Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Berubah Pikiran


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini keadaaan Melati semakin membaik, Ia mulai bisa menerima keputusan Pelangi yang menolak perjodohan yang Ia rencanakan dan tidak lagi memikirkan tentang bagaimana perubahan sikap Risma terhadapnya. Hal ini di karenakan Ia telah menyadari, bahwa apa yang pernah di katakan Pelangi padanya semua itu memang benar.


"Mamii lagi lihatin apa sih..?" tanya Pelangi tiba-tiba, membuat Melati sedikit terkejut dan menghentikan lamunannya.


"Mamii cuma lihat pemandangan di luar El, rasanya sudah lama sekali Mamii tidak melihat bunga-bunga dan tanaman di halaman depan.." ucap Melati sambil terus menatap ke arah luar dari balik jendela kamarnya.


"Nanti kalau Mamii udah benar-benar sembuh, Pelangi ajak jalan-jalan ke halaman depan yaa, Mii.. Sekarang ada yang mau ketemu sama Mamii.." ujar Pelangi.


"Ada yang mau ketemu sama Mamii, siapa El..?" tanya Melati yang merasa penasaran.


"Tante Risma, Mii.. Tante sekarang lagi duduk di ruang tamu sama Awan. Tadi Pelangi udah ajak Tante untuk langsung masuk aja ke kamar Mamii, tapi Tante bilang takut ganggu Mamii yang mungkin lagi tidur.." jawab Pelangi.


"Yaa sudah kalau begitu, minta Tante Risma untuk segera masuk ke kamar Mamii saja yaa.." ucap Melati.


"Iyaa Mii, kalau gitu Pelangi keluar dulu yaa.." sahut Pelangi yang segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ibunya.


Tidak lama setelah itu, Risma pun terlihat masuk ke dalam kamar Melati. Ia segera menyapa dan memeluk teman baiknya itu, yang belakangan ini sempat membuatnya kecewa. Namun saat ini, keduanya terlihat begitu dekat kembali sama seperti waktu dulu.


"Maafin aku yaa Mel, tidak seharusnya waktu itu aku bersikap seperti itu sama kamu.." seru Risma dengan perasaan bersalah, mengingat waktu itu Ia pergi meninggalkan Melati begitu saja karena perasaan marah dan kecewa yang Ia rasakan.


"Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Ris.. Karena aku sudah membuat kamu kecewa, dengan membatalkan perjodohan anak-anak kita.." ujar Melati.


Kini keduanya terlihat saling berpelukan dan saling memaafkan satu sama lain, lalu berbincang-bincang tentang banyak hal. Namun tidak tentang perjodohan Pelangi dan Reon, meski sebenarnya Risma ingin kembali membahas tentang masalah itu. Tapi melihat keadaan Melati saat ini, Ia pun mengurungkan niatnya itu.


Sementara di ruang tengah, ada Pelangi dan Awan yang sejak tadi mengobrol. Namun Awan menyadari sesuatu, bahwa sejak tadi Kakaknya itu tidak fokus mendengarkan setiap apa yang Awan katakan.


"Kakak mikirin apa sih..? Dari tadi aku ajak ngomong, tapi seperti gak nyambung gitu.." tanya Awan pada Pelangi.


"Gak mikirin apa-apa kok, memang kamu ngomong apa, Wan..?" ucap Pelangi yang balik bertanya.


"Udahlah Kak, jangan bohong. Kakak pasti kepikiran sama omongan Tante Risma tadi kan..?" tanya Awan lagi.


"Jadi tadi kamu nguping obrolan Kakak sama Tante Risma..? Dasar nih anak..!" seru Pelangi sambil memukul pundak Awan.


"Aku gak nguping kok Kak, cuma dengerin aja. Kan aku punya telinga.." sahut Awan yang berusaha mengelak pukulan dari Kakaknya.


"Itu sama aja Awan Hermawan..!" balas Pelangi sambil menghela nafasnya dengan berat, lalu melangkah pergi meninggalkan Awan.


"Kok malah pergi sih, cerita dulu donk Kak.." seru Awan yang mengikuti langkah Pelangi dari belakang, namun seketika langkahnya terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Pelangi.

__ADS_1


Kini Pelangi telah berada di dalam kamar, Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Masih teringat jelas apa yang di katakan oleh Tante Risma padanya, agar Pelangi mau menerima perjodohan itu demi untuk kebahagiaan Ibunya. Apa lagi karena masalah itu, sampai membuat Ibunya kepikiran dan jatuh sakit. Pelangi pun menjadi ragu dan bimbang dengan keputusan yang sebelumnya telah Ia ambil, apakah keputusan itu memang yang terbaik atau justru sebaliknya.


🌠


"Kamu kenapa El, dari tadi banyak diam..? Seharusnya kan kamu senang, karena keadaan Mamii sekarang udah membaik dan sebentar lagi pasti sembuh.." ucap Bintang sambil tersenyum menatap Pelangi dengan raut wajah yang masih muram.


"Iyaa Biyang, aku senang kok. Cuma---.."


"Cuma apa, El..?" tanya Bintang pada Pelangi yang tidak meneruskan perkataannya.


"Aku bingung Bin, apa keputusan aku yang menolak perjodohan itu benar.." ucap Pelangi sambil menarik nafasnya.


"Maksud kamu apa El, kok ngomong gitu..?" tanya Bintang lagi.


"Mamii sampai sakit gitu karena aku menolak di jodohkan sama anak Tante Risma, Mamii jadi kepikiran terus sakit. Tante Risma juga ngomong, kenapa aku gak mau melakukan sesuatu yang bisa buat Mamii bahagia. Padahal selama ini Mamii selalu menuruti apa yang aku mau, aku jadi ngerasa bersalah, Biyang.." ujar Pelangi seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Bintang.


