Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Bercerita


__ADS_3

Pelangi yang sejak tadi telah bangun lebih dulu, kini sudah berada di bawah sambil tiduran. Ia sesekali menatap wajah Bintang, lalu kembali berbaring seraya memeluk erat boneka kesayangannya itu. Sesekali Ia mengajak bicaranya, hingga tanpa sadar Bintang diam-diam mendengarkannya.


"Maaf yaa bery, tadi malam aku tidur gak peluk kamu. Pasti kamu kedinginan.." ucap Pelangi sambil mengelus wajah boneka beruangnya yang Ia beri nama bery itu.


"Serem juga tuh anak yaa, suka ngajak ngomong boneka gajahnya,hiihhh.." gumam Bintang dalam hati, saat mendengar Pelangi mengajak bicara bonekanya.


Karena Bintang belum juga bangun tidur, Pelangi pun memilih untuk keluar dari kamar untuk mandi. Setelah Ia keluar, Bintang segera bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Ia melihat jam di ponselnya, sekaligus memeriksa jika ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab dari teman-temannya. Karena selama Pelangi menginap di rumah, Bintang sengaja mematikan nada dering pada ponselnya untuk lebih menjaga privasinya.


"Kamu udah bangun, Bin..? Buruan mandi sana, kamu bau asem tau.." seru Pelangi yang baru saja masuk ke dalam kamar, lalu meletakkan handuknya pada gantungan baju.


"Tau dari aku asem..? Dasar aneh, baru kamu yang bilang gitu tau.." balas Bintang yang tidak terima di bilang asem oleh Pelangi.


"Hee,, tau aja sih.." sahut Pelangi yang sebenarnya tidak serius dengan ucapannya. Karena waktu tadi malam saat Ia tidur di pelukannya, Bintang memang tidak bau badan. Itu sebabnya Ia merasa nyaman, dan membiarkan Bintang tetap memeluknya hingga pagi meskipun tanpa sadar.


"Yeee,, malah bengong..!" seru Bintang yang melihat Pelangi hanya diam, seolah memikirkan sesuatu.


"Siapa juga yang bengong, buruan mandi sana.." ucap Pelangi sambil mendorong tubuh Bintang untuk segera keluar dari kamar.


"Iyaa iyaa.." balas Bintang yang langsung mengambil handuknya, lalu keluar dari kamar meninggalkan Pelangi yang kini tengah berdandan.


Kini Pelangi dan Bintang sedang duduk di meja makan, keduanya tengah sarapan tanpa ada yang berbicara sepatah katapun. Sedangkan Ibu telah lebih dulu sarapan, dan setelah itu pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.


"Ayo berangkat, aku udah selesai.." ajak Bintang pada Pelangi, namun bukannya menyahut ucapannya. Pelangi justru hanya terlihat tersenyum, seolah sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya senang.


"Malah senyum-senyum gak jelas nih anak, mungkin lagi kumat kali yaa.." gumam Bintang dalam hati seraya bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


"Kamu mau kemana, Bin..? Tungguin..!" seru Pelangi yang segera menghabiskan sarapannya dengan terburu-buru.


"Kebiasaan tuh anak, suka pergi gitu aja,mmmh.." gumam Pelangi sambil berjalan dengan tergesa-gesa, sambil mencari keberadaan Bintang yang sedang duduk di kursi teras.


"Ternyata kamu di sini, kirain udah pergi.." ucap Pelangi yang kini ikut duduk di sebelah Bintang, namun Bintang langsung bangkit dari tempat duduk dan mengunci pintu rumahnya.


"Yaa udah, ayo jalan.." seru Bintang pada Pelangi.


"Memang kita mau jalan..? Kan jauh, naik mobil aja yaa.." balas Pelangi.


"Yaa itu maksudnya, ampun deh nih anak. Ayo buruan..!" seru Bintang.


Pelangi yang baru mengerti maksud ucapan Bintang hanya tersenyum, lalu membuka pintu mobil. Keduanya pun kini segera berangkat menuju toko, namun sebelumnya Bintang meminta Pelangi untuk singgah di sebuah toko roti kesukaannya.


"Mau ikut gak..?" tanya Bintang.


"Gak mau, aku tunggu di mobil aja.." jawab Pelangi.


Tak berapa lama kemudian, Bintang telah kembali dengan bungkusan plastik berisi roti di tangannya.


