
Malam itu, di kediaman keluarga Pelangi baru saja selesai mengadakan acara arisan keluarga. Seperti biasanya, saudara atau kerabat bertanya tentang Pelangi yang belum juga menikah. Bahkan ada di antara mereka yang berniat untuk menjodohkan dengan anak dan kerabat mereka yang lainnya. Namun Melati selalu menjawab, bahwa masalah itu tergantung pada putrinya sendiri. Lagi-lagi Pelangi juga harus mencari alasan yang tepat, untuk menjawab semua pertanyaan soal dirinya.
Setelah semua orang berpamitan, kini tinggal Pelangi, Awan dan Ibunya sedang duduk di ruang keluarga untuk beristirahat. Sedangkan Bik Ira masih sibuk membereskan sisa makanan dan piring kotor di dapur. Terlihat wajah Pelangi yang masih kesal dengan ucapan dari salah satu kerabatnya, yang mengatakan bahwa Ia terlalu pemilih dalam hal mencari pasangan.
"Kakak masih kesal yaa..? Udah Kak lupain aja, gak penting juga omongan orang lain.." ucap Awan memecah keheningan.
"Memang gak penting, tapi omongannya itu nyakitin hati, Wan.. Sombong banget tuh orang..!" seru Pelangi.
"Sudah Kak, jangan di masukkan ke dalam hati yaa.. Namanya juga mulut orang, kita tidak bisa mengaturnya.." ujar Melati yang mencoba menenangkan putri semata wayangnya itu.
"Iyaa Mii, aku mau masuk ke kamar dulu.." seru Pelangi yang berjalan menuju ke kamarnya, meninggalkan Ibu dan Awan.
"Mamii juga mau masuk ke kamar dulu yaa Wan, kamu jangan pergi kemana-mana. Sekarang sudah malam.." ucap Melati mengingatkan Awan.
"Iyaa Mii, Awan gak kemana-mana kok.." sahut Awan.
Awan yang kini sendirian di ruang keluarga, memilih untuk masuk ke kamar Pelangi. Dari kecil Awan memang suka berkumpul dan bercerita pada Kakaknya, mereka berdua seperti anak kembar. Karena seringkali terlihat bersama, namun begitu mereka tetap memiliki banyak perbedaan terutama dari segi sifat dan juga sikap.
"Kak,, aku masuk yaa.." seru Awan yang mengetuk pintu kamar Pelangi, seraya membukanya dengan perlahan.
"Mau ngapain kamu, tumben gak pergi ngumpul sama teman-teman..?" tanya Pelangi.
"Gak boleh sama Mamii, katanya udah malam.." sahut Awan.
"Iyaa sih, mungkin Mamii takut kamu ketemu dan terpengaruh sama teman-teman kamu yang gak jelas itu.." ujar Pelangi.
"Gak jelas gimana, Kak..?! Mereka sebenarnya baik kok, cuma yaa mungkin karena mereka memiliki masalah yang berat aja. Jadinya gitu deh.." ucap Awan.
"Pokoknya kamu harus jauhi orang-orang yang cuma membawa pengaruh buruk sama kamu, jangan kecewain Mamii lagi. Kamu inget itu..!" tegas Pelangi pada Awan.
"Iyaa Kak, aku inget kok.." sahut Awan.
"Yaa udah kalau gitu, sekarang kamu keluar gih.." seru Pelangi yang merasa risih saat berlama-lama dengan Awan di kamarnya, karena Ia tidak bebas untuk melakukan apapun.
"Ishh,, Kakak nih, aku kan masih pengen ngobrol.." ucap Awan.
"Makanya cari pacar, biar ada teman ngobrol. Jangan cuma dekat sana-sini, tapi gak ada kepastian.." ujar Pelangi.
"Awan belum nemuin yang bisa di ajak serius Kak, kalau yang bisa di ajak main-main sih banyak,hehee.." ucap Awan sambil tertawa kecil.
"Jangan suka main-main, nanti gantian kamu yang di permainkan. Kamu masih ingatkan rasanya gimana..?!" tanya Pelangi yang mengingatkan Awan dengan apa yang dulu pernah Ia alami.
"Iyaa Kak, Awan masih inget kok. Rasanya itu sakit banget.." balas Awan sambil menarik nafasnya.
"Yaa udah kalau gitu, aku mau keluar dulu, Kak.." ucap Awan yang bergegas pergi meninggalkan Pelangi sendirian di kamar.
"Apa Awan tersinggung yaa sama omongan aku tadi,mmmh.." gumam Pelangi yang sempat melihat perubahan wajah Awan.
🌠
🌠
Beberapa hari telah berlalu, dari sejak Pelangi yang melihat pesan masuk yang ada di ponsel Bintang waktu itu. Namun begitu rasa penasarannya belum juga hilang, justru semakin bertambah. Ia pun memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak lagi, dan menunggu kesempatan untuk bisa melihat ponsel Bintang kembali.
