Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Tiga Hari Sebelum Pernikahan


__ADS_3

"Awan,, ayo buruan antar Mamii ke rumah Tante Risma, ada sesuatu yang ingin Mamii bicarakan sama Tante.." seru Melati pada Awan.


"Iyaa Mii, nih Awan udah siap kok. Memang mau bicarakan apa lagi sih, Mii..? Di telepon kan bisa.." sahut Awan.


"Sudah ayo buruan, jangan banyak tanya.." balas Melati sambil memasuki mobil, dan dengan cepat Awan pun mengikuti lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah Risma.


Namun saat di perjalanan, tiba-tiba Awan mendadak menghentikan mobilnya. Lalu membuka kaca mobil dan menatap ke arah mobil yang ada di sampingnya, namun tidak lama Ia kembali melanjutkan perjalanan.


"Ada apa Wan, kenapa ngerem mendadak..?" tanya Melati yang melihat raut wajah Awan yang terlihat berbeda.


"Gak apa-apa kok, Mii.. Tadi Awan cuma lihat teman,hee.." jawab Awan sambil memikirkan apa yang tadi Ia lihat.


"Itu pasti dia, aku tidak mungkin salah lihat.." gumam Awan dalam hati.


Setibanya di kediaman Risma, Awan pun mencoba mencari keberadaan Rena dan Reon. Tapi tidak menemukan mereka, lalu Ia berpikir untuk bertanya pada Risma. Namun niat itu Ia urungkan, karena saat ini bukan saat yang tepat untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di pikirannya.


Selesai berbincang-bincang dengan teman baik sekaligus calon besannya, Melati pun segera berpamitan pada Risma. Senyum yang begitu sumringah terlihat jelas dari raut wajah keduanya, namun tidak begitu halnya dengan Awan.


"Apa Mamii yakin kalau Reon itu adalah calon suami yang baik untuk Kak Pelangi..?" tanya Awan tiba-tiba saat keduanya telah berada di dalam mobil.


"Mamii yakin, buah pasti jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mamii mengenal kedua orang tuanya dengan baik, jadi menurut Mamii anak-anaknya juga pasti baik. Reon sebentar lagi akan menjadi saudara ipar kamu, jadi berhentilah memanggilnya dengan menyebut namanya.." ujar Melati yang membuat Awan terdiam, lalu menarik nafasnya.


"Itu bukan jawaban yang aku inginkan, Mamii.." ucap Awan dalam hati, seraya kembali fokus mengemudikan kendaraannya.


🌠


"Ada apa mengajakku keluar, Wan..? Sepertinya kamu udah kangen berat yaa,hee.." seru Rena sambil mengerlingkan matanya.


"Ada sesuatu yang mau aku tanyain sama kamu, Ren.. Tapi aku minta kamu jawab jujur.." ucap Awan yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Kamu serius banget, jadi buat aku takut,hee.. Memang kamu mau tanya apa sih, Wan..?" ucap Rena yang kini balik bertanya dan merasa penasaran dengan apa yang ingin Awan tanyakan.

__ADS_1


"Apa saat ini Kak Reon memiliki hubungan dengan perempuan lain..? Karena tadi pagi aku lihat dia bersama perempuan dan se'orang anak kecil.." tanya Awan menyelidik.


Degg..


"Yaa Tuhan,, aku harus jawab apa..?!" gumam Rena yang kini tampak sangat gelisah, dan hal ini di sadari oleh Awan.


"Ayo jawab jujur Ren..! Aku tau kamu pasti menyembunyikan sesuatu tentang Kak Reon, iyaa kan..!" seru Awan dengan nada yang tinggi, sontak membuat Rena terkejut.


"Ak-aku--"


"Katakan yang sebenarnya, kalau gak.. Anggap kita gak pernah kenal.." ancam Awan pada Rena dengan tatapan penuh penekanan, karena kali ini Awan memang sangat serius dengan ucapannya. Ia tidak ingin Kakaknya sampai di sakiti dan di kecewakan, meskipun Ia harus mempertaruhkan hubungannya dengan Rena.


"Maafin aku, Wan.." ucap Rena sambil tertunduk, karena merasa bersalah telah menyembunyikan rahasia tentang hubungan Kakaknya.


"Aku akan maafin kamu, kalau kamu mau mengatakan semuanya dengan jujur. Aku gak mau ada yang di tutupi, karena ini menyangkut kebahagiaan Kak Pelangi. Aku gak akan terima siapapun menyakitinya, termasuk Kakak kamu, Reon.." tegas Awan.


