Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Sesuai Rencana


__ADS_3

"Ada apa Pelangi..? Kenapa kamu kok menangis seperti ini..?" tanya Melati saat melihat Pelangi menangis tersedu-sedu.


"Itu Mii--"


"Itu apa, El..? Bicara yang jelas sama Mamii.." pinta Melati yang mulai merasa cemas melihat Pelangi.


"Tadi ada se'orang perempuan yang datang, terus bilang ke aku kalau Reon itu udah punya istri. Dia bernama Putri, Mii.." ucap Pelangi sambil mengusap air matanya.


"Ini tidak mungkin, pasti orang itu sengaja mau merusak acara pernikahan kamu dan Reon.." sahut Melati yang terlihat langsung berpikir dan bertanya-tanya mendengar apa yang di katakan oleh Pelangi.


"Tapi kita harus memastikan dulu Mii, apakah itu benar atau gak. Lebih baik kita tanya langsung ke Reon dan Tante Risma.." ujar Pelangi dan meminta sese'orang untuk membawa Reon dan Risma masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa Mell..? Kenapa menyuruh orang untuk membawa aku dan Reon kemari..?" tanya Risma sembari menatap ke arah Melati dan Pelangi.


Belum sempat menjawab pertanyaan dari Risma, tiba-tiba Awan dan Rena pun datang bersama dengan se'orang pria paruh baya yang tidak lain adalah Om Hilman.


"Apa ada sesuatu yang terjadi di sini..?" tanya Awan sambil melihat raut wajah Ibunya yang tegang.


"Pelangi bilang, tadi ada se'orang perempuan yang datang menemuinya. Dia bernama Putri dan mengaku sebagai istri dari Reon, apa kalian mengenalnya..?" tanya Melati seraya menatap tajam ke arah Reon dan Risma bergantian.


"Iyaa, aku sangat mengenalnya. Tapi dia cuma mantan pacar Reon, mereka sudah lama tidak pernah berhubungan dan komunikasi lagi. Benar kan Reon..?" seru Risma pada Reon.


"Iy-iyaa Maa"


"Tapi dia juga memberikan ini.." ucap Pelangi seraya menyerahkan sebuah amplop pada Ibunya.


"Dia bilang, kalau saat ini dia sedang mengandung anak dari kamu, Reon.. Tapi demi kebahagiaan kamu, dia akan pergi sejauh mungkin dari hidup kamu dan membiarkan kamu menikah sama aku.." ujar Pelangi.


Degg..


Mendengar itu, Risma dan Melati di buat sangat terkejut. Terutama Reon, Ia bahkan tidak tahu sama sekali mengenai kehamilan Putri. Lalu Ia pun merebut secarik kertas yang masih di pegang oleh Melati, lalu membacanya dengan tangan yang gemetar.


"Jadi selama ini Putri hamil.." ucap Reon lirih dengan rasa tidak percaya dan meneteskan air mata, namun kini Ia terlihat sangat bahagia.


"Ada apa ini, Reon..? Apa yang di katakan perempuan yang bernama Putri itu benar..?!" tanya Melati yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran dan kecemasannya.


"Maafin aku Tante, maafin Reon, Maa.. Semua yang di katakannya memang benar, dan aku gak bisa melanjutkan pernikahan ini.." ujar Reon.

__ADS_1


"Ka--kamu.."


"Maa.." seru Rena dan Reon bersamaan. "Mamaa kenapa..?!" seru Rena yang melihat tubuh Risma hampir saja terjatuh karena pingsan, namun segera di tangkap oleh Awan.


"Om,, Awan serahkan yang ini ke Om Hilman yaa.." bisik Awan pada Hilman yang memang di siapkan untuk menangani kalau terjadi sesuatu pada Risma dan juga Melati.


"Beres, Wan.." sahut Hilman sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Risma pun langsung di bawa ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Pelangi menghampiri Reon yang masih diam terpaku karena tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Kalau kamu memang benar-benar mencintai Putri, cepat cari dia. Sebelum dia pergi jauh, seperti yang dia katakan padaku.." ucap Pelangi.


"Terus gimana dengan pernikahan dan Mamaa..?" tanya Reon yang merasa bingung harus berbuat apa.


"Kakak pergi aja cari Kak Putri, urusan di sini biar nanti aku dan Kak Pelangi yang urus.." ujar Rena yang ikut menimpali.


Reon yang percaya pada adiknya, tanpa pikir panjang lagi segera bergegas pergi untuk mencari keberadaan Putri. Ia tidak ingin sampai kehilangan Putri, terlebih saat Ia tahu bahwa kini Putri tengah mengandung darah dagingnya.


🌠


"Bagaimana dengan acara pernikahannya, El..? Padahal sebentar lagi harus di mulai, apa mungkin harus di batalkan..?" tanya Melati yang kini terlihat sangat bingung, sambil berjalan mondar-mandir.


"Bagaimana mungkin bisa berlangsung, kalau pengantin prianya saja tidak ada. Reon pasti sudah pergi untuk mencari perempuan itu, kenapa semua jadi seperti ini yaa Tuhan..?!" ujar Melati memegangi kepalanya yang kini terasa sangat pusing, lalu memilih untuk duduk di sofa.


