
Reon yang tidak bisa lagi menahan dan menutupi tentang perjodohannya dengan Pelangi, akhirnya berencana untuk memberitahu semuanya pada Putri. Karena Ia yakin, bahwa Putri pasti bisa menerima dan mengerti bagaimana situasinya.
"Ayo Mas di minum kopinya, kok malah bengong gitu. Memang mikirin apa sih..?!" tanya Putri yang sejak tadi melihat Reon hanya diam dan melamun, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Gak apa-apa kok Putri, Mas cuma pengen ngomong sesuatu hal yang penting sama kamu. Tapi, mungkin nanti sore aja kalau Mas udah pulang kerja.." ujar Reon yang merasa bahwa saat ini waktunya kurang tepat untuk menceritakan semuanya.
"Memang hal penting apa sih, Mas..? Aku jadi penasaran banget nih.." seru Putri.
"Nanti aja Mas cerita, kalau udah pulang kerja.." balas Reon sambil menyeruput kopi buatan Putri.
"Yaa udah kalau gitu, aku tunggu Mas pulang. Sekalian nanti malam kita makan bareng yaa Mas, aku akan masakin makanan kesukaan Mas Reon.." ujar Putri sambil tersenyum.
"Iyaa Putri, sekarang Mas mau berangkat kerja dulu yaa.. Kamu sama Bunga baik-baik di rumah, dan jangan lupa berikan boneka itu pada Bunga.." ucap Reon seraya menunjuk ke arah bungkusan besar yang berisi boneka, yang sengaja Ia beli khusus untuk Bunga.
"Iyaa Mas, nanti aku berikan ke Bunga. Kamu hati-hati di jalan yaa Mas, jangan ngebut bawa mobilnya.." seru Putri mengingatkan sembari mencium punggung tangan Reon yang berstatus sebagai suaminya itu.
Setelah kepergian Reon, Putri pun melanjutkan aktivitasnya di rumah. Seperti yang biasanya Ia lakukan, sembari menunggu Bunga bangun dari tidurnya.
"Sebenarnya hal penting apa yaa, yang mau Mas Reon omongin..? Aku jadi kepikiran, apa jangan-jangan Ibunya Mas Reon udah tau soal hubungan aku sama Mas Reon..?" tanya Putri seorang diri.
"Gak,, gak mungkin,mmmh.." Putri berusaha untuk menepis semua pikirannya, dan kembali melanjutkan kegiatannya di rumah.
Di sisi lain, Pelangi yang sedang berada di meja kasirnya. Sejak tadi asyik memperhatikan Bintang yang tengah sibuk membereskan barang-barang, Pelangi ingin membantu tapi Bintang melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap duduk saja.
"Istirahat dulu Biyang, kamu pasti udah capek dari tadi angkatin barang-barang terus.." seru Pelangi pada Bintang.
"Iyaa sebentar lagi, nanggung nih. Udah mau selesai kok.." sahut Bintang.
"Dasar keras kepala..!" balas Pelangi.
"Keras kepala juga kamu sayang,hee.." goda Bintang yang membuat Pelangi malu dan tersenyum padanya.
"Yaa sayang dong, kalau bukan aku siapa lagi yang mau sayang sama kamu coba.." ujar Pelangi sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Mmmh,, sombongnya perempuan satu ini.." sahut Bintang.
"Memang ada perempuan yang kedua atau ketiga..?" tanya Pelangi.
"Gak ada, cuma kamu di sini,hee.." jawab Bintang.
"Jadi di tempat lain ada yaa..? Tuh kan Biyang..!" seru Pelangi sambil berkacak pinggang.
"Gak ada kok, aku kan cuma bercanda, El.. Akhirnya selesai juga.." ucap Bintang yang kini menghampiri Pelangi dan duduk di sampingnya.
"Terus gimana, El..?" tanya Bintang sambil menarik nafasnya.
"Gimana apanya, Biyang..?" ucap Pelangi yang balik bertanya, karena Ia tidak mengerti maksud pertanyaan dari Bintang.
"Perkembangan perjodohan kamu.." balas Bintang.
__ADS_1
"Jangan bahas soal itu, aku gak mau. Kan bisa bahas yang lain.." ujar Pelangi dengan raut wajah yang kini telah berubah.
"Iyaa maaf El, aku cuma pengen tau aja. Aku gak mau kamu menutupi apapun dari aku.." ucap Bintang.
"Gak ada yang aku tutupi dari kamu, aku memang gak mau bahas masalah itu.." balas Pelangi.
