
Malam itu Pelangi mendatangi rumah Bintang, meski Ia tahu bahwa Bintang tidak ada di rumah. Namun kedatangannya bukan untuk mencari Bintang, karena Ia telah tahu jika Bintang telah pergi ke kota B untuk menemui teman-temannya dan sekaligus menenangkan diri di sana. Melainkan Ia ingin menemui Ibu, untuk menanyakan tentang sesuatu.
"Ada perlu apa kamu datang ke rumah, Pelangi..? Bukannya kamu sudah tau kalau Bintang tidak ada di rumah.." tanya Ibu.
"Iyaa Bu, Pelangi tau kok. Tapi bukan karena itu maksud kedatangan Pelangi ke sini.." jawab Pelangi dengan berusaha untuk tetap tenang, karena Ia merasa gugup berhadapan dengan Ibu setelah semua yang terjadi.
"Lalu karena apa, El..?" tanya Tya yang kini ikut bergabung bersama mereka berdua.
"Ehh,, Kak Tya.. Pelangi ke sini karena ingin meminta alamat teman Bintang, tempat Bintang tinggal di sana. Ibu pasti tau kan alamatnya dimana..?" tanya Pelangi dengan harapan Ibu mau memberikan alamat itu padanya.
"Kenapa kamu tidak menyerah juga Pelangi..? Setelah semua yang terjadi, apa kamu masih tetap ingin bersama dengan Bintang..? Kamu masih ingin menyakiti perasaannya lagi..?" tanya Ibu dengan penuh penekanan, karena Ia tidak ingin putri kesayangannya itu merasa kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Justru Pelangi ingin menebus kesalahan Pelangi sama Bintang, Bu.. Tolong beri Pelangi kesempatan, Pelangi berjanji untuk kali ini gak akan membuat Bintang kecewa lagi. Karena Pelangi sangat menyayangi Bintang, Bu.." ujar Pelangi yang merasa sangat bersalah, namun juga berharap agar hubungannya dengan Bintang akan bisa kembali seperti dulu lagi.
"Tolong Bu, kasi tau Pelangi alamatnya. Pelangi ingin menyusul ke sana, Pelangi gak bisa berjauhan terus seperti ini dari Bintang. Pelangi mohon, Bu.." pinta Pelangi seraya menggenggam tangan Ibu yang hanya menarik nafasnya dengan dalam.
"Udah Bu, kasi tau aja alamatnya ke Pelangi.." seru Kak Tya yang tidak tega melihat Pelangi terus memohon pada Ibunya agar bisa mendapatkan alamat yang Ia mau.
"Selama ini Ibu pikir, cuma Bintang yang keras kepala terhadap keinginannya. Tapi ternyata kamu juga keras kepala, El.." ucap Ibu sambil menggelengkan kepala dan tersenyum, Ia tidak menyangka begitu besar perasaan Pelangi pada putrinya.
"Itu artinya mereka jodoh Bu,hehee" balas Tya sambil tertawa kecil, lalu menatap ke arah Pelangi yang hanya tersenyum mendengar ucapan darinya.
"Yaa sudah kalau begitu tunggu sebentar, Ibu ambilkan alamatnya.." seru Ibu yang membuat Pelangi sangat gembira, lalu berjalan menuju ke arah kamar.
"Iyaa Bu.." balas Pelangi dengan raut wajah penuh semangat.
"Sekarang jangan sedih lagi yaa El, kamu pasti bisa ketemu sama Bintang lagi nanti. Terus kalau udah ketemu, ajak dia pulang yaa.. Karena Kakak juga gak bisa lama-lama di sini.." ujar Tya.
__ADS_1
"Iyaa Kak Tya, terimakasih yaa.. Karena Kakak udah mau dukung hubungan aku sama Bintang, dan bantuin aku tadi untuk mendapatkan alamat tempat tinggal Bintang dari Ibu.." ucap Pelangi dengan senyum bahagia di wajahnya.
Tidak lama kemudian, Ibu pun keluar dari dalam kamar dengan membawa secarik kertas putih yang berisikan alamat dimana Bintang tinggal.
"Terimakasih banyak yaa, Bu.." seru Pelangi yang langsung mencium punggung tangan Ibu.
"Iyaa Pelangi, sama-sama. Apa Mamii kamu tau bahwa kamu akan pergi menyusul Bintang..?" tanya Ibu, karena Ia tidak ingin ada masalah yang timbul.
