
"Gimana acara pertunangannya Mas, lancar kan..?!" tanya Putri dengan nada menyindir, karena Ia tahu kemarin malam adalah acara pertunangan Reon. Putri pun sebenarnya menyaksikannya dari jauh, karena Ia ingin tahu siapa wanita yang begitu ingin di jadikan menantu oleh Ibu mertuanya itu.
"Kamu gak perlu tau itu, dan jangan tanya apapun tentang itu, Putri.. Aku capek, gak mau berantem sama kamu.." jawab Reon dengan kesal, karena tidak ingin membahas masalah pertunangannya. Ia pun segera merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil menarik nafasnya dengan berat.
Putri pun beranjak pergi dan membiarkan Reon untuk istirahat, Ia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Karena sekuat apapun Putri mencoba bersabar dan menahan rasa kecewanya, namun tetap saja pada akhirnya Ia akan terbawa oleh emosi juga.
"Kamu mau kemana, Putri..? Temenin Mas di sini, dari kemarin Mas kangen sama kamu.." ucap Reon seraya bangkit dan menarik tangan Putri.
"Aku mau ke dapur dulu Mas, buatin kopi untuk kamu. Mas istirahat aja dulu.." sahut Putri yang sebenarnya ingin menghindar dari Reon. Setelah tiba di dapur, Putri pun sengaja berlama-lama membuatkan kopi untuk Reon di dapur. Ia berharap, Reon akan segera ketiduran di sofa.
"Kok kamu lama banget buat kopi-nya..?" tanya Reon yang tiba-tiba datang dari belakang, lalu memeluk Putri dengan penuh kerinduan.
"Haah,, ini Mas.. Tadi aku cari kopi dulu, karena lupa di simpan dimana.." balas Putri sembari melepaskan pelukan Reon padanya, dan berjalan menuju ruang tamu.
"Mas minum dulu aja kopinya sambil istirahat, aku mau ke kamar dulu.." ucap Putri, setelah meletakkan kopi buatannya di atas meja.
"Kamu gak mau nemenin, Mas..? Apa kamu gak kangen sama Mas, Putri..?" tanya Reon dengan wajah sendu, membuat Putri pun menghentikan langkahnya.
"Maaf yaa Mas, tapi aku udah ngantuk. Mau tidur dulu.." jawab Putri sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar, namun sontak Ia terkejut. Saat Reon menarik tangannya dengan kasar, hingga membuat tubuhnya kini berada di dalam dekapan Reon.
"Mau sampai kapan kamu menghindar dan bersikap seperti ini terus..?!" tanya Reon dengan nada tinggi.
"Kamu pikir semua yang terjadi atas keinginan aku..?! Rencana aku..?! Bukan Putri, tapi karena keinginan dan rencana Mamaa..!" ucap Reon dengan keras, sambil mencengkeram kuat bahu Putri. Membuat Putri meringis, merasakan sakit pada bahunya.
"Semua memang keinginan dan rencana Mamaa, tapi kamu menyetujui dan mau menjalani semua itu, Mas..!" ucap Putri seraya menatap tajam ke wajah Reon, laki-laki yang beberapa tahun lalu pernah berjanji padanya. Yang akan membahagiakan dan tidak akan membuatnya kecewa, tapi kini yang terjadi justru sebaliknya.
__ADS_1
"Tapi kamu tau jelas, apa alasan aku menyetujui perjodohan itu, Putri.. Kenapa kamu gak bisa ngertiin itu semua..?!" balas Reon yang tidak mau terus-menerus di salahkan oleh Putri.
"Omong kosong dengan alasan itu, Mas.. Kalau aku gak ngertiin, gak mungkin sekarang kamu jadi tunangan perempuan lain, Mas..!" sahut Putri.
"Kamuu..!"
Reon pun menghentikan ucapannya, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Di lihatnya air mata yang mulai berjatuhan di wajah Putri, membuatnya merasa bersalah karena wanita yang Ia cintai harus menangis lagi di sebabkan oleh dirinya.
