Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Bukan Di Rencana


__ADS_3

Sore itu Pelangi memutuskan untuk pergi ke rumah Bintang, Ia ingin meminta bantuan Bintang dalam menyelesaikan masalah adiknya, Awan. Meski sebenarnya Pelangi masih merasa kesal, dan tidak ingin bertemu dengan Bintang. Tapi karena adiknya, Ia pun terpaksa pergi menemui Bintang.


"Bintang masih belum pulang memancing, jadi kamu tunggu saja yaa, Pelangi.." ujar Ibu pada Pelangi yang kini telah berada di rumah Bintang.


"Udah sore gini, kok masih belum pulang juga yaa, Bu.. Memang dari jam berapa Bintang pergi mancingnya..?" tanya Pelangi yang tidak ingin menunggu lama.


"Bintang pergi dari pagi, mungkin keasyikan memancing jadi lupa waktu. Padahal Ibu juga sudah pesan, agar jangan pulang kesorean.." jelas Ibu.


"Yaa udah kalau gitu Bu, Pelangi pulang dulu aja. Mungkin nanti malam, Pelangi datang lagi ke sini.." ujar Pelangi sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


Namun tidak lama kemudian, Bintang yang baru saja pulang dan hendak masuk ke dalam rumah menabrak Pelangi yang ingin keluar.


"Auuw,, hati-hati dong..!" seru Pelangi yang hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada gagang pintu.


"Yaa kamu gak lihat-lihat dulu sih.." balas Bintang yang tidak mau di salahkan.


"Sudah-sudah, kamu buruan masuk terus mandi, Bin.. Sudah sore begini baru pulang, Pelangi menunggu kamu dari tadi.." ujar Ibu pada Bintang.


Bintang pun segera masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan Pelangi. Lalu mengambil handuk, dan bergegas untuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.


"Pelangi mau pulang aja yaa, Bu.. Udah mau sore dan sebentar lagi juga magrib.." ucap Pelangi.


"Apa tidak sebaiknya nanti saja pulangnya, setelah magrib. Katanya tadi ada hal penting yang mau di bicarakan sama Bintang, sekalian kita makan malam bersama.." ujar Ibu sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Ibu dan setelah Ia pikir-pikir, akhirnya Pelangi pun mengurungkan niatnya untuk pulang. Karena Ia ingat pada tujuan awal dan alasannya untuk menemui Bintang, akan tidak menyenangkan jika harus pulang tanpa hasil.


"Yaa udah Bu, kalau gitu aku pulang nanti aja.." balas Pelangi dengan senyuman.


Keduanya pun kini kembali duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, sesekali Pelangi bercerita tentang bagaimana keadaan Ibu dan adiknya.


"Ibu mau ke dapur dulu yaa Pelangi, mau siapkan makan malam. Kamu ngobrol saja dengan Bintang di kamarnya.." ucap Ibu.


"Aku bantuin yaa Bu, ngobrol sama Bintang nanti aja kalau udah selesai makan.." sahut Pelangi.


"Ohh, yaa sudah kalau begitu, ayo ikut Ibu ke dapur.." ajak Ibu pada Pelangi yang berjalan mengikuti dari belakang.


Sementara itu, Bintang yang merasa kelelahan karena memancing. Kini terlihat masih berbaring di atas tempat tidurnya, sambil sibuk memainkan ponselnya. Ia bercerita pada teman-temannya tentang hasil memancingnya hari ini, yang mendapatkan ikan lumayan banyak.


Ceklek..


Pintu kamar pun terbuka, dan terlihat Pelangi yang masuk dan menghampiri Bintang yang sedang asyik dengan ponselnya.


"Ayo makan Bin, Ibu udah nungguin tuh.." seru Pelangi dengan acuh.


"Yaa udah ayo.." balas Bintang yang segera mengikuti langkah Pelangi.


"Tumben Pelangi yang nyuruh buat makan, biasanya kan Ibu.." gumam Bintang dalam hati.


Bintang dan Pelangi yang telah berada di meja makan, kini menyantap makanannya masing-masing. Suasananya yang terlihat kaku, membuat Ibu bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi pada Bintang dan Pelangi. Karena tidak biasanya, mereka berdua bersikap seperti itu.


"Ayo tambah lagi Pelangi, makan yang banyak yaa.." seru Ibu yang mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Gak Bu, terimakasih. Pelangi udah kenyang.." sahut Pelangi.