"Banyak banget, memang habis tuh..?" tanya Pelangi yang melihat banyak roti yang Bintang beli.


"Habislah kalau di makan, nih mau gak..? Enak lho, Ibu juga suka banget sama roti ini. Jadi nanti sekalian buat Ibu juga.." ujar Bintang seraya menyodorkan semua roti pada Pelangi, agar Ia bisa memilih mana yang Ia suka.


"Gak ada yang aku suka.." sahut Pelangi.


"Kok bisa, padahal sebanyak itu.." ucap Bintang.


"Karena aku sukanya kamu,hahahaa.." seru Pelangi sambil tertawa terkekeh-kekeh, membuat Bintang merasa geli mendengarnya.


"Dasar stress nih orang, pagi-pagi udah gembel.." ucap Bintang.


"Aku kan cuma bercanda, lagi pula aku tau kalau kamu pasti suka kan,hehee.. Tuh buktinya muka kamu merah, seperti darah.." ujar Pelangi yang kembali tertawa, karena merasa lucu dengan ucapannya sendiri.


"Gak lucu tau, dasar.." balas Bintang sambil memakan roti yang Ia pegang.


🌠


🌠


Malam harinya, Pelangi yang baru selesai mengobrol dengan Ibu. Kini segera masuk ke dalam kamar untuk istirahat, Ia melihat Bintang yang sedang asyik dengan ponselnya tanpa peduli dengannya. Pelangi pun terus saja mengganggu Bintang, hingga Bintang akhirnya merasa kesal dan meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.


"Kamu ngapain sih gangguin terus, gak ada kerjaan aja.." seru Bintang.


"Yaa memang gak ada kerjaan, lagian kamu dari tadi asyik handphone aja. Ngobrol kek sama aku, cerita apa gitu.." ucap Pelangi.


"Kamu aja yang cerita, aku dengerin.." sahut Bintang.

__ADS_1


"Orang nyuruh dia, ehh malah dia yang gantian nyuruh. Dasar dudul..!" seru Pelangi.


"Dudul anak sekolah maksudnya,hehe.." balas Bintang sambil tersenyum.


"Ayo buruan cerita, aku pengen tau gimana awalnya kamu bisa jadi--.. Kamu pasti ngerti kan maksud aku, gimana sih rasanya, Bin..?" tanya Pelangi penasaran.


"Ngapain juga kamu pengen tau, bukan hal yang menyenangkan juga untuk di ceritain.." ujar Bintang.


"Tapi aku pengen tau lho, nanti gantian deh. Kalau kamu selesai cerita, aku lagi yang cerita ke kamu tentang hubungan aku selama ini.." sahut Pelangi.


"Tapi aku gak pengen tau.." balas Bintang.


"Dasar nih orang, sombong banget sih.." seru Pelangi sambil memukul Bintang dengan bantal yang Ia pegang, dan Bintang pun segera menghindar.


"Iyaa iyaa, aku cerita. Dasar pemaksa..!" sahut Bintang.


Setelah menarik nafas panjang, Bintang pun mulai bercerita tentang dirinya dan kisah percintaannya yang seringkali berakhir dengan rasa kecewa. Pelangi yang duduk di sampingnya, hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.


"Udah segitu aja, jangan banyak-banyak.." ucap Bintang yang ingin menyudahi ceritanya.


"Kok gitu sih..?" tanya Pelangi.


"Nanti kalau banyak-banyak, kamu sakit perut.." sahut Bintang sambil tertawa kecil.


"Gak mau, ayo terusin sampai selesai. Aku masih mau dengerin, Bin..!" seru Pelangi yang masih ingin Bintang bercerita.


Bintang kembali melanjutkan ceritanya, hingga semua kisah percintaannya juga Ia ceritakan pada Pelangi. Mendengar cerita Bintang, seolah membuat Pelangi ikut merasakan kesedihan yang di alami Bintang. Hal itu terbukti dari raut wajah Pelangi yang kini terlihat sedih, terutama saat Ia mendengar cerita akhir dari hubungan Bintang dengan mantan pacarnya yang bernama Yumie itu.


"Kamu kenapa El, kok gitu mukanya..?" tanya Bintang saat melihat wajah Pelangi.


"Aku sedih Bin dengerin cerita kamu, padahal sesama cewek tapi kok bisa nyakitin gitu.." ujar Pelangi.


