
Sepulangnya dari pantai, Rena langsung mencari keberadaan Reon. Namun setelah menyusuri setiap sudut ruangan di rumah, Ia tidak juga menemukan Kakaknya itu.
"Kamu kenapa Ren, Mamaa lihat dari tadi mondar-mandir begitu..?" tanya Risma pada Rena.
"Cari Kak Reon Maa, tapi kok gak ada yaa.. Apa masih belum pulang juga, Maa..?" ucap Rena yang balik bertanya pada Ibunya.
"Kakak kamu kan belum pulang Ren, mobilnya juga masih belum ada di garasi.." jawab Risma.
"Ohh iyaa, kenapa aku bisa lupa periksa garasi,mmmh.." gumam Rena dalam hati.
"Iyaa yaa Maa, Rena lupa periksa garasi tadi,hee.." sahut Rena sambil cengengesan.
"Memang ada apa, kok tumben kamu mencari Kakak kamu..? Pasti ada sesuatu yaa, ayo kamu cerita sama Mamaa.." ucap Risma yang merasa sedikit curiga.
"Gak ada apa-apa kok Maa, Rena cuma mau tanya tentang kerjaan kantor aja. Yaa udah kalau gitu, Rena mau masuk ke kamar dulu mau mandi, Maa.." ujar Rena yang segera berjalan menuju ke arah kamar, Ia tidak mau kalau Ibunya sampai curiga dan banyak bertanya.
Sementara di tempat yang lain, Reon masih terlihat duduk di atas sofa. Sedangkan Putri baru saja selesai menidurkan Bunga yang tadi sempat terbangun saat Reon menggendongnya keluar dari dalam mobil.
"Bunga udah tidur lagi..?" tanya Reon pada Putri yang terlihat keluar dari kamar.
"Iyaa udah Mas, gimana keadaan kamu sekarang..? Mau aku buatin kopi atau minuman yang lain..?" tanya Putri yang selama ini selalu memberikan pelayanan terbaiknya pada Reon.
"Udah lumayan baik kok, cuma masih agak pusing aja.." jawab Reon sambil memijit keningnya.
"Yaa udah kalau gitu sini aku pijitin yaa Mas, mungkin kamu kurang istirahat atau ada yang di pikirkan..?"
Tanya Putri yang mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Reon. Karena sejak tadi Ia melihat Reon, seolah sedang memikirkan sesuatu. Itu terlihat dari raut wajahnya yang cemas, dan tidak fokus saat di ajak berbicara.
"Gak ada yang aku pikirkan, mungkin cuma kecapekan aja. Nanti kalau udah di pijitin sama kamu juga sembuh, kan ada obat di tangan kamu yang lembut ini.." ujar Reon sembari tersenyum dan memegang jari-jemari milik Putri.
"Kamu ini Mas, bisa aja buat aku malu.." sahut Putri sambil melanjutkan pijatannya pada kening Reon.
Reon pun hanya terdiam dan menikmati pijatan Putri yang sedikit mengurangi rasa sakit pada kepalanya. Ia merasa cemas memikirkan tentang adiknya yang kini telah tahu, bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan Putri. Namun sebisa mungkin Ia menutupinya dari Putri, karena tidak ingin wanita yang di cintainya itu sedih dan jadi ikut kepikiran.
__ADS_1
🌠
Setelah menunggu sejak beberapa jam yang lalu, kini Rena pun memiliki kesempatan untuk meminta penjelasan dari Kakaknya, Reon. Meski sebenarnya Reon merasa berat hati dan belum siap untuk menceritakan semuanya, namun Ia juga tidak ingin Rena sampai mengadukan pada Ibunya tentang hubungannya yang masih berlanjut dengan Putri.
"Ayo Kak, buruan cerita..! Kok malah bengong gitu, mumpung Mamaa lagi di dalam kamar.." desak Rena yang melihat Reon masih terdiam, tanpa bicara apapun.
"Ehh,,iyaa Rena, sabar dong. Kakak bingung nih harus mulai ceritanya dari mana.." sahut Reon sambil menggaruk kepalanya.
"Dari mana aja Kak, yang penting cerita. Ayo cepat Kak, aku penasaran banget nih..!" seru Rena sembari menggoyang-goyangkan lengan Reon untuk segera bercerita.
Reon yang terus di desak oleh Rena, kini menarik nafasnya dengan berat. Lalu mulai menceritakan tentang hubungannya dengan Putri, yang selama ini Ia jalani. Bahkan Ia juga telah menikahi Putri, meski hanya menikah siri. Hingga sontak membuat Rena terkejut dan membelalakkan matanya, karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Hahh..?! Jadi Kak Reon udah menikah sama Kak Putri..?! Parah nih Kak Reon, diam-diam ternyata--" Rena tidak melanjutkan perkataannya, karena Reon langsung menutup mulut Rena dengan tangannya.
"Husst,, jangan kuat-kuat ngomongnya, kamu mau Mamaa dengerin terus sakit jantungnya kumat apa..?!" seru Reon yang merasa kesal.
