
Julio tidak berbicara lagi setelah mendengarkan ucapan Justin. Ia hanya menatap sang putra dengan datar dan tidak mau berpikir lebih jauh lagi.
"Berapa persen saham yang kau miliki?" tanya Julio.
"Hanya 36 persen saja, itu nanti akan aku jual untuk membayar pengacara," ucap Justin.
Julio hanya terdiam dan berlalu dari hadapan anak dan istrinya.
Tiara terdiam dan menatap Justin dengan lekat. "Renungkan kesalahanmu, Justin. Mommy tidak bisa berbuat apa-apa selain mengusahakan agar kamu tidak dihukum mati!" ucapnya.
Justin terdiam. Hatinya sungguh lemah jika sudah berhadapan dengan sang ibunda. Tiara menatap sang putra dengan rasa iba.
Walaupun, Justin telah melakukan kesalahan yang fatal, namun ia merasa tidak tega ketika melihat anak yang sudah dibesarkan kini harus berjuang untuk membela diri dari semua perbuatan yang sudah ia lakukan.
Ia berdiri dan mendekat kearah Justin. Memeluk pria tampan itu sambil mengusap kepalanya.
"Maafkan aku, Mom!" ucap Justin lirih.
"Semoga setelah ini kamu bisa menyadari, tidak ada hal yang lebih membahagiakan ketika kita menyakiti orang lain!" ucap Tiara.
Justin hanya terdiam dan mengangguk pelan.
"Mommy sudah bertemu dengan Elena. Apa dia juga terlibat dalam masalah kamu dengan Reema?" tanya Tiara.
"Tidak, Mom. Aku dan Reema sudah bermasalah dalam waktu yang lama. Kehadiran Elena hanya mempertegas hatiku, jika aku tidak pernah mencintai Reema sedikitpun," ucap Justin.
"Elena sudah banyak berubah. Namun kelembutan dan kasih sayangnya selalu terlihat dan masih melekat di dalam dirinya!" ucap Tiara.
"Aku bodoh, Mom. Aku bodoh melepaskan Vania hanya demi seorang sampah!" ucap Justin lirih.
"Itu sudah berlalu, sekarang akui kesalahanmu dan berubahlah, nak!" ucap Tiara tercekat.
Justin mengangguk dan tetap memeluk sang ibunda. Menahan air mata yang sudah mendesak untuk di keluarkan membuat Justin tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Itu Mommy bawakan makanan kesukaanmu. Kamu sudah semakin kurus dari terakhir kali Mommy lihat," ucap Tiara.
Justin mengangguk dan tersenyum. Tak lama petugas datang dan mengatakan jika waktu kunjungan sudah habis.
Mereka terpaksa harus berpisah dan Justin kembali di bawa ke dalam sel tahanan kusus yang sudah ia tempati beberapa hari ini.
🍃🍃
Elena dan rombongan langsung pergi menuju villa dengan pengawalan yang ketat. Wajah bahagia sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Berita pernikahan mereka mulai tersebar di media sosial. Komentar pro dan kontra mulai berseliweran di setiap postingan.
__ADS_1
Sedikit menggeser berita tentang Justin, namun tim IT perusahaan sudah mengatur semuanya agar pemberitaan masih bisa seimbang tanpa ada berita yang tenggelam.
"Ah, aku sudah tidak sabar, Sayang!" ucap Rexy tersenyum dan mengecup tangan Elena berulang kali.
"Akhirnya, besok kita bisa menikah. Ah, hari yang melelahkan ini akan segera berakhir," ucap Elena menghela nafasnya.
"Nanti malam kalian akan tidur terpisah!" ucap Vazo tegas.
"Untuk hari ini baiklah, Ayah. Aku akan jadi anak baik dan patuh!" ucap Rexy terkekeh.
Elena mencubit pipi Rexy dengan gemas sambil tertawa. "Jangan sampai karyawanmu melihat tingkah manja kamu yang seperti ini, Bee. Bisa jatuh harga diri seorang CEO yang terkenal kejam dan tegas," ucapnya.
"Ayah kira macan, ternyata kucing," ucap Vazo.
Rexy mendelik ke arah calon mertuanya. "Ah iya, Sayang. Lusa sehabis pernikahan kita langsung terbang ke Korea," ucapnya antusias.
"Apa gak istirahat dulu, Bee? Aih kamu mah gak bilang dulu sama aku!" ucap Elena kesal.
