Pelangi Untuk Bintang

Pelangi Untuk Bintang
Yang Tersembunyi


__ADS_3

"Bintang,, kenapa kamu tidak bilang sama Ibu, kalau Pelangi akan bertunangan..?" tanya Ibu pada Bintang saat sedang menikmati makan malam.


"Tolong jangan bahas itu dulu yaa, Bu.. Nanti aja kalau udah selesai makan.." jawab Bintang yang kini mendadak tidak nafsu makan, namun tetap berusaha untuk menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya.


Ibu yang tahu bahwa suasana hati Bintang sedang tidak baik, memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun lagi. Karena Ia telah paham, putri kesayangannya itu akan lebih banyak diam saat ada sesuatu hal yang tidak menyenangkan yang mengganggu hati dan pikirannya.


Setelah menunggu cukup lama, kini akhirnya Bintang keluar dari kamarnya. Dan berjalan menuju ke arah Ibunya yang sejak tadi telah menunggu, karena ingin tahu tentang pertunangan Pelangi.


"Kalau kamu masih tidak ingin membahasnya, tidak apa-apa Bintang. Ibu bisa mengerti, tapi Ibu ingin mengingatkan lagi sama kamu. Lebih baik mulai sekarang, kamu jaga jarak dengan Pelangi. Ibu hanya tidak ingin, kamu terluka lebih dalam lagi, Bin.."


Ujar Ibu pada Bintang yang hanya mendengarkan, namun pikirannya terus saja tentang Pelangi. "Kamu dengar Ibu kan, Bin..?!" tanya Ibu saat melihat Bintang masih saja terdiam.


"Ehh,,iyaa Bu, Bintang dengar kok.." jawab Bintang sambil menarik nafasnya dengan berat.


"Kamu ini pasti lagi memikirkan Pelangi yaa,mmmh.." seru Ibu.


"Gak kok Bu, gak salah lagi,hee.. Ibu tenang aja yaa, Bintang gak apa-apa kok. Gak perlu juga Bintang jauhin atau jaga jarak dengan Pelangi, Bintang udah siap dengan semua resikonya, Bu.." jelas Bintang sambil tersenyum penuh arti.


"Mmmh,,kamu ini Bintang, selalu saja keras kepala. Tapi yaa sudahlah, yang penting Ibu sudah mengingatkan. Semuanya terserah kamu, pasti kamu tahu mana yang terbaik.." ujar Ibu.


"Iyaa Bu, terimakasih yaa.. Karena Ibu selalu bisa ngertiin Bintang, walaupun Bintang sering kali gak nurut sama Ibu,hee.." sahut Bintang seraya tertawa kecil.


Seberapa keras pun usaha Bintang untuk menutupi kesedihan di hatinya, namun Ibunya tetap tahu dan bisa melihat kesedihan itu.


"Ibu tahu, saat ini kamu pasti merasa sedih, Bin.." gumam Ibu sembari menatap raut wajah Bintang yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Ibu kok malah bengong sih..? Mikirin apa hayo..?!" tanya Bintang yang sontak membuat Ibunya tersadar.


"Ibu hanya memikirkan kamu, Ibu tidak mau kamu sedih, Bintang.." balas Ibu.


"Bintang gak sedih kok Bu, nih coba lihat.." seru Bintang yang langsung memperlihatkan ekspresi wajah tersenyum, namun terlihat di buat-buat.


"Syukurlah kalau memang tidak sedih, tapi kalau kamu nanti mau menangis. Kamu bilang sama Ibu yaa, karena Ibu siap menemani,hehee.." ledek Ibu pada Bintang yang membuatnya merasa malu sekaligus sedih.


"Ibu apaan sih..! Ngapain juga nangis bilang-bilang sama Ibu, ada-ada aja Ibu ini.." gerutu Bintang.


"Ohh yaa Bu, nanti Bintang keluar yaa sama Pelangi.." ucap Bintang kemudian.


"Iyaa Bin, pasti mau pacaran yaa.." goda Ibu sambil tersenyum.


"Yaa biasalah Bu,hee.. Apa Ibu mau ikut..? Kan kita gak pernah jalan bareng bertiga sama Pelangi.." tanya Bintang yang merasa tidak enak, karena sering meninggalkan Ibunya sendiri di rumah.


"Tidak Bin, kamu dan Pelangi saja yang pergi yaa.. Ibu mau istirahat saja di rumah, tapi nanti Ibu nitip belikan buah. Jangan lupa lho, nanti karena asyik berduaan jadi lupa pesanan Ibu.." ucap Ibu yang terus saja menggoda Bintang.

__ADS_1


"Yaa gaklah Bu, Bintang pasti ingat kok. Kalau gitu Bintang mau siap-siap dulu yaa, Bu.." sahut Bintang yang langsung berjalan menuju ke arah kamarnya.


🌠


Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe, kini Bintang dan Pelangi memutuskan untuk segera pulang. Keduanya pun berjalan menuju tempat parkiran, dengan Pelangi yang terlihat menggenggam tangan Bintang.


"Aku punya sesuatu buat kamu, El.." ucap Bintang pada Pelangi, sambil mengeluarkan sesuatu dari saku djaket nya.


"Apa ini Biyang..?" tanya Pelangi saat melihat sebuah kotak kecil yang di hiasi dengan sebuah pita berwarna ungu.


"Sesuatu yang udah lama pengen aku kasih ke kamu, tapi bukanya nanti aja yaa.. Kalau kamu udah di rumah,hee.." ujar Bintang.


