sudah terjadi. Persetan dengan apapun, yang jelas, semua pekerjaan akan selesai dengan baik. Batinnya.
Ia memilih untuk kembali ke villa, karena sudah terlalu lama ia berpamitan keluar. Berjaga-jaga, jika Elena membutuhkan sesuatu.
🍃🍃
Ren masih terjaga dan seolah enggan untuk memejamkan mata. Ia berkeliling dan menatap keadaan Villa dengan seksama, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang berbahaya terjadi karena firasatnya berkata demikian.
Ia berhenti ketika melihat mobil Clayton memasuki perkarangan Villa.
"Bagaimana?" tanya Ren menatap Clayton dengan penasaran.
"Semuanya aman dan terkendali, Tuan. Laki-laki itu sepertinya akan membuat sesuatu yang bisa menjatuhkan perusahaannya sendiri," ucap Clayton.
"Baguslah, kalau begitu kita tidak perlu bersusah payah untuk mengambil alih perusahaan itu," ucap Ren.
"Bagaimana dengan perusahaan keluarga wanita itu, Tuan? Bukankah kita memiliki kesempatan juga untuk mengambil alihnya?" tanya Clayton.
"Nanti akan kita bahas!" ucap Ren mengeluarkan senjatanya.
Clayton mengernyit dan ikut mengeluarkan senjata dan mengambil ancang-ancang.
Ren berjalan dengan perlahan dan melihat sesuatu yang mencurigakan dari arah samping di dekat semak-semak yang ada di kebun Villa.
"Tidak mungkin masih ada musuh yang akan membahayakan tuan dan Nyonya," ucap Clayton berbisik.
Dor!
Ren melepaskan tembakannya dan mengejutkan semua orang
"Argh!" Pekik seseorang ketika tembakan itu tepat mengenai kakinya.
Beberapa orang terlihat berlari dari sana, Clayton dan yang lainnya langsung menangkap mereka tanpa perlawanan.
"Siapa kau? Siapa yang menyuruh kau ke sini? Jawab!" Bentak Ren menyeret laki-laki itu tanpa perasaan.
"Kalian akan hancur sebentar lagi!" pekiknya kesakitan.
"Siapa yang menyuruh kau menyusup kemari, hah?" bentak Ren dengan begitu emosi.
"Kau tidak perlu tau! Arghh!" pekik laki-laki itu ketika Ren menginjak kakinya yang terluka.
Mereka segera digiring menuju markas untuk di interogasi, siapa yang menyuruh mereka untuk menyusup ke sini.
"Buat mereka mengaku! Jika tidak, siksa saja sampai kalian puas!" ucap Ren tegas.
Pasti ini suruhan dari laki-laki itu, atau asisten tidak berguna yang bodoh dan tidak bisa melihat siapa lawan yang tengah dihadapi!. Batinnya
__ADS_1