"Dalam setiap hubungan pasti ada rasa sakit dan kecewanya, El.." sahut Bintang sambil tersenyum.


"Entahlah Bin, aku jadi bingung.." balas Pelangi.


"Iyaalah bingung, kamu kan bukan anak Pelangi.." ucap Bintang.


"Kok anak Pelangi sih, Bin..? Aku kan gak punya anak.." tanya Pelangi sambil menggaruk kepalanya, karena Ia masih merasa bingung dengan perkataan Bintang.


"Ayo bilang, siapa itu anak Pelangi..? Apa kamu punya teman lain yang namanya juga Pelangi, terus dia punya anak gitu..?" tanya Pelangi yang merasa belum puas, karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya pada Bintang.


"Anak pelangi itu sebutan untuk orang-orang seperti aku ini, El.." jawab Bintang.


"Tapi kenapa harus anak pelangi..? Kenapa gak anak bintang, bulan, awan, langit atau angkasa gitu.." tanya Pelangi lagi.


"Sebutin aja semuanya, dasar kamu ini.." balas Bintang sambil menarik nafasnya.


"Aku tanya lho, ayo buruan di jawab.." desak Pelangi sambil menggoyangkan tubuh Bintang agar Ia mau menjawabnya.


"Aku sih gak tau pasti kenapa ada sebutan seperti itu, tapi menurut aku mungkin karena pelangi itu sangat indah dan banyak warna. Namun semua itu hanya sesaat, setelah itu Ia akan hilang. Seperti itu juga hubungan percintaan di anak pelangi.." jawab Bintang.


"Ohh,, iyaa Bin sekarang aku ngerti, terus kalau kamu tau semua itu cuma sesaat. Ngapain kamu jalani..?" tanya Pelangi yang masih saja penasaran.


"Karena soal hati dan perasaan sangat sulit untuk di atur dan di kendalikan, aku cuma bisa ngerasain dan menahan. Tapi aku gak bisa menolaknya, tapi bukan berarti hati dan perasaan itu salah. Mungkin cuma jatuhnya aja pada orang yang gak seharusnya.." ujar Bintang.


"Kamu keren deh Bin kalau lagi ngomong serius gitu, kelihatan tuanya.." ucap Pelangi seraya menatap wajah Bintang sambil tersenyum.


"Dewasa kali, El..!" seru Bintang.


"Ehh,, iyaa itu maksudnya aku,hehee.." ucap Pelangi yang menyadari kesalahannya.


"Terus kenapa kamu masih mau berteman sama aku..? Kan kamu udah tau aku gimana.." tanya Bintang pada Pelangi.


"Karena kamu baik, dan aku percaya kamu gak akan manfaatin aku.." jawab Pelangi.


"Manfaatin kamu, maksudnya gimana..?" tanya Bintang yang belum mengerti dengan ucapan Pelangi.


"Selama ini, orang-orang yang mau berteman sama aku kebanyakan karena mereka mau manfaatin aku aja. Awalnya aku biasa aja dan bisa terima, tapi lama-lama mereka semakin kelewatan dan se'enaknya. Bukan cuma dalam hal berteman, dalam hubungan percintaan juga sering seperti itu.." ujar Pelangi.


"Yaa udah, gak usah nangis gitu.." ledek Bintang sambil tersenyum menatap Pelangi.


"Siapa yang nangis, yeee..." balas Pelangi dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku pikir setelah kamu tau, kamu bakalan jauhin aku. Tapi ternyata gak, terimakasih yaa.." ucap Bintang tulus.


"Yaa gak mungkinlah aku jauhin kamu cuma karena itu, lagi pula itu kan hak kamu. Aku gak akan ikut campur kok, dan kamu juga gak perlu bilang terimakasih. Kita kan berteman.." ujar Pelangi.


"Iyaa, El.." balas Bintang.


"Aku jadi penasaran, gimana sih rasanya jadi anak pelangi itu. Ajarin dong, Bin..!" pinta Pelangi pada Bintang.


Pletak..


Mendengar itu, Bintang langsung menyentil kening Pelangi.


"Aduhh,, sakit tau, Bin.." rengek Pelangi.


"Yaa kamu, kalau ngomong sembarangan aja.." sahut Bintang.


