Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Bahagia Sesaat


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Pelangi yang kini telah berada di kamarnya segera membuka kotak kecil yang Bintang berikan padanya. Dengan senyum yang terukir di bibir dan hati yang berdebar-debar, Pelangi membukanya dengan perlahan.


"Wahh,, bagus banget kalungnya..!" seru Pelangi seraya menatap intens ke arah kalung dengan liontin berbentuk bintang dan memiliki permata yang berada di tengahnya.


Pelangi pun segera memakainya, lalu melihat dirinya di depan cermin. Ia merasa sangat bahagia, bukan cuma karena pemberian Bintang itu. Tapi juga karena Ia merasa, bahwa Bintang sangat menyayanginya.


Tokk,, tokkk..


"Kak Pelangi, buka pintu dong..! Aku mau ngomong sebentar nih.." seru Awan dari luar kamar.


"Nagapain lagi sih nih anak, gangguin aja.." gumam Pelangi dalam hati dengan rasa kesal, Ia pun segera memasukkan kalung itu kembali ke dalam kotak.


"Ada apa, Wan..? Memang gak bisa di omongin besok..?" tanya Pelangi pada Awan yang kini telah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Cuma sebentar aja kok, Kak.. Lagi pula Kakak juga kan belum tidur.." sahut Awan.


"Yaa udah, sekarang ayo buruan ngomong. Kakak ngantuk nih, mau tidur cepat. Hoaammm.." ucap Pelangi seraya berpura-pura bahwa Ia telah mengantuk dengan cara menguap.


"Kakak beneran mau tunangan sama Kak Reon..?" tanya Awan yang membuat Pelangi kini terlihat serius.


"Memang kenapa, Wan..? Kok kamu tanya seperti itu, apa kamu tau sesuatu..?" ucap Pelangi yang balik bertanya, karena Ia merasa pasti ada sesuatu yang membuat Awan sampai bertanya seperti itu.


"Entahlah Kak, aku sepertinya ragu dengan Kak Reon itu. Aku merasa dia gak serius dengan perjodohan ini, apa Kakak gak mau mencari tau dulu tentang Kak Reon..?" ujar Awan.


"Kakak pikir itu gak perlu Wan, toh semuanya Mamii yang ngatur. Kakak gak mau buat Mamii kecewa lagi.." sahut Pelangi.


"Tapi Kak--"


"Udah yaa Wan, cukup..! Kakak gak mau bahas masalah ini lagi, karena mau di bahas berulang kali juga perjodohan itu akan tetap terjadi.." jelas Pelangi sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Iyaa Kak, Awan bisa ngerti kok. Awan cuma gak mau Kakak sampai di sakiti atau di buat kecewa nantinya sama Kak Reon, karena kita gak tau Kak Reon itu orang yang seperti apa.." ujar Awan.


"Iyaa Wan, Kakak bisa ngerti kekhawatiran kamu itu. Tapi semua udah di atur sama Mamii, Kakak gak mungkin mau menolak lagi atau membantah keinginan Mamii.." ucap Pelangi dengan raut wajah yang kini terlihat sedih.


"Iyaa Kak, maafin Awan yaa.." balas Awan.

__ADS_1


"Yaa udah gak apa-apa, Kakak harap kamu jangan bahas masalah ini lagi yaa.. Jangan buat Kakak jadi ragu Wan, yang akhirnya akan buat Mamii kecewa lagi nantinya.." pinta Pelangi.


"Iyaa Kak, Awan ngerti kok. Awan mau keluar dulu.." ucap Awan yang langsung beranjak pergi dari kamar Pelangi.


Kini Pelangi terlihat masih diam terpaku, Ia memikirkan kembali tentang apa yang tadi Awan katakan padanya. Namun semakin Ia memikirkan, semakin hatinya merasa sedih. Padahal baru saja tadi Ia merasa bahagia karena Bintang, tapi kebahagiaan itu begitu cepat berlalu.


Pelangi pun segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Ia tatap kalung pemberian Bintang untuknya. Lalu Ia peluk dengan erat, bersama dengan air matanya yang kini semakin menetes tak tertahankan.


"Maafin aku, Bintang.. Karena udah buat kamu kecewa dengan keputusan aku yang memilih menerima perjodohan itu.." gumam Pelangi dalam hati, seraya menghapus air matanya yang kian menjadi-jadi.


🌠


🌠


Reon yang saat itu pulang kerja lebih awal, menyempatkan waktunya untuk pulang ke rumah kontrakan tempat Putri dan Bunga tinggal. Dengan membawa beberapa bungkusan makanan dan juga mainan untuk Bunga, hingga saat telah tiba di depan rumah Ia pun mempercepat langkahnya.


"Kok gak bilang dulu Mas kalau mau datang..?" tanya Putri.


"Karena Mas mau kasih kejutan sama kamu dan Bunga, ini Mas udah beliin banyak barang, makanan dan juga mainan untuk Bunga. Dia pasti suka.." ujar Reon dengan tersenyum.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih..? Gak baik berprasangka buruk gitu, apa lagi sama suami sendiri. Mas memang pengen beliin semua barang ini buat kebutuhan kamu dan Bunga.." ujar Reon.