Kini keduanya pun terdiam, membuat suasana di antara mereka mulai hening. Bintang yang merasa bersalah karena sudah membuat Pelangi jadi terdiam, atas pertanyaannya tadi. Hanya bisa meminta maaf untuk kedua kalinya, namun tetap saja keceriaan di wajah Pelangi belum bisa kembali seperti sediakala.
🌠
🌠
Reon yang baru saja turun dari mobilnya, langsung di sambut hangat oleh Putri. Begitu juga dengan Bunga, yang langsung berlari menghampiri Reon dan memeluknya.
"Horeee,, Papaa udah pulang, Bunga kangen banget sama Papaa.." seru Bunga yang kini berada di dalam pelukan Reon.
"Papaa juga kangen banget sama Bunga, tadi pagi Papaa datang tapi Bunga-nya masih tidur.." ujar Reon sembari menggendong Bunga dan masuk ke dalam rumah.
"Iyaa Paa, makasih yaa bonekanya. Bunga seneng banget, Paa.. Sekarang kita main yuk, Paa..!" ajak Bunga sambil menarik tangan Reon untuk mengikutinya.
"Bunga sayang,, Papaa kan baru pulang kerja. Pasti Papaa capek, biar Papaa istirahat dulu yaa.. Sekarang Bunga main bonekanya sendiri dulu aja yaa sayang.."
Ujar Putri yang berusaha memberi pengertian pada Bunga, dan Bunga yang mengerti akhirnya kembali bermain sendiri tidak jauh dari tempat Putri dan Reon duduk saat itu.
"Aku bikinin kopi dulu yaa, Mas.." ucap Putri sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Gak usah, Mas udah minum kopi tadi di kantor sebelum pulang.." sahut Reon.
Setelah selesai istirahat dan membersihkan diri, Reon menemani Bunga bermain di ruang tamu. Putri yang melihatnya merasa sangat bahagia, Ia bersyukur dan juga beruntung karena Reon begitu menyayangi Bunga seperti anak kandungnya sendiri. Meski di sisi lain Ia juga merasa sedih, karena Ibu mertuanya hingga kini belum mengetahui dan merestui hubungan mereka.
"Kamu kenapa Putri..? Kok senyum-senyum sendiri gitu..?" tanya Reon yang sejak tadi memperhatikan Putri.
"Gak apa-apa kok Mas, aku cuma ngerasa seneng dan beruntung banget. Karena Bunga bisa memiliki Papaa yang baik seperti kamu, Mas.." jelas Putri dengan perasaan haru.
"Aku juga ngerasa beruntung banget bisa memiliki istri sekaligus anak dalam waktu bersamaan, Bunga anak yang baik, cantik dan juga pintar. Sama seperti Mamaa-nya.." ucap Reon seraya tersenyum dan mencubit hidung Putri.
"Mas bisa aja gombalnya..!" balas Putri.
"Tapi memang benar kok, kalau gak percaya. Coba aja kamu tanya sama Bunga.." sahut Reon.
"Mamaa sama Papaa, ayuk sini main bareng Bunga.." ajak Bunga yang melihat kedua orang tuanya sedang asyik mengobrol.
"Mainnya udah dulu yaa sayang, sekarang kita makan dulu. Mamaa udah masakin makanan kesukaan Bunga sama Papaa, kalian pasti suka.." ujar Putri dengan penuh semangat.
Kini ketiganya telah berada di meja makan, dengan telaten Putri menuangkan nasi beserta lauk sayur pada piring Reon dan Bunga. Reon pun tersenyum bahagia, karena kali ini berkesempatan untuk makan malam bersama anak dan istrinya. Namun senyum itu seketika menghilang, saat Ia sadar tentang apa yang nanti ingin Ia katakan pada Putri.
"Loh Mas, kok malah bengong gitu sih..? Ayo di makan, nanti keburu dingin makanannya.." seru Putri yang melihat Reon hanya termenung menatap makanannya.
"Iyaa Paa, masakan Mamaa enak lho Paa..!" ucap Bunga menimpali.
__ADS_1
"Kalau masakan Mamaa enak, berarti Bunga harus banyak makannya yaa sayang. Biar nanti cepat besar.." sahut Reon sambil mencubit pipi Bunga dengan gemasnya.
Selesai makan malam, Reon mengajak Putri untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan Bunga sedang asyik bermain dan menonton televisi, kesempatan itu pun di gunakan oleh Reon untuk mengatakan apa yang selama ini Ia tutupi dari Putri.
"Ohh iyaa Mas, tadi pagi kan Mas bilang ada yang mau di omongin sama aku, sekarang Mas cerita yaa.. Aku udah gak sabar pengen tau, hal penting apa sih yang Mas Reon mau omongin.." ujar Putri mengingatkan Reon.
