Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Rencana Masa Depan


__ADS_3

Selesai menikmati hidangan makan malam dan penutup, kini semua orang terlihat berkumpul di ruang keluarga. Sembari menikmati kopi dan teh hangat buatan Bik Ira, menjadi pelengkap suasana kebersamaan mereka pada saat itu.


"Bisa gak Kak, jangan nempel terus gitu sama Bintang..? Udah ngalahin perangko lama aja.." gerutu Awan yang sejak tadi merasa risih melihat Kakaknya yang seolah seperti lem yang melekat erat pada Bintang.


"Yaa wajarlah nempel terus, Bintang kan pasangan Kakak. Oh yaa, mulai sekarang panggil Bintang dengan Kak Bintang. Karena dia udah resmi jadi Kakak ipar kamu, ini juga berlaku buat kamu Rena.." ucap Pelangi pada Awan dan Rena yang kini saling bertatapan.


"Gak perlu seperti itu El, panggil nama aja seperti biasa.." sahut Bintang yang merasa tidak enak hati jika harus di panggil Kakak oleh Awan dan Rena.


"Ihh,, biarin aja Biyang, pangkat kamu kan sekarang udah naik dan lebih tinggi dari mereka berdua.." ujar Pelangi.


"Iyaa El, tapi gak gitu juga. Seperti biasa aja panggilannya.." sahut Bintang yang merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada diri Pelangi akhir-akhir ini.


"Tuh dengerin Kak, Bintang aja biasa aja tapi malah Kakak yang heboh sendiri.." ucap Awan.


"Kakak gak heboh, tapi cuma--" ucapan Pelangi pun terhenti saat melihat Melati dan Nury berjalan menuju ke arah mereka.


"Kalian lagi ngobrol apa sih..? Seru sekali sepertinya.." seru Melati yang kini ikut bergabung bersama mereka, di ikuti juga oleh Nury yang berjalan di sampingnya.


"Ini Mii, masa Kak El--"


"Husst..!" Pelangi yang menatap tajam ke arah adiknya itu, membuat Awan tidak berani melanjutkan ucapannya. "Gak ada apa-apa kok Mii, cuma ngobrol biasa aja,hee.." sahut Pelangi.


"Ohh, Mamii pikir ngobrolin apa, Mamii juga mau ngobrol serius sama Bintang.." ucap Melati yang membuat semua orang terdiam, menanti dan merasa penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh Melati pada Bintang.


"Iyaa Tante, ngomong aja gak apa-apa.." sahut Bintang yang kini juga merasa penasaran dan sekaligus tegang.


"Apa kamu memiliki niat atau rencana untuk menikah dengan Pelangi..? Kalau memang ada, lebih baik menikah di luar negeri saja. Nanti semua biar Tante yang mengurusnya.." ujar Melati yang membuat semua bengong karena terkejut mendengar ucapannya yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka.


"Hahh..?!" Bintang merasa tidak percaya mendengar apa yang Melati ucapkan barusan, hingga membuatnya diam terpaku untuk seketika.


"Biyang, ehh Bintang pasti mau kok, Mii.. Karena Pelangi juga mau banget bisa menikah dengan Bintang, walaupun harus di luar negeri.." sahut Pelangi yang terlihat begitu gembira.

__ADS_1


"Pelangi..! Yang Mamii tanya itu kan Bintang, kenapa kamu yang jawab,mmmh.." seru Melati sembari menggelengkan kepalanya.


"Yaa kan Pelangi cuma mewakili Bintang aja, Mii.. Pasti jawabannya sama kok, iyaa kan Biyang ehh Bintang.." tanya Pelangi pada Bintang.


"Maaf yaa,Tante.. Bukannya Bintang gak mau, tapi Bintang gak bisa.." balas Bintang.


"Biyang..! Kok kamu gitu sih, aku kan--"


"Pelangi..!" seru Melati pada Pelangi.


Mendapat tatapan tajam dari Melati, membuat Pelangi akhirnya terdiam dan membiarkan Bintang dan Ibunya yang berbicara.


"Kenapa kamu tidak bisa Bintang..? Apa kamu tidak serius menyayangi Pelangi..? Coba jelaskan.." ujar Melati.


"Bintang sangat sayang sama Pelangi, dan ingin bisa hidup bersama dengannya. Tapi gak harus dengan menikah Tante, karena hubungan ini aja udah salah dan Bintang gak mau menambah kesalahan yang lain lagi. Bintang harap Tante bisa mengerti.." jelas Bintang.


"Iyaa Bintang, Tante mengerti. Tapi Tante butuh sesuatu yang bisa menjamin, bahwa suatu saat nanti kamu tidak akan menyakiti dan meninggalkan Pelangi.." ucap Melati yang langsung bisa membuat Bintang mengerti apa maksud dari perkataannya.


"Lalu apa yang bisa menjaminnya, Bintang..?" tanya Melati.