"Yaa udah terserah Mas aja.." balas Putri.


"Bunga kemana..? Kok dari tadi Mas gak lihat Bunga..?" tanya Reon seraya melihat ke sekeliling ruangan, untuk mencari keberadaan Bunga.


"Bunga lagi main di rumah tetangga sebelah, Mas.. Sebentar lagi juga pulang.." jawab Putri.


"Ohh,, yaa udah Mas mau beresin semua barang-barang ini dulu di dapur, sekalian mau buat kopi.." ucap Reon.


"Biar aku aja Mas, Mas istirahat aja dulu. Pasti capek habis pulang kerja.." seru Putri sambil meraih barang-barang yang ada pada Reon, namun Reon segera menahannya.


"Gak usah Putri, biar Mas aja. Kamu duduk aja di sini, tunggu Mas selesai beresin semuanya.." ujar Reon.


Sembari menunggu Reon membereskan barang-barang di dapur, Putri pun memilih untuk menjemput Bunga yang berada di rumah tetangganya. Karena Putri tidak ingin hanya berduaan dengan suaminya itu di rumah, Ia masih merasa kecewa dan sedih dengan kenyataan bahwa Reon akan bertunangan dengan wanita lain.

__ADS_1


"Horeee,, Papaa udah pulang..!!" teriak Bunga berlari ke arah Reon.


"Yaahh,, gagal deh mau berduaan sama Putri,mmmh.." ucap Reon hanya dalam hati.


"Iyaa anak Papaa sayang, Papaa ada bawain sesuatu lho buat Bunga.." seru Reon sambil menggendongnya.


"Apa itu Paa..? Bunga mau lihat sekarang, Paa..!" ucap Bunga yang sudah tidak sabar ingin tahu apa yang di bawakan Reon untuknya.


Reon pun langsung membawa Bunga masuk ke dalam kamar, di sana terlihat ada beberapa bungkusan barang-barang yang berada di atas tempat tidur. Putri yang melihat itu hanya tersenyum getir, lalu memikirkan bagaimana kehidupannya setelah suaminya itu bersama dengan wanita lain nantinya.


"Apa mungkin kebersamaan dan kebahagiaan ini akan segera berlalu, Mas..?" tanya Putri dalam hati, sembari tetap menahan air matanya yang sejak tadi ingin terjatuh. Ia pun memilih untuk pergi ke ruang tamu, dan membiarkan Reon bermain bersama Bunga.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Putri baru saja selesai menyiapkan makan malam. Sedangkan Reon masih bersama Bunga yang kini tengah tertidur pulas, Reon dengan perlahan segera bangkit dari tempat tidur. Lalu mencari keberadaan Putri, yang sejak tadi Ia merasa bahwa Putri berusaha untuk menghindar darinya.


"Kamu kemana aja sih dari tadi..?! Sibuk banget sepertinya, Mas kan kangen.." seru Reon tiba-tiba seraya memeluk tubuh Putri dari belakang.


"Aku baru selesai siapin makan malam Mas, kita makan dulu yaa.. Bunga kemana..? Kok gak Mas ajak..?" tanya Putri sembari melepaskan pelukan Reon padanya.


"Bunga lagi tidur, mungkin dia kecapekan karena dari tadi sore main terus. Jadi sekarang kita bisaa--" jawab Reon yang langsung menciumi tengkuk leher Putri.


Putri yang sempat menikmati sentuhan Reon padanya, kini berusaha untuk tidak luluh. Ia mengingat kembali, bahwa pria yang berstatus sebagai suaminya itu dalam waktu dekat ini akan bertunangan dengan wanita lain.


"Kamu kenapa sih, Putri..? Dari sejak aku pulang sikap kamu acuh, dan terus aja menghindar. Aku tau kalau aku salah, tapi tolong jangan bersikap seperti ini terus.." seru Reon yang mulai frustasi dengan perubahan sikap Putri padanya.


"Terus aku harus bersikap gimana, Mas..? Tetap hangat dan mesra, seolah-olah gak ada yang terjadi..? Atau aku harus pura-pura lupa ingatan, kalau suami aku akan segera bertunangan dengan calon maduku..? Itu yang kamu mau..?!" sahut Putri sembari mengusap air matanya yang telah terjatuh.


"Maafin Mas, Putri.. Harusnya Mas bisa lebih ngertiin perasaan kamu, jangan nangis lagi yaa.." Reon segera merangkul Putri dan memeluknya erat, namun itu tidak berlangsung lama.


"Aku mau bangunin Bunga dulu Mas, udah waktunya makan malam.." ucap Putri yang melepaskan diri dari pelukan Reon, lalu berjalan menuju kamar untuk membangunkan Bunga.


Reon hanya menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa, Ia menarik nafasnya dengan dalam dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar...


Bersambung...


🙏😊 A59🌠

__ADS_1


__ADS_2