"Iyaa Putri, sebelumnya Mas minta maaf yaa.." ucap Reon sambil menarik nafasnya.
"Minta maaf kenapa, Mas..? Mas Reon kan belum cerita apa-apa, kok udah minta maaf aja.." sahut Putri dengan perasaan yang kini terasa tidak enak, karena Ia mulai berpikir bahwa apa yang akan di katakan Reon mungkin ada kaitan dengan Ibunya.
"Karena apa yang mau Mas omongin, mungkin akan menyakiti hati kamu, Putri.." balas Reon.
"Udah yaa Mas ngomong aja, jangan buat aku semakin penasaran dan bertanya-tanya.." seru Putri.
"Ini soal Mamaa.." ucap Reon.
"Iyaa Mas, kenapa dengan Mamaa..?" tanya Putri.
"Mamaa menjodohkan Mas dengan anak sahabatnya, dan Mamaa meminta Mas untuk melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat ini.." jelas Reon.
Degg
Seketika itu, hati Putri pun terasa begitu hancur. Dadanya terasa sangat sesak, ada rasa kecewa yang begitu membuncah memenuhi ruang di hatinya. Namun demikian, Ia berusaha keras untuk tetap bersikap seperti biasa.
"Aku gak boleh terlihat lemah, aku harus kuat..!" gumam Putri di dalam hati yang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Ohh,, terus kapan acara pertunangannya, Mas..?" tanya Putri sambil tetap tersenyum pahit.
"Kalau gak ada perubahan, acaranya akan di gelar dua minggu lagi. Tapi kok kamu biasa aja, Putri..? Kamu gak marah atau gimana gitu..?" tanya Reon yang merasa heran dengan sikap Putri yang sedikitpun tidak menunjukkan bahwa iyaa marah, kecewa atau sebagainya.
"Memang Mas maunya aku gimana, marah-marah..?? Terus kalau aku marah-marah, apa pertunangan Mas itu bisa di batalkan..? Gak kan, Mas..?! Pertunangan itu akan tetap terjadi, baik aku marah atau gak. Aku setuju atau gak, benarkan Mas..?!" tanya Putri penuh penekanan.
"Iyaa Putri, Mas benar-benar minta maaf. Mas gak bisa menolak keinginan Mamaa, Mas gak mau terjadi sesuatu sama Mamaa seperti waktu itu. Mas harap kamu bisa ngertiin posisi Mas yaa, Putri.." ujar Reon dengan rasa bersalah.
"Iyaa Mas, aku ngerti kok. Dari dulu Mamaa memang lebih penting di banding gimana perasaan aku, dan aku sadar diri. Aku sadar diri banget Mas, kalau aku memang gak ada arti apa-apa.." balas Putri yang sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Bukan seperti itu Putri, kamu sangat berarti buat Mas. Begitu juga dengan Bunga, tapi Mas juga gak bisa membuat Mamaa kecewa. Tolong kamu ngertiin posisi Mas, Mas sayang banget sama kamu, Putri.." ucap Reon seraya menggenggam tangan Putri.
"Aku ngerti kok Mas, kamu tenang aja. Toh aku udah terbiasa, yaa udah Mas. Lebih baik sekarang kamu pulang, udah gak ada lagi juga yang harus di omongin.." ujar Putri.
"Tapi malam ini Mas mau tidur di sini, Mas masih kangen banget sama kamu.." sahut Reon.
"Kapan-kapan aja yaa Mas, karena aku juga gak yakin bisa melakukan kewajiban aku sebagai se'orang istri malam ini. Dengan perasaan aku yang sekarang ini, yaah.. Mas pasti bisa tau sendiri, gimana perasaan aku kan,hee.." jelas Putri sembari tertawa kecil dan mengusap manik air matanya yang hampir saja terjatuh.
"Iyaa Putri, Mas bisa ngerti. Sekali lagi Mas minta maaf,mmmmh.. Yaa udah kalau gitu, Mas pamit pulang dulu.." ucap Reon.
Setelah berpamitan pada Putri dan Bunga, Reon pun segera kembali pulang ke rumah orang tuanya. Sedangkan Putri, kini tengah berada di dalam kamar mandi sambil menangis sejadi-jadinya. Ia tidak ingin Bunga melihatnya menangis, meski kadang Bunga pernah bertanya apa yang sedang Ia lakukan di kamar mandi hingga selama itu. Putri pun hanya bisa berbohong pada Bunga, bahwa Ia sedang membersihkan kamar mandi...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59🌠