
"Ada hal penting apa mengajakku keluar malam-malam begini..? Ayo cepat ngomong, waktu ku gak banyak. Jangan bilang kalau kamu merindukan aku,hahaa.." ucap Reon pada wanita yang ada di depannya, yang tidak lain adalah Pelangi.
"Selain sombong, ternyata rasa percaya diri kamu terlalu tinggi yaa.. Tapi yaa udahlah gak penting, aku gak mau basa-basi.."
"Aku ngajak kamu ketemu, karena aku mau minta sama kamu untuk tidak setuju dengan rencana pernikahan yang telah di rencanakan oleh orang tua kita. Aku gak mau menikah secepat itu..!" ucap Pelangi.
"Rencana pernikahan..? Apa maksud kamu..?" tanya Reon yang masih tidak mengerti, karena memang Risma masih belum memberitahukan padanya tentang rencana pernikahan itu.
"Jangan pura-pura gak tau, atau bersikap seperti orang bodoh. Pokoknya kamu harus menolak rencana pernikahan itu..!" seru Pelangi sambil berlalu pergi meninggalkan Reon yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku bahkan gak tau kalau Mamaa sedang merencanakan pernikahan aku dengan Pelangi, kenapa semua jadi secepat ini..?!" gumam Reon yang juga bergegas pulang, karena Ia ingin menanyakan langsung tentang masalah itu pada Ibunya.
Sementara itu, Pelangi tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia menghentikan mobilnya di dekat sebuah taman yang saat itu masih terlihat ramai, dan tidak lama setelah itu Pelangi pun berniat untuk menghubungi Bintang. Ia ingin sekali berada di dekat Bintang, lalu menceritakan semua yang Ia rasakan.
"Apa aku harus menceritakannya pada Bintang..? Bukankah itu akan sangat menyakiti perasaannya..?" tanya Pelangi dalam hati sembari menghela nafasnya dengan berat.
Namun Ia juga tidak bisa melewati semua ini se'orang diri, Pelangi sangat membutuhkan Bintang untuk menguatkannya. Karena hanya Bintang yang menjadi tempatnya untuk berbagi, dan mampu menenangkan dirinya saat Ia rapuh.
"Bintang harus tau, aku juga gak mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.." ucap Pelangi sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tas nya dan segera menghubungi Bintang untuk datang menemuinya.
Tidak butuh waktu lama, Bintang pun telah tiba di taman tempat Pelangi berada dengan menaiki taksi online. Bintang mengajak Pelangi untuk turun dari mobilnya, dan mencari tempat duduk untuk berbincang-bincang. Namun Pelangi menolak, Ia memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
"Sebenarnya ada apa, El..?" tanya Bintang pada Pelangi yang sejak tadi terlihat sangat sedih.
Bukannya menjawab pertanyaan Bintang, Pelangi justru langsung memeluk tubuh Bintang seraya menangis dengan terisak-isak. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi sangat ingin keluar, hingga saat berada di pelukan Bintang air matanya pun menetes dengan derasnya.
"Yaa udah kamu nangis dulu aja sepuasnya, biar hati kamu bisa jadi sedikit lega.." ucap Bintang sambil mengelus-elus punggung Pelangi.
Setelah cukup lama dan merasa puas, Pelangi perlahan melepaskan pelukannya pada tubuh Bintang. Namun Ia masih terlihat sesenggukan, dan Bintang pun segera menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.
"Apa sekarang kamu udah tenang, El..?" tanya Bintang pada Pelangi yang hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Yaa udah kalau gitu, sekarang kamu cerita sama aku. Apa yang terjadi sebenarnya sama kamu..? Kenapa kamu sampai sedih dan nangis gitu..?" tanya Bintang lagi yang sejak tadi merasa penasaran dengan apa yang menyebabkan Pelangi sampai menangis sedih seperti itu.
"Ma-mamii.." ucap Pelangi lirih.
"Iyaa, kenapa dengan Mamii, El..?"
"Mamii,, Mamii udah merencanakan pernikahan aku dua bulan lagi, Biyang.. Hiks,, hiiks,, hiikks.." ujar Pelangi yang kini kembali menangis tersedu-sedu, lalu memeluk Bintang yang terlihat hanya diam terpaku.
Degg..
Saat itu juga, Bintang merasakan sesak di dalam dadanya. Ada kesedihan yang memenuhi ruang di hatinya, bersama air mata yang begitu sangat ingin keluar. Namun sekuat hati Ia tahan, perlahan Bintang menarik nafasnya lalu memejamkan mata dan tersenyum.