"Kalau nanti kopinya udah habis, Mas langsung pulang aja yaa.." ucap Putri sambil berlalu pergi, dan menghapus air matanya yang saat itu masih menetes. Sedangkan Reon hanya bisa menatapnya dengan perasaan bersalah, membuatnya jadi semakin frustasi menghadapi semua yang terjadi.
🌠
🌠
"Kamu apaan sih Ren, pakai begitu segala. Udah seperti topeng monyet aja, ngagetin tau..!" seru Reon sambil menghela nafasnya.
"Ini masker wajah Kakak..! Enak aja topeng monyet..!" balas Rena yang langsung memukul pundak Reon, karena Ia tidak terima di bilang seperti topeng monyet oleh Kakaknya.
"Terserah kamu aja Ren, yaa udah tidur sana. Kakak mau ke kamar dulu.." sahut Reon yang tidak ingin berdebat dengan adiknya itu.
"Ehh,, tunggu dulu Kak, memang Kakak habis dari mana sih..? Jam segini baru pulang, kalau Mamaa tau pasti langsung di interogasi.." ucap Rena.
"Berisik banget nih anak, kamu sendiri kenapa belum tidur..?!" tanya Reon yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku tadi udah tidur Kak, terus kebangun. Ini habis dari dapur ambil air minum, Kakak pasti habis nemuin Kak Putri kan..?!"
__ADS_1
Degg..
Apa yang di pikirkan Reon pun terjadi, pasti adiknya itu akan bertanya lagi tentang Putri. Sedangkan Ia tidak ingin membahasnya, karena pada akhirnya akan membuat dirinya dan Rena kembali bertengkar seperti saat terakhir kali mereka membahas masalah itu.
"Kakak capek dan ngantuk banget, mau tidur..!" seru Reon sambil bergegas masuk ke dalam kamar, meninggalkan Rena yang saat ini terdengar berbicara se'orang diri.
Reon yang sudah berada di kamar, kini segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Di lihatnya ponsel yang tergeletak di sampingnya, namun tidak lama Ia letakkan kembali.
"Maafin aku, Putri.. Udah buat kamu kecewa dan menjatuhkan air mata.." ucap Reon dalam hati, seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Lalu kembali mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Putri, namun niat itu Ia urungkan. Karena berpikir bahwa Putri mungkin saja sudah tidur, dan tidak ingin mengganggunya.
Sementara di sisi lain, se'orang wanita terlihat tengah menangis sambil memegang secarik kertas putih. Ia lalu mendekap se'orang anak yang berada di sampingnya, hingga tanpa Ia sadari air matanya telah terjatuh mengenai pipi anak kecil itu.
"Mamaa.." ucap anak kecil itu dengan lirih, lalu mengusap sesuatu yang terasa basah di pipinya. Ia pun berusaha untuk membuka mata, dan melihat wajah Ibunya saat itu.
"Iyaa sayang.." sahut wanita itu yang tidak lain adalah Putri, Ia pun segera menghapus air matanya dan menyembunyikan kertas putih hasil pemeriksaan dari dokter ke belakang punggungnya.
"Mamaa kenapa nangis..? Mamaa pasti kangen sama Papaa Reon yaa..? Bunga juga kangen sama Papaa, tadi Bunga mimpi Papaa datang terus cium pipi Bunga, Maa.." ujar Bunga dengan begitu polos, karena memang sebenarnya itu bukan mimpi. Karena saat tadi Reon datang, Ia sempat mengelus dan mencium pipi Bunga yang sedang tertidur.
"Iyaa sayang, Mamaa kangen sama Papaa.. Tapi Mamaa gak nangis kok, sekarang Bunga tidur lagi yaa.. Biar nanti Bunga bisa mimpiin Papaa lagi, sayang.." ucap Putri sambil tersenyum dan memeluk erat tubuh Putri kecilnya itu.
"Maafin Mamaa yaa sayang, karena belum bisa membuat Papaa memberikan waktu dan kasih sayangnya lebih banyak buat kamu.." gumam Putri dalam hati, seraya menahan air matanya yang sangat ingin terjatuh lagi. Merasakan sesak menjalani hubungan pernikahan siri bersama Reon, yang entah sampai kapan harus di sembunyikan...
Bersambung...
🙏😊 A59🌠
__ADS_1