"Aku bisa ngerti kok yang kamu rasain, sekarang apapun yang akan kamu lakukan. Aku pasti dukung, apa lagi itu untuk kebahagiaan Mamii.." ucap Bintang sembari tersenyum.


"Jadi kamu gak apa-apa kalau aku menerima perjodohan itu, Biyang..?" tanya Pelangi seraya menatap wajah Bintang.


"Aku gak apa-apa kok, masa iyaa aku harus melarang. Ini juga kan untuk masa depan kamu, El.." jawab Bintang dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya, meski sesungguhnya di balik senyuman itu Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kesedihan dalam hatinya.


"Mungkin ninggalin kamu kalau aku mau ke kamar mandi aja,hehehee.." sahut Bintang yang berusaha untuk membuat suasana bisa jadi lebih santai.


"Aku serius, Biyang..! Gak lagi bercanda..!" seru Pelangi yang merasa bahwa Bintang akan meninggalkannya.


"Aku juga serius, cantiikk..!" balas Bintang sambil mencubit pipi Pelangi. "Udah yaa jangan mikir yang bukan-bukan, kita jalani aja semuanya dengan baik.." sambung Bintang yang berusaha menenangkan hati Pelangi.


"Pokoknya kamu gak boleh ninggalin aku, apapun yang terjadi. Aku sayang banget sama kamu, Bin.." ucap Pelangi yang terdengar sedih, lalu memeluk Bintang. Hingga tidak terasa air matanya terjatuh, Bintang yang menyadari itu segera menghapus air mata Pelangi.


"Kamu juga gak boleh nangis, nanti hilang tau cantiknya. Terus kalau hilang, aku harus cari kemana coba..?! Apa cari di cewek lain aja yaa.." goda Bintang.


"Auww..!! Sakit,,sakit..!" rintih Bintang.


"Awas aja kalau kamu berani cari cewek lain..! Aku pasti akan buat kamu dan cewek itu menyesal..!" ancam Pelangi tanpa melepaskan cubitannya pada perut Bintang.


"Iyaa iyaa gak berani kok, sekarang lepasin yaa Pelangi sayang.." bujuk Bintang yang tau bahwa Pelangi tidak main-main dengan ucapannya itu.


"Awas kalau kamu berani macam-macam di belakang aku, Bintang..!" seru Pelangi memperingatkan.

__ADS_1


"Iyaa El, aku gak akan macam-macam kok. Yaa udah sekarang kita pulang yaa.." ucap Bintang pada Pelangi yang hanya berdeham.


"Maafin omongan aku tadi yaa, El.. Aku cuma bercanda kok, gak bermaksud untuk seperti itu.." ujar Bintang yang tau, bahwa Pelangi masih merasa marah karena perkataannya tadi.


"Iyaa gak apa-apa Biyang, aku tau kok kalau kamu cuma bercanda. Maaf yaa kalau aku egois, aku cuma gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kamu sama yang lain, aku mau kamu cuma sama aku aja. Maaf kalau aku terlalu sayang, maaf.."


Ucap Pelangi yang kini kembali menangis dan Bintang pun segera memeluknya dengan erat. Bintang bisa mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Pelangi saat ini, karena Ia juga tidak ingin kehilangan Pelangi. Namun tidak bisa di pungkiri, bahwa Bintang juga akan merasa sulit menerima saat Pelangi harus bersama dengan orang lain nantinya.


🌠


🌠


Setibanya di rumah, Pelangi pun segera bergegas menemui Ibunya. Perlahan Ia mengetuk pintu kamar dan perlahan membukanya, berharap Ibunya masih belum tidur.


"Mamii belum tidur kan..?" tanya Pelangi yang kini sudah duduk di samping Melati


"Belum El, tumben jam segini kamu sudah pulang. Biasanya kan betah berlama-lama keluar sama Bintang.." ujar Melati seraya tersenyum.


"Gak apa-apa kok Mii, pengen pulang cepat aja.." sahut Pelangi.


"Tapi Mamii kok tidak yakin yaa,mmmh.. Pasti ada sesuatu kan..? Ayo kamu ngomong sama Mamii, apa ada sesuatu yang mau kamu sampaikan..?" tanya Melati sambil menatap Pelangi yang kini tertunduk.


"Mmmm,,iyaa Mii, memang ada sesuatu yang mau aku omongin ke Mamii.." jawab Pelangi sembari menarik nafasnya dengan dalam.


"Iyaa El, memang kamu mau ngomong apa..?" tanya Melati yang membelai lembut rambut putrinya itu.


"Tentang perjodohan yang kemarin itu, aku mau menerimanya, Mii.." ucap Pelangi seraya tersenyum.


"Kamu serius, El..?! Bukannya waktu itu kamu bilang ke Mamii, kalau kamu menolak perjodohan itu..?!" tanya Melati yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Aku serius Mii, aku pengen lihat Mamii bahagia dan aku juga yakin kalau pilihan Mamii pasti yang terbaik.." ujar Pelangi.


Setelah mendengar itu, Melati pun langsung memeluk tubuh Pelangi dengan erat. Ia merasa sangat bahagia, akhirnya Pelangi setuju untuk di jodohkan dengan anak dari teman baiknya.


"Terimakasih yaa sayang, Mamii bahagia sekali. Akhirnya kamu bisa menyadari, bahwa apa yang Mamii lakukan itu semuanya untuk kebaikan kamu nantinya.." ucap Melati yang kini menangis haru.


"Iyaa Mii, aku tau.." balas Pelangi yang ikut menangis dalam pelukan Ibunya, namun bukan tangisan bahagia. Melainkan karena Ia merasa sedih seolah-olah akan kehilangan Bintang, orang yang sangat Ia sayangi...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59🌠


__ADS_2