Setelah cukup tenang, Rena pun mulai memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada Awan tentang hubungan Reon dan Putri. Meski Ia tidak bisa membayangkan, apa akibatnya jika semuanya terbongkar.


"Kenapa kamu gak cerita semuanya dari awal, Ren..?!" tanya Awan yang tidak habis pikir, kenapa Rena harus menyembunyikan semua itu. Sudah jelas itu sama saja membohongi semua orang, dan akan banyak orang yang akan tersakiti.


"Aku pengen banget jujur dari awal sama kamu, tapi Kak Reon selalu mengingatkan aku tentang akibatnya kalau Mamaa sampai tau. Aku gak mau Mamaa sampai kena serangan jantung lagi, karena mengetahui hubungan antara Kak Reon dan Kak Putri. Aku benar-benar minta maaf Wan, aku gak berniat untuk menutupinya dari kamu.." ujar Rena yang kini menangis tersedu-sedu.


"Maafin aku juga Ren, karena tadi aku udah bentak kamu. Aku gak nyangka kalau Kakak kamu Reon seperti itu,mmmh.." ucap Awan sembari memeluk Rena, lalu menghapus air matanya.


"Terus setelah kamu tau, apa yang akan kamu lakukan, Wan..?" tanya Rena pada Awan yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Aku akan menggagalkan pernikahan Kak Pelangi, aku gak akan biarin itu terjadi. Tapi aku gak bisa melakukannya sendiri, aku butuh bantuan kamu dan juga Kak Pelangi.." jelas Awan.


"Memang apa yang harus aku lakukan, Wan..?"


"Nanti aja aku kasi tau, sekarang kamu ikut aku ke rumah. Kita akan membahasnya bersama Kak Pelangi juga, mungkin aja dia punya ide yang lebih baik dari aku.." sahut Awan seraya tersenyum dan menarik tangan Rena untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


🌠


🌠


Sementara itu di tempat yang lain, Reon dan Putri baru saja tiba di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan Bunga yang karena kelelahan, kini tertidur di pangkuan Ibunya. Reon pun segera menggendong Bunga untuk masuk ke dalam rumah, di sertai dengan Putri yang mengikutinya dari belakang.


"Mas seneng banget hari ini, bisa jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama kamu dan Bunga. Tapi Mas ngerasa aneh.." ucap Reon yang baru saja membaringkan tubuh Bunga di tempat tidur.


"Lebih baik kita ngobrol di ruang tamu aja Mas, aku gak mau Bunga kebangun.." sahut Putri yang tidak menanggapi perkataan Reon.


"Apa Mas mau minum kopi..? Kalau iyaa, aku buatin.." tanya Putri yang seharian ini bersikap hangat terhadap Reon, tidak seperti sebelumnya.


"Gak usah Putri, kamu duduk aja sini. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari, Mas..? Karena Mas ngerasa kamu terlihat beda.." tanya Reon yang merasa aneh dengan perubahan sikap Putri yang sekarang ini.


"Apa Mas berharap dan mau aku marah-marah..? Atau bersikap lebih acuh dan dingin..? Setelah aku tau, bahwa sebentar lagi Mas akan menikah.." ucap Putri dengan tetap tenang, dan mengukir senyuman yang sebenarnya penuh kekecewaan.


"Bukan itu maksudnya, tapi--"


"Aku cuma berusaha untuk menghargai waktu yang ada, Mas.." balas Putri.


"Apa maksud kamu ngomong seperti itu..? Apa kamu akan pergi ninggalin, Mas..?" tanya Reon dengan hati yang kini mulai terusik, karena Ia merasa takut kalau itu sampai terjadi.


"Memang aku bisa pergi kemana, Mas..? Sedangkan selama ini aku dan Bunga selalu bergantung sama kamu.." jawab Putri mencoba meyakinkan, karena Ia tidak ingin niatnya untuk pergi jauh di ketahui oleh Reon.


"Syukurlah kalau gitu, kamu gak boleh pergi ninggalin aku, Putri.. Karena aku suami kamu, dan kamu istriku. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu.." ujar Reon sembari memeluk Putri.


"Iyaa Mas, aku memang istrimu. Istri yang sampai kapanpun akan selalu kamu sembunyikan. Itulah kenyataannya.." gumam Putri dalam hati, seraya tersenyum dan menahan air matanya...


Bersambung...


🙏😊 A59🌠

__ADS_1


__ADS_2