"Sembarangan gimana..? Aku kan cuma minta di ajarin jadi anak pelangi, biar seperti kamu.." ucap Pelangi.


"Gak mau dan gak boleh..!" seru Bintang.


"Memang kenapa, Bin..? Kan aku pengen tau rasanya.." balas Pelangi.


"Aku bilang gak boleh yaa gak boleh..!!" ucap Bintang dengan nada kesal.


"Iyaa tapi gak bolehnya itu kenapa, kasi tau aku alasannya.." sahut Pelangi.


"Karena sekalinya kamu masuk ke dunia pelangi, kamu akan sangat sulit untuk keluar.." jelas Bintang.


"Sulitnya kenapa..?" tanya Pelangi yang semakin merasa penasaran.


"Yaa ampun,, nih anak nanya mulu dari tadi. Pusing aku jadinya..!" seru Bintang sambil menggaruk kepalanya.


"Kan tinggal jawab aja lho, Bin.. Susah amat sih.." sahut Pelangi.


"Yaa udah, sekarang giliran kamu yang cerita.." ucap Bintang yang sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Pelangi tidak bertanya terus padanya.


"Kamu kan belum jawab pertanyaan aku,iihh.." balas Pelangi.


"Kamu cari sendiri aja jawabannya, sekarang ayo kamu cerita.." ucap Bintang.


"Bagusnya cerita apa yaa, Bin..?" tanya Pelangi sambil memikirkan sesuatu.


"Apa aja, cerita mantan kamu yang namanya Bemo itu juga gak apa-apa.." sahut Bintang.


"Namanya Bimo, bukan bemo..! Mana pernah aku pacaran sama kendaraan,mmmh.." gerutu Pelangi.


"Iyaa sama aja, kan akhirnya juga sama pakai mooo.. Yaa udah cerita, aku dengerin.." ucap Bintang.


"Iyaa aku mau cerita nih, dengerin baik-baik yaa.." sahut Pelangi.


"Ehh,, tunggu sebentar El, kamu ceritanya sambil tiduran di bawah aja. Nanti kamu ketiduran di atas lagi sama aku, kan kasian boneka gajah kamu sendirian.." ujar Bintang seraya mendorong tubuh Pelangi untuk segera turun dari tempat tidurnya.


"Dasar pelit..! Namanya bery, bukan gajah, Bin..!" seru Pelangi yang kini telah berada di bawah seraya memeluk boneka kesayangannya.


"Iyaa iyaa bery,mmmh.." balas Bintang.


Kini Pelangi pun mulai bercerita tentang kisah cintanya, yang ternyata hampir sama dengan yang di alami oleh Bintang. Tidak jauh-jauh dari rasa kecewa dan sakit hati, karena adanya orang ketiga. Pelangi masih terus bercerita, dengan raut wajah yang terlihat sedih. Bintang yang mendengar dan melihatnya, seolah juga turut merasakan apa yang Pelangi rasakan.


Setelah cukup lama bercerita, Pelangi kini terdiam sejenak. Karena Ia tidak lagi mendengar suara Bintang merespon ceritanya, lalu Pelangi bangun dan melihat ke atas tempat tidur.


"Pantas diam aja, ternyata udah ketiduran. Orang masih ngomong panjang lebar juga, malah di tinggal tidur.." seru Pelangi.


"Yaa udah deh, aku juga mau tidur. Tapi tidur di bawah atau atas yaa,mmmh... Atas aja deh,hehe.." gumam Pelangi seraya naik ke atas tempat tidur dengan perlahan.


Seperti malam sebelumnya, Pelangi meninggalkan boneka kesayangannya di bawah. Ia kembali memilih tidur di atas bersama Bintang, hal itu juga karena Pelangi ingin bisa merasakan kembali pelukan hangat dari Bintang.


Bintang yang sudah tertidur dengan pulas, tidak menyadari dan merasakan saat wajahnya di sentuh oleh Pelangi.


"Entah kenapa, aku ngerasa semakin nyaman deket sama kamu, Bin.." gumam Pelangi dalam hati, sambil mengusap wajah Bintang dengan lembut.


Kini keduanya telah tertidur pulas, dengan Pelangi yang membiarkan Bintang memeluk tubuhnya tanpa sadar. Karena Ia begitu menikmatinya, hingga Ia melupakan sesuatu yang seharusnya di lakukan sebelum tidur...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59🌠


__ADS_2