"Kamu Bin, tidak tambah..? Ini kan makanan kesukaan kamu.." ucap Ibu sambil menatap Bintang yang sejak tadi juga hanya diam saja.


"Iyaa Bu, ini mau nambah kok.." sahut Bintang sambil mengambil sedikit nasi dan lauk sayur kesukaannya.


Selesai makan malam, Pelangi membantu Ibu membereskan meja makan dan juga membersihkan piring kotor. Meskipun Ibu telah melarang dan meminta Pelangi untuk duduk saja, tetapi Ia bersikeras ingin membantu.


"Sekarang sudah selesai semua, Pelangi ngobrol dulu dengan Bintang yaa.. Ibu mau istirahat dulu di kamar.." ujar Ibu pada Pelangi.


"Iyaa Bu, Pelangi ke kamar Bintang dulu yaa.." seru Pelangi sambil berjalan menuju kamar Bintang.


Pelangi yang kini sudah berada di kamar Bintang, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Bintang yang menunggu Pelangi untuk segera berbicara pun, akhirnya memilih untuk bertanya lebih dulu tentang apa tujuan Pelangi datang ke rumahnya.


"Kamu itu kenapa sih..? Dari tadi diam aja, ngomong aja kalau ada yang mau di omongin.." ucap Bintang.


"Iyaa Bin, aku ke sini karena mau minta tolong sesuatu. Ini tentang Awan, lebih tepatnya tentang perempuan yang sekarang lagi dekat sama dia.." ujar Pelangi.


"Oh gitu, yaa udah kamu bilang aja, mau minta tolong apa..?" tanya Bintang.


Pelangi pun menceritakan semuanya, dan tanpa berpikir panjang Bintang segera mendapatkan cara untuk menyelesaikan masalah Awan.


"Menurut kamu gimana, mudah kan caranya..?" tanya Bintang saat selesai memberitahu pada Pelangi tentang ide yang Ia pikirkan.


"Iyaa mudah, tapi apa itu udah cukup untuk melihat keseriusan perempuan itu..?" tanya Pelangi.


"Coba aja dulu, kalau memang belum cukup nanti bisa di tambahin. Yang penting lakukan semua cara itu dengan senatural mungkin, jangan terlihat seperti di sengaja.." jelas Bintang pada Pelangi yang hanya menganggukkan kepalanya.


"Iyaa El, syukurlah kalau kamu udah ngerti. Apa ada yang lain lagi..?" tanya Bintang.


"Gak ada Bin, cuma itu aja. Apa kamu mau ngusir aku..?" tanya Pelangi dengan raut wajah yang mulai terlihat kesal.


"Yaa gaklah, aku kan cuma tanya. Aku pikir masih ada hal yang lain, yang mau kamu omongin gitu.." jelas Bintang sambil menarik nafasnya.


"Kok jadi sensitif banget sih nih anak.." gumam Bintang dalam hati.


"Ohh, yaa udah kalau gitu aku mau pulang aja, sebelum di usir sama kamu.." seru Pelangi yang kini bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu kamar.


"Tunggu El..! Sebenarnya kamu kenapa sih..?" tanya Bintang sambil menarik tangan Pelangi hingga jatuh ke pelukannya.


Untuk sesaat mereka pun terdiam dan saling bertatapan, namun Pelangi segera tersadar dan berusaha melepaskan tangan Bintang yang masih memegang erat tangannya.


"Kenapa apanya..? Aku gak kenapa-kenapa kok, sekarang lepasin tangan aku.." sahut Pelangi.


"Kenapa sikap kamu seperti ini..? Kamu masih marah sama aku karena masalah waktu itu..?" tanya Bintang lagi.


"Masalah yang mana yaa, aku lupa. Aku juga gak marah kok..!" sahut Pelangi.


"Jangan bohong sama aku, sebenarnya kamu kenapa..?" Bintang yang masih belum puas dengan jawaban Pelangi terus saja bertanya.


"Kamu tanya aku kenapa..? Terus aku harus tanya siapa..? Aku juga gak tau aku kenapa, Bin.. Yang aku tau, aku ngerasa nyaman kalau dekat kamu. Aku mau kamu lihat aku, lihat perasaan aku. Entahlah, aku ngomong apa ini.." ujar Pelangi pada Bintang yang kini perlahan melepaskan pegangannya pada tangan Pelangi.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kamu---" ucapan Bintang terhenti, Ia tidak tau harus berpikir apa tentang apa yang baru saja Ia dengar dari mulut Pelangi.


