
"Habis dari mana kamu, Wan..?" tanya Pelangi, saat melihat adik laki-lakinya itu baru pulang dan berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Dari rumah Bintang.." jawab Awan dengan singkat tanpa menoleh ke arah Pelangi.
"Terus gimana..? Kok cepat, jam segini udah pulang..?" tanya Pelangi lagi, namun tidak mendapatkan jawaban dari Awan. Karena Ia telah masuk ke dalam kamar, tanpa mempedulikan pertanyaan Kakaknya.
"Kenapa adikmu, Kak.. Kok aneh begitu, tumben dia langsung masuk ke dalam kamar.." ucap Melati pada putrinya.
"Gak tau Mii, biarin ajalah. Besok juga Awan pasti cerita ke Pelangi.." sahut Pelangi seraya melanjutkan memakan cemilannya.
Sedangkan di dalam kamar, Awan yang sedang rebahan di atas tempat tidur terlihat memikirkan sesuatu hal. Ia pun menarik nafasnya, seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa aku jadi kepikiran dia terus yaa, padahal dia juga udah punya pacar dan aku juga punya gebetan,mmmh.." ucap Awan sambil menutup wajahnya dengan bantal yang ada di sampingnya.
"Aku harus bisa deketin dia..!" seru Awan sambil tersenyum tipis.
Esok paginya, saat selesai sarapan. Awan menghampiri Pelangi yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke toko, sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Kamu kenapa Wan, kok seperti cemas gitu..?" tanya Pelangi pada Awan.
"Gak apa-apa Kak, cuma pengen melihat situasi,hee.." jawab Awan sambil tersenyum.
"Situasi apaan coba, yaa udah deh Kakak mau pergi ke toko dulu.." seru Pelangi.
"Ehh, tunggu dulu Kak, sebentar. Ada yang mau aku omongin sama Kakak.." ucap Awan.
"Memang mau ngomongin apa sih..? Ayo buruan, nanti Kakak telat nih.." perintah Pelangi sambil melihat jam tangan yang Ia gunakan.
"Ini soal Bintang, Kak.. Bantuin Awan yaa Kak, biar bisa dekat sama Bintang.." ujar Awan yang berterus-terang pada Pelangi.
"Tapi kan dia udah punya pacar Wan, gimana Kakak mau bantuin coba. Itu sama aja, merusak hubungan orang tau. Kakak gak mau..!" seru Pelangi yang keberatan dengan permintaan adiknya.
"Ayolah Kak, coba aja dulu. Soalnya aku suka sama Bintang Kak, aku kepikiran dia terus. Bantuin Awan yaa, Kak.." pinta Awan dengan wajah yang memelas.
"Hmmm,, yaa udah deh iyaa Kakak bantuin, tapi kalau dia tetap gak mau dan nolak kamu. Jangan salahkan Kakak yaa, awas aja.." seru Pelangi.
"Iyaa Kak, gak kok. Yang penting Kakak udah berusaha untuk bantuin Awan dekat sama Bintang.." ujar Awan.
"Yaa udah kalau gitu, Kakak pergi dulu.." ucap Pelangi.
"Terimakasih yaa Kak, semangat kerjanya,hee.." seru Awan dengan tersenyum senang, Ia berharap Kakaknya bisa membantunya untuk bisa dekat dengan Bintang.
Di saat jam istirahat kerja, seperti biasa Pelangi mengajak Bintang untuk mengobrol dan bercerita. Sekaligus Ia ingin mencari tau, bagaimana penilaian se'orang Bintang pada adik laki-lakinya.
"Bin,, kamu beneran udah punya pacar..?" tanya Pelangi memulai pembicaraan.
"Iyaa, udah.." jawab Bintang singkat dan padat.
"Ohh, udah berapa lama pacaran..? Terus pacar kamu itu orangnya gimana, baik gak..?" tanya Pelangi lagi.
"Belum lama.. Orangnya baik, tulus, ramah, penyayang, perhatian, lembut, pengertian, sabar dan bisa terima aku apa adanya.." ujar Bintang, yang sebenarnya sedang menyebutkan kriteria orang yang Ia inginkan.
__ADS_1
"Giliran ngomong soal pacarnya aja, panjang lebar.." ucap Pelangi dengan lirih.
