PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Penyelamatan


__ADS_3

"Maafkan saya yang terlambat datang, Nona!" ucap Ren merasa sangat bersalah.


"Tidak masalah, Kak. Jangan jadikan beban. Sekarang tidak ada tempat yang aman untukku," ucap Elena menatap Clayton yang sudah sangat lemas.


"Tidak, Nona! Semuanya akan segera selesai. Tuan Rexy sudah berada dalam perjalanan pulang, saya yakin tuan sudah menyelesaikan semuanya!" ucap Ren.


Elena menggeleng, ia merasa takut, karena bahaya selalu menghantui. Pasti semua orang yang berada dekat dengannya juga akan terlibat.


"Nona, jangan memikirkan apapun. Cukup fokus dengan kesembuhan Anda!" ucap Ren yang belum menyadari jika Elena sudah bisa berjalan.


Wanita cantik itu mengernyit, namun ia tidak peduli. Saat ini ia begitu khawatir dengan keadaan Clayton.


"Laki-laki keparaat itu mengatakan jika Justin yang menyuruh mereka!" ucap Elena.


Ren mengernyit dan menggeleng. "Mereka suruhan dari Tuan Rendi, Nona. Sebab Nyonya Reema sudah di diagnosa mengalami gangguan jiwa. Saya rasa itu yang membuat dia mengirimkan orang. Maaf, saya lalai untuk menjaga Anda!" ucapnya penuh rasa bersalah.


"Jangan seperti itu! Kakak dan yang lain sudah melakukan banyak hal untukku. Apa lagi Clayton sampai harus terluka seperti ini," ucap Elena sendu.


"Nona, Keadaan anda adalah hidup kami. Jika anda terluka maka kami pun sama, jangan menyalahkan diri, karena kami di gaji memang untuk melindungi anda!" ucap Ren tegas.


Elena terdiam, ia akan kalah jika harus berdebat dengan siapapun kecuali Rexy.


Bee, kamu dimana sayang? Aku merindukanmu! Aku sangat takut sekarang!. Batinnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Helikopter terus mengudara hingga berhenti di atas helipad yang ada di perusahaan Rexy dan Justin.


Mereka segera pergi menuju rumah sakit. Ren masih terus menggendong Elena, walaupun wanita cantik itu sudah meminta untuk di turunkan berkali-kali.


"Nona, anda nanti akan jatuh. Tolong bekerjasamalah, Nona!" ucap Ren memelas.


"Baiklah!" ucap Elena pasrah. Hiks, padahal aku sudah bisa berjalan!. Batinnya meringis.


Ia teringat dengan kejadian sore tadi sebelum ia bisa berjalan.


Tiba-tiba saja, kakinya merasa panas dan juga terasa seperti keram. Urat-urat kakinya mengeras seorang sedang bekerja setelah beberapa hari tidak ada pergerakan sama sekali.


"Ayah, kakiku sakit!" ucap Elena meringis.


Vazo segera memerika betis Elena dan terkejut ketika melihat pergerakan urat yang ada di sana. Dengan bingung, Vazo menekuk kaki sang putri dan menggerakkannya hingga urat-urat itu menjadi tenang.


Keringat mengucur deras karena rasa sakit yang terasa sangat nyata. Berteriak pun tidak bisa menghentikan rasa sakit itu.


Hingga beberapa saat, Elena mulai tenang dan ia mulai merasakan pergerakan pada jari-jarinya.


Dengan rasa takut, Elena menggerakkan kakinya secara perlahan. Semua orang terkejut melihat itu, bahkan Khalia tidak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


Elena mencoba untuk berdiri, percobaan pertama ia terjatuh, beruntung Vazo segera menangkapnya dan Elena kembali mencoba beberapa langkah.


"Ayah, aku bisa berjalan!" ucap Elena tidak percaya.


Semua orang terdiam menatap Elena. Angelin dan Khalia langsung memeluk Elena dengan tangis bahagia.


"Aku sudah bisa berjalan, Bunda!" ucap Elena menangis.


"Iya, sayang! Kamu sudah bisa berjalan lagi!" uca Khalia.


Mereka berpelukan sebentar. Hingga keputusan Elena membuat semua orang tidak setuju dan menentang keras apa yang akan di lakukan oleh wanita cantik itu.


"Aku akan keluar dan menolong mereka! Aku tidak bisa berdiam diri terus di sini! Sudah saatnya aku ikut membantu dan tidak menjadi beban mereka lagi!" ucap Elena.