"Kamu yang sabar yaa, kamu harus kuat, El.." ucap Bintang dengan lembut, tapi di balik itu ada kesedihan mendalam yang tengah Ia rasakan, namun Ia tidak ingin memperlihatkannya pada Pelangi.
"Aku harus gimana, Biyang..? Aku gak mau buru-buru menikah, tapi Mamii udah nyiapin semuanya tanpa aku tau.." ujar Pelangi.
"Gak gimana-gimana El, kamu masih ingatkan dengan alasan kamu menerima perjodohan itu..?" tanya Bintang yang mencoba mengingatkan Pelangi.
"Iyaa aku tau, tapi kalau kamu gak menyetujuinya itu pasti akan membuat Mamii sedih dan juga kecewa.." jelas Bintang.
"Ta-tapi.. Kenapa semua terjadi secepat ini..?!" Pelangi merasa serba salah dengan situasi yang ada, di satu sisi Ia tidak ingin membuat Ibunya kecewa. Namun di sisi lain, Ia juga tidak ingin menyakiti hati Bintang apa lagi sampai kehilangan dirinya.
"Kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik, apapun yang kamu lakukan dan putuskan. Aku pasti akan mendukung kamu, El.." ucap Bintang seraya tersenyum, lalu memeluk erat tubuh Pelangi.
"Aku gak boleh nangis, aku harus kuat. Agar aku juga bisa menguatkan Pelangi.." ucap Bintang sambil terpejam dan menahan air mata serta kesedihan di dalam hatinya.
"Maafin aku yaa, Biyang.. Maafin aku, aku udah jahat sama kamu. Hiiks,, hiikks,, hiikks.."
"Gak El, kamu gak jahat. Jangan ngomong seperti itu lagi, ini semua terjadi di luar kendali kita. Kamu jangan nangis lagi yaa, sayaang.." ucap Bintang yang berusaha keras untuk menguatkan dirinya, sekaligus menguatkan Pelangi. Wanita yang sangat Ia sayangi itu, meski pada akhirnya harus terluka. Tapi itulah konsekuensinya, saat Ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Pelangi.
🌠
__ADS_1
🌠
Reon yang baru saja tiba di rumah, segera mencari keberadaan Ibunya untuk mencari tahu kebenaran tentang apa yang di katakan oleh Pelangi padanya.
Tokk,, tokk..
"Maa,, buka pintunya..! Ada yang mau aku tanyain ke Mamaa.." seru Reon sambil mengetuk pintu kamar Risma.
"Ada apa sih, Reon..? Mamaa sudah ngantuk, mau tidur dulu. Besok saja kita ngobrolnya.." ucap Risma yang langsung menutup pintu kamarnya.
"Tapi Maa, aku--"
Melihat Ibunya yang sudah menutup pintu kamar, Reon pun hanya bisa mendengus kesal. Ia pun mulai memikirkan bagaimana kalau ternyata Ibunya memang sudah merencanakan pernikahannya dengan Pelangi, pasti akan membuat hubungan dirinya dan Putri akan semakin renggang.
"Sial..! Kenapa jadi seperti ini..?! Putri gak boleh sampai tau,mmmh.." gumam Reon sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar, Ia semakin merasa frustasi menghadapi Ibunya yang seringkali membuat keputusan sendiri.
"Kakak kenapa..?" tanya sese'orang tiba-tiba.
"Hahh.. Rena..!! Kamu ngagetin aja sih, suka banget muncul tiba-tiba seperti hantu.." seru Reon dengan rasa kesal, karena adiknya itu sering kali dengan sengaja membuatnya terkejut dan kesal.
"Enak aja seperti hantu..! Kakak tuh yang bengong aja, pasti lagi mikirin Kak Putri kan..? Kakak kapan sih mau jujur sama Kak Pelangi..?" tanya Rena yang lagi-lagi merasa kesal dengan sikap pengecut dari Kakaknya itu.
"Dia gak perlu tau apa-apa, dan kamu jangan pernah cerita apapun pada siapapun. Awas aja..!" seru Reon sambil berlalu pergi meninggalkan Rena yang mulai tersulut emosi.
"Dasar pengecut..!" teriak Rena yang saat itu juga langsung tersadar, bahwa Ia tengah berdiri di depan pintu kamar Ibunya.
"Untung Mamaa udah tidur nyenyak,huuhh.." ucap Rena yang bernafas lega.
"Aku gak mungkin bisa membiarkan Kak Reon terus-menerus menyakiti Kak Putri dan membohongi semua orang, tapi.." gumam Rena sambil menggaruk-garuk kepalanya, Ia merasa bingung dengan akibat yang akan terjadi jika semua orang tahu kebenarannya. Terutama Ibunya, yang pasti akan merasa sangat kecewa pada Kakaknya, Reon...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59🌠