
Awan dan Rena yang kini telah berada di dalam kamar Pelangi, segera menceritakan semuanya pada Pelangi. Mendengar apa yang di katakan oleh keduanya, membuat Pelangi sangat terkejut. Namun setelah itu Ia pun tersenyum, seolah mendapat sesuatu untuk membuat hubungannya dengan Bintang bisa kembali baik-baik saja seperti dulu lagi.
"Kok Kakak malah senyum-senyum sendiri gitu sih..?! Memang ada yang lucu apa..? Bukannya marah-marah, aku aja waktu tau semua itu langsung marah dan emosi.." ujar Awan yang tidak habis pikir dengan ekspresi wajah Kakaknya yang tadinya terkejut, kini malah tersenyum seperti itu.
"Yaa Kakak pasti juga marah dan emosilah, masa iyaa gak marah di bohongin gitu. Benar-benar keterlaluan si kaku itu, berani banget dia gituin Kakak..!"
Ucap Pelangi dengan nada yang terdengar sangat kesal, namun sebenarnya di dalam hati Ia juga merasa sangat senang. Karena setelah mengetahui itu semua, kini Ia memiliki alasan kuat untuk menggagalkan rencana pernikahannya. Tanpa harus merasa bersalah pada Ibunya, yang selama ini Ia pikir tidak peduli dengan apa yang Ia rasakan.
"Terus sekarang apa rencana kita, Kak..? Apa Kak Pelangi tetap mau melanjutkan pernikahan ini..?" tanya Rena.
"Gak akan aku biarkan Kak Pelangi menikah dengan laki-laki pengecut seperti itu..!" sahut Awan sambil menatap ke arah Rena, membuat Rena kembali merasa bersalah karenanya.
"Pernikahan itu akan tetap terjadi, tapi--"
Pelangi menatap ke arah Awan dan Rena sambil mengerlingkan matanya, seolah mengisyaratkan sesuatu yang membuat Awan dan Rena saling bertatapan dan akhirnya paham dengan isyarat yang di berikan oleh Pelangi tersebut.
"Baiklah, demi Kakakku tersayang. Aku akan melakukannya, kamu siap kan, Ren..?" tanya Awan pada Rena yang justru terlihat terkejut dengan ucapan Awan.
"Apa harus seperti itu..? Memang gak ada cara lain, tanpa harus--"
Ucapan Rena pun seketika terhenti, saat Pelangi dan Awan menatap ke arahnya dengan raut wajah memelas sambil memohon. Membuat Rena akhirnya mengangguk kepala, dan mengikuti rencana Pelangi.
"Terimakasih yaa Ren, aku tau kalau kamu memang gadis yang baik untuk Awan.." puji Pelangi sambil tersenyum.
"Iyaa Kak Pelangi, sama-sama. Tapi tolong maafkan Kak Reon yaa, karena aku yakin kalau Kak Reon sebenarnya gak berniat untuk membohongi semua orang.." ujar Rena yang ikut merasa bersalah atas ketidakjujuran Reon.
"Pasti aku maafin, tapi aku juga ingin memberikannya dia sedikit pelajaran.." ucap Pelangi sembari tersenyum penuh arti.
"Sepertinya Kakak merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan si pengecut itu.." balas Awan yang bisa menebak apa yang di pikirkan oleh Kakaknya.
"Ohh, itu udah pasti, laki-laki seperti itu harus di beri pelajaran.." sahut Pelangi.
"Tolong Kak, jangan apa-apain Kak Reon. Jangan di sakiti, aku tau Kak Reon memang salah. Tapi--"
"Kamu tenang aja Ren, Kakak cuma mau memberikan dia pelajaran kecil kok. Bukan mau menyakitinya, jadi kamu jangan mikir yang bukan-bukan.." jelas Pelangi.
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu Kak, aku takut kalau Kak Pelangi sampai menyakiti Kak Reon atau berbuat sesuatu yang--"
"Udah yaa Ren, kamu tenang aja. Serahin semua ke Kak Pelangi.." ucap Awan yang berusaha menenangkan Rena yang terlihat cemas memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada Reon.
"Yaa udah, sekarang kamu antar Rena pulang. Besok kita temui Putri, Kakak pengen dia juga ikut membantu rencana kita.." ucap Pelangi pada Awan.
"Buat apa Kak..? Apa kita perlu bantuannya..?" tanya Awan yang mulai penasaran dengan rencana apa lagi yang akan di lakukan oleh Kakaknya itu.
"Iyaa Kak, kenapa harus melibatkan Kak Putri..?" tanya Rena yang ikut penasaran.
"Kalian berdua ini banyak tanya..! Udah buruan antar Rena pulang, besok kita bahas lagi. Kakak mau istirahat, capek.." ucap Pelangi sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Kakak ini, orang belum selesai ngomong juga,mmmh.." gerutu Awan sembari mengajak Rena untuk keluar kamar.