"Sebenarnya tidak ada jaminan Tante, karena semua itu tergantung dengan niat dan tujuannya. Setiap orang bisa berubah, tapi di sini akan Bintang tegaskan jika aku dan Pelangi memiliki niat dan tujuan yang sama pasti hubungan kami akan bertahan lama. Selebihnya, harus saling melengkapi dan menerima kekurangan serta kelebihan masing-masing.." jelas Bintang membuat semua orang yang mendengarnya pun terpana.


"Yaa ampun Biyang, ehh Bintang.. Kata-kata kamu buat hati aku adem, tenang gitu. Tuh kan Mii, aku gak salah pilih..!" seru Pelangi sambil menatap ke arah Ibunya.


"Mamii juga kan tidak pernah bilang kalau kamu salah pilih, El.. Tapi Mamii juga percaya, kalau Bintang pasti bisa membahagiakan kamu, El.." ucap Melati sembari tersenyum puas, karena Ia mulai yakin bahwa Bintang tidak akan mengecewakan putri semata wayangnya itu.


"Jadi gimana Tante, gak harus menikah kan..?" tanya Bintang.


"Kalau kamu memang tidak bisa, tidak apa-apa, Bintang.. Yang penting kalian menjalani hubungan ini dengan hati-hati, baik-baik saja, dan tetap jaga nama baik keluarga kita.." ucap Melati mengingatkan, karena Ia tidak ingin jika hubungan mereka sampai menimbulkan masalah yang bisa berdampak buruk bagi semuanya.


"Yahh,, gak jadi nikah dan bulan madu dong,mmmh.." keluh Pelangi sambil menarik nafasnya.

__ADS_1


"Pelangi..!!" teriak Melati yang merasa kesal melihat tingkah putrinya itu yang akhir-akhir ini sering kali membahas soal pernikahan.


"Terus nanti Kak Pelangi dan Bintang mau tinggal dimana..?" tanya Awan yang kini ikut bersuara.


"Mamii beliin aku rumah yaa, biar nanti aku sama Bintang bisa tinggal berdua aja. Jadi kan gak ada yang gangguin,hee.." ucap Pelangi.


"Yaa ampun El, kamu ini benar-benar yaa..!" seru Melati yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Kamu apain sih, Bin..? Kok Kak Pelangi sekarang pikirannya jadi seperti itu, aneh..!" tanya Rena sambil menahan tawa.


"Bintang itu belum pernah ngapa-ngapain Kakak tau Ren, dia selalu nolak aja terus kalau Kakak ajak,mmmh.." sahut Pelangi.


"El..!!" seru Melati dan Bintang bersamaan, hingga membuat yang lainnya tertawa mendengar perkataan dari Pelangi.


"Untuk masalah tempat tinggal, kalian bisa tinggal di rumah Ibu. Karena kalau Bintang tinggal di rumah Pelangi, nanti Ibu sendirian di rumah.." ujar Nury memberikan pendapatnya, yang langsung di setujui oleh Melati.


"Memang Ibu gak apa-apa, kalau nanti dengerin suara-suara aneh saat Pelangi dan Bintang--" belum sempat Pelangi menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Bintang langsung membekap mulut Pelangi dengan tangannya.


"Yaa sudah, bahas tentang masalah hubungan kalian berdua sampai di sini dulu. Mamii jadi pusing.." ucap Melati yang tidak tahan dengan tingkah putrinya, sembari memijit keningnya. Ia lalu mengajak Nury untuk mengobrol di tempat lain, dari pada harus bergabung dengan Pelangi yang akan membuatnya semakin sakit kepala.


"Kamu apaan sih El, ngapain yang seperti itu kamu omongin..?!" seru Bintang sambil menarik tangan Pelangi untuk menjauh dari Awan dan Rena.


"Yaa kan memang bener apa yang aku omongin tadi Biyang.." sahut Pelangi yang tidak mau di salahkan.


"Iyaa memang bener, tapi gak harus di omongin ke orang lain juga, El.." ucap Bintang seraya menghela nafas panjang.


"Tapi kan Awan dan Rena bukan orang lain Biyang, mereka itu adik dan adik ipar aku. Adik kami juga lho.." balas Pelangi tidak mau kalah. "Terus kamu marah dan gak suka..? Kamu mau nyalahin aku gitu..?" tanya Pelangi dengan raut wajah antara kesal dan sedih.


"Gak El, kamu gak salah. Yaa udah kita ngobrol di luar aja yaa.." ajak Bintang yang tidak ingin Pelangi kembali bercerita tentang hal-hal lainnya yang bersifat pribadi pada Awan dan juga Rena, karena apa yang sudah Pelangi katakan sebelumnya sudah membuatnya merasa cukup malu di depan semua orang. Dan untuk ke depannya, Ia berencana akan mengajarkan Pelangi agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbicara...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59🌠


__ADS_2