"Kalau aku apa, Bin..? Kalau aku suka, sayang atau jatuh cinta sama kamu..? Aku sendiri bahkan gak tau pasti, apa yang sebenarnya aku rasain ke kamu.." ucap Pelangi.


"Kamu gak boleh punya perasaan itu ke aku, El.." seru Bintang.


Degg..


Entah kenapa, Pelangi merasakan sakit dan sesak saat mendengar ucapan Bintang itu. Ia merasa seolah-olah telah kalah sebelum berperang, seolah telah di tolak sebelum mengungkapkan.


"Aku gak nyangka, kamu akan ngomong seperti itu, Bin.. Apa kamu pikir, perasaan itu bisa di rencana atau aku sengaja membuatnya ada..?!" tanya Pelangi dengan air mata yang kini sudah menetes membasahi kedua pipinya.


"Ak-aku gak bermaksud seperti itu, El.. Ak-aku cuma---" belum selesai Bintang berbicara, Pelangi telah menghentikan ucapannya.


"Cukup Bin, anggap aja aku gak pernah ngomong apa-apa.." seru Pelangi sambil berlalu pergi dan menghapus air matanya, meninggalkan Bintang yang masih diam terpaku.


"Tunggu, El..!" teriak Bintang seraya mengejar Pelangi yang ternyata telah masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.


Bintang pun kembali masuk ke dalam rumah dengan raut wajah bersalah, lalu menutup pintu dan duduk di kursi ruang tamu. Berharap Pelangi mungkin akan kembali, dan mau mendengar penjelasannya.


"Kamu kenapa Bin, kok duduk di ruang tamu sendiri..? Pelangi mana..?" tanya Ibu yang tiba-tiba datang menghampiri Bintang.


"Pelangi udah pulang, Bu.." jawab Bintang dengan wajah lesu.


"Pelangi sudah pulang..? Kok tumben tidak pamit sama Ibu..? Apa kalian berantem, Bin..?" tanya Ibu yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi antara Bintang dan Pelangi.


"Gak kok Bu, cuma salah paham aja.." balas Bintang.


"Salah paham tentang apa..?" tanya Ibu lagi.


"Tentang,mmm.. Gak ada apa-apa kok, Bu.." jawab Bintang.


"Kamu tidak menaruh perasaan dengan Pelangi kan, Bin..? Ibu tidak mau kamu merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya, lagi pula Pelangi itu bukan seperti kamu dan jangan pernah mencoba merubahnya seperti kamu. Ibu tidak mau itu terjadi, karena Pelangi punya kehidupan dan masa depannya sendiri.."


Ujar Ibu pada Bintang yang hanya bisa menghela nafasnya dengan dalam, saat mendengar perkataan Ibunya itu yang menurutnya memang benar.


"Iyaa Bu, Bintang sangat tau dan mengerti itu. Bintang juga gak punya perasaan dan berharap apa-apa sama Pelangi. Ibu tenang aja yaa.." ucap Bintang sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau memang begitu, sekarang kamu masuk kamar terus istirahat. Jangan begadang yaa, cepat tidurnya.." perintah Ibu pada Bintang.


"Iyaa Bu, Bintang masuk ke kamar dulu.." ucap Bintang sambil berjalan menuju ke kamar, begitu juga dengan Ibu yang juga kembali ke kamarnya.


Tanpa Bintang dan Ibunya sadari, sejak tadi ada sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka yang kini masih berada di luar dekat jendela. Sese'orang yang kini tengah menghapus air matanya, lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Bintang dengan hati yang kecewa...


Sementara itu, Bintang yang telah berada di kamarnya segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun Ia merasakan ada sesuatu benda yang mengganjal di bawah tubuhnya, lalu Ia segera bangun dan melihat benda apa yang ada di dekat selimutnya.


"Ini kan handphonenya Pelangi, pasti dia lupa.." gumam Bintang dalam hati, seraya menyimpan ponsel milik Pelangi ke dalam laci. Lalu Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sembari memikirkan tentang Pelangi yang kini mulai mengusik pikirannya...


Bersambung...


🙏😊 A59🌠

__ADS_1


__ADS_2