"Waktu itu aku udah bilang, Sayang. Kan langsung berobat juga," ucap Rexy terkekeh.
"Kalian emang gak ada malu-malunya!" ucap Angelin yang merasa malu dengan tingkah Rexy.
"Hehe, bunda cantik!" ucap Rexy terkekeh.
Mereka mengobrol di dalam mobil, hingga tiba di halaman villa yang begitu luas.
"Ini, sangat indah, Bee!" ucap Elena berbinar.
"Tentu, untuk bidadari cantikku, apapun akan aku berikan!" ucap Rexy mengecup pipi Elena.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Elena tersenyum manis dan mengecup bibir Rexy sekilas.
Tiba-tiba Clayton datang dan menyalakan televisi besar yang ada di sana. Berita terbaru mengenai Justin sebentar lagi akan di umumkan.
"Pemirsa, pangadilan sudah memutuskan gelar perkara terhadap tersangka J. Para hakim sudah dipilih dan besok, sidang pertama akan di mulai. Simak berikut laporannya bersama rekan kami," ucap pembawa acara.
"Secepat itu?" ucap Elena terkejut.
"Lebih cepat lebih baik, Sayang!" ucap Rexy tersenyum tipis.
"Berarti besok dia tidak bisa menyaksikan pernikahan kita?" ucap Elena terlihat kecewa.
"Apa kita tunggu saja sidang mereka selesai?" tanya Rexy.
"Tidak. Tidak usah, Bee. Biarkan dia melihat tayangan ulang pernikahan kita sampai dia muak!" ucap Elena.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Rexy terkekeh.
Mereka mendengarkan beberapa penjelasan yang di bagikan oleh pembawa acara itu dan juga keterangan dari pihak kepolisian.
🍃🍃
Seorang laki-laki terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ribut-ribut di sekitar rumah. Begitu juga dengan sang istri yang ikut terbangun.
"Suara apa itu, Mas?" tanya Veronica.
"Aku tidak tau!" ucap Rendi mengernyit. "Kamu tunggu di sini dan jangan keluar, apapun yang terjadi!" ucapnya.
Veronica mengangguk dan segera mengunci pintu setelah Rendi keluar. Ia mengintip melalui jendela, ada beberapa orang di luar pagar tengah berdebat dengan penjaga rumah.
Semoga tidak terjadi apapun. Batinnya.
Rendi berjalan keluar sambil membawa pistol yang berisikan peluru full.
Ia berjalan dengan perlahan memperhatikan semua kondisi yang ada. Tidak terlihat hal yang mencurigakan satu pun.
Bugh!
Tiba-tiba saja ada orang yang datang dan menekan titik syarafnya, sehingga membuat tubuh Rendi kaku seketika dan tidak bisa bergerak.
"Ayo angkat dia!" ucap laki-laki itu kepada rekannya menggunakan bahasa Jepang.
Sebuah tali sudah dipersiapkan, mereka memasukkan kepala Rendi ke dalam ikatan tali itu dan membuangnya dari lantai dua hingga ke lantai bawah.
Krak!
Akh!
Leher Rendi langsung tercekik karena tambang itu melilit dengan keras. Tidak ada yang menyadari kejadian itu. Semua CCTV sudah di putuskan, sehingga tidak ada barang bukti sedikitpun.
Setelah selesai, mereka segera pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak. Rendi tergantung dan merenggang nyawa di rumahnya sendiri.
Sementara Veronica semakin cemas ketika tidak mendengarkan suara apapun dari luar. Namun ia juga merasa takut, jika harus keluar dari kamar.
Dengan memberanikan diri, ia berjalan dengan perlahan dan menghidupkan lampu. Terlihat ada sebuah tali yang menggantung di pagar pembatas.
Ia melihat dengan seksama apa yang tengah menjulur kebawah itu.
"Aaaaaaa!!" Pekiknya ketika melihat Rendi yang sudah tidak bernyawa terlilit tali.
Semua orang yang ada di dalam rumah segera terbangun ketika mendengar teriakan Veronica. Namun mereka juga ikut berteriak ketika melihat kondisi Rendi.
__ADS_1
Para art histeris dan berhamburan keluar dari rumah. Perlahan Veronica melemah dan jatuh pingsan, sialnya dia berdiri tepat di atas tangga, sehingga ia jatuh terguling hingga kebawah.
Darah segar mengalir keluar dari kepalanya. Tidak ada yang berani membantu, namun mereka segera menghubungi pihak kepolisian untuk mengurus semua kekacauan ini.