
Hari semakin berlalu, pertunangan Pelangi dan Reon pun telah semakin dekat. Hanya menunggu beberapa hari lagi, sampai hari bahagia itu tiba. Melati juga meminta Pelangi untuk tidak bekerja dalam waktu seminggu ini, namun Pelangi menolaknya. Karena Pelangi ingin memanfaatkan waktu yang ada, untuk bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Bintang.
"Kamu mau kemana, El..? Kenapa tidak sarapan dulu..?" tanya Melati saat melihat Pelangi yang pergi dengan tergesa-gesa.
"Biasalah Mii, mau ke toko. Aku sarapan di luar aja, daahh Mamii.." seru Pelangi seraya melambaikan tangannya.
Melati hanya menatap Pelangi sambil menggelengkan kepalanya, dan Ia juga merasa bahwa akhir-akhir ini Pelangi terlihat sedikit berbeda.
"Lagi ngapain Mii, kok bengong gitu..?!" tanya Awan yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Kamu ini Wan, buat Mamii jadi kaget saja..!" seru Melati sambil menepuk pundak Awan.
"Iyaa maaf Mii, Awan gak sengaja kok. Lagian Mamii bengong aja di depan pintu, memang lihatin apa sih, Mii..?" tanya Awan sambil melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan apa-apa.
"Tadi Mamii lihat Kakak kamu pergi terburu-buru, sampai tidak sarapan dulu.." ujar Melati yang kini berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan.
"Padahal Mamii sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah, urusan toko kan bisa di serahkan sama Bintang dan Bagas.." sambung Melati.
"Ohh gitu, biarin aja Mii, kalau Kakak di suruh di rumah aja pasti dia bosan.." sahut Awan yang tahu, bahwa Kakaknya itu pasti merasa sedih dan cemas dengan perjodohannya.
"Kamu ini Wan, selalu saja membela Kakak kamu itu. Padahal Mamii hanya ingin dia fokus dengan pertunangannya nanti.." ujar Melati.
"Mamii jangan terlalu mengekang Kak Pelangi dong, kan kasian. Yang penting Kak Pelangi udah setuju menerima perjodohan yang Mamii dan Tante Risma rencanakan.." sahut Awan seraya menghela nafasnya.
Melati yang tidak ingin berdebat dengan putra semata wayangnya itu pun, memilih untuk pergi. Sedangkan Awan hanya terdiam, menatap punggung Ibunya yang berjalan ke arah kamar.
"Jangan sampai aku juga nanti di jodohkan seperti Kak Pelangi, hiihh serem.." gumam Awan dalam hati, Ia lalu berjalan menuju meja makan untuk sarapan yang saat itu telah di siapkan oleh Bik Ira.
Sementara itu, di tempat yang lain. Pelangi dan Bintang terlihat sedang menikmati sarapannya di sebuah warung kecil yang terletak di pinggir jalan, berada tidak jauh dari toko.
__ADS_1
"Kamu kenapa masih ke toko sih, El..? Bukannya Mamii udah nyuruh kamu buat di rumah aja, sampai hari pertunangan kamu tiba.." tanya Bintang yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Kenapa harus bahas itu sih Biyang, bikin rusak suasana hati aja,mmmh.." gerutu Pelangi yang langsung menghentikan makannya.
"Iy-iyaa maaf El, yaa udah kamu habisin makanannya. Jangan gak di habisin, kan mubazir.." seru Bintang.
"Udah gak nafsu..!" balas Pelangi sambil memalingkan wajahnya.
"Gak baik lho buang-buang makanan gitu, di luar sana masih banyak banget orang yang kelaparan. Gak makan sampai berhari-hari, bahkan ada juga yang mencari makanan di tempat-tempat sampah. Kasian banget mereka, sedangkan kita masih bisa--"
"Udah cukup..! Jangan di terusin, udah seperti penceramah aja. Iyaa iyaa, aku habisin.." seru Pelangi yang terlihat manyun, sambil memaksakan diri untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapannya itu. Walaupun sebenarnya Ia sudah tidak memiliki selera untuk makan, di sebabkan oleh pertanyaan dari Bintang tadi.
"Mukanya gak boleh cemberut gitu kalau di depan makanan, senyum dong.." ucap Bintang.
"Dasar bawel tingkat kecamatan..!" gerutu Pelangi yang langsung memasang ekspresi wajah tersenyum tapi di paksakan.
"Nah gitu dong, kan cantik,hehee.. Yaa udah, sini aku suapin aja. Kamu makannya lama banget.." ucap Bintang sambil menyuapi Pelangi yang kini terlihat agak terkejut, karena tidak biasanya Bintang bersikap seperti itu di tempat umum atau di saat ada orang lain.
"Gak, aku gak sakit kok. Memang kenapa, El..?" Bintang balik bertanya sambil terus menyuapi Pelangi yang kini justru mendekatkan wajahnya di telinga Bintang.
"Karena gak biasanya kamu nyuapin aku makan, di saat ada orang lain di sekitar kita, Biyang.." bisik Pelangi sambil tersenyum.
"Hahh..?"
Bintang pun merasa terkejut dan melihat ke sekelilingnya, dan ternyata memang ada beberapa orang di sekitar mereka yang juga ikut makan di tempat itu.
"Yaa ampun,, aku lupa El. Kok kamu gak bilang dari tadi sih..! Semoga aja mereka gak berpikiran yang aneh-aneh.." ujar Bintang seraya mengusap wajahnya yang kini tertunduk malu.
"Gak apa-apa kok Biyang, aku malah seneng banget kalau kamu bisa seperti ini terus. Karena mungkin, nanti--"
__ADS_1
Ucapan Pelangi pun terhenti, sulit baginya untuk meneruskan perkataannya. Karena pada akhirnya, itu akan membuat hatinya merasa sedih. Bintang yang menyadari itu hanya menatapnya, tanpa berkata apa-apa. Suasana yang tiba-tiba hening seperti itu memang sudah sering terjadi, sejak saat Pelangi memutuskan untuk menerima perjodohan yang di atur oleh Ibunya.
"Yaa udah kalau gitu, kita ke toko sekarang yaa.." seru Bintang sambil tersenyum dan berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa di depan Pelangi.
Tidak lama kemudian, keduanya pun telah sampai di toko. Mereka melakukan kegiatannya seperti biasa, meski suasananya kini terasa berbeda. Pelangi terlihat lebih banyak diam dan termenung, sedangkan Bintang hanya fokus pada pekerjaannya. Namun sesekali, Ia diam-diam memperhatikan Pelangi yang sejak tadi tampak murung.
"Jangan melamun terus, nanti ke sambet setan baru tau,hee.." goda Bintang sambil tersenyum, membuat lamunan Pelangi terhenti.
"Aku gak melamun kok.." balas Pelangi dengan ketus.
"Iyaa gak melamun, cuma bengong kan..?" sahut Bintang yang kini duduk di samping Pelangi.
"Aku cuma mikirin kamu, mikirin hubungan kita nantinya gimana.." ujar Pelangi seraya menatap intens ke arah Bintang.
"Jangan terlalu di pikirkan El, nanti kamu jadi pusing sendiri. Kita jalani aja sebaik mungkin.." jelas Bintang dengan tenang, meski di dalam hatinya Ia pun merasa cemas dengan hubungan mereka ke depannya.
"Aku udah berusaha untuk tetap tenang dan gak mikirin semuanya, tapi tetap aja aku kepikiran. Aku takut kehilangan kamu, Biyang.." ucap Pelangi dengan mata yang berkaca-kaca, sekuat tenaga Ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Bintang yang mendengar itu hanya menghela nafasnya, Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Karena Ia sendiri pun merasakan hal yang sama, seperti yang Pelangi rasakan. Bintang yang tidak ingin Pelangi merasakan sedih, langsung memeluknya dengan erat.
"Aku gak mau kamu sedih, aku percaya semuanya akan baik-baik aja. Aku sayang kamu, El.." ucap Bintang sambil mengecup kening Pelangi dengan lembut, seperti sebuah sihir yang saat itu juga langsung menenangkan Pelangi.
"Aku juga sayang kamu Biyang, sayang banget..!" balas Pelangi yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, hingga akhirnya terjatuh membasahi pipi. Dalam waktu yang cukup lama, keduanya pun tenggelam dalam pelukan hangat. Seolah tidak ingin saling melepaskan, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar. Bintang pun segera melepaskan pelukannya pada Pelangi.
"Ada pembeli, aku ke depan dulu yaa.. Kamu jangan nangis lagi, jelek tau..!" seru Bintang seraya tersenyum, lalu kembali mengecup kening Pelangi dengan penuh kasih sayang.
Pelangi pun tersenyum, dan segera menghapus air matanya. Kesedihan yang tadi sempat Ia rasakan, kini hilang seketika. Namun Ia sadar, bahwa semua itu hanya sementara...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59🌠