Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Jatuh Sakit


__ADS_3

"Mamaa kenapa, kok dari kemarin aku lihat banyak diam gitu..? Mamaa sakit atau ada masalah..?" tanya Reon saat sedang duduk santai bersama Ibu dan adiknya.


"Mamaa tidak sakit dan tidak ada masalah juga, tapi Mamaa kecewa sama Tante Melati. Dia membatalkan rencana perjodohan kamu dan Pelangi, hanya karena Pelangi tidak setuju dengan perjodohan kalian.." ujar Risma sambil menarik nafasnya.


"Kalau gitu bagus dong, Maa..!" sahut Reon dengan raut wajah bahagia, karena perjodohan antara dirinya dan Pelangi akhirnya batal.


"Kok bagus sih..? Jadi kamu senang perjodohan kalian batal..? Itu yang kamu mau, Reon..?!" tanya Risma.


"Bukan gitu Maa, cuma kan kalau di paksa pasti Pelangi nanti gak suka atau benci sama aku. Mungkin dia masih butuh waktu atau harus mengenal aku lebih dulu, Maa.." ucap Reon yang tidak ingin Ibunya semakin kecewa.


"Ada benarnya juga yang kamu katakan itu Reon, kalau begitu nanti Mamaa coba bicarakan lagi dengan Tante Melati.." balas Risma sambil tersenyum.


"Mamaa kenapa sih ngebet banget buat jodohin Kak Reon sama Kak Pelangi..? Padahal kan Kak Reon--"


"Rena..!" sela Reon yang tidak ingin adiknya itu meneruskan perkataannya, karena takut kalau sampai Rena keceplosan tentang hubungannya dengan Putri.


"Padahal apa, Ren..? Kenapa kalian jadi diam seperti itu..?" tanya Risma yang mulai merasa curiga.


"Gak apa-apa kok Maa, Rena cuma takut Kak Reon gak bahagia sama Kak Pelangi.." jawab Rena sambil menatap ke arah Reon yang sejak tadi juga menatap dirinya.


"Tentang itu jangan kamu pikirkan Ren, karena Mamaa yakin jika Pelangi adalah wanita yang baik. Ia akan menjadi pendamping yang cocok untuk Kakak kamu, bukan begitu Reon..?" ujar Risma sambil tersenyum menatap Reon yang hanya bisa menghela nafasnya, lalu tersenyum.


"Iyaa Maa, pilihan Mamaa pasti yang terbaik.." sahut Reon dengan senyum terpaksa.


"Yaa sudah kalau begitu, Mamaa mau ke kamar dulu.." ucap Risma sembari berjalan menuju ke arah kamarnya.


"Lain kali kamu hati-hati dong Ren kalau bicara sama Mamaa, jangan seperti tadi. Untung aja Mamaa gak curiga.." seru Reon saat melihat Ibunya telah masuk ke dalam kamar.


"Yaa habis Kak Reon, mau sampai kapan sih nyembunyiin hubungan Kakak sama Kak Putri. Kasihan kan Kak Putri di umpetin terus, padahal kalian udah menikah walaupun siri.."

__ADS_1


Gerutu Rena yang merasa kesal, karena Kakaknya itu masih saja menyembunyikan hubungan dan status pernikahan sirinya dengan Putri.


"Kakak juga maunya bisa jujur dengan Mamaa tentang Putri, tapi kan kamu tau sendiri Mamaa seperti apa. Bukannya menerima Putri, yang ada malah menghina dan mengusir Putri seperti waktu dulu.." ujar Reon.


"Yaa itu resiko Kakak, harusnya Kakak lebih berusaha lagi untuk meyakinkan Mamaa tentang Kak Putri. Bukannya malah di sembunyikan terus gitu.." sahut Rena.


"Gak semudah itu Ren, karena dari awal Mamaa udah gak suka dan gak setuju dengan hubungan Kakak dan Putri. Mamaa cuma gak mau Mamaa sampai kena serangan jantung lagi.." jelas Reon.


"Tapi itu gak adil untuk Kak Putri dan Kak Pelangi nantinya, kalau mereka tau yang sebenarnya, Kak.." balas Rena yang tidak setuju dengan sikap Reon yang mementingkan dirinya sendiri.


"Itu biar jadi urusan Kakak, yang penting kamu jangan cerita ke siapapun. Terutama ke Mamaa, kamu pasti gak mau kan Mamaa kenapa-kenapa..?!" seru Reon mengingatkan.


