Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Kesan Yang Baik


__ADS_3

Pelangi yang baru saja pulang dari toko, kini segera berjalan menuju kamarnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa, yang terletak di sudut kamar. Ia terlihat begitu lelah, karena seharian ini harus memeriksa seluruh toko milik orang tuanya.


Ibunya sudah seringkali menyuruh Pelangi untuk mencari sese'orang yang bisa di percaya, untuk bisa membantunya mengurus dan mengawasi semua toko yang ada. Namun Pelangi selalu saja menolak, karena menurutnya semua masih bisa Ia urus dan kendalikan sendiri. Meski terkadang, Ia juga di bantu oleh Ibunya.


"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini Kak, lancar..?" tanya Melati pada Pelangi saat sedang makan malam bersama.


"Lancar Mii, cuma ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Tapi keburu udah sore, jadi mungkin besok aku kerjain lagi.." jawab Pelangi sembari melanjutkan makan malamnya kembali.


"Kan Mamii sudah bilang, cari orang yang bisa membantu kamu mengurus semuanya. Biar kamu tidak kerepotan seperti itu, apa perlu Mamii yang mencarikan..?" tanya Melati yang tidak ingin putrinya kerepotan sendiri dengan pekerjaannya.


"Gak usah Mii, masih bisa aku kerjain sendiri kok.." sahut Pelangi.


"Kak Pelangi ini memang keras kepala Mii, biarin aja Kakak yang ngurus sendiri semuanya.." seru Awan yang ikut menimpali.


"Enak aja yaa kamu ngatain Kakak keras kepala, kamu tuh di suruh bantuin Kakak ngurus usaha keluarga kita gak mau..!" ucap Pelangi yang merasa tidak terima dengan perkataan adik laki-lakinya, sambil ingin memukul Awan.


"Weekkk,, gak kena.." balas Awan yang langsung menghindar dari pukulan Pelangi.


"Sudah-sudah..! Kalian berdua ini, kalau ngumpul berantem terus,mmmh.." seru Melati sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya itu, yang seringkali bertengkar saat berkumpul bersama.


"Awan duluan sih Mii, ngatain aku keras kepala. Padahal dia yang lebih keras kepala,huuhhh.." sahut Pelangi.


"Selain keras kepala, Kak Pelangi juga seperti anak kecil kan, Mii.. Udah gitu galak banget lagi,hehee" ledek Awan sambil mentertawakan Kakaknya yang terlihat masih kesal.


"Kamu tuh yang seperti anak kecil, dasar bocah tengil..!" seru Pelangi sambil ingin menjitak kepala Awan yang langsung berdiri dan berlari menjauh dari Pelangi.


Melati yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, pemandangan seperti itu memang sudah seringkali Ia lihat. Dari sebelum dan sesudah suaminya meninggal dunia, seketika itu Ia merasakan sedih di dalam hatinya.

__ADS_1


"Anak-anak kita sekarang sudah tumbuh besar dan dewasa, Papii.."


Gumam Melati dalam hati, dan tanpa Ia sadari air matanya pun jatuh membasahi pipinya. Pelangi yang melihat ini, segera berjalan menghampiri Ibunya.


"Mamii kenapa nangis..? Pasti keingat sama Papii yaa, Mii..?" tanya Pelangi seraya memeluk erat tubuh Ibunya, di ikuti oleh Awan yang juga ikut mendekati keduanya.


"Tidak apa-apa sayang, kalian berdua baik-baik yaa.. Selalu do'akan Mamii sama Papii, sekarang cuma kalian berdua yang Mamii punya.." ujar Melati yang membalas pelukan kedua anaknya, sembari menangis.


"Iyaa Mii, Awan dan Kak Pelangi pasti akan selalu do'ain Mamii sama Papii kok.." sahut Awan sambil menatap wajah Ibunya, lalu beralih menatap wajah Pelangi yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mamii jangan nangis lagi yaa, kan kita berdua jadi sedih lihatnya.." ucap Pelangi sambil menghapus air mata Ibunya.


"Iyaa Mamii tidak nangis lagi kok, sekarang kita ngobrol di ruang tengah saja yaa.. Biar Bik Ira yang bereskan meja makannya, sekalian Mamii mau lihat laporan kamu tentang semua toko kita.." ujar Melati sembari mengajak kedua anaknya berjalan menuju ke ruang tengah.