"Nak!" Seru Vazo ketika melihat Elena masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


"Maaf, Ayah. El, hanya butuh kepercayaan ayah dan bunda! El akan keluar untuk membantu mereka!" ucap Elena keras kepala.


"Sayang! Tolong pikirkan Bunda, Nak!" ucap Khalia menangis.


"Maafkan, El, Bunda. Aku janji akan kembali dengan keadaan sehat dan utuh!" ucap Elena keluar dari ruangan itu.


"Elena!" panggil mereka, namun wanita cantik itu tidak mendengarkannya.


Semoga mereka tidak memarahi dan membenciku!. Batinnya.


Clayton dan juga wanita cantik itu langsung di bawa menuju ruang VIP, dan mendapatkan penanganan di sana.


"Kak, aku sudah bisa berjalan!" ucap Elena di depan pintu.


Ia melihat Ren sudah kelelahan menggendong dirinya sedari tadi.


Pria tampan itu terdiam dan menatap Elena dengan rasa tidak percaya.


"Anda jangan bercanda, Nona!" ucap Ren tidak percaya.


Ia segera masuk ke dalam ruang VIP dan membaringkan Elena di atas brankar.


Wanita cantik itu melengos dan langsung turun melalui sisi brankar yang lain dan membuat Ren terkejut.


"Nona, Anda...," ucap Ren terkejut.


"Kalau saya belum bisa berjalan, mungkin saya tidak berada di luar, Kak!" ucap Elena kembali duduk di atas brankar.


Ren bernafas lega, perlahan air matanya menggenang melihat kesembuhan Elena.

__ADS_1


"Syukurlah jika anda sudah sembuh. Saya, saya merasa sangat senang!" ucapnya berbalik badan dan mengusap air matanya yang hampir saja menetes.


Elena tersentuh. Ia tidak menyangka jika Ren begitu menyayanginya. "Terima kasih, karena kak sudah begitu menghawatirkan aku," ucapnya tersenyum.


"Sama-sama!" ucap Ren tersenyum.


Tak lama para orang tua datang dengan raut wajah yang begitu cemas.


Mereka melihat Elena duduk di atas brankar sambil bermain ponselnya karena Rexy baru saja memberikan ia kabar.


"Nak!" Pekik mereka bersaman.


"Ayah, Bunda!" ucap Elena turun dan memeluk mereka semua.


"El gak papa! El baik-baik aja! Semuanya sudah berakhir!" ucap Elena menenangkan mereka.


"Ayah tidak mengizinkan kamu untuk berbuat seperti itu lagi!" ucap Vazo tegas.


"Maafkan aku!" ucap Elena menunduk.


Mereka akhirnya bisa menghela nafas lega karena melihat Elena masih dalam kondisi baik tanpa terluka. Bahkan rompi anti peluru masih melekat di tubuh wanita cantik itu.


🍃🍃


"Syalan!" Pekik Rexy emosi ketika mendapatkan kabar penyerangan yang terjadi.


Wajahnya memerah menahan emosi bercampur cemas mengingat semua keluarganya berada di sana.


"Apa pesawat ini tidak bisa lebih cepat lagi?" teriak Rexy.


Tidak ada yang berani berbicara. Masih ada waktu tujuh belas jam lagi, agar bisa sampai di Indonesia.


Belum ada kabar terbaru yang sampai kepadanya saat ini. Semua masih abu-abu dan tidak ada kejelasan.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa mereka tidak bekerja dengan baik?" ucap Rexy frustrasi karena tidak bisa berbuat banyak.


"Sepertinya ada penyusup yang masuk dan membocorkan keberadaan Nona Elena, Tuan!" ucap Fauzi.


"Ah, bedebah!" umpat Rexy dengan nafas yang memburu.


Ia tidak bisa diam, bahkan ponsel Elena tidak bisa di hubungi. Namun tak berapa lama, pesan yang ia kirim sudah terbaca oleh wanita cantik itu.


Rexy menunggu balasannya, namun hampir setengah jam ia menunggu dan mengirim beberapa pesan lagi, tidak ada satupun jawaban yang ia dapat dari Elena.


"Sayang, balas pesanku! Bagaimana keadaan kalian sekarang?" ucap Rexy tidak sabar.

__ADS_1


Namun pesan yang di kirim oleh Ren membuat nafasnya lega seketika. Pesan yang berisi lengkap dengan apa yang terjadi dan kondisi Elena beserta keluarganya.


Kalian akan habis di tanganku setelah ini, bedebah syalan!. Batin Rexy penuh dengan dendam.


__ADS_2