"Yaa udah terserah Kakak aja, aku ngomong apa juga percuma.." sahut Rena sambil bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju kamar.


Reon yang melihat kepergian adiknya hanya menghela nafasnya dengan berat, Ia juga tidak ingin bersikap egois seperti itu. Namun keadaan yang memaksa, terlebih jika itu berkaitan dengan kesehatan Ibunya. Meski di sisi lain, Ia juga sangat menyayangi Putri dan Bunga yang sudah Ia anggap seperti anaknya sendiri.


🌠


🌠


"Gimana keadaan Mamii, Om..?" tanya Pelangi dan Awan bersamaan.


"Mamii kalian sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Apa Mamii kalian sedang ada masalah..? Karena Om lihat sepertinya Mamii sedang banyak pikiran.." terang Om Hilman yang sekaligus adik kandung dari Ibunya.


Mendengar ucapan Om Hilman, Pelangi dan Awan pun saling berpandangan. Karena setahu mereka, Ibunya tidak memiliki masalah apapun. Hanya saja Pelangi langsung menarik nafasnya, seolah telah tahu masalah apa yang menjadi beban pikiran Ibunya.


"Kok kalian berdua malah diam seperti itu..? Ayo cerita ke Om, pasti ada masalah yang Om tidak tahu.." ucap Om Hilman yang merasa, bahwa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh kedua ponakannya itu.


"Gak ada masalah apa-apa kok Om, yaa udah kalau gitu aku dan Awan mau lihat Mamii dulu.." jawab Pelangi seraya masuk ke dalam kamar Ibunya bersama Awan.

__ADS_1


"Mamii masih tidur Kak, kita keluar dulu aja yaa.. Biarin Mamii istirahat dulu.." ucap Awan pada Pelangi yang kini tampak sangat sedih.


"Kakak masih mau temenin Mamii, kamu keluar aja dulu. Temui Om Hilman, tapi jangan cerita apapun. Karena Kakak juga belum tau pasti, apa keadaan Mamii jadi seperti ini ada kaitannya dengan perjodohan yang Kakak tolak atau tidak.." ujar Pelangi.


"Iyaa Kak, aku ngerti.." balas Awan sambil berjalan meninggalkan Pelangi bersama Ibunya.


Awan yang telah keluar dari kamar Ibunya, kini menghampiri Om Hilman yang terlihat sedang duduk di sofa sambil mengobrol dengan Bik Ira.


"Kenapa Mamii masih belum sadar juga, Om..?" tanya Awan seraya duduk di samping Om Hilman.


"Mungkin pengaruh dari obat yang tadi Om berikan, tapi itu lebih baik agar Mamii kamu bisa banyak istirahat. Untuk sementara waktu, jangan biarkan Mamii banyak pikiran dulu. Jaga makan minumnya, dan pastikan obat yang Om tinggalkan itu di minum.." ujar Om Hilman yang selama ini telah menjadi dokter keluarga Pelangi.


"Iyaa Om, Awan dan Kak Pelangi akan menjaga Mamii dengan baik.." sahut Awan.


"Yaa sudah kalau begitu, Om pamit pulang dulu. Kalau ada apa-apa segera kabari Om.." seru Om Hilman sambil bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar.


Awan dan Bik Ira pun mengantarkannya hingga ke depan pintu keluar, lalu kembali ke kamar Ibunya untuk melihat kondisinya saat ini. Namun Ibunya terlihat masih tidur, karena efek samping dari obat yang tadi di berikan oleh Om Hilman.


"Kakak istirahat aja dulu di kamar yaa, biar Awan yang jagain Mamii.." ucap Awan pada Pelangi yang masih duduk di samping Ibunya.


"Gak Wan, Kakak mau tetap di sini temenin Mamii sampai Mamii siuman. Kamu aja yang istirahat.." sahut Pelangi seraya menggenggam tangan Ibunya.


"Yaa udah kalau gitu, Awan juga mau di sini sama Kakak buat temenin Mamii.." balas Awan sambil tersenyum, keduanya kini saling menguatkan satu sama lain.


Bik Ira yang sejak tadi berada di depan pintu kamar, hanya terdiam menyaksikan kedua anak majikannya itu yang sudah Ia anggap seperti anaknya sendiri. Ia pun ikut merasakan sedih, saat melihat kondisi Melati saat ini...


Bersambung...


🙏😊 A59🌠

__ADS_1


__ADS_2