
Pelangi yang baru saja masuk ke dalam kamar dan rebahan, kini harus kembali bangkit dari tempat tidurnya. Setelah Ia mendengar ketukan pintu dan suara Melati memanggilnya, dengan langkah yang gontai Pelangi pun membuka pintu kamarnya.
"Ada apa sih Mii..?! Aku baru aja mau istirahat sebentar, kan capek baru pulang kerja.." gerutu Pelangi yang kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Mmmm,, yaa sudah Mamii minta maaf, sekarang kamu istirahat saja dulu. Nanti malam setelah makan, Mamii mau ngobrol sama kamu, El.." ucap Melati sambil tersenyum.
"Memang Mamii mau ngomongin apa..? Sekarang aja Mii, aku udah terlanjur penasaran nih.." seru Pelangi yang kini fokus menatap Ibunya.
"Nanti saja Mamii cerita, sekarang Mamii mau keluar dulu. Kamu istirahat dan jangan mandi kesorean, tidak baik buat kesehatan.." ujar Melati sambil melangkah pergi meninggalkan Pelangi yang masih diam terpaku, Ia memikirkan tentang apa yang ingin Ibunya katakan padanya.
"Kok perasaan aku jadi gak enak gini yahh..? Jangan-jangan ada hubungannya dengan yang mau Mamii mau omongin nanti,mmmh.." ucap Pelangi dalam hati, lalu memilih untuk segera membersihkan dirinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
🌠
"Wan,, Mamii ada ngomong sesuatu gak sama kamu tentang Kakak..?" tanya Pelangi pada Awan yang sedang asyik bermain game di kamarnya.
"Kok Kakak main masuk aja sih..?! Bukannya ketuk pintu dulu, main nyelonong aja.." gerutu Awan yang langsung menghentikan kegiatannya.
Pletakk
Pelangi pun langsung menyentil kening adiknya, "Enak aja kalau ngomong yaa, tadi Kakak udah ketuk pintu tau..! Kamu aja tuh yang gak denger, keasyikan main aja terus.." seru Pelangi sambil mendorong tubuh Awan ke samping.
"Masa sih Kak..? Kok aku gak denger yaa,hehee.." balas Awan.
"Makanya jangan main game terus, yaa udah jawab yang Kakak tanya tadi.." ucap Pelangi.
"Memang tadi Kakak tanya apaan sih..?!" tanya Awan yang tidak mendengar dengan jelas pertanyaan dari Pelangi.
"Tuh kan ngeselin lagi nih anak,, tadi Kakak tanya. Mamii ada ngomong sesuatu gak tentang Kakak..?" jelas Pelangi yang mengulangi pertanyaannya dengan kesal.
"Ohh,, gak ada Kak, Mamii gak ada ngomong apa-apa. Memang kenapa Kak..?" ucap Awan yang kini balik bertanya.
"Gak ada apa-apa, yaa udah kalau gitu Kakak mau ke kamar Mamii dulu.." seru Pelangi sambil bangkit dari tempat tidur Awan.
"Aku ikut Kak,hee..!" sahut Awan.
"Yaa udah ayuk, tapi jangan banyak tanya dan ngomong apa-apa yaa sama Mamii.." seru Pelangi.
"Iyaa iyaa Kak, beres.." balas Awan.
Keduanya pun kini berjalan menuju ke kamar Ibunya, Pelangi sudah tidak sabar ingin tau apa yang ingin Melati ceritakan padanya. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Pelangi pun membuka pintu kamar Melati dengan perlahan.
__ADS_1
"Sini kalian berdua duduk dekat Mamii, ada sesuatu yang ingin Mamii sampaikan. Terutama kamu, El.." seru Melati melihat Pelangi dan Awan telah masuk ke kamarnya.
"Iyaa, Mii.." sahut Pelangi dan Awan bersamaan.
"Memang Mamii mau ngomong apa sih..? Ayo buruan, Mii.." pinta Awan yang semakin penasaran.
"Ini soal perjodohan Kak Pelangi dengan Reon, Mamii sudah bicara dengan Tante Risma. Dan kami berdua memutuskan kalau dua minggu lagi kamu dan Reon akan bertunangan.." jelas Melati seraya tersenyum.
"Apaaa..?!!" seru Pelangi dan Awan bersamaan yang merasa terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Mamii serius..?? Atau aku yang salah dengar..?!" tanya Pelangi yang merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ibunya.
"Kamu tidak salah dengar El, dan Mamii juga serius dengan apa yang Mamii katakan barusan.." jawab Melati.
"Tapi kenapa harus secepat itu, Mii..? Aku bahkan belum tau apa-apa tentang Reon itu pria yang seperti apa.." ucap Pelangi yang tidak menyangka, bahwa Ibunya akan secepat itu mengambil keputusan tentang perjodohannya.
"Iyaa Mii, benar apa yang di bilang Kak Pelangi itu. Kenapa gak biarin Kak Pelangi dan Kak Reon kenal lebih dekat dan pacaran dulu aja gitu.." ujar Awan yang ikut menimpali.
"Awan..!!" teriak Pelangi. "Kamu apaan sih, pacaran pacaran apaan coba..!" seru Pelangi yang tidak setuju dengan usulan adiknya itu.
Awan yang baru saja mendengar ucapan Pelangi dan mendapat tatapan tajam dari Kakaknya, kini memilih untuk diam sambil menutup mulutnya.
"Sudah-sudah,, cukup..! Mamii tidak mau melihat kalian bertengkar, dan kamu, El.. Apa yang kamu katakan itu memang benar, tapi menurut Mamii niat yang baik itu sebaiknya jangan di tunda-tunda. Karena itu, Mamii ingin kamu dan Reon secepatnya bisa bertunangan.." ujar Melati.
"Pelangi sayang,, percaya sama Mamii yaa.. Ini semua Mamii lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu, Nak..!" ucap Melati seraya membelai rambut panjang putrinya itu.
"Tapi Mii,,mmmh... Baiklah, terserah Mamii aja. Yang penting Mamii bahagia.." sahut Pelangi seraya tersenyum, namun hatinya merasa sedih.
Awan yang melihat adegan Ibu dan Kakaknya itu, hanya bisa menghela nafasnya. Ia tau jika Kakaknya tidak sepenuh hati menerima perjodohan itu, namun Ia juga tidak bisa membantu dan berbuat apa-apa. Setelah pembicaraan itu selesai, Pelangi pun segera masuk ke dalam kamar dan tidak lama kemudian Ia bergegas keluar.
"Kakak mau kemana..?!" tanya Awan yang melihat Pelangi hendak pergi dengan berpakaian rapi dan membawakan tas kecil.
"Mau ke rumah Bintang, mungkin Kakak akan nginap di sana. Kamu jangan lupa kasih tau Mamii yaa, Wan.." seru Pelangi seraya melangkah pergi.
"Kasian Kak Pelangi, pasti sekarang dia lagi sedih.." gumam Awan dalam hati.
🌠
🌠
Tidak butuh waktu lama, kini Pelangi telah tiba di rumah Bintang. Di sana Ia langsung di sambut oleh Bintang dan Ibunya, lalu mereka pun saling bercerita. Namun karena suasana hati Pelangi dalam keadaan yang tidak baik, Ia lebih banyak diam dan hanya menanggapi ucapan Bintang dan Ibunya dengan seperlunya saja.
__ADS_1
Ibu Bintang yang menyadari akan hal itu, memilih untuk segera masuk ke dalam kamar. Karena ingin membiarkan Bintang dan Pelangi bisa bebas berbincang-bincang, tanpa merasa terganggu olehnya.
"Pelangi,, Ibu mau ke kamar dulu istirahat yaa, kalian berdua lanjutkan lagi ngobrolnya.." ucap Ibu.
"Ohh,, iyaa Bu.." sahut Pelangi seraya tersenyum.
Melihat Ibunya yang sudah masuk ke dalam kamar, Bintang pun mengajak Pelangi untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Agar Ia dan Pelangi bisa bebas dan merasa nyaman, untuk membicarakan hal apapun termasuk hubungan mereka.
"Apa ada masalah, El..? Dari tadi aku perhatiin kamu banyak diam, udah gitu muka kamu juga seperti lagi sedih.." tanya Bintang yang ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Pelangi.
"Aku gak tau harus ngomong gimana, karena aku gak mau membahasnya, Biyang.. Tapi kamu juga perlu tau,mmmh.." ujar Pelangi sembari menarik nafasnya dengan berat.
"Kami minum dulu yaa, tenangin hati dan pikiran kamu. Habis itu ceritain ke aku, sebenarnya ada apa.." ucap Bintang yang menyerahkan segelas air minum pada Pelangi.
"Mmmm,, Mamii minta aku untuk segera bertunangan.." ucap Pelangi dengan nada lirih.
Degg..
"Kamu serius, El..?! Secepat itu..?!" tanya Bintang dengan perasaan hatinya yang kini mulai tidak karuan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. Mengetahui Pelangi di jodohkan saja, sudah membuat hatinya merasa sakit. Apa lagi sekarang, setelah mendengar Pelangi akan segera bertunangan. Dan tidak lama setelah itu pasti akan menikah, sungguh akan sangat menguras perasaan dan pikirannya.
"Aku serius Biyang, awalnya aku juga gak percaya. Kalau Mamii akan merencanakan pertunangan aku secepat itu, tapi yaa memang seperti itu kenyataannya. Mamii juga baru ngasih tau aku tadi, dan aku langsung ke sini. Aku pusing Bin.." ujar Pelangi yang kini menyandarkan kepalanya pada bahu Bintang.
Bintang yang mendengar itu hanya terdiam, Ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Karena Ia sedang berusaha keras untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri, Bintang tidak ingin Pelangi sampai tahu apa yang Ia rasakan dalam hatinya.
"Biyang..! Kok kamu diam aja sih..?! Kamu marah yaa..?!" tanya Pelangi yang kini menatap wajah Bintang.
"Mmmm,,aku gak marah kok, aku cuma kaget aja denger kamu mau tunangan.." sahut Bintang.
"Terus aku harus gimana dong, Biyang..?" tanya Pelangi yang merasa sangat pusing memikirkan perjodohannya itu.
"Gak gimana-gimana El, kamu turuti aja kemauan Mamii.. Kan kamu pengen ngebahagiain Mamii kamu, aku pasti dukung kok.." seru Bintang sambil tersenyum, meski sebenarnya Ia ingin sekali menangis saat itu juga.
"Kok kamu malah dukung sih Bin..?! Kamu udah gak sayang lagi yaa sama aku..?"
Setelah mendengar perkataan Bintang yang mendukung pertunangannya, Pelangi pun sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Karena Ia merasa dan berpikir, bahwa Bintang sudah tidak menyayanginya lagi.
"Kamu jangan salah paham El, aku sayang kok sama kamu. Sayang banget malah, karena itu aku harus mendukung kamu untuk jadi anak yang berbakti sama orang tuanya. Maaf kalau aku salah.." ujar Bintang.
Saat itu juga Pelangi pun langsung memeluk erat tubuh Bintang, di iringi dengan suara tangisannya yang semakin kencang. Ia merasa bersalah, karena telah berpikir bahwa Bintang tidak menyayanginya lagi. Dan Pelangi juga sangat sedih, karena Ia sadar telah menyakiti hati Bintang. Meski semua yang terjadi bukan karena keinginannya, namun Pelangi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam itu, menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Sekuat apapun mereka berusaha untuk terpejam, tidak kunjung membuat Bintang dan Pelangi tertidur. Hingga rasa lelah yang menerpa pikiran dan perasaan, akhirnya bisa membuat mereka tertidur...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59🌠