PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Pendatang Misterius.


__ADS_3

Deru mobil membuat perhatian mereka teralihkan. Seorang pengawal memberitahukan jika ada beberapa ketua mafia datang menghadap.


"Suruh mereka masuk!" Ucap Barrack.


Rexy menatap pintu dengan rasa penasaran. Ia ingin melihat, siapa yang tengah mendukung Justin untuk kembali mencelakai Elena.


Tiga orang ketua mafia kelas menengah berdiri saling berjauhan dengan tatapan penuh kebencian.


"Dasar kalian cecenguk bodoh!" bentak Barrack.


"Hei pria tua, kau tiba-tiba saja memanggil saya dan langsung berkata seperti itu!" Ucap salah satu dari mereka.


"Diam kau!" Bentak Barrack dengan wajah garangnya. "Kau mau kelompok kumuh kau itu saya hancurkan?" ucapnya.


"Tuan, ada apa gerangan anda memanggil saya ke sini?" Ucap Ketua kelompok yang lain melerai perdebatan itu.


"Apa kalian akan mengambil pekerjaan sampai ke Indonesia?" tanya Barrack.


Mereka terkejut mendengarkan itu. Mengernyit bingung dan berusaha menebak apa yang akan di katakan oleh Barrack.


"Jawab!" bentak Barrack.


"Iya, Tuan. Saya akan membantu seorang pengusaha untuk kabur dari tahanan," ucap salah satu dari mereka.


"Apa kalian akan membawa seorang perempuan juga?" Tanya Barrack berhasil membuat mereka terkejut.


"Dari mana anda tau?" tanya mereka.


"Itu suami wanita yang akan kalian bawa! Batalkan atau tempat kumuh itu saya ratakan dengan tanah!" ucap Barrack tegas.


"Tapi, Tuan!" Sanggah mereka.


Barrack mengangkat tangannya. Ia menggeleng pertanda tidak ingin mendengar apapun lagi.


"Batalkan!" Ucap Barrack tegas.


"Baik, Tuan!" ucap mereka yang tidak berani dengan pria tua itu.


Sebab, mereka hanya mafia kelas menengah yang sangat tidak pantas jika di bandingkan dengan Barrack yang menjadi penguasa Mexico.


"Kau dengar, mereka tidak akan berani membebaskan laki-laki itu dan membawa kabur calon istrimu!" ucap Barrack.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih anda sudah membantu saya," ucap Rexy.


Ia mengeluarkan dua berkas surat pengalihan saham untuk membayar dua ketua mafia itu.


"Saya tidak tau bagaimana cara membalas kebaikan anda dan juga Tuan Koji. Hanya beberapa persen dari saham perusahaan yang bisa saya berikan," ucap Rexy.


Barrack dan Koji mengernyit. Ia tidak percaya jika Rexy mau memberikan beberapa persen sahamnya kepada mereka.


"Terima kasih, Tuan Rexy. Tapi saham 10 persen itu sangat besar jika hanya untuk membayar saya!" ucap Barrack.


"Tidak masalah, Tuan. Karena keamanan istri saya lebih utama dari apapun!" ucap Rexy tersenyum tipis.

__ADS_1


Barrack dan Koji terdiam. Baru kali ini ia melihat seorang laki-laki yang melakukan apapun untuk wanitanya.


"Baiklah kalau begitu, saya terima saham yang anda berikan!" ucap Barrack mengangguk.


Koji masih terdiam, ia sudah mengenal Rexy lama, laki-laki ini memang begitu mencintai Elena. Terlihat dari bagaimana dia menyembuhkan wanita cantik itu.


"Silahkan, Tuan Koji!" ucap Rexy meminta tanda tanganya.


"Ini saya terima, mungkin ketika pernikahan anda nanti saya tidak bisa datang. Anggap saja ini kado pernikahan dari saya!" ucap Koji tersenyum.


Rexy terdiam, dan mengangguk. "Terima kasih banyak atas bantuan anda! Sungguh saya sangat berhutang budi," ucap Rexy lirih.


"Jangan sungkan, Tuan Rexy!" Ucap Koji menepuk bahu pria tampan itu.


"Tidak masalah! Nanti akan saya pastikan jika mereka tidak nekat untuk melakukannya!" ucap Barrack.


"Terima kasih banyak, Tuan!" ucap Rexy bisa bernafas lega.


Mereka berbincang sambil menunggu beberapa orang anggota mafia lainnya.


🍃🍃


"Nyonya, ikut saya ke ruangan paling bawah!" Ucap Clayton terburu-buru.


Ia segera menggendong Elena menuju ruangan tersembunyi yang akan sulit untuk di temukan.


"Kenapa Clay?" tanya Elena terkejut.


"Ada yang datang ke sini menggunakan beberapa kapal dan satu helikopter!" ucap Clayton.


"Jangan keluar atau membuka pintu ini, Tuan, Nyonya. Tunggu sampai saya kembali dan memastikan jika keadaan sudah aman!" ucap Clayton kembali menutup pintu setelah semua persediaan makanan masuk ke dalam ruangan itu.