"Kira-kira apa yaa yang di rencanakan sama Kak Pelangi, Wan..?" tanya Rena.
"Entahlah Ren, aku juga gak tau. Kita lihat aja besok.." sahut Awan.
🌠
🌠
"Kakak ganteng banget..!" puji Awan sambil mengacungkan jari jempolnya pada Pelangi, namun sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Gak usah ngeledek kamu, Wan..!" balas Pelangi sambil melepaskan kumis dan rambut palsu yang Ia pakai untuk menyamar sebagai se'orang laki-laki, agar tidak di ketahui oleh Ibu dan orang-orang yang ada di rumahnya.
"Tapi beneran lho Kak, Kakak terlihat ganteng,hahahaa.. Ups..!" seru Awan yang tidak berhenti menertawakannya.
Pletak..
"Auww,, sakit Kak..!" rintih Awan saat Pelangi dengan sengaja menjitak kepalanya.
"Siapa suruh ketawa terus..!" balas Pelangi yang terlihat kesal. "Ayo buruan jalan Wan, sebelum Mamii tau kalau kita gak ada di rumah.." seru Pelangi pada Awan.
Selesai menjemput Rena di sebuah tempat, kini ketiganya segera bergegas pergi ke alamat yang di berikan oleh Rena.
__ADS_1
"Bener ini alamatnya, Ren..?" tanya Pelangi pada Rena, seraya membaca alamat yang tertulis di secarik kertas yang Ia pegang.
"Iyaa bener Kak.." jawab Rena yang telah bersusah payah mendapatkan alamat tempat tinggal Putri dari sese'orang yang bisa Ia percaya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, kini mereka pun tiba di depan sebuah rumah kontrakan. Pelangi dan Awan segera turun dari mobil, di ikuti oleh Rena yang berjalan di belakang seraya mengamati keadaan sekitar.
"Aku gak nyangka bisa bertemu langsung dengan wanita yang sebentar lagi akan di nikahi oleh Reon, mungkin lebih tepatnya bertemu dengan calon maduku.." ucap Putri tersenyum kaku.
"Aku gak mau basa-basi dan aku juga gak peduli dengan pernikahan itu, kedatangan kami ke sini cuma ingin kamu membantu sedikit rencana kami.." ujar Pelangi.
"Maksud kamu apa..?"
Pelangi pun perlahan menjelaskan semua rencananya pada Putri, dimana Awan dan Rena yang akan menjadi pemeran utama dalam menjalankan rencana itu.
"Terus terang aku suka dengan rencana kamu itu, tapi apa kamu yakin semua itu akan berhasil..? Terlebih harus melibatkan mereka berdua.." tanya Putri sembari menatap ke arah Awan dan Rena secara bergantian yang sedang asyik bermain bersama Bunga.
"Aku sangat yakin, lagi pula cuma itu cara terbaik untuk menyelesaikan semuanya. Aku rasa dalam hal ini gak ada yang akan di rugikan, harusnya kamu merasa senang bukan.." ucap Pelangi.
Putri yang mengerti maksud dari ucapan Pelangi hanya tersenyum, lalu Ia mulai berpikir untuk menerima atau menolak membantu Pelangi dalam menggagalkan rencana pernikahan suaminya itu.
"Baiklah, aku ikut dalam rencana kamu. Aku juga udah bosan, karena selama ini harus menjadi istri yang tersembunyi.." ujar Putri sembari menghela nafasnya dengan berat, Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk dalam kamar.
"Mungkin ini bisa lebih membantu kamu dalam menggagalkan rencana pernikahan kalian.." ucap Putri sambil meletakkan sebuah amplop berwarna putih di atas meja, Pelangi pun segera mengambil dan membuka isi dari amplop itu.
"Woww,, ini menarik banget..! Aku yakin, pasti Reon belum tau soal ini.." sahut Pelangi.
"Saat aku mau memberitahu dia tentang kabar bahagia itu, justru dia terlebih dulu memberitahu aku kabar tentang rencana pernikahan kalian. Terdengar lucu kan,hee.." ujar Putri sembari tertawa kecil.
"Dia memang keterlaluan..! Tapi yaa udah, nanti akan kita balas sikap pengecutnya itu. Kalau gitu aku pamit dulu, kamu baik-baik di rumah sama Bunga. Jangan lupa dengan apa yang harus kamu lakukan.." ujar Pelangi seraya mengingatkan.
"Beres, kamu tenang aja Pelangi. Semua akan berjalan sesuai rencana, aku cuma menunggu kabar dari kalian.." balas Putri yang sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba...
Bersambung...
🙏😊 A59🌠
__ADS_1