
Pagi menjelang, Elena dan Rexy sudah siap untuk menghadiri sidang ke dua pagi ini, dengan status sebagai saksi. Mereka sudah berangkat lebih awal karena jarak ke pengadilan cukup jauh.
Pasangan bucin itu masih menjadi perbincangan, apalagi pernyataan Vazo yang membuat mereka terkejut, sehingga banyak asumsi pro dan kontra yang tercipta dari para netizen.
Kini di dalam mobil, Elena menggenggam tangan Rexy dengan cukup erat. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, membayangkan apa yang akan terjadi di persidangan nanti.
"Apa kamu gugup, Sayang?" tanya Rexy tersenyum dan mengecup tangan Elena dengan lembut.
"Hmm, tidak. Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk nanti. Jika semisal aku dicerca banyak pertanyaan oleh majelis," ucap Elena tersenyum.
"Jawab sebisa dan setau kamu saja, Sayang. Yang jelas, jangan berbohong kepada hakim dan katakan yang sebenarnya!" ucap Rexy ikut tersenyum.
Elena mengangguk dan merebahkan kepalanya di bahu Rexy. Ia masih merasa lelah, sebab Rexy selalu mengajaknya bermain hingga dini hari.
"Bagaimana dengan penyusup semalam, Clay? Apa sudah ada titik temu?" tanya Elena penasaran.
"Sudah, Nyonya. Nanti bang Fauzi yang akan membawa dan melaporkan mereka ke kantor polisi," ucap Clayton.
"Siapa?" tanya Elena. "Apa ini masih perbuatan Justin?" sambungnya.
"Bukan tuan Justin, Nyonya. Tetapi asisten bodoh itu yang melakukan ini semua. Tapi, kita tidak bisa mempercayai begitu saja omongan mereka," ucap Clayton.
"Biarkan saja mereka mati mendekam di ruang bawah tanah itu. Kita sudah sangat lelah untuk menghadapi mereka," ucap Elena kesal.
Rexy tersenyum menatap Elena. Apa yang dikatakan oleh wanita cantik itu memang benar, namun masih ada hukum yang bisa berbicara nanti. Sehingga mereka memilih untuk menyerahkan semua masalah ini kepada pihak yang berwenang.
Hingga mobil tiba di pengadilan, para wartawan sudah menunggu kedatangan mereka untuk mendapatkan sedikit informasi akurat mengenai penjelasan Vazo yang tengah viral saat ini.
Kilatan cahaya mulai terlihat di balik kaca mobil. Elena beberapa kali menghela napasnya. Ia berusaha untuk mengendalikan diri di depan semua orang.
"Kamu siap, Sayang?" tanya Rexy menatap Elena penuh keyakinan.
Sementara Clayton keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Rexy.
__ADS_1
"Iya, aku siap!" ucap Elena menungguk tegas.
Rexy tersenyum dan segera keluar dari mobil. Ia berjalan dan membukakan pintu untuk Elena. Para wartawan sudah mengambil gambar sejak kedatangan mereka tadi.
"Nyonya, apakah benar jika anda adalah Nona Vania?" Suara wartawan mulai terdengar.
"Nyonya, selamat atas pernikahan anda. Sekarang anda tengah menghadapi mantan suami, apa ini sudah direncanakan dari awal atau bagaimana?" tanya wartawan yang lain.
"Nyonya, apa anda akan terlibat langsung untuk mengawal kasus ini?" tanya wartawan lain.
"Nanti kita wawancara, Ya. Saya harus melapor dulu ke dalam!" ucap Elena ramah dan menggandeng tangan Rexy sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
Para wartawan hanya bisa pasrah ketika tidak mendapatkan satupun keterangan dari wanita cantik itu.
Elena langsung menemui petugas dan menanyakan apa yang harus ia lakukan nanti di persidangan.
"Anda hanya perlu mengatakan yang sejujurnya, Nyonya. Katakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa ditutup-tutupi, sebab keterangan waktu pemeriksaan sudah berada di tangan majelis hakim," ucap petugas.
Elena mengangguk dan mengikuti arahan dengan baik. Ia diminta untuk menunggu di sebuah ruangan yang berbeda dengan ruangan dimana Justin berada.
Elena mulai duduk di kursi yang telah di sediakan. Ia menarik nafas berkali-kali agar bisa menguasai dirinya dan menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tegas tanpa terbata-bata.
Hakim mulai bertanya, satu persatu di jawab oleh Elena sesui dengan fakta dan keterangan yang sudah ia berikan kepada pihak penyidik.
Tidak banyak yang di tanyakan oleh majelis hakim, sebab yang menjadi saksi kunci di persidangan adalah Rexy dan beberapa orang bodyguardnya. Sehingga Elena hanya memberikan keterangan sebelum kecelakaan terjadi.
Setelah selesai, Rexy juga mendapat giliran untuk di sidang dan akan menjadi penentu nasib Justin kedepannya.
"Saudara Rexy. Apa benar anda melihat kejadian itu?" tanya hakim.
"Benar, Yang Mulia," jawab Rexy dingin.
"Bagaimana bisa saudara mengatakan jika terdakwa adalah pelaku dari kasus ini?" tanya Hakim.
__ADS_1
"Terima kasih, Yang Mulia. Tepat sebelum kejadian, tanpa sengaja saya melihat mobil yang berjalan ugal-ugalan. Saya tau persis itu mobil yang sering digunakan oleh saudari korban. Entah mengapa, ada sebuah naluri yang meminta untuk mengikuti mobil itu. Benar saja, kecelakaan terjadi di depan mata kepala saya. Kenapa kami bisa mengatakan jika terdakwa adalah dalang dari kasus ini? Saya, melihat persis jika Terdakwa Joy, datang dengan mobil dan berdiri di tepi jurang, tak jauh dari kecelakaan terjadi!" ucap Rexy lugas tanpa terbata-bata.
Semua orang terkejut mendengarkan Rexy yang berbicara sepanjang itu dan mengatakan apa yang sudah ia lihat.
"Bagaimana anda bisa membawa korban dari tempat kejadian, tetapi tetap meninggalkan jejak agar bisa meyakinkan jika korban memang berada di sana," ucap hakim.
"Itu rahasia kami, Yang Mulia. Jika Anda mengizinkan, saya siap untuk mengatakannya kepada Anda setelah persidangan ini. Karena sangat beresiko jika saya ceritakan sekarang," ucap Rexy tegas.
Joy mengepalkan tangannya, ia menatap Rexy penuh dengan dendam. Ia tidak menyangka, jika laki-laki ini, malah menyeret namanya terlebih dahulu.
"Lalu kenapa anda hanya menyelamatkan korban saja? Sementara ada supir yang tewas di tempat," ucap Hakim kembali bertanya.
Rexy tersenyum tipis. "Mungkin jika dipikir, saya adalah manusia yang paling kejam dan tidak mudah untuk mengampuni orang lain. Ketika saya merasa ada yang tidak beres terhadap mobil itu, yang saya pikirkan pertama kali, pasti supir ikut serta dalam kejadian ini, maka dari itu saya memilih hanya menyelamatkan Vania pada saat itu," ucap Justin.
Tim Pengacara Justin dan Joy mulai mempertanyakan banyak hal kepada Rexy. Ia hanya menjawab seperlu dan secukupnya saja.
Hingga hakim melakukan skorsing untuk sementara waktu. Mereka sudah bisa menemukan titik terang, pasal dan hukuman apa yang bisa di terima oleh Justin dan kawan-kawannya.
Mata Elena berpapasan dengan sang mantan mertua, mereka saling tersenyum dan mengangguk dari jauh tanpa mau menghampiri.
Elena segera pergi meninggalkan gedung pengadilan dan menuju ke bandara. Menghindari kejaran wartawan agar mereka tidak di cerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab di persidangan tadi.
"Apa sebaiknya kita tunggu dulu keputusan hakim,?" tanya Elena ketika berada di dalam mobil.
"Sidang itu belum tentu selesai hari ini, Sayang! Ada beberapa hal lain yang belum terpenuhi," ucap Rexy tersenyum.
"Apa bisa dipercepat, Bee? Aku merasa sudah sangat muak!" ucap Elena kesal.
"Bisa, Sayang. Sekarang jangan pikirkan apapun! Kita akan pergi honeymoon dengan tenang tanpa gangguan!" Ucap Rexy tersenyum dan mengecup tangan Elena.
Wanita cantik itu hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Mobil segera bergerak menuju bandara, walaupun jam keberangkatan mereka masih sangat lama, namun tidak ada hal lain yang bisa mereka kerjakan selain berpacaran.
__ADS_1
Elena memgang perutnya yang masih datar. Begitu banyak benih Rexy yang masuk dari semalam, apa tidak ada yang berhasil menembus ova satupun? Ya Tuhan, walaupun hanya satu, aku berharap kami bisa mendapatkan seorang keturunan saja.