"Clayton, Berhati-hatilah!" ucap Elena.


Raut wajah mereka terlihat sangat ketakutan. Angelin dan Khalia sudah gemetaran, sementara Hinta dan Vazo berusaha untuk menenangkan mereka.


Elena terdiam, hal berbahaya yang begitu besar telah di sembunyikan Rexy darinya. Tanpa terasa air matanya menggenang mengingat tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.


Kepandaian yang cukup mumpuni namun keadaan lumpuh, sama saja tidak ada gunanya.


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan di sini? Sementara mereka berjuang untuk menyelamatkan kita!" ucap Vazo menjambak rambutnya dengan kasar.


"Kita ikuti saja apa yang mereka katakan, Yah! Jangan sampai karena niat ingin membantu malah membuat pekerjaan mereka semakin bertambah!" ucap Khalia.


Aku tidak bisa diam seperti ini! Aku harus bisa membantu mereka jika memang terjadi sesuatu yang berbahaya di luar sana. Batin Elena.


Perlahan ia berusaha untuk menggerakkan kakinya, walaupun terasa sakit ia harus menahan itu semua.


Mencoba untuk berdiri perlahan, namun kakinya seolah tidak bisa di ajak bekerja sama.


Ayolah! Jangan menjadi beban orang lain terus!. Batin Elena berusaha untuk berdiri.


Semua orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tanpa menyadari apa yang sedang di lakukan oleh Elena.

__ADS_1


🍃🍃


"Tuan, semuanya sudah berada dalam posisi. Mereka membawa beberapa senjata dan orang dalam jumlah yang cukup banyak!" ucap Tegar, asisten pribadi Clayton.


"Awasi mereka terus. Jangan sampai Nona Elena dan keluarganya terluka. Kita tidak bisa terlalu lama berada di sini!" ucap Clayton.


"Baik, Tuan!" ucap Tegar.


Mereka sudah terhubung melalui earphone masing-masing yang di komandoi oleh Tegar.


"Tuan, mereka masuk dengan mengendap-endap!" ucap salah satu pengawal yang berada di garda depan.


"Jangan sampai lengah, awasi mereka. Orang kita akan menymar sebagai nelayan sebentar lagi!" ucap Tegar.


Clayton masih berusaha untuk menghubungi Fauzi maupun Rexy, setidaknya ada sedikit informasi yang bisa ia terima, apakah mereka berhasil atau tidak.


Ren sudah siaga dengan membawa beberapa pasukan lagi untuk mengepung pendatang misterius yang berada di pulau itu.


Ia memantau dengan kamera pengawas yang terpasang di sepanjang kawasan pulau.


Tiga orang pengawal sudah berpakaian seperti nelayan. Mereka berjalan menghampiri sepuluh orang yang tengah berpakaian perang itu.


"Hei, ada apa kalian kesini?" Tanya mereka kepada nelayan itu sambil menodongkan pistol.


"Kami hanya datang untuk beristirahat, tuan!" ucap mereka pura-pura takut.


"Apa ada penghuni di pulau ini?" tanya mereka.


"Ti-tidak, Tuan. Kami sudah berada di sini semalaman dan tidak ada satu orang pun terlihat," ucap mereka semakin takut.


"Jangan berbohong! Kau ingin mati ha?" ucap mereka membentak.


"Ka-kami tidak berbohong, Tuan! Memang tidak ada yang datang ke sini sudah hampir 4 tahun. Hanya kami dan beberapa nelayan lainnya yang sering datang untuk beristirahat," ucap nelayan.


Para pendatang itu saling menatap satu sama lain. Tidak ada kecurigaan terlihat dari para nelayan.


"Ada apa tuan datang ke sini? Kalau mau masuk, hati-hati di dalam ada beberapa ranjau yang sengaja di pasang oleh pemilik pulau ini," ucap Nelayan itu berusaha untuk memancing.


"Bukan urusan kalian! Minggir!" ucap mereka mendorong para nelayan jadi-jadian itu.


Mereka terus berjalan masuk dan melihat keadaan sekitar, hening, sunyi dan tenang tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sana.


"Kita tidak salahkan? Kemarin memang ada helikopter yang datang ke sini. Dan kemungkinan itu adalah mereka!" ucapnya.


"Di sini ada beberapa pulau pribadi yang tidak berpenghuni,"


Para nelayan tadi masih berdiri di sana sambil menghitung berapa jumlah mereka.


"Hei, dimana kapal kalian?" tanya mereka.


"Ada di sisi kanan pulau ini, Tuan!" ucapnya.


"Sebaiknya kita harus berhati-hati, karena bisa jadi mereka sudah menyiapkan begitu banyak jebakan di dalam pulau," ucap pendatang itu.

__ADS_1


Clayton hanya memperhatikan pergerakan mereka. Ia perlahan tenang ketika melihat Ren dan beberapa orang lainnya sudah mendekat.


"Clay!" Panggil seseorang yang membuat pria blasteran itu terkejut.


__ADS_2