"Mamii taunya Pelangi mau keluar kota untuk jalan-jalan aja, Bu.." jawab Pelangi.
"Oh begitu, yaa sudah sekarang lebih baik kamu pulang. Nanti kalau sudah mau pergi ke kota B, kamu kabari Ibu yaa.." ujar Ibu.
"Iyaa Bu, nanti pasti Pelangi kabari tapi Ibu dan Kak Tya jangan cerita apa-apa sama Bintang yaa.. Karena Pelangi mau kasi kejutan buat Bintang.." pinta Pelangi pada Ibu dan Tya yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Setelah itu, Pelangi pun langsung berpamitan untuk pulang dengan hatinya yang merasa sangat senang. Karena tidak lama lagi Ia akan bertemu kembali dengan Bintang, kekasih yang sangat Ia rindukan itu.
🌠
🌠
"Kamu melamun lagi, Bin..?" tanya Anya yang tiba-tiba datang dari dalam kost-an, Ia lalu duduk di sebelah Bintang dengan membawa bungkusan makanan.
Mendengar pertanyaan itu, Bintang hanya diam dan menghela nafasnya dengan berat lalu tersenyum. Sudah lebih dari seminggu ini, Bintang memang seringkali terlihat termenung. Terutama saat Ia sendirian, meski Anya dan teman-temannya yang lain selalu berusaha untuk menghibur dan mengajaknya jalan-jalan. Namun Bintang tetap saja terlihat murung, seolah kesedihan tidak lepas dari dirinya.
"Udah, jangan maksa buat senyum gitu. Malah jelek tau..!" ledek Anya yang tahu apa yang di rasakan oleh Bintang, tapi tetap berusaha untuk membuatnya tertawa.
"Memang aku jelek kan,mmmh.." sahut Bintang.
__ADS_1
"Yaa makanya jangan semakin di buat jelek gitu, senyum itu yang ikhlas dari hati. Bukannya terpaksa, masa habis senyum terus manyun lagi.." seru Anya.
"Iyaa Nya, maaf yaa.. Aku juga gak mau terus-terusan sedih seperti ini, tapi rasanya memang sedih.." ucap Bintang seraya mengusap air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh.
"Lahh,, kok malah nangis lagi sih, Bin..? Aku kan cuma bercanda, gak mau kamu banyak diam dan sedih terus seperti ini.." jelas Anya yang kini merasa bingung, karena hampir setiap hari teman baiknya menangis.
"Iyaa Nya, aku gak nangis kok. Cuma meneteskan air mata aja,hehee.." sahut Bintang sambil tertawa kecil, Ia berusaha untuk menguatkan dirinya. Meski sebenarnya saat ini Ia merasa sangat rapuh dan hampa, tapi semua harus tetap di lewati dan di hadapi.
"Memang apa bedanya menangis sama meneteskan air mata, Bin..?" tanya Anya seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Kamu lupa yaa..? Kan dulu udah pernah aku bilang perbedaannya sama kamu, Nya.." sahut Bintang.
"Masa sih Bin, kok aku lupa yaa..?" balas Anya yang berusaha mengingat kembali perbedaannya.
"Yaa udah kalau kamu lupa, aku kasi tau lagi bedanya nangis sama meneteskan air mata. Kalau nangis itu ada suaranya, tapi kalau meneteskan air mata itu gak ada suaranya. Tiba-tiba udah jatuh gitu aja air mata, terlihat lebih dewasa dan keren gitu. Tapi itu sih menurut aku aja,hee.." ujar Bintang.
"Oh jadi gitu yaa Bin, kirain beneran seperti itu,mmmh.." balas Anya.
"Yaa memang beneran seperti itu, kalau menurut aku.." sahut Bintang yang tidak mau kalah.
"Iyaa iyaa, itu kan cuma menurut kamu.." seru Anya sambil menikmati cemilannya.
Keduanya pun kini lanjut berbincang-bincang, sambil sesekali tertawa terkekeh-kekeh. Saat ada cerita salah satu dari mereka yang terdengar lucu, namun setelah itu suasana tiba-tiba akan menjadi hening. Ketika Bintang kembali merasakan kesedihannya, dan Anya akan kembali menghiburnya...
Bersambung...
🙏😊 A59🌠
__ADS_1