"Bin,, aku boleh pinjam handphone kamu gak..? Aku mau telepon teman, tapi pulsa aku ternyata habis.." tanya Pelangi yang sengaja berpura-pura kehabisan pulsa.
__ADS_1
"Pulsa aku juga habis, belum sempat beli.." sahut Bintang yang sebenarnya tidak ingin Pelangi meminjam ponselnya.
"Masa sih, kok bisa sama..? Bohong dosa lho..!" seru Pelangi yang merasa bahwa Bintang berbohong padanya.
"Yaa udah kalau gak percaya.." balas Bintang sambil berjalan menuju ke depan toko.
"Dasar nyebelin, pasti dia bohong..!" ucap Pelangi dengan kesal, karena rencananya gagal untuk bisa melihat ponsel Bintang.
Namun Pelangi tak menyerah begitu saja, Ia mencoba mengingat sesuatu dari apa yang di lihatnya di pesan masuk pada ponsel Bintang waktu itu. Akhirnya Ia pun teringat sesuatu, dan segera mencarinya di internet. Namun alangkah terkejutnya, saat Pelangi membaca apa yang Ia dapat di pencarian internet. Hingga membuatnya terdiam untuk beberapa saat, dan memikirkan tentang apa yang baru saja Ia baca.
Brak..
"Bengong aja..! Aku ke kamar mandi dulu yaa.." seru Bintang yang sengaja memukul meja, dan langsung membuat Pelangi tersadar dari lamunannya.
"Ngagetin aja sih..!" balas Pelangi pada Bintang yang hanya tersenyum karena sudah berhasil membuat Pelangi terkejut dan kesal.
Bintang yang sudah keluar dari kamar mandi, kini berjalan menghampiri dan membantu Pelangi yang sedang merapikan barang-barang di rak. Karena barang yang di rapikan oleh Pelangi begitu tinggi, Ia pun menggunakan kursi kecil untuk bisa mencapainya. Namun tiba-tiba Pelangi kehilangan keseimbangan, hingga membuatnya hampir terjatuh. Melihat itupun Bintang langsung sigap, dengan gerakan cepat Ia menangkap tubuh mungil Pelangi.
Untuk sesaat, keduanya pun kini saling menatap dengan intens. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang di rasakan oleh Pelangi melihat tatapan mata Bintang padanya. Di tambah dengan degup jantungnya yang kini semakin kencang tak beraturan, membuat tubuhnya tak mampu untuk berkutik.
"Auww,, aduhh sakit.." rintih Pelangi karena tiba-tiba Bintang melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Pelangi, membuat Ia merasa kesakitan.
"Kok malah di lepasin sih, sakit tau..!" seru Pelangi pada Bintang yang telah kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Siapa suruh bengong..!" sahut Bintang yang tidak mau di salahkan.
"Bilang kek kalau mau di lepasin pegangannya, ini langsung main lepas aja.." gerutu Pelangi sambil mengusap bagian yang masih terasa sakit.
"Udah di tolongin, bukannya terimakasih malah ngomel-ngomel gak jelas..!" gumam Bintang dalam hati.
🌠
🌠
"Bintang,, tolong belikan Ibu gula dan teh yaa, Ibu sudah tidak punya simpanan.." ucap Ibu pada Bintang yang sedang duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya.
"Iyaa Bu, nanti Bintang beliin. Apa ada yang lain, Bu..?" tanya Bintang.
"Sekalian sama buah-buahan yaa, Bin.." sahut Ibu seraya tersenyum.
"Siap Bu, perintah segera di laksanakan,hehee.." balas Bintang pada Ibunya yang langsung mencubit hidung Bintang.
Bintang yang tidak ingin membuat Ibunya menunggu lama, segera bergegas pergi untuk membelikan apa yang di inginkan Ibu. Setelah berpamitan, Bintang lalu pergi dengan menggunakan sepeda motor.
Seusai mendapatkan apa yang di inginkan Ibu, Bintang memilih untuk segera kembali pulang. Namun dalam perjalanan saat melewati sebuah taman, Bintang melihat Pelangi yang duduk bersama seorang pria. Bintang lalu menghentikan sepeda motornya, dari kejauhan Ia melihat pria itu pergi dan menghampiri se'orang wanita. Lalu pergi bersama wanita itu dengan sebuah mobil, meninggalkan Pelangi yang masih berdiri menatap kepergian mobil itu.
Bintang yang merasa Pelangi sedang tidak baik-baik saja, segera berlari kecil untuk menghampiri Pelangi. Saat telah berada di hadapannya, terlihat Pelangi yang hanya terdiam dan menangis. Melihat Bintang yang tiba-tiba ada di depannya, Pelangi pun terkejut dan segera menghapus air matanya.
"Kok kamu ada di sini..?" tanya Pelangi yang berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Tadi aku habis pulang belanja, terus lihat kamu sendirian di sini. Yaa udah aku samperin.." ujar Bintang.
"Terus sekarang kamu mau kemana..?" tanya Pelangi lagi.
"Mau pulang, kamu juga pulang gih.." seru Bintang, lalu berjalan menuju sepeda motor yang Ia parkir kan di seberang jalan.
__ADS_1
"Tunggu, Bin..! Aku ikut ke rumah kamu yaa..!" teriak Pelangi pada Bintang.
"Terserah kamu..!" sahut Bintang yang langsung melajukan sepeda motornya, di ikuti oleh mobil Pelangi di belakangnya.
Sesampainya di rumah Bintang, Pelangi yang di sambut oleh Ibu segera menyalaminya. Dan setelah mengobrol sejenak, Pelangi meminta izin pada Ibu untuk mengikuti Bintang masuk ke dalam kamarnya. Pelangi tidak sabar ingin bercerita pada Bintang, tentang apa yang barusan terjadi padanya.
"Kamu baik-baik aja kan..?" tanya Bintang saat melihat Pelangi hanya duduk diam di tepi tempat tidur.
"Gak baik Bin.." jawab Pelangi, tanpa Ia sadari kini air matanya kembali menetes.
Melihat hal ini, Bintang berusaha untuk menghibur dan menenangkannya. Namun tangisan Pelangi belum juga berhenti, justru kini Ia memeluk tubuh Bintang dengan erat. Bintang hanya menghela nafasnya dengan dalam, perlahan Ia melepaskan pelukan Pelangi padanya.
"Sebenarnya ada apa, El..? Kenapa kamu nangis..?" tanya Bintang yang ingin tahu penyebab Pelangi menangis.
"Tadi di luar aku ketemu sama mantan dan pacar barunya, terus dia bilang sama aku. Kalau aku harus bisa lupain dia, dan cari penggantinya.." ujar Pelangi sambil menghapus air matanya.
"Cuma karena itu..?" tanya Bintang lagi.
"Iyaa Bin, aku sedih banget. Cuma karena aku gak punya banyak waktu buat dia, terus dia ninggalin aku gitu aja dan secepat itu dia dapat pengganti aku.." ucap Pelangi seraya sesenggukan.
"Orang seperti itu memang harus kamu lupain, jangan di ingat lagi. Karena cuma buat sakit hati, mending kamu cari yang lain yang lebih baik dari dia.." ucap Bintang.
"Kamu enak ngomong gitu, karena kamu punya pacar yang baik dan sayang sama kamu. Kamu gak ngerasain yang aku rasain, hiks hiks hiikks.." seru Pelangi yang tidak bisa menahan air matanya.
"Yaahh,, nangis lagi nih anak, yaa udah kamu nangis aja dulu..!" seru Bintang yang memilih untuk tiduran di samping Pelangi, sambil memainkan ponselnya.
"Hibur aku kek, semangatin aku gitu,mmmh.." gerutu Pelangi yang merasa kesal, lalu melemparkan bantal ke arah Bintang.
"Yaa udah sini, cupp cupp cuuppp.. Nih ada permen, jangan nangis lagi yaah.." ucap Bintang sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Ihh,, nyebelin banget sih nih orang..!" seru Pelangi sambil memukul lengan Bintang, namun Ia juga ikut tertawa.
"Bin,, aku lihat foto pacar kamu dong, pengen tau. Gimana sih orangnya, yang udah bisa meluluhkan hati kamu itu.." ucap Pelangi tiba-tiba, membuat Bintang langsung terdiam dengan raut wajah datarnya.
"Aku gak punya fotonya, aku sama dia gak suka foto-foto.." sahut Bintang.
"Masa sih gak ada, kok aneh banget. Pasti ada walaupun sedikit, sini aku lihat.." seru Pelangi yang langsung mengambil ponsel Bintang dengan paksa.
"Berapa kata sandinya..? Ayo bilang..!" tanya Pelangi.
"Aku lupa.." balas Bintang berbohong.
"Bohong aja, ayo buruan bilang.." paksa Pelangi.
"Yaa udah sini handphonenya, lebih baik sekarang kamu pulang. Udah malam.." ucap Bintang seraya mengambil ponselnya dari tangan Pelangi.
"Iyaa sebentar lagi.." sahut Pelangi yang kini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu mengambil ponsel yang ada di tas kecil miliknya.
"Yaa udah kalau gitu, aku mau ke kamar mandi dulu.." ucap Bintang pada Pelangi yang hanya menganggukkan kepala, lalu meletakkan ponselnya ke dalam laci meja.
Melihat Bintang yang sudah keluar dari kamar, Pelangi pun bergegas menghampiri laci meja dan mengambil ponsel milik Bintang. Ia mencoba untuk membuka sandi keamanan, namun tetap saja gagal. Hingga ponsel itu tiba-tiba bergetar, karena ada pesan masuk dari sese'orang dengan nama Sarah. Pelangi pun bisa membacanya, meski hanya sebagian.
"Kok isi pesannya aneh gini sih.." gumam Pelangi dalam hati, Ia lalu meletakkan ponsel Bintang kembali ke dalam laci. Sambil terus memikirkan, apa maksud dari pesan yang Ia baca barusan...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59