"Aku yang akan jadi pengantin prianya, Mii.." seru Awan sambil tersenyum.


"Jangan konyol kamu, Wan.. Mana mungkin kamu menikahi Kakak kandung kamu sendiri..!" ucap Melati dengan nada tinggi, karena merasa kesal dengan ucapan Awan yang tidak masuk akal.


"Siapa bilang aku akan menikahi Kak Pelangi, aku udah punya calon yang tepat, Mii.." sahut Awan sambil menarik tangan Rena dan berdiri di sampingnya.


"Jadi yang kamu maksud itu Rena..?" Melati pun kini baru mengerti maksud dari ucapan putranya itu.


"Iyaa Mii, apa Mamii keberatan..?" tanya Awan pada Ibunya.


"Sama sekali tidak, Awan.. Mamii merestui kalian berdua.." ucap Melati sambil berdiri dan memeluk Awan dan juga Rena.


"Tapi kita harus menunggu Tante Risma sadar dulu Mii, dan kita juga butuh Reon untuk menjadi wali bagi Rena.." ujar Pelangi.

__ADS_1


"Kakak benar, kalau gitu sekarang kita persiapkan semua. Karena waktu kita sekarang gak banyak.." seru Awan yang membuat semua orang kini mulai sibuk, dengan apa yang harus mereka lakukan. Begitu juga Pelangi dan Rena, yang terus berusaha untuk menghubungi Reon agar segera kembali.


🌠


🌠


Sementara itu di tempat yang lain, tepatnya di rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Putri dan Bunga kini sudah terlihat sepi. Reon yang sejak tadi mengetuk pintu dan memanggil nama istrinya, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Hingga Reon mencoba mendobrak pintu, tapi usahanya sia-sia membuatnya sangat frustasi.


"Kemana kamu Putri..?! Kenapa kamu pergi ninggalin aku..? Semua memang salahku, maafin aku, Putri..!" ucap Reon seraya menangis terisak-isak, lalu melayangkan tinjunya pada dinding berulang kali. Hingga membuat tangannya terluka dan Ia pun jatuh terkulai lemas, merasakan kehilangan sese'orang yang selama ini sangat di cintainya tapi telah Ia buat kecewa.


"Aku harus mencari Putri dan Bunga kemana..?" gumam Reon yang kini merasa sangat bersalah, karena kepergian Putri di sebabkan oleh dirinya yang tidak pernah berani untuk mengakui hubungannya dengan Putri.


Saat Reon tengah sibuk dengan rasa penyesalannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki sese'orang berjalan mendekatinya. Membuat Reon pun terkejut dan segera berdiri, berharap bahwa itu adalah Putri.


"Putri..!" seru Reon yang langsung memeluk erat tubuhnya. "Maafin Mas yaa, tolong jangan pergi. Mas janji akan cerita semuanya ke Mamaa dan membawa kamu serta Bunga untuk tinggal bersama di rumah, bukan di sini lagi.." ujar Reon dengan penuh semangat dan bahagia, karena Putri tidak pergi meninggalkannya.


"Kamu dari mana..? Dan dimana Bunga..? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu lagi hamil, Putri..?" tanya Reon sambil mengusap air matanya.


"Bunga aku titipkan di rumah teman aku, Mas.. Karena aku pikir, Bunga gak seharusnya melihat kamu dalam keadaan seperti ini.." terang Putri.


"Apa kamu mau maafin Mas..? Mas benar-benar minta maaf dan menyesal karena udah sering menyakiti hati kamu, tolong maafin Mas, Putri.." ucap Reon seraya berlutut sambil menggenggam tangan Putri.


"Jangan seperti ini Mas, gak enak kalau ada orang yang lihat. Lebih baik kita masuk ke dalam, dan obati tangan Mas yang terluka itu.." sahut Putri sambil membuka pintu yang sebelumnya Ia kunci.


"Kenapa kamu gak mau jawab pertanyaan Mas..? Mas tau, pasti kamu masih marah dan kecewa.." ucap Reon.


"Ini bukan saat yang tepat untuk membahas tentang itu Mas, kita harus ke rumah Pelangi secepatnya.." seru Putri sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Buat apa ke sana..? Mas gak akan menikah dengan Pelangi, Putri.." balas Reon.


"Iyaa aku tau, tapi Rena yang akan menikah dan Mas harus berada di sana untuk menjadi wali-nya.." jelas Putri pada Reon.


"Hahh..? Maksudnya Rena akan menikah..?! Tapi gimana--"


"Udah ayo Mas, jangan banyak tanya..! Semua orang pasti lagi nungguin kamu sekarang.." Putri pun langsung menarik tangan Reon untuk segera mengikutinya.


Reon yang sengaja mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini akhirnya telah tiba di kediaman Pelangi. Semua orang yang melihat kedatangannya pun merasa senang dan bisa bernafas lega, di sertai dengan Awan dan Rena yang juga telah siap untuk melakukan prosesi ijab qabul untuk mengikat hubungan mereka meski dalam situasi yang terdesak...

__ADS_1


Bersambung...


🙏😊 A59🌠


__ADS_2