Tanpa menunggu lama, Pelangi menyerahkan beberapa buku catatan tentang laporan keuangan dan juga catatan pembelian barang-barang pada Ibunya. Sedangkan Awan yang tak ingin terlibat dalam urusan Ibu dan Kakaknya, lebih memilih untuk pergi berkumpul bersama dengan teman-temannya.


"Iyaa El,, Mamii sudah lihat semua dan memang tidak ada masalah. Tapi Mamii tetap mau menyarankan kamu, untuk mencari sese'orang yang bisa membantu kamu mengurus semua ini. Mamii cuma tidak mau kamu kecapekan, dan kurang istirahat karena harus mengurus usaha keluarga kita sendirian.." ujar Melati sambil menghela nafasnya.


"Mamii tenang aja yaa, Pelangi masih bisa kok mengurus ini semua sendiri. Kan Mamii juga bantuin, kalau memang nanti aku udah gak bisa urus sendiri baru deh aku cari orang.." seru Pelangi dengan senyuman di wajahnya.


"Mmmh,,yaa sudah terserah kamu saja, kamu dari dulu memang keras kepala. Sama seperti Papii kamu.." sahut Melati sembari mencubit hidung putri semata wayangnya itu.


"Iyaa dong seperti Papii, kan memang anak Papii sama Mamii,hehee.." balas Pelangi.


"Terus bagaimana dengan Bintang..? Apa sudah terbiasa dengan pekerjaannya..?" tanya Melati yang ingin tau tentang anak dari teman sekolahnya itu.


"Dia kerja dengan baik kok Mii, anaknya rajin dan cekatan. Cuma banyak diam, aku kadang bingung mau ngomong apa sama dia. Karena kalau gak di tanya atau di ajak ngomong duluan, dia gak ngomong-ngomong lho, Mii.. Aneh kan.." seru Pelangi.

__ADS_1


"Masa sih El,, tapi waktu itu pas Mamii ajak ngobrol dia banyak bicara kok. Mungkin memang anaknya pendiam atau pemalu, yang penting dia kerja dengan baik. Mamii sudah senang.." ucap Melati.


"Iyaa Mii, semoga aja dia betah dan bisa di percaya. Karena kalau sampai seperti yang kemarin, mending nanti toko pasang cctv aja, Mii.. Biar yang kerja gak malas-malasan dan macam-macam lagi.."


Ucap Pelangi dengan nada kesal, karena sudah beberapa kali orang yang bekerja dengannya bersikap tidak jujur dan tidak sungguh-sungguh dalam bekerja.


"Kita lihat saja nanti, tapi Mamii percaya dia anak yang baik. Karena Mamii tau betul bagaimana Ibunya, pasti tidak berbeda jauh dengan anaknya juga.." ujar Melati.


"Iyaa Mii, semoga apa yang Mamii bilang itu memang benar. Dia juga enak di ajak ngobrol, nyambung gitu.." sahut Pelangi.


"Syukurlah kalau begitu, jadi kamu juga punya teman ngobrol. Kapan-kapan kamu ajak Bintang main ke rumah yaa, El.." ucap Melati.


"Iyaa deh Mii, kapan-kapan aku ajak dia ke rumah. Kalau gitu aku mau masuk ke kamar dulu yaa, Mii.." seru Pelangi seraya membawa semua buku catatan yang ada di atas meja.


"Iyaa El, kamu istirahatlah dulu pasti capek kan. Ohh iyaa, nanti jangan lupa bilang ke Awan jangan pulang malam-malam. Adik kamu itu, kalau sama Mamii susah nurutnya. Takutnya cuma sama kamu, apa mungkin Mamii kurang galak yaa.." ujar Melati sembari tersenyum menatap Pelangi.


"Jadi maksud Mamii, aku galak gitu,mmmh.." sahut Pelangi.


"Mamii tidak bilang begitu El,, yaa sudah Mamii juga mau ke kamar dulu yaa.." ucap Melati yang buru-buru meninggalkan Pelangi, Ia tidak mau mendengar omelan putrinya itu.


"Kenapa sih orang-orang bilang aku galak, aneh.." gumam Pelangi sembari berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah berada di dalam kamar, Pelangi kini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Di lihatnya ponsel yang sejak tadi ada di atas tempat tidur, berharap ada pesan dari sese'orang yang belakangan ini masih Ia rindukan. Namun ternyata tidak ada, dan Ia hanya bisa menarik nafasnya dengan dalam.


"Mungkin dia udah bahagia sama yang lain, dan udah lupain aku,mmmh.." ucap Pelangi dalam hati, sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59


__ADS_2