"Tapi aku mau bukanya sekarang, Biyang.." balas Pelangi.


"Jangan sekarang..!" seru Bintang seraya menahan tangan Pelangi yang ingin membuka kotak kecil pemberiannya.


"Mmmh,, yaa udah kalau gitu, aku bukanya di rumah aja. Terimakasih yaa Biyang, kamu romantis banget.." ucap Pelangi seraya mencium pipi Bintang dengan malu-malu.


"Iyaa El, sama-sama yaa.." balas Bintang sambil tersenyum penuh arti.


"Kalau gak sekarang, mungkin nanti aku gak punya kesempatan untuk memberikannya.." gumam Bintang dalam hati, ada rasa sedih yang terus saja menyelimuti hatinya. Namun Ia tidak ingin, menunjukkan kesedihan itu pada Pelangi.


"Sekarang kita pulang yaa Biyang, gak sabar mau buka hadiah dari kamu,hehee.." seru Pelangi yang kini melajukan mobilnya.


"Okey Biyang, siap laksanakan..!" balas Pelangi sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.


Bintang yang melihat itupun hanya bisa tersenyum, lalu memikirkan mungkin nanti saat-saat seperti ini akan sulit untuk Ia rasakan lagi. Karena suasana dan keadaan yang sudah pasti berubah, tidak seperti di awalnya.


"Kita udah nyampe nih, ayo turun Biyang..!" seru Pelangi yang membuat Bintang sedikit terkejut, namun Bintang segera tersadar dan kembali bersikap seperti biasanya.


Kini Bintang sibuk memilih buah yang di inginkan oleh Ibunya, dan Pelangi pun ikut membantu memilihnya. Dan tidak lama kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju ke rumah Bintang.


🌠


🌠


Sementara itu, di tempat yang lain. Tepatnya di sebuah restoran ternama, terlihat Awan bersama dengan Rena yang sedang menikmati kencan mereka. Keduanya telah berpacaran sejak beberapa minggu yang lalu, namun mereka masih belum berani untuk mengatakan tentang hubungan itu pada kedua orang tua mereka masing-masing. Hal itu di karenakan Awan dan Rena berpikir, bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan hubungan mereka.


"Kita pulang yuk Wan, udah hampir jam sepuluh nih.." seru Rena yang melihat ke arah jam tangan yang Ia kenakan.


"Sebentar lagi yaa, nanggung. Lagi pula aku masih kangen sama kamu, Ren.." sahut Awan sambil tersenyum menatap wajah cantik Rena.


"Kan masih ada waktu lagi besok-besok, aku takut nanti Mamaa banyak tanya lagi.." ucap Rena.

__ADS_1


"Iyaa iyaa deh, kita pulang sekarang.." balas Awan.


Keduanya pun segera keluar dari dalam restoran, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.


"Jadi kita langsung pulang nih..?" tanya Awan pada Rena.


"Yaa iyaalah Wan, memang mau kemana lagi malam-malam begini..?!" sahut Rena.


"Kirain mau ke hotel gitu,hehee.." goda Awan seraya tertawa kecil.


"Ishh,, apaan sih kamu, memang kamu pikir aku cewek murah apa..?!" balas Rena yang kini menatap tajam ke arah Awan.


"Aku kan cuma bercanda Ren, jangan marah yaa.. Aku tau kok, kalau kamu itu wanita baik-baik dan gak neko-neko.." sahut Awan yang kini merasa takut sendiri dengan akibat candaannya itu.


"Awas yaa kalau kamu mikir yang aneh-aneh..!" seru Rena dengan nada mengancam.


"Iyaa Ren, gak mikir yang aneh-aneh kok. Cukup mikirin kamu aja,hehee.." balas Awan.


"Alahh,, dasar gombal..!" seru Rena sembari mencubit lengan Awan.


"Beneran Rena, kamu aja yang gak tau. Oh yaa Ren, aku boleh tanya sesuatu..?!" ucap Awab yang kini mengurangi laju kendaraannya.


"Iyaa Wan, tanya aja langsung.." sahut Rena.


"Apa Kak Reon itu laki-laki yang baik..?" tanya Awan dengan raut wajah yang serius.


"Kok kamu tanya seperti itu Wan, memang kenapa..?!" balas Rena yang balik bertanya.


"Karena aku gak mau kalau Kak Reon nanti menyakiti Kak Pelangi, Ren.. Kamu kan adiknya, kamu pasti tau Kak Reon itu seperti apa.." ujar Awan.


"Mmmm,, Kak Reon baik kok.." ucap Rena singkat.


"Kenapa jawaban kamu meragukan seperti itu..? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku, Ren..?" tanya Awan menyelidiki.


"Gak kok Wan, yang pasti Kak Reon itu baik. Yaa udah, kamu fokus nyetir aja. Jangan mikir yang aneh-aneh, nanti malah nabrak lagi.." ujar Rena yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Maafin aku yaa Wan, kalau aku belum bisa jujur sama kamu tentang Kak Reon.." gumam Rena dalam hati, lalu menghela nafasnya dengan dalam.


Sedangkan Awan yang merasa bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Rena, hanya bisa mencoba untuk percaya dengan apa yang Rena katakan padanya. Meski dalam hati, Ia takut dan tidak ingin jika Kakaknya sampai tersakiti...


Bersambung...


🙏😊 A59🌠

__ADS_1


__ADS_2