"Kamu ngomong apa..?" tanya Bintang yang sebenarnya bisa mendengar apa yang di katakan oleh Pelangi, hanya saja dia pura-pura tidak mendengarkannya.
"Gak ada apa-apa kok Bin, syukurlah kalau pacar kamu baik,hee.." sahut Pelangi.
"Terus kalau menurut kamu, Awan itu gimana, Bin..?" tanya Pelangi.
"Gak gimana-gimana.." jawab Bintang.
"Kok gak gimana-gimana sih, yang jelas dong.." ucap Pelangi yang merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Bintang padanya.
"Memang aku harus jawab apa..?" ucap Bintang yang balik bertanya.
"Yaa jawab kek, mungkin dia baik, ganteng atau keren gitu.." seru Pelangi.
"Biasa aja.." sahut Bintang.
"Kok bisa biasa aja, aneh.." sahut Pelangi yang merasa aneh dengan jawaban Bintang, karena selama ini sering kali wanita pasti memuji adik laki-lakinya itu tapi tidak demikian dengan Bintang.
"Yaa udah, aku mau lanjut kerja lagi. Masih banyak barang yang harus di beresin.." ujar Bintang sambil berjalan menuju ke gudang yang berada di belakang toko, meninggalkan Pelangi yang masih belum selesai berbicara tentang adiknya.
"Ishh,, anak itu memang yaa, aku kan belum selesai ngomong. Dia udah main pergi aja,mmmh.." gerutu Pelangi yang mau tidak mau membiarkan Bintang melanjutkan pekerjaannya.
~***********~
"Ayo Nak Pelangi, silahkan di makan. Tapi beginilah masakan Ibu, cuma sederhana.." ajak Ibu pada Pelangi saat makan malam.
"Bintang tidak ada bilang kalau Nak Pelangi mau datang ke rumah, kalau Ibu tau pasti Ibu masak banyak makanan.." ujar Ibu.
"Bintang juga mana tau Bu, kalau Pelangi mau datang. Orang main nongol aja juga.." sahut Bintang ketus, karena Ia tidak menyangka bahwa Pelangi akan datang secepat itu. Membuatnya tidak bisa menghindari, apa lagi bersembunyi.
"Iyaa Bu, gak apa-apa kok. Pelangi juga yang salah, karena datang gak ada ngomong dulu ke Bintang.." ucap Pelangi yang merasa tidak enak hati, kalau bukan atas permintaan Awan. Ia juga tidak ingin datang sesore itu, saat orang-orang baru selesai menunaikan ibadah sholat magrib.
"Ohh,, yaa sudah kalau begitu, kita makan dulu, nanti di lanjut lagi ngobrolnya.." ujar Ibu yang tidak ingin membuat suasana menjadi semakin canggung.
Setelah ketiganya selesai makan malam, Ibu pun mengajak Pelangi untuk mengobrol panjang lebar tentang bagaimana keadaan dan kehidupan keluarga Pelangi selama ini, dan tanpa merasa keberatan Pelangi dengan senang hati menceritakan semuanya.
Sedangkan Bintang hanya mendengarkan, sambil sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya Ia ingin masuk ke dalam kamar, namun Ibunya pasti akan marah. Karena terkesan tidak sopan, meninggalkan Pelangi bersama Ibunya.
"Oh iyaa Nak Pelangi, Ibu mau masuk ke dalam kamar dulu. Ngobrolnya lanjut sama Bintang saja yaa, Ibu mau istirahat sebentar.." ucap Ibu yang sejak tadi memperhatikan Pelangi yang berulang kali melirik ke arah Bintang.
"Iyaa Bu, gak apa-apa kok. Ibu istirahat aja dulu, pasti capek.." sahut Pelangi.
Melihat Ibu yang sudah masuk ke dalam kamar, Bintang pun segera berjalan menuju ke kamarnya. Di ikuti oleh Pelangi yang berjalan di belakangnya, namun tiba-tiba Ia menabrak punggung Bintang yang berhenti berjalan secara mendadak.
"Aduhh,, berhenti bukannya ngomong..!" seru Pelangi sambil mengusap keningnya.
"Yaa kamu ngapain ngikutin aku..?" tanya Bintang.
"Terus aku mau ngikutin siapa..? Di sini kan cuma ada kamu.." sahut Pelangi.