"Iyaa Kak, maaf.. Habis aku gak nyangka Kakak seperti itu, padahal Mamaa kan mau jodohin Kakak sama Kak Pelangi.." ucap Rena sambil menghela nafasnya, Ia tidak habis pikir dengan Kakaknya yang menikah secara diam-diam dan menyembunyikannya dari Ibu dan dirinya.
"Kakak terpaksa Ren, karena Kakak gak mau buat Mamaa kecewa. Apa lagi sampai membuat sakit jantung Mamaa kambuh lagi seperti waktu dulu.."
"Kalian di sini rupanya, Mamaa cariin dari tadi.." terdengar suara Risma yang membuat Reon dan Rena terkejut, karena merasa takut jika Ibunya itu mendengarkan apa yang tadi Reon katakan.
"Ehh,, iyaa Maa, tadi lagi dengerin Rena cerita tentang jalan-jalannya sama Awan.." ucap Reon yang mencoba bersikap seperti biasanya.
"Ohh,, kalau begitu Mamaa juga mau dengar juga, Ren.. Ayo kamu lanjut cerita..!" pinta Risma pada Rena.
"Dasar yaa Kak Reon, kenapa aku yang di jadiin tumbal.." gumam Rena dalam hati, dan dengan terpaksa Ia pun menceritakan tentang bagaimana jalan-jalannya bersama Awan dengan menahan perasaan malu.
🌠
🌠
Pelangi yang melihat Ibunya sedang duduk santai bersama Awan, kini segera menghampiri dan ikut bergabung. Ia memilih untuk duduk di samping Ibunya, karena memang ada hal penting yang ingin Ia sampaikan. Melihat gelagat aneh pada putrinya, Melati pun segera tahu bahwa ada sesuatu yang ingin di katakan oleh Pelangi padanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Kak..? Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan..?" tanya Melati yang sejak tadi melihat Pelangi memainkan ujung jari-jarinya.
"Iyaa Mii, aku pengen ngomong sesuatu yang penting sama, Mamii.." ucap Pelangi sambil menatap ke arah Awan, Awan yang bisa mengerti arti tatapan dari Kakaknya itu pun segera bangkit dari tempat duduknya, agar Pelangi bisa bicara pada Ibunya dengan leluasa.
"Iyaa Kak, mau bicara apa..?" balas Melati.
"Ini soal perjodohan yang Mamii mau lakukan ke aku dan siapa itu namanya, Mii..?" tanya Pelangi yang masih saja lupa dengan nama pria itu.
"Namanya Reon, kamu ini selalu saja lupa,mmmh.. Padahal Mamii sudah seringkali bilang ke kamu.." sahut Melati sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena di dalam hati dan ingatan aku selalu ada Bintang, Mii.." ucap Pelangi hanya dalam hati.
"Yaa namanya juga lupa, Mii.." sahut Pelangi.
"Iyaa sudah, sekarang kamu mau bicara apa. Ayo buruan ngomong.." seru Melati yang sudah tidak sabar dengan apa yang ingin putrinya itu bicarakan.
"Iyaa Mii, aku-u itu anu Mii.." ucap Pelangi yang terputus, karena merasa cemas memikirkan respon Ibunya nanti.
"Itu anu apa, El..? Bicara itu yang jelas, jangan buat Mamii semakin penasaran.." sahut Melati.
"Aku menolak perjodohan dengan Rawon, Mii..! Ehh,, Reon maksudnya.." seru Pelangi yang kini terlihat tertunduk.
Melati yang mendengar itu, tidak lantas menjawab. Ada rasa kecewa yang tergurat di raut wajahnya itu, namun seketika Ia pun tersenyum menatap Pelangi.
"Bisa kamu berikan alasannya sama Mamii, kenapa kamu menolak untuk di jodohkan dengan Reon..?" tanya Melati.
"Iyaa Mii, alasan yang pertama karena aku sama sekali gak tertarik atau suka sama dia. Kedua, aku ingin sese'orang yang akan mendampingi aku nanti adalah pilihan hatiku sendiri, Mii.. Dan ketiga, karena aku gak mau menikah dengan pria yang sama sekali gak aku kenali.." jelas Pelangi dengan perasaan yang bergemuruh di hatinya.
Sebelum menanggapi perkataan dari Pelangi, Melati menghela nafasnya dengan berat. Dalam hati Ia merasa dan sadar, bahwa tidak mungkin rasanya untuk memaksa Pelangi mengikuti keinginannya itu. Terlebih Ia tahu betul, sejak kecil Pelangi memang keras kepala dan punya pendirian yang kuat atas semua keinginan dan pilihannya.
"Yaa sudah kalau memang begitu maunya kamu, Mamii tidak mungkin bisa memaksa. Satu hal yang harus kamu tahu, apapun yang Mamii lakukan semua semata-mata karena menginginkan yang terbaik untuk kamu, El.." ujar Melati.
"Maafin Pelangi yaa Mii, karena udah buat Mamii kecewa.." ucap Pelangi sambil memeluk erat tubuh Ibunya, keduanya pun kini menangis merasakan haru di dalam dada...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59🌠