
Setelah kembali dari perusahaan Rexy, Justin memilih untuk kembali pulang ke rumah untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Ia merasa teramat lelah dengan apa yang terjadi. Seketika kehidupannya menjadi hancur dan begitu banyak masalah yang datang silih berganti.
Pertanyaan Rexy tadi menjadi bahan pemikiran untuknya. Apakah mungkin jika Rexy mengetahui semua kebusukan yang sudah ia tutupi bertahun-tahun.
Tetapi melihat begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh pria tampan itu, rasanya tidak mungkin jika Rexy menghabiskan waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Semua ini sungguh menjadi beban. Kenapa masalah bermunculan secara bertubi-tubi? Bahkan aku merasa tidak bisa bernafas saat ini. Batin Justin.
Ia termenung di balkon kamarnya yang menghadap kearah kolam berenang. Sembari menyesap segelas wine dan di temani kumpulan asap rokok membuat pikirannya perlahan tenang.
Namun lagi-lagi, masalah datang kembali dan masih dengan orang yang sama.
Terdengar suara keributan di depan rumahnya. Ia segera melihat itu melalui monitor CCTV yang ada dikamar. Reema memaksa untuk masuk dan bertemu dengannya.
"Apa lagi yang dia inginkan?" Ucap Justin mengghela nafas.
Ia terdiam, semua akses milik Vania sudah ditarik dengan menyuruh beberapa orang agar Reema tidak menjual semua aset itu.
Justin mengambil telepon dan menghubungi bagian keamanan, meminta agar Reema di izinkan untuk masuk. Ia ingin mendengarkan omong kosong apa yang dikatakan oleh wanita cantik itu nanti.
Perlahan ia melihat mobil Reema masuk dan berhenti sembarang di halaman rumahnya. Ia segera turun dan menuju ruang tamu untuk menyambut kehadiran wanita yang masih berstatus istrinya secara hukum.
"Mas," panggil Reema.
"Mau apa kau datang lagi?" tanya Justin dengan sarkas.
"Mas, aku..., aku..., laporan itu Daddy yang menyuruhku untuk membuatnya," ucap Reema terbata.
Ia tidak ingin memancing kemarahan Justin kali ini, karena semua asetnya sudah di ambil kembali, jangan sampai harta gono gini juga akan batal ia dapat.
Justin hanya terdiam dan duduk di atas sofa tanpa ingin menimpali perkataan Reema.
Wanita cantik itu hanya terdiam dan ikut duduk berhadapan dengan Justin dengan sedikit takut, mewanti-wanti hal buruk yang akan terjadi.
"Mas?" Panggil Reema.
"Langsung pada intinya!" ucap Justin menatap tajam kearah Reema.
Glek!
Wanita cantik itu kesulitan untuk menelan ludahnya. Sebab tidak akan mudah untuk membunuh Justin jika ia sudah dalam keadaan seperti ini.
"Aku minta maaf, Mas. Semua ini Daddy yang memintaku untuk melaporkanmu. Daddy mengancam akan mengusirku jika aku tidak melaporkan masalah ini," ucap Reema menunduk.
__ADS_1
"Terus?" tanya Justin seolah tidak peduli.
"Mas, jangan laporkan aku ya," ucap Reema lirih.
"Terlambat! Saya sudah melaporkan ini kemarin!" ucap Justin santai.
Deg!.
Reema melotot mendengarkan ucapan Justin. "Mas, Aku masih istrimu!" Ucapnya dengan air mata yang menggenang.
"Secara hukum! Mungkin besok surat cerai dari pengadilan akan siap, tolong di tanda tangani!" ucap Justin jengah.
"Mas!" pekik Reema tidak percaya.
"Sudahlah Reema. Semua ini salahmu, kau yang mengatakan jika aku memukul hingga seperti itu. Nanti siang pihak kepolisian akan mengumumkannya dan terima hasil dari penyelidikan mereka," ucap Justin semakin jengah.
Ia merasa ingin menyudahi percakapan ini sesegera mungkin.
"Mas, bukankah kamu yang mengatakan jika kita akan memulai semuanya dari awal? Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya!" Ucap Reema menangis.
"Simpan air mata buayamu di pengadilan nanti. Tidak ada kesempatan, tidak ada permintaan maaf, tidak ada lagi hubungan di antara kita!" ucap Justin tegas.
"Apa perempuan itu yang menghasutmu hingga seperti ini?" Tanya Reema.
Reema terdiam menatap Justin penuh kebencian. "Jangan lupa, kau juga seorang pembunuh, Mas. Kau membunuh Vania dan aku akan mengungkap ini lalu menyeretmu ke penjara bersama!" Pekiknya tidak terima.
"Silahkan jika kau memang bisa menemukan bukti! Dan saat itu kau juga akan mendapat hukuman yang lebih berat dari tuntutan jaksa!" ucap Justin dengan mata yang ikut memerah.
Reema sedikit takut melihat ekspresi Justin yang begitu menakutkan. Namun kali ini ia tidak akan kalah dari Justin.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang atau keduanya akan sama-sama kalah!" ucap Reema tegas.
Ia berdiri dan melangkah keluar dari rumah. "Jangan sampai kau menyesal karena berhadapan denganku, Mas! Sebentar lagi kau harus angkat kaki, karena rumah ini sudah aku jual!" ucapnya tersenyum remeh.
Brak!
Pintu utama itu berbunyi keras ketika Reema menutupnya dengan keras.
Justin hanya terdiam menatap kosong ke sembarang arah. Jika memang Reema mengungkit kejadian itu, pasti pihak keluarga Vania akan memilih untuk mengajukan peninjauan kasus kecelakaan itu.
Apa aku siap untuk menghadapi semua ini? Walaupun bukti-bukti itu tersimpan dengan baik dan tidak akan ada orang yang bisa menemukannya. Batin Justin.
🍃🍃
Elena Rexy dan Clayton menyimak konferensi pers yang akan dimulai sebentar lagi, disiarkan langsung dari televisi dan beberapa channel ternama.
__ADS_1
"Aku yakin kasus ini akan membesar dan seperti bola. Mereka saling mengoper kesalahan. Aku yakin jika perempuan itu dinyatakan bersalah, pasti kasus kecelakaanku akan diungkit oleh dia," ucap Elena.
"Aku merasa drama mereka semakin seru, dan kita tidak perlu bekerja keras lagi untuk itu," ucap Rexy tersenyum tipis.
"Iya, Bee. Setelah ini aku bisa fokus untuk menghancurkan Justin. Aku yakin mereka akan mengikuti kemanapun aku pergi," ucap Elena.
"Apa kamu tidak kasihan, Sayang. Dia mantan suami kamu loh," ucap Rexy terkekeh.
"Jangan memancing pertengkaran, Bee! Ya, walaupun aku merasa kasihan dan aku serasa ingin memeluknya...," ucap Elena sengaja memancing Rexy.
Benar saja wajah pria tampan itu langsung berubah datar mendengarkan ucapan Elena.
"Makanya, Jangan mancing-mancing," ucap Elena mengecup pipi Rexy sambil terkekeh.
"Hekm. Tuan, Nona. Mereka sudah memulai konferensi persnya," ucap Clayton yang ingin tenggelam saja di dasar bumi melihat kemesraan pasangan bucin itu.
"Selamat siang semuanya, saya akan menyampaikan perkembangan penangan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang yang dialami oleh korban atas nama Reema, dengan terlapor, saudara Justin Andrian," ucap Humas Polda.
"Kami dari pihak penyidik sudah memeriksa beberapa orang saksi, dan alat bukti sudah dikumpulkan. Begitu juga dari pihak terlapor, mereka sudah memberikan beberapa bukti bahwa tuan Justin tidak bersalah. Bukti yang diberikan berupa satu rekaman video, satu rekaman CCTV dan foto dinding rumah yang retak dimana terdapat darah yang diduga berasa dari tangan tuan Justin," sambungnya.
"Namun kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan kedua belah pihak akan kami panggil kembali untuk dimintai keterangan. Mungkin nanti akan kami umumkan kembali perkembangan kasus ini. Terima kasih," ucap Humas Polda itu.
Mereka yang mendengar berita hanya terdiam menyimak apa yang disampaikan oleh humas itu.
"Coba nanti kamu cocokan laporan dari laki-laki itu, Clay. Jika dia ingin melaporkan istrinya, kalau masih kurang, tambahkan dengan data yang sudah kita dapat!" ucap Rexy tersenyum.
"Baik, Tuan. Nanti akan saya cek dan data yang kurang akan saya kirimkan melalui email kepada tuan Justin," ucap Clayton.
"Ah, sisa satu urusan. Ternyata aku tidak perlu membuang tenaga untuk berurusan dengan perempuan itu," ucap Elena lega.
Drrtt, drrtt, drrtt.
Ponsel Elena berdering, perhatian mereka teralihkan dari televisi. Rexy melotot ketika melihat siapa yang tengah menelfon Elena.
"Angkat dan loudspeaker," ucap Rexy melotot.
Elena sedikit cemas dan juga takut melihat ekspresi Rexy yang seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
"Halo, Mas?" Ucap Elena.
"Halo, Baby. Kamu dimana?" Tanya Justin begitu lembut.
Mereka terkejut, sementara wajah Rexy langsung berubah masam mendengar rivalnya memanggil Elena dengan bergitu mesra.
Habislah aku setelah ini. Huwah, siapapun tolong aku. Batin Elena menjerit.
__ADS_1