__ADS_1
"Kamu itu harusnya pulang.." ucap Bintang sambil menarik nafasnya.
"Tapi aku belum mau pulang, aku masih mau di sini. Ngobrol sama kamu.." ujar Pelangi sambil berjalan masuk ke kamar Bintang.
"Ehh,, nih anak main masuk kamar orang aja, gak sopan tau..!" seru Bintang pada Pelangi yang kini sudah berada di dalam kamarnya.
"Yang gak sopan itu, kalau kamu ngusir aku. Aku kan tamu, masa tamu di usir. Sungguh kejam.." ucap Pelangi sambil tersenyum sinis.
"Ngomong-ngomong, kamar kamu rapi juga yaa, banyak buku-buku lagi. Jadi kamu suka membaca buku, coba aku lihat.." ucap Pelangi seraya mengambil salah satu buku yang tersusun rapi di rak.
"Terserah kamu mau ngomong apa, sekarang kamu pulang gih sana.." seru Bintang sambil menarim tangan Pelangi dan membawanya keluar dari kamar.
"Ishh,, kamu ini kenapa sih, pelit banget jadi orang. Di bilang aku belum mau pulang juga, aku ngomong ke Ibu kamu nih.." ancam Pelangi yang berjalan ke arah kamar Ibu.
"Buuu,, Bintang ngu-"
Ucapan Pelangi pun terhenti, saat tangan Bintang segera menutupi mulutnya.
"Kamu apa-apaan sih, pakai ngadu sama Ibu aku segala. Lebih baik sekarang kamu pulang, lagi pula aku mau istirahat bukan mau ngobrol.." seru Bintang sambil masuk kembali ke dalam kamar, namun Pelangi segera mengikutinya.
"Aku juga mau istirahat.." balas Pelangi yang langsung berbaring di atas tempat tidur Bintang.
"Hadehhh,, nih orang yaa, ngeyel banget di kasi tau. Memang kamu ngobrol apa lagi sih..?" tanya Bintang.
"Yaa ngobrol apa aja, ngobrol tentang kamu, pacar kamu, teman-teman kamu atau semuanya.." ujar Pelangi.
"Aku gak mau ngobrol apa-apa, kamu aja yang cerita.." sahut Bintang yang mulai merasa pusing menghadapi Pelangi.
"Ohh iyaa Bin, kira-kira kamu kapan putus sama pacar kamu..?" tanya Pelangi.
"Pertanyaan apa itu..? Memang gak ada pertanyaan lain, dasar aneh. Sebenarnya tujuan kamu datang ke sini tuh apa sih..? Jujur sama aku..!" seru Bintang sambil menatap tajam ke arah Pelangi.
Pelangi yang mendapat tatapan tajam dari Bintang, akhirnya menceritakan semuanya tentang keinginan Awan yang ingin dekat dan juga menyukai Bintang.
"Jadi cuma karena itu,mmmh.." ucap Bintang.
"Gak juga sih, karena aku pengen punya teman ngobrol.. Maaf yaa Bin, aku memang salah kok. Aku gak akan ikut campur lagi soal urusan Awan yang suka sama kamu, biar jadi urusan dia sendiri aja.." ujar Pelangi yang merasa takut kalau sampai Bintang marah padanya.
"Yaa udah gak apa-apa.." balas Bintang.
"Kamu marah yaa sama aku..?" tanya Pelangi dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Aku gak marah, lebih baik sekarang kamu pulang. Besok juga harus kerja, kapan-kapan kan bisa ngobrol dan main ke rumah lagi.." ujar Bintang.
Dengan terpaksa, Pelangi pun menuruti kemauan Bintang. Lalu Ia pamit pulang pada Bintang dan Ibunya, sambil memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan pada Awan bahwa Ia tidak bisa membantunya lagi. Karena Pelangi tidak mau membuat Bintang marah padanya, lagi pula baginya masalah perasaan memang tidak bisa di paksa.
Dalam perjalanan pulang, Pelangi hanya bisa berharap adiknya nanti bisa mengerti bahwa tidak semua hal yang di inginkan bisa Ia dapatkan dengan mudah. Seperti yang selama ini Awan rasakan dan pikirkan, sekaligus akan menjadi sebuah pelajaran untuk kedepannya...
Bersambung...
🙏😊 A59
__ADS_1