
Acara pertunangan Pelangi dan Reon pun baru saja selesai dan semua berjalan dengan lancar, meski tamu undangan hanya keluarga besar dari kedua pihak. Namun acara terlihat cukup meriah, semua orang terlihat senang dan bergembira. Tapi lain halnya dengan Bintang yang kini memilih untuk menjauh dari keramaian, Ia sengaja memilih untuk duduk di taman yang saat itu memang terlihat sepi.
"Yaa ampun Biyang, ternyata kamu di sini. Aku cariin dari tadi kemana-mana,mmmh.." ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Pelangi, Ia kini ikut duduk di samping Bintang sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Bintang.
"Apa kamu capek..?" tanya Bintang seraya menoleh ke arah Pelangi yang masih bersandar padanya.
"Iyaa tadi memang capek karena gak ada kamu yang nemenin aku, tapi sekarang udah gak kok.." jawab Pelangi sambil tersenyum.
"Gombal aja nih cewek satu yaa..!" seru Bintang yang langsung mencubit hidung Pelangi dengan gemasnya.
"Kamu terlihat cantik banget malam ini, El.." puji Bintang yang melihat Pelangi mengenakan pakaian kebaya putih yang begitu indah.
"Jadi maksud kamu, malam-malam sebelumnya aku gak cantik gitu..?!" tanya Pelangi sambil berkacak pinggang.
"Yaa bukan gitu maksud aku, El.." sahut Bintang sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Terus maksud kamu sebelumnya aku jelek, gitu..?!" tanya Pelangi lagi yang sebenarnya Ia tahu maksud ucapan Bintang, namun Ia sengaja ingin membuat Bintang bingung dengan respon darinya yang seolah tidak mengerti.
"Mmmm,, kamu selalu cantik di mata aku, El.. Udah yaa, jangan salah paham lagi.." ucap Bintang sambil menghela nafasnya.
Pelangi pun segera tersenyum lebar saat mendengar perkataan Bintang, ingin rasanya Pelangi memeluknya. Namun keinginan itu Ia urungkan, karena sadar saat ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan itu.
"Pelangi..!" teriak seorang wanita paruh baya yang berjalan menuju ke arah mereka berdua, hingga membuat Pelangi terkejut dan segera bangkit dari tempat duduknya. Di susul dengan Bintang, yang kini juga telah berdiri di samping Pelangi.
"Mamii cari kemana-mana, kamu malah di sini sama Bintang. Ayo ikut Mamii, keluarga dari Reon ingin ngobrol sama kamu, El.." ujar Melati sambil memperhatikan raut wajah keduanya yang terlihat seperti ada sesuatu yang tidak biasa.
"Tapi Mii,mmmh.." Pelangi pun menatap ke arah Bintang, seolah tidak ingin pergi dari taman dan meninggalkan Bintang sendirian.
"Ayo Bintang, kamu juga ikut masuk ke dalam.." ajak Melati pada Bintang yang sejak tadi hanya terdiam.
__ADS_1
"Tante dan Pelangi masuk duluan aja yaa, nanti Bintang nyusul. Bintang mau lihat pemandangan di sini dulu, sekaligus lihat bintang-bintang di langit,hehee.." jelas Bintang sambil tersenyum pahit.
"Bintang kok lihat bintang, aneh nih si Biyang.. Cari alasan lain kek.." gumam Pelangi dalam hati sambil menarik nafasnya.
Meski Melati merasakan sesuatu yang aneh, tapi Ia segera membawa Pelangi pergi bersamanya. Sedangkan Bintang memilih untuk tetap duduk di tempat itu, sambil merasakan semua yang ada di hatinya saat itu. Semua rasa seperti campur aduk, meski rasanya sulit untuk menahan. Namun Bintang berusaha keras untuk tidak melepaskannya dengan air mata, perlahan Ia pun menarik nafas panjang lalu tersenyum se'orang diri.
"Jangan jatuh sekarang, ini bukan waktu dan tempat yang tepat.." ucap Bintang dalam hati yang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu di sini sendirian, Bintang..?!" tanya sese'orang tiba-tiba.
"Haah,, Ibu bikin aku kaget aja,mmmh..!" sahut Bintang yang langsung menoleh ke arah suara itu berasal.
"Apa kamu baik-baik saja, Bin..?" tanya Ibu lagi seraya menatap lekat pada wajah Bintang yang terlihat jelas ada kesedihan di sana.
"Kalau Bintang bilang baik, pasti Ibu gak percaya kan..?!" sahut Bintang seraya tertawa kecil.
"Iyaa Ibu hanya ingin memastikan, walaupun sebenarnya Ibu tau jawabannya. Lebih baik sekarang kita pulang, dan istirahat di rumah. Ibu tau, ada sesuatu yang ingin kamu lepaskan bukan..!" ujar Ibu sambil tersenyum dan mengelus kepala Bintang dengan penuh kasih sayang.
🌠
Keesokan harinya,
Bintang yang pagi itu belum juga terlihat keluar dari kamar, membuat Ibunya bertanya dan merasa curiga. Hingga Ia pun mencoba mengetuk pintu beberapa kali dan memanggil nama Bintang, namun tidak juga ada jawaban. Karena merasa takut terjadi sesuatu pada Bintang, Ibu pun segera berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil kunci cadangan.
"Bintang,, kamu kenapa, Nak..?!" tanya Ibu dengan raut wajah cemasnya, melihat Bintang yang berkeringat dingin saat itu dengan tangan yang gemetaran.
"Bintang gak apa-apa Bu, cuma demam aja. Sebentar lagi juga sembuh.." sahut Bintang dengan nada lirih, sambil memegang erat selimut yang Ia kenakan.
"Kita ke dokter yaa Bin, Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa.." seru Ibu sambil membantu Bintang untuk bangkit dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Gak usah Bu, Bintang gak mau di suntik.." balas Bintang.
"Yaa ampun anak ini, masih sempat-sempatnya mikir jarum suntik.." seru Ibu sambil menggelengkan kepalanya.
"Di suntik kan sakit Bu, Bintang mau tidur aja. Nanti juga sembuh kok.." sahut Bintang yang langsung menarik selimutnya ke atas, hingga menutupi kepalanya.
"Kamu ini Bintang memang keras kepala,mmmh.. Yaa sudah kamu istirahat dulu, Ibu mau buatkan bubur dan teh hangat untuk kamu.." ujar Ibu yang sudah tahu betul, kalau sakit putrinya itu pasti karena merasakan kesedihan.
Sementara itu di sisi yang lain, tampak Pelangi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Ia telah menghubungi Bintang berulang kali, namun tetap saja nomornya belum aktif. Membuat Pelangi yang mulai merasa kacau dan tidak tenang, memutuskan untuk menemui Bintang. Namun niat itu Pelangi urungkan, saat Ia kembali mengingat ucapan Ibunya Bintang tadi malam.
"Apa aku bisa gak ketemu dan melihat Bintang untuk beberapa hari..? Sedangkan aku pengen tau gimana keadaannya saat ini.." gumam Pelangi sembari mengusap air mata di sudut matanya yang hampir terjatuh.
"Kakak kenapa..?! Habis nangis yaa..?!" tanya Awan pada Pelangi yang terlihat terkejut dengan kedatangan Awan yang tiba-tiba.
"Enak aja, siapa juga yang nangis. Mamii mana, kok gak ada kelihatan..?" tanya Pelangi yang sengaja mengalihkan pembicaraan, karena Ia tidak ingin adiknya itu tahu dan banyak bertanya.
"Mamii lagi pergi sama Bik Ira, mungkin belanja bulanan.." jawab Awan.
"Ohh.."
"Cincin tunangan Kakak mana..? Kok gak di pakai sih, Kak..?!" tanya Awan yang tidak melihat ada cincin yang melingkar di jari manis Pelangi.
"Malas..! Ngapain juga di pakai, biar Mamii aja yang pakai, kan Mamii yang merencanakan,hee.." sahut Pelangi.
"Iyaa memang Mamii yang merencanakan, tapi kan Kakak yang menjalaninya. Gimana kalau di jual aja Kak, kan lumayan dapat uang banyak tuh,hahaa.." balas Awan sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Ihh,, parah banget kamu, Wan.. Tapi ide bagus juga sih,hehee.." ucap Pelangi yang ikut tertawa, meski dalam hati Ia merasa sedih. Karena Ia merasa, hari-hari yang akan di laluinya nanti akan semakin berat dan menguras perasaan.
Pelangi dan Awan pun kembali melanjutkan obrolan mereka, meski Awan tahu bahwa Kakaknya itu sedang memikirkan sesuatu. Begitu juga dengan Awan, yang memikirkan tentang sesuatu hal yang sejak tadi